
Santi terus mengejar Arjun yang berlari dari ruangan tersebut, meninggalkan tempat pertemuan antara mereka dan kedua orang tuanya. Arjun tampaknya benar-benar marah dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya Santi, yang telah lancang menyelidiki latar belakangnya.
"Arjun! Tunggu sebentar! Aku ingin bicara denganmu! Kenapa kamu pergi gitu aja? Arjun, Sayang! Please!Jangan kayak gini dong! Tunggu aku dulu! Aku ingin jelasin sesuatu sama kamu! ARJUN!" Santi berteriak sekencangnya Memanggil nama kekasihnya yang sepertinya tidak peduli dengan panggilannya seketika Arjun berhenti dan menengok ke belakang, tatapan matanya sudah merah, menahan amarah. Hanya saja, mungkin Arjun tidak ingin ribut, makanya dia memilih untuk pergi.
"Kamu mau apa?" tanya Arjun dingin, Santi seketika merinding mendengar ucapan Arjun yang begitu terasa sangat asing di matanya. Apakah Arjun begitu marah terhadap dirinya atau terhadap ayahnya? Santi merasa bingung.
"Maafkan Papaku! Kalau sudah menyinggung perasaan kamu! Apa kita bisa bicara sebentar?" Santi tampak ragu dan takut menatap mata dingin Arjun yang mencekam.
"Aku sengaja pergi jauh dari Amerika dan datang ke sini. Aku tidak ingin mendengar nama keluargaku. Dan hari ini, ayahmu sudah menyebut nama mereka! Sehingga membuat aku jadi mengingat kembali apa yang ingin aku lupakan!! Maafkan Aku!! Tapi___ sepertinya hubungan kita tidak akan berhasil! Kita akhiri saja sekarang! Aku pergi!" ucap Arjun menahan amarah.
Santi berlari ku pelukan Arjun! Tapi Arjun tidak bergeming. Perasaan Arjun saat ini sedang terluka dan tidak bisa di hibur atau di bujuk rayu dengan hal apapun.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau, kita berpisah! Aku mencintai kamu, sayang!" Santi terus menggelengkan kepalanya, menolak keinginan Arjun.
"Maafkan aku!" Arjun berusaha melepaskan pelukannya Santi, tetapi Santi tetap keukeuh, tidak mau melepaskan.
"Arjun! Masalah tuh, nggak harus diselesaikan dengan cara seperti itu! Please! Kita____ kenapa, kenapa, kau tidak mau berusaha untuk mencoba? Gimana aku bisa ngerti kalau kamu nggak mau jelasin? Kemarahan kamu nih karena apa? Kamu nggak bisa menghukum aku kayak gini!" Santi terus memeluk Arjun.
"Santi! Jangan kau permalukan dirimu seperti itu! Kau benar-benar membuat Papa kecewa!" tiba-tiba Papanya Santi keluar dari ruangan tadi dan menatap tajam kepada Santi dan Arjun. Arjun menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan Santi dari tubuhnya dan pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
Seketika Santi menangis tersedu-sedu, tubuhnya seakan lunglai tak bertenaga. Santi menukuk lututnya dan menangis di lobby. Sehingga menarik perhatian beberapa pengunjung yang lain.
Mamanya Santi datang membangunkan putrinya, tetapi Santi tetap tidak bergeming, dia tetap menangis di sana, meratapi kepergian sang kekasih yang dia cintai.
Sementara itu, Arjun sudah berada di mobilnya dan menatap nyalang ke depan. Arjun memukul setir mobilnya dengan keras berkali-kali. Melampiaskan kemarahan yang ada di dalam hatinya.
"Kenapa hal seperti ini, harus terjadi? Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku?" Arjun kini malah menangis, entah kenapa. Tetapi, tiba-tiba hati Arjun merasakan kesedihan yang besar, yang dia sendiri tidak mengerti, kenapa? Kenapa dia merasa sedih saat ini? Hatinya sakit, seperti tertusuk sembilu. Perasannya campur aduk tak beraturan. Seakan sebuah fatamorgana yang hilang di depan matanya.
Ya, selama ini, Arjun menjalani kehidupannya yang sepi, sendiri, dingin dan kesepian. Banyak penderitaan yang ditanggung oleh Arjun, semenjak dirinya memutuskan untuk meninggalkan keluarganya yang berada di Amerika.
Setelah merasa puas, Arjun melampiaskan emosinya. aArjun pun kemudian memutuskan untuk pergi dari parkiran hotel tersebut. Arjun memilih untuk pergi ke pantai, di tempat yang dulu. Tempat dirinya dan Santi pernah mengikat janji bersama.
Arjun kembali mengingat masa lalunya, ketika dia tinggal di Amerika bersama keluarga besarnya. Masa lalu yang sangat ingin Arjun lupakan, tapi tiba-tiba hari diingatkan kembali oleh ayahnya Santi.
Flass on
"Sebenarnya apa yang ada dalam otak kamu itu? Bisa-bisanya kamu melakukan hal itu!" ucap ayahnya Arjun.
Arjun remaja hanya bisa menatap kepada ayahnya, yang saat ini sedang dilanda amarah besar, dengan apa yang telah dilakukan oleh Arjun terhadap ibu tirinya.
__ADS_1
"Cepat kau minta maaf kepada ibumu! Kalau tidak, Ayah tidak akan pernah memaafkan kamu! Kamu memang benar-benar anak yang suka cari masalah!" Pipi Arjun ditampar oleh ayahnya, sehingga memerah dan meneteskan darah disudut bibirnya.
"Jangan pernah kau menyebut bahwa perempuan itu sebagai ibuku! Dia tidak akan pernah menjadi ibuku! Aku tidak akan pernah melupakan, bahwa dialah yang telah membunuh ibuku! Ayah dan pel@cur itu, kalian berdua, manusia-manusia yang tidak tahu malu! Kalian berani berbuat serong di belakang ibuku, yang sedang sekarat!" Arjun remaja menatap ayahnya dengan nyalang. Tampak kemarahan besar di wajah sang ayah. Kedua Tangannya sudah mengepal, sudah bersiap untuk menghajar wajah putranya.
Tiba-tiba Kakeknya Arjun sudah berada di antara mereka memisahkan ayah dan anak yang siap berkelahi itu.
"Arjun! Walaupun ayahmu, bukanlah orang yang sempurna. Tetapi kau tidak pantas untuk berbuat seperti itu terhadap orang tuamu!" Kakeknya Arjun berusaha menasehati cucunya.
"Kakek berkata masalah menghormati? Kakek Lihatlah kelakuan anak kakek yang sudah membuat Ibuku mati mengenaskan, bersama selingkuhannya itu! Arjun akan pergi dari keluarga ini! Arjun tidak akan pernah kembali lagi!" sejak hari itu Arjun Prawira meninggalkan keluarga Prawira dan melepaskan nama keluarga tersebut di dalam dirinya. Arjun pergi ke Indonesia dengan berbekal uang yang hanya tersisa beberapa ratus dolar dompetnya.
Flass off
Arjun yang kini sudah berada di apartemennya, kini hanya bisa menangis, mengingat ibunya yang sekarat lada hari itu. Tetapi Arjun mendapatkan suatu kenyataan, Ayahnya sedang memadu kasih bersama wanita yang saat ini menjadi ibu tirinya. Arjun merasa sakit sekali hatinya saat ini. Mengingat saat-saat terakhir ibunya yang malang.
"Aku tidak akan pernah memaafkan laki-laki yang bernama ayahku! Seumur hidupku!" Arjun lalu melemparkan gelas wine yang tadi ada di tangannya.
Perasaannya bercampur aduk, silih berganti! Arjun kini meringkuk dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Seharian ini, Arjun tidak makan apapun. Hanya menyesap Wine, sudah habis beberapa botol. Tetapi masih belum berhasil membuat dirinya mabuk. Arjun sangat ingin melupakan hari dimana dirinya merasakan bahwa dunianya runtuh seketika. Hari di mana ibunya meninggal dan ayahnya sedang bercinta dengan selingkuhannya. Yang merupakan sahabat dari ibunya.
Perasaan di khianati itulah, yang kini menghantui Arjun. Secara mental dan psikologis, Arjun sakit. Selama ini, Arjun selalu membentengi dirinya dengan sikap dinginnya. Seakan tidak tersentuh, sampai saat Santi, yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Mencairkan salju abadi itu, menghangatkan hatinya yang lama kering. Membangkitkan kepercayaan dalam hatinya.
__ADS_1
Tapi hari ini, semuanya hancur berkeping-keping. Arjun kini tidur di sudut kamarnya. Berkali-kali suara bel di pintu apartemen miliknya, tapi sama sekali Arjun tidak mau bergeming. Arjun tetap meringkuk disana. Sendiri!