
Setelah prosesi pemakaman selesai Qiara dan David serta keluarga besar Pratama, akhirnya meninggalkan pemakaman umum tersebut. Qiara yang sampai saat ini belum mengetahui keberadaan Kevin, masih terus berada di sisi David. Tubuhnya yang masih lemah sekali, memang membutuhkan topangan dari seorang laki-laki seperti David. Laki-laki yang selalu ada untuk dirinya.
" Terima kasih ya, Dav! Karena kamu sudah mengerti keadaan aku saat ini, dan mau membatalkan PS
pesta pernikahan kita. Terima kasih karena kamu selalu ada dan selalu menemaniku!" ucap Qiara, ketika dirinya sudah berada di kamarnya.
Berkali-kali Qiara hampir saja pingsan, sehingga membuat David merasa khawatir dengan keadaan calon istrinya tersebut. Sehingga akhirnya David meminta izin kepada keluarga Qiara, untuk membawanya ke kamarnya untuk beristirahat. "Kamu istirahat ya, Qi? Tenangkan dirimu! Kamu terlalu lelah, sehingga membuat badanmu jadi lemah seperti ini. Aku akan mengambilkan makanan untukmu ya? Kamu tunggu di sini!" David kemudian keluar dari kamar Qiara dan pergi ke arah dapur untuk mengambil makanan untuk calon istrinya yang sangat dia cintai itu.
"Bagaimana keadaan Qiara, David?" tanya Pak Andi Pratama. Ketika melihat David yang membawa sepiring nasi dan segelas susu.
"Qiara saat ini sangat lemah, Om! Tampaknya, dia memang kelelahan. Ini David mau membawakan makanan untuknya. Sejak datang dari Meksiko, Qiara tampaknya belum makan apapun!" ucap David sambil melihat calon mertuanya.
"Maafkan kami ya, David! Gara-gara Kejadian ini, kamu jadi terpaksa membatalkan pernikahanmu dengan Qiara. Kami pasti nanti akan mengganti pesta tersebut, menjadi sebuah pesta yang lebih besar lagi!" janji ayahnya Qiara.
"Pasti Om! Om harus mengganti pernikahan itu! Karena David pasti akan mengejar Om terus, untuk segera mau melaksanakan pernikahan kami berdua!" ucap David dengan nada kelakarnya.
Ayahnya Qiara malah tertawa terbahak-bahak, ketika mendengarkan apa yang dikatakan oleh David itu, yang sebenarnya diucapkan secara serius olehnya.
"Ya sudah ya Om! David pergi dulu, kasihan Qiara, pasti dia sudah menunggu dan kelaparan di kamarnya!" ucap David, lalu pergi ke arah kamar Qiara.
__ADS_1
Para tamu yang melayat Kakeknya Qiara sudah mulai surut, kini yang tersisa hanya beberapa orang keluarga dekat yang akan mempersiapkan tahlilan nanti malam.
"Qi, ayo makan dulu! Aku suapin, ya?" ucap David sambil menguapi kekasihnya. Qiara yang tubuhnya masih lemas hanya bisa membuka kelopak matanya.
"Dav, rasanya aku tidak sanggup bangun, Dav! Tubuhku lemas sekali!" ucap Qiara dengan suara lemah.
"Duduklah, di dashboardnya! Aku akan menyuapi kamu!" ucap David, lalu membantu Qiara untuk duduk.
"Dav, kamu begitu peduli padaku. Apakah kamu sendiri sudah makan? Tampaknya, kamu jauh lebih sibuk dari aku. Sejak kedatangan kita dari Meksiko!" ucap Qiara lemas.
"Apakah Kau keberatan? Kalau kita makan bersama dengan satu piring ini?" tanya David dengan kerlingan mata yang menggoda Qiara. Qiara hanya tersenyum melihat kelakuan David, yang selalu sanggup membuat dirinya merasa di cintai.
"Tentu saja, aku tidak keberatan! Kenapa aku harus keberatan makan sepiring denganmu? Bukankah kita juga sudah lama tinggal bersama di Meksiko?" tanya Qiara sudah mulai bisa tertawa.
"Ha-ha-ha, kamu sangat lucu! Bkankah kau saat ini sedang ada di atas ranjangku? Memang sejak kapan aku melarang kamu, untuk naik ke atas ranjang, hmmm?" goda Qiara.
"Ah! Kau sedang menggodaku! Kau tahu, apa yang aku maksud! Tetapi kau pura-pura bodoh, dasar wanita jahat!" ucap David dengan memanyunkan bibirnya. Qiara malah tertawa melihat kekonyolan David saat ini.
"Terima kasih ya, Dav! Kamu selalu bisa membuat aku tertawa dan bahagia. Semoga rencana pernikahan kita tidak batal lagi ya? Dan kita bisa mengarungi rumah tangga ini dengan bahagia! Aku sangat mencintaimu, Dav!" ucap Qiara sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang David. Yang selalu ada untuk dirinya.
__ADS_1
" I love you more, my sweetie! Ayo kita selesaikan makan kita! Ayo, skarang kamu makan dan kamu bisa segera beristirahat! Aku mau membantu Ayahmu di luar, tampaknya, beliau sangat sibuk mempersiapkan tahlilan untuk kakekmu!" ucap David.
"Dav! Kamu makan lah, juga! Dan istirahat juga! Kita berdua sama-sama datang dari Meksiko dan aku lihat, kamu juga belum makan apapun! Ayo kita makan saja dan beristirahat, oke?" ucap Qiara.
"Apakah aku boleh tidur, untuk di ranjang ini? Kalau boleh, aku mau deh menerima ajakanmu!" ucap David dengan wajah menggodanya. Qiara hanya tertawa.
"Kau boleh tidur di sini, tetapi tidak boleh melewati batas! Karena aku nggak mau, kita melakukan macam-macam di hari sakral ini, di mana ini adalah hari kematian kakekku!" ucap Qiara sendu.
"Iya, sayang! Aku paham! Ayo kita selesaikan makan kita! Biar aku bisa tidur dan memeluk kamu! Jujur, aku sangat ngantuk sekali!" ucap David.
Yah, sejak kedatangan mereka tadi malam, David memang belum tidur sama sekali. Sehingga wajar kalau dia saat ini merasakan kantuk. Keluarga Qiara saat itu sedang sibuk dengan mempersiapkan pemakaman untuk kakeknya. Sehingga tidak ada waktu untuk memperhatikan David. Bahkan David sampai saat ini belum mendapatkan kamar untuk beristirahat. Kasihan sekali. kopernya saja masih tergeletak di kamarnya Qiara.
Setelah mereka berdua menghabiskan makanan, Mereka pun akhirnya memutuskan untuk tidur bersama, di ranjang tersebut. Hanya sekedar tidur siang, untuk menghilangkan rasa kantuk yang sudah melewati ambang batas.
David memeluk tubuh Qiara dengan erat, dan Qiara menelusupkan wajahnya ke ceruk leher David. Terasa begitu nyaman. Ya, sudah sejak lama, Qiara hidup tanpa belaian seorang suami, sehingga tidur nya kali ini terlihat sangat pulas. Mungkin juga, efek dari kenyang dan juga Kelelahan yang luar biasa, yang membuat mereka berdua tidur begitu lelap.
Mereka bahkan tidak mengetahui ketika ayahnya Qiara, masuk ke dalam kamar tersebut dan melihat mereka berdua. Yang tertidur begitu lelap layaknya suami istri. Ya, David tidak mengunci pintu kamar Qiara.
"Hubungan mereka memang harus segera diresmikan! Kalau tidak menginginkan hal-hal yang tidak diinginkan!" ucap Ayahnya Qiara sambil menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Ketika di Meksiko, entah apa saja yang sudah mereka lakukan di sana. Hidup selama bertahun-tahun bersama dan tidak terpisahkan. Aku khawatir hubungan mereka sudah melewati batas!" ucapnya lagi.
Karena melihat mereka berdua tampak begitu lelap dan kelelahan. Pak Andi tidak tega untuk membangunkan mereka berdua, yang penting mereka berdua masih berpakaian lengkap, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Pak Andipun akhirnya keluar dari kamar Qiara dan mempersiapkan acara tahlilan untuk ayahnya.