
Saat David sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga Qiara yang baru datang dari Indonesia, David menerima telepon dari anal buahnya, Davis pergi keluar dari apartemen agar tidak mengganggu keluarga Qiara yang sedang bercengkrama setelah hampir tujuh bulan berpisah. Qiara pasti merindukan keluarganya.
"Ada apa max?" tanya David pelan.
"Bos, ada beberapa orang detektif di sekitar apartemen Nyonya kingford, tampaknya mereka anak buah tuan Kevin." lapor seseorang bernama max, seketika wajah David mengeras.
"Kau yakin, kalau mereka anak buah Kevin?" ulangnya. Masih ragu.
"Tadi siang, Kevin dan asistennya juga mendarat di Meksiko, kebetulan saat Anda dan nona Qiara menjemput orangtuanya non Qiara, mereka melihat juga. Oleh karena itu, Tuan Kevin menyuruh asistennya untuk mengawasi apartemen Non Qiara," David lalu masuk ke dalam apartemen Qiara.
"Qi, tadi aku dapat laporan dari anak buahku yang aku tugaskan menjadi pengawal bayanganmu. Mereka melaporkan bahwa ada anak buah Kevin yang tengah mengawasi apartemen kita." ucap Kevin berterus terang kepada Qiara dan juga orang tuanya. Qiara tampak terkejut.
"Bagaimana mana bisa, Kevin tahu keberadaanku Dav?" Qiara jadi panik, apalagi waktu melahirkan sebentar lagi.
"Kita harus pikirkan cara agar keluar dulu dari apartemen ini. kalian bisa tinggal di manstion ku, di sana 100% aman, Keamanan tingkat internasional. Saya bisa menjamin bahkan tikus tidak akan sanggup menembus keamanan manstionku." ucap David jumawa.
"Kamu seorang mafia, pasti banyak musuhnya, apa Qiara akan aman bersama dengan kamu?" tanya Pak Andi, masih cemas kalau sampai Kevin tahu tentang kehamilan putrinya.
"Ah, sia-sia semua usaha papah untuk membuat Kevin berpikir bahwa kamu sudah meninggal! Sungguh mengesalkan sekali!" gerutu Pak Andi.
"Bagaimana Kevin bisa tahu keberadaanku!?" tanya Qiara agak heran.
"Saat kita menjemput orang tuamu, kebetulan Kevin dan asistennya juga datang dari Indonesia dalam rangka perjalanan bisnis. Mereka mengikuti mobil kita, dan mencari tahu apartemen ini!" Qiara benar-benar frustasi dengan hal itu.
"Dav, tolonglah! Aku sungguh tidak ingin kalau Kevin mengetahui keberadaan diriku. Aku mohon, lindungi aku dan bayiku! Hiks hiks!" Qiara menangis dalam pelukan David.
__ADS_1
"Tenanglah sayang, aku pasti akan melindungi kamu dan juga orang tuamu. Aku akan minta anak buahku untuk melihat situasi di luar, agar kita bisa menyelinap tanpa sepengetahuan mereka. Tenanglah!" ucap David sambil mencium kening Qiara yang masih menangis.
Pak Andi dan Bu Melinda melihat interaksi Qiara dan David yang tampak sangat romantis tersebut. Terlihat dengan jelas, kalau hubungan mereka berdua bukanlah hanya hubungan biasa saja.
"Tenanglah, sayang! Kasihan dede bayinya kalau kamu stress. Ayo kalian ke kamar saja. Istirahatlah! Aku akan menghubungi anak buahku di luar, nanti kalau kita siap keluar dari apartemen, aku akan membangunkan kalian. Ok?" ucap David dengan menatap manik mata Qiara yang masih sembab karena menangis.
"Aku takut, Dav!"
"Jangan takut, ada aku disini! Aku akan selalu bersama kamu! Percayalah!" David lalu mengajak Qiara ke kamarnya, membujuk Qiara untuk tidur.
Pak Andi dan Bu Melinda sudah masuk ke kamarnya. "Dav, please, jangan tinggalkan aku, aku takut! Hiks hiks!" ucap Qiara dengan sendu. Qiara menenggelamkan wajahnya di pelukan David. David mencium pucuk kepala Qiara.
"Tenanglah, aku disini. Sayang, tolong beri aku waktu sebentar, aku butuh berkoordinasi dengan anak buahku di luar." ucap David
"Max! Kamu awasi mereka, kalau kondisi di luar sudah kondusif, Ingat! Aku beri waktu 30 menit untuk membuka jalan bagi kami keluar dari apartemen dengan aman! Segera kabari aku! Agar kami bisa keluar dari apartemen tanpa dilihat siapapun! Kau pastikan semua aman!" perintah David.
"Sunar, sekarang kamu hack CCTV gedung apartemen Qiara. Matikan semua sistem CCTV di gedung ini selama satu jam. Aku tidak mau kepergian kami dari apartemen tertangkap CCTV! Kamu paham?" tanya David.
"Siap, Bos! Beri aku waktu lima menit!" David menutup telepon. Lalu mendekati Qiara yang tengah meringkuk ketakutan.
"Sayang, ayo kau siapkan diri, kita pindah ke manstion ku, di sana sudah pasti aman!" Qiara mengaguk, lalu beranjak dari kasurnya.
tok tok tok
David mengetok pintu kamar orang tua Qiara. Tak lama kemudian Pak Andi membuka pintunya.
__ADS_1
"Pak Andi dan Bu Melinda, ayo kita bersiap untuk pindah ke manstion saya. Dalam tiga puluh menit kita harus sudah meninggalkan gedung ini!" ucap David. Ketika itu juga terdengar dering telepon.
"Ya, bagaimana?" tanya David sudah tegang.
"Sudah siap, Bos! CCTV sudah saya matikan!" ucap Sunar. David lalu menelpon Max.
"Max! Cepat kau lumpuhkan anak buah Kevin! CCTV sudah aman! Waktumu hanya 20 menit!" ucap David lalu menutup telponnya lagi.
"Ayo Kita bersiap, Qiara, pakailah penutup atau apapun untuk menyamarkan penampilan kamu. Pak Andi dan Bu Melinda juga. Walaupun CCTV dan anak buah sudah di lumpuhkan, kita tetap harus waspada dengan segala kemungkinan!" ucap David, lalu memimpin mereka bertiga untuk keluar dari apartemen, setelah mendapat kabar dari max bahwa tempat sudah steril dan aman.
Dengan hati-hati dan secara senyap, mereka meninggalkan apartemen Qiara. Waktu satu jam yang diberikan oleh Sunar benar-benar digunakan dengan baik oleh David. Mereka berempat sudah ada di manstion mewah milik David.
Sunar memang layak menjadi heacker nomor Wahid tingkat internasional, karena dia berhasil menonaktifkan CCTV seluruh kota selama satu jam. David selalu puas dengan hasil kerja Sunar. Tidak sia-sia Sunar di gaji super mahal oleh David. Apapun yang di butuhkan David selalu diberikan dengan ekstrak memuaskan.
"Alhamdulillah, kita sudah berhasil keluar dari apartemen tersebut." ucap Bu Melinda.
"Bagaimana nasib apartemen ku?" tanya Qiara agak khawatir.
"Tenanglah, apartemen itu kini sudah berpindah tangan kepada orang lain, kini uang penjualan apartemen tersebut telah diberikan sebuah manstion dekat dari sini. Besok kita akan ke sana. Sekarang aku sedang memperkuat keamanan di manstion milikmu. Agar kami dan anakmu nanti bisa tinggal di sana dengan aman dan tanpa gangguan siapapun juga!" ucap David.
"Dav, apa aku tidak salah mendengar? Bagaimana mungkin sebuah apartemen bisa menjadi manstion? Apa kau tidak sedang bercanda denganku?" Tanya Qiara terheran-heran.
"Tidak sayang, uang penjualan apartemenmu, aku tambahin sedikit untuk menutupi harga mantion tersebut." ucap David lagi sambil mengelus perut Qiara yang sejak tadi aktif bergerak. David paling senang dengan moment seperti itu. David selalu menyesalkan kenapa dahulu Susan harus menggugurkan kandungannya kalau tidak, dia pasti sekarang sudah menjadi seorang ayah dari dua orang anak.
Waktu yang telah berlalu memang tidak akan pernah kembali, masa lalu tidak akan pernah bisa di ubah maupun di ulang, kita manusia hanya bisa berusaha memperbaiki diri agar memiliki masa depan yang indah.
__ADS_1