
POV Susan
Aku sangat sedih dan marah sekali, saat lelaki yang tadi siang baru mengucapkan janji suci pernikahan dengan diriku. Sekarang pergi begitu saja dengan istri sirinya. Perasaan terhina dan terluka tidak mampu aku tahan lagi. Sekuat tenaga aku mengejarnya. Tapi mereka sudah pergi jauh, entah kemana.
"Biarkan mereka pergi!" tiba-tiba David muncul di balik tembok tidak jauh dari tempatku saat ini. Pria yang selama bertahun-tahun berstatus sebagai kekasihku. Namun memutuskan meninggalkan diriku, saat ayahku masuk penjara.
"Apa kamu sangat bahagia? Melihat pernikahan aku yang kacau dan hancur!" aku sudah tak punya tenaga lagi. Lemas rasanya.
"Susan!" David meraih tubuhku sebelum menyentuh lantai. Aku diam saja, saat mantan kekasihku itu menggendong diriku dan membawaku ke kamarnya.
"Istirahatlah. Aku akan menemui mamah kamu, Aku takut beliau kwatir dengan kamu." aku yang sangat sedih saat ini hanya bisa diam.
"Sebentar ya, kamu jangan kemana-mana." David sudah mau pergi. Tapi aku menangkap tangannya.
"Jangan tinggalkan Aku! Aku gak mau sendirian." akhirnya air mataku tak mampu aku bendung lagi. Sedari tadi aku berusaha untuk menjadi tegar. Bagaimanapun ada rasa malu, kalau David harus melihat keadaanku yang hancur sehancur-hancurnya saat ini.
Bagaimana tidak? Di saat malam pernikahanku, yang seharusnya aku lalui dengan bahagia bersama suamiku, ternyata suamiku memilih pergi dengan istrinya dan meninggalkan diriku.
"Please! Jangan tinggalkan aku!" Aku memeluk David dan menangis di pelukannya. David tampaknya merasa prihatin dengan keadaan diriku yang sangat menyedihkan.
"Istirahatlah! Aku akan menemanimu." Aku yang pada dasarnya memang masih mencintainya, tanpa butuh waktu lama, sudah terlelap dalam pelukannya. Rasanya sangat nyaman sekali.
Memang benar, apapun keadaannya, apabila kita bersama dengan orang yang kita cintai. Pasti akan menemukan kenyamanan dan ketenangan.
Banyak kisah yang telah kami torehkan. Perjalanan kisah cintaku dengan David bisa di bilang sangat manis. Kalau saja orang tuaku tidak menentang hubungan kami, pasti kami sekarang sudah menikah dan memiliki beberapa anak.
__ADS_1
Dua kali, aku pernah hamil anaknya. Tapi semuanya aku gugurkan, tanpa memberi tahukan David. Aku gak mau kalau dia menjadi tertekan karena anal yang hadir tanpa rencana.
Orang tuaku selalu mewanti-wanti agar aku menikahi Kevin, seorang pewaris perusahaan yang bisnisnya menggurita di negeri ini. Kalau aku menikah dengannya, posisi sebagai pewaris Pratama Group hanya masalah waktu saja.
Pamanku, Andi Pratama yang mendirikan perusahaan itu, dia tidak memiliki keturunan karena anaknya telah dibunuh oleh ayahku saat dia akan dilahirkan. Mobil yang membawa istri pamanku itu, ditabrak oleh orang suruhan ayahku. Niat papahku saat itu adalah ingin membunuh seluruh keluarga pamanku.
Tapi Tuhan tampaknya belum menginginkan kematian pamanku. Pamanku yang seharusnya semobil bersama istrinya, ternyata dia malah pergi menemui kliennya dari Jepang. Istrinya yang dalam perjalanan melahirkan itu hanya di temani sopir dan bibi pengasuh.
Sopir dan pengasuh istri pamanku meninggal di tempat. Tapi entah keajaiban dari mana, bibiku berhasil selamat dan dia dilarikan ke rumah sakit. Hanya saja, anak mereka mati sesaat setelah di lahirkan. Istri pamanku membutuhkan waktu satu tahun lebih untuk memulihkan kesehatannya.
Karena kecelakaan itu juga, beliau kehilangan rahimnya. Pendarahan saat kecelakaan dan melahirkan, memberikan efek yang membahayakan bagi rahimnya. Oleh sebab itu, Pamanku tidak memiliki pewaris.
Sejak kecil, Paman dan bibi ku selalu sayang kepadaku. Paman selalu bilang, bahwa kelak akulah yang akan mewarisi semua yang kini menjadi miliknya. Jadi tidak heran, kalau sampai aku sebesar ini, aku sudah menanamkan keyakinan sebagai pewaris Pratama Group, milik pamanku.
Aku lebih dekat dengan pamanku, dari pada dengan orang tuaku sendiri. Orang tuaku sangat ambisius. Mereka selalu memintaku untuk membujuk pamanku agar mau memberikan saham di perusahaan pamanku tersebut. Akhirnya demi keadilan, pamanku yang baik hati itu, memberikan 10% saham miliknya kepada kakak dan adik-adiknya.
Papahku yang selalu tidak puas, dia selalu berambisi memiliki dan menguasai perusahaan pamanku tersebut. Berkali-kali selalu membujuk diriku agar melakukan makar terhadap pamanku. Aku tidak mau mengikuti papahku. Aku sayang dengan Paman yang selalu menyayangi dan memanjakan diriku, melebihi anak kandung.
Sebelum papahku masuk penjara, dia mewanti-wanti agar aku menikah dengan Kevin. Dia tidak perduli dengan status Kevin yang menurut kabar telah menikah siri dengan Qiara, kekasihnya.
Saat ini, dimalam pernikahan aku dengan Kevin, aku malah tidur di pelukan David. Di kamar yang dia pesan. Sungguh nasib yang sangat lucu.
Saat aku membuka mataku, aku lihat David memeluk diriku dengan erat. Ada perasaan hangat dalam hatiku. Sejujurnya, aku masih sangat mencintai David. Keadaan yang memaksa kami berpisah. Saat melihat David menggandeng tangan Qiara, ada perasaan cemburu dalam hatiku yang aku tahan demi kehormatan keluarga.
"Kamu sudah bangun?" tanya David sambil menguap. Dia sangat tampan sekali. Sudah lama aku merindukan dia. Ada rasa bahagia dalam hatiku. Saat kami kembali bersama dalam satu ranjang kembali.
__ADS_1
"Terima kasih, sudah menemaniku."
"Kamu jangan salah paham, aku tidak akan kembali padamu lagi." Dengan dinginnya pria yang pernah menjadi kekasihku itu bangun dari kasur.
Aku lihat dia mengenakan jam tangannya, mengambil ponselnya dan bersiap untuk pergi.
"Kamu mau ke mana?" tanyaku sedih. Sejujurnya, aku masih ingin bersama dia.
"Mencari Qiara. Grandfa marah-marah tadi malam, karena aku tidak membawa Qiara pulang ke rumahnya." David yang sedang mengenakan sepatu tidak menengok sekalipun kepadaku. Ada rasa perih dalam hatiku.
"Apakah kau mencintai Qiara?" tanyaku ragu.
"Aku tidak tahu! Aku hanya menuruti perintah Grandfa untuk menjaga dia." David sudah rapi, dia berdiri di ambang pintu dan bersiap meninggalkan aku lagi. Tanpa terasa, air mata mengalir di kelopak mataku. Sedih dan sakit rasanya.
"Istirahatlah disini, aku sudah membooking kamar ini selama seminggu. Kamu bisa menggunakan kamar ini. Aku pergi dulu." dingin sekali suaranya.
"Apakah nanti kamu kesini lagi?" tanyaku ragu.
"Kita lihat nanti saja. Aku pergi ya. Jangan lupa makan. Kamu minta layanan kamar saja, kalau malas turun." tanpa menoleh kepadaku sama sekali, dia pergi begitu saja dari kamar ini.
Apa begini rasanya? Diabaikan oleh orang yang kita cintai? Aku baru sadar, selama ini aku selalu sombong dan abai dengan perasaan David. Dia selalu sabar denganku. Pasti dia banyak menahan kesakitan selama ini dengan sikapmu dan sikap keluargaku yang selalu merendahkan dia.
Tanpa terasa air mataku mengalir lagi. Ingat masa lalu yang penuh kenangan manis bersama David saat di Meksiko dulu. Dia lelaki yang hangat dan penuh cinta. Dia selalu memanjakan diriku.
Dia bahkan rela mengikuti aku pulang ke Indonesia dan meninggalkan keluarganya di Meksiko. Aku selama ini tidak pernah tahu keluarga David. Karena setiap aku meminta bertemu, David punya beribu alasan untuk menolak. Kadang aku kecewa. Tapi aku juga sadar, tidak baik memaksakan keinginan diriku kepada David.
__ADS_1