Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
23. Nasib Susan


__ADS_3

Susan kembali ke rumah orang tuanya. Kevin sampai sekarang masih menghilang tanpa jejak. Anak buah ayahnya dan juga anak buah pamannya tidak berhasil menemukan keberadaan Kevin dan Qiara. Susan memutuskan untuk tinggal bersama mamahnya saja.Kevin menghilang di malam pernikahan mereka. Bagaimana Susan punya muka untuk tinggal di rumah mertuanya?


"Kenapa kamu tidak pergi ke rumah mertua kamu?" Mamahnya Susan sudah mengomel.


"Aku malu, Mah!" jawab Susan sambil mengunyah sarapan paginya.


"Lebih memalukan mana? Sudah menikah malah masih tinggal di rumah Mamah?" Mamahnya mencebik karena jengkel.


"Sejak dulu, kamu gak pernah nurut apa kata Mamah dan Papah!" tambah kesal Mamahnya kalau ingat Susan yang selalu membangkang.


"Kalau Susan nurut sama Mamah dan Papah, Susan sekarang pasti di penjara juga, sama kaya Papah!" Susan bangkit dari kursinya dan pergi ke kamarnya. Bosan juga lama-lama, mendengarkan ocehan Mamahnya yang seakan ga ada habisnya.


"Setelah setengah jam bersiap-siap, Susan berpamitan ke pada Mamahnya. Susan memutuskan kembali bekerja. Tidak ada gunanya meratapi kemalangan dirinya dengan air mata.


" Disana mereka bahagia, masa disini Gue malah menangis? Gak banget gitu loh! Bukan gaya Gue!" Susan bermonolog, berusaha menguatkan hatinya yang kalau mau jujur, rasanya sakit sekali.


"Biarlah, anggap saja ini buah karma, karena kejahatan Papah sama Mamah, ke keluarga Om Andi yang sudah baik banget sama kami." Berbagai hal positif dicoba oleh Susan dalam rangka mensugesti dirinya sendiri agar kuat dengan cobaan hidupnya yang datang silih berganti. Dia harus kuat!


"Atau ini adalah hukuman Gue, karena dua kali gugurin anaknya David!" tiba-tiba hati Susan merasa sedih dan tidak mampu menahan tangis.


"Kalau saja Mamah sama Papah gak menghalangi cintaku sama David, sekarang hidup kami pasti sangat bahagia. Hiks hiks." Susan menangis sedih dan pilu. Dia menepikan mobilnya di tepi jalan. Ingin menangis sepuasnya.


Tiba-tiba kaca mobilnya di ketok seseorang dari luar. Susan mengambil tisu dan membersihkan sisa air matanya. Jangan sampai orang lain melihat kalau dia baru saja menangis.

__ADS_1


"Siapa yah?" tanyanya, sambil menurunkan kaca mobilnya dan melihat orang yang mengetuk mobilnya tadi. Susan terkejut, karena itu David.


"Buka pintunya! Gue mau masuk!" ucap David.


"Loe mau apa?" tanya Susan panik. Susan takut kalau tadi David mendengarkan apa yang dia katakan. 'Dasar Susan bodoh! Kenapa kamu pakai bicara keras-keras tadi?' Susan memarahi dirinya sendiri, karena sudah ceroboh.


"Buka!" hardik David, mulai tidak sabar.


"Sebentar!" Susan mau tidak mau, membuka kursi penumpang. Susan tahu, David itu nekat orangnya.


"Apa maksud kamu tadi? Apa benar, kamu pernah hamil anak saya?" tanya David ngegas.


"Mampus gue!" rutuk Susan lemas.


"Jawab yang jujur! Tadi kamu bicara sangat jelas. Jadi aku bisa mendengar dengan jelas. Kamu bilang 'atau ini adalah hukuman Gue, karena dua kali gugurin anaknya David!' Tadi kamu bilang itu. Jawab yang jujur!" David sudah hilang kendali.


"Itu masa lalu. Mau kamu marah kayak apa, mereka gak akan hidup lagi." ucap Susan gemetar. Takut juga dia sama David. David kalau sudah marah, susah untuk menenangkan hatinya.


"Aku gak nyangka. Kamu jahat sekali. Bagaimana kamu tega untuk membunuh anak kita?" tanya David dengan berlinang air mata. Ada perasaan sakit dalam hati David. Walaupun bagaimanapun, pernah ada kisah manis di antara mereka berdua.


"Aku juga terpaksa, Mas! Keadaan yang memaksa aku berbuat begitu. Kamu pasti ninggalin aku, kalau aku bilang lagi hamil!" ucap Susan lemah.


"Bagaimana mungkin? Kalau kamu bilang, aku pasti akan membujuk orang tua kamu, dan juga Keluargaku. Agar menerima pernikahan kita." David tidak bisa membendung air matanya lagi. Sakit! Perasaan kehilangan anaknya terasa perih baginya. David adalah anak tunggal, makanya dia berniat ingin punya banyak anak. Agar hidupnya tidak kesepian.

__ADS_1


"Sudahlah, sekarang bicarakan hal ini sudah tidak ada gunanya." Susan mengambil tisu dan membersihkan air mata dari kelopak matanya.


"Kamu memang wanita berhati kejam! Sungguh tega, kamu membunuh anak yang tidak berdosa. Bahkan mereka belum lahir ke dunia! Bukan cuma satu, tapi dua kali! Kamu sungguh keterlaluan." David menatap Susan dengan nyalang. Kemarahan sungguh tidak bisa dia kontrol lagi.


"Kamu ingat tidak? Waktu itu, aku muntah dan mual. Aku minta kamu buat nemenin aku ke dokter, tapi kamu lebih milih kembali ke Meksiko. Kata kamu katanya Grandfa masuk rumah sakit. Saat itu, aku sangat butuh kamu. Tapi kamu malah ninggalin aku. Saat aku periksa ke dokter, ternyata aku hamil. Aku yang saat itu kecewa sama kamu, langsung memutuskan untuk menggugurkan kandunganku. Kalau sudah besar, resioknya tambah besar. Kamu ingat bukan? Saat kamu kembali dari Meksiko, seminggu kemudian. Aku mengalami pendarahan hebat? Aku minum jamu peluntur kehamilan, tapi dosis yang aku pakai memang hanya sedikit, jadi efeknya agak lama."


Susan menahan sedih di hatinya, mengingat kembali hari terberat dalam hidupnya.


Hati seorang ibu yang mana gerangan? Yang tega membunuh anaknya sendiri? Tapi dirinya juga tidak ada pilihan. David seakan cuek dengan dirinya. Tidak mau berjuang untuk cinta mereka. Hanya dengan hinaan orang tuanya, David sudah mundur dan tidak mau berusaha.


"Saat itu grandfa memang sakit. Nyawanya dalam bahaya. Dokter butuh aku untuk mengambil keputusan dalam tindakan medis." ucap David mulai melunak. Bagaimanapun memang ada kesalahan dirinya juga di sana.


Tapi David tetap saja merasa kesal dengan Susan. Yang berani sekali mengambil keputusan besar seperti itu sendiri, tanpa berdiskusi kepadanya.


"Lalu anak kita yang ke dua?" tanya David.


"Anak kita yang ke dua, meninggal saat akan di lahirkan. Aku pendarahan saat itu, karena kepleset di kamar mandi. Tidak ada siapapun yang menemani. Dokter harus memilih antara anak dan ibu. Dokter sudah berusaha dengan maksimal, tapi Tuhan yang menentukan. Anak kita meninggal setelah di lahirkan." Susan berderai air mata. Mengingat saat itu dirinya benar-benar sangat lemah dan tidak ada siapapun yang menolong.


"Aku tidak pernah melihat kamu hamil." ucap David keheranan. Seingatnya, Susan tidak pernah terlihat hamil. Bagaimana mungkin ada cerita itu? Susan pasti bohong sama dia.


Susan menyodorkan ponselnya. Menunjukkan foto saat dirinya hamil dulu. David melihat foto di galeri ponsel Susan. Perut Susan yang membesar saat di USG terlihat jelas di sana. Bahkan ada rekaman pemeriksaan USG seorang bayi di sana.


"Saat usia kandunganku masih empat bulan, aku menutupi dengan menggunakan korset dan baju lebar. Saat perutku mulai membesar, dan tidak bisa di tutupi lagi, aku bilang sama orang tuaku untuk berlibur ke Lombok. Mereka percaya dan aku ke Lombok sendirian. Saat waktunya melahirkan, tanpa sengaja aku terpeleset di kamar mandi. Karena aku hanya tinggal sendirian, jadi terlambat di tangani. Anak kita meninggal saat dia dilahirkan ke dunia." Susan tergugu. Mengingat saat itu kembali.

__ADS_1


Tanpa sadar, David memeluk Susan. Hatinya sangat sakit, mengetahui perjuangan Susan demi anaknya. "Kamu wanita yang sangat bodoh! Kalau kamu mengatakan ke padaku. Aku pasti akan langsung menikahi kamu saat itu juga!" David dan Susan menangis sejadi-jadinya. Mereka tidak memperdulikan keadaan sekitar. Tidak perduli sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor.


__ADS_2