Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
47. Jebakan Ibunya Kevin


__ADS_3

Hari ini pekerjaan Kevin sangat banyak, tiba-tiba ibunya menelpon, dengan malas, Kevin mengangkat, "Ada apa, Mah? Kevin sedang sibuk!" raung Kevin frustasi. Ya, karena mamahnya kalau menelpon pasti mau berulah lagi.


"Sayang, mamah lagi di rumah sakit! Cepat kamu kesini! Mamah takut!" Kevin tersentak ketika mendengar ibunya ada di rumah sakit. "Mamah Kenapa?" tanya Kevin.


"Cepat kau datang kesini!" lalu mamahnya Kevin menyebutkan nama sebuah rumah sakit yang cukup terkenal. Kevin mendesah frustasi.


"Mamah selalu saja bikin masalah! Mana kerjaan sedang Banyak begini!" Kevin lalu menelpon Arjun, agar menghandle meeting yang akan terjadi dalam 10 menit ke depan. Kevin hilang akal sudah, untuk menghadapi Mamahnya tersebut.


"Arjun, mamah sekarang lagi di rumah sakit. Aku harus melihat ada apa di sana. Tolong kamu handle dulu masalah proyek kita yang di Cianjur itu! Saya pergi dulu. Nanti hasil rapatnya kau taruh saja di atas mejaku, nanti aku periksa. Filenya ada sama Rida, ajak saja dia sekalian dengan kamu. Supaya bisa membantu kamu menjelaskan proyek ini. Aku pergi dulu! Ini mamah dari tadi nelpon terus!" Kevin langsung mengambil kunci mobilnya dan berlari ke luar ruangan tanpa menunggu jawaban dari Arjun yang masih bingung dengan tugasnya tersebut.


"Ah, dia selalu saja begitu!" Kevin lalu pergi ke luar untuk menemui Rida dan mengajak sekretaris Kevin tersebut untuk meeting dengan dirinya.


"Kemana Pak Kevin memangnya, Pak?" tanya Rida.


"Ayo kita berangkat! Waktu kita mepet! Nanti dijelaskan dalam perjalanan saja!" Arjun lalu mengambil kunci mobil dan langsung menuju parkiran.


Sementara itu, Kevin yang sudah di rumah sakit di buat kesal oleh ibunya yang ternyata menjebak dirinya untuk memperkenalkan seorang wanita kepadanya.


"Kevin, perkenalan, dia namanya Santi. Anaknya Pak Broto, yang memiliki Indo Mall itu, loh!" ucap Mamahnya Kevin sumringah, wajah Kevin sudah di tekuk dari tadi. Rasa kesal karena sudah di tipu oleh mamahnya lebih mendominasi pikiran Kevin saat ini.


"Mah, aku meninggalkan pekerjaan di kantor demi melayani kegilaan Mamah ini?" Kevin sudah murka sekali dengan kelakuan Mamahnya yang selalu berbuat sesuka hatinya itu, tanpa pernah mau mencoba untuk mempertimbangkan perasaannya.

__ADS_1


"Kevin, Mamah hanya ingin melihat kamu bangkit! Sudah terlalu lama kamu terpuruk gara-gara Qiara! Mamah tidak rela, sayang!" Dan dimulailah, drama penuh air mata sang Mamah yang menambah rasa muak Kevin kepada mamahnya saat ini. Kevin meraup wajahnya dengan frustasi. Sementara itu, Santi masih asyik memperhatikan wajah Kevin yang sangat tampan baginya.


"Mas Kevin, bagaimana kabarnya?" tanya Santi dengan hati-hati, Kevin melihat Santi dengan sinis.


"Menurut kamu?" ucap Kevin menahan kesalnya.


"Sayang, jangan ketus begitu dengan perempuan!" tangan Kevin di keplak sama mamahnya, Kevin sampai meringis kesakitan. " Mamah sudah menipuku, sekarang juga sudah main tangan padaku!" cicit Kevin dengan wajah kesal.


"Udah, ayo kita ke restoran saja! Mamah sudah lapar!" tanpa menunggu jawaban Kevin, tangan Kevin sudah di tarik paksa oleh Mamahnya menuju mobilnya.


"Santi, kamu ikut mobil Kevin saja. Suruh sopir kamu untuk mengikuti kami!" perintah mamahnya Kevin seenaknya.


"Iya, Tante!" Santri lalu pergi menuju tempat dimana mobilnya tadi di parkirkan oleh supirnya.


"Baik, Non!" lalu Santi naik ke mobil Kevin. Ibunya Kevin menyuruh Santi untuk duduk di kursi depan, agar bisa bercakap-cakap dengan Kevin. Sepanjang perjalanan, Kevin hanya diam saja. Kesal setengah mati dengan Mamahnya yang selalu menipu dirinya. Sialnya, dirinya selalu bisa di kelabui dengan akal bulus sang Mamah.


"Ayo Santi! Kamu pilih mau makan apa, nanti Kevin yang akan traktir!" Kevin menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan Mamahnya itu, yang tidak pernah lelah untuk mencampuri kehidupan dirinya.


Setelah makanan yang mereka pesan datang, Kevin langsung menghabiskan makanannya. Niatnya agar dirinya bisa segera kembali ke kantor. Siapa yang tahu, tahu-tahu, Mamahnya yang absurd itu, malah menarik dirinya ke sebuah butik, lalu ke bioskop, dan akhirnya, di sinilah Kevin berakhir. Bioskop!


Kevin terjebak di sana. Mamahnya yang punya sejuta akal bulus, selalu berhasil membuat Kevin tidak berkutik. Demi menghormati Mamahnya, Kevin menurut saja di seret ke sana kemari, Walaupun wajahnya sudah sangat tidak sedap untuk di pandang sama sekali.

__ADS_1


"Apa masih lama, Mah? Aih.. Kevin masih banyak sekali pekerjaan di kantor!" Raung Kevin frustasi. Melihat Mamahnya masih mau mengajak dirinya berjalan-jalan ke mall milik orang tuanya Santi.


"Kita kesana sebentar saja!" bujuk Mamahnya.


"Mau apa Mamah ke sana?" tanya Kevin sudah hilang kesabaran. "Mamah ingin beli Tas yang limiter edition itu!" seru mamahnya Kevin bersemangat.


"Ayo, Tante! Nanti Santi belikan untukmu!" Santi tersenyum sangat manis. Ya, Santi sudah jatuh hati dengan Kevin. Jadi dia akan berusaha untuk membuat calon ibu mertuanya untuk semakin mendukung dirinya.


"Mah, Kevin bisa memberikan tas itu! Jangan bikin Kevin malu dengan menerima tas itu dari Santi!" Kevin meraung emosi, sudah tidak bisa mentolerir sikap Mamahnya yang selalu memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan apapun yang dia mau. "Gak apa-apa, Kevin! Saya suka kok, belikan tas itu untuk Tante!" ucap Santi sambil menggamit tangan Mamahnya Kevin. Rasa di hati Kevin sudah tidak karuan.


"Kevin, pulang!" Kevin sudah tidak mau lagi berurusan dengan Mamahnya. Mulai hari ini, Kevin memasukan nomor mamahnya dalam black list dan Block list.


Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, tidak henti-hentinya Kevin menggerutu. Merasa kesal dengan Mamahnya yang selalu usil dengan kehidupan pribadinya.


"Aduh, pekerjaan segini banyak! Alamat lembur lagi!" Kevin frustasi sekali. Melihat begitu banyak file dan berkas yang menumpuk di atas mejanya. Satu demi satu, Kevin memeriksa dengan teliti. Setelah selesai, Kevin berniat akan pulang, namun, saat membuka pintu ruangannya, Kevin di buat terkejut dengan kedatangan Mamahnya dan Santi yang seperti hantu saja rasanya.


Kevin tidak mendengarkan suara apapun di luar, tiba-tiba mereka sudah berdiri di hadapannya. "Ya Allah! Mamah sepertinya sudah bertekad untuk membuat aku mati muda!" protes Kevin sambil mengelus dadanya yang masih berdebar-debar, kaget dengan kedatangan mereka berdua yang tiba-tiba.


"Ya, Maaf! Habisnya Mamah gak bisa hubungi nomor kamu! Jadi Mamah langsung mendatangi kamu ke sini!" ucap Mamahnya cuek. Kevin mau tidak mau kembali masuk ke ruangannya, Rida tampaknya merasa kasihan melihat bosnya yang sudah kusut masai begitu.


"Mau saya siapkan teh atau kopi, Pak?" tanya Rida.

__ADS_1


"Tanya mereka berdua!" Kevin lalu pergi ke kamar mandi yang ada di ruangannya. Mencuci muka. Pikirannya sangat semrawut gara-gara Mamahnya yang seharian mengganggu dirinya.


__ADS_2