
"Tidak usah memainkan peran sebagai korban di sini!" Ucap Arjun sambil menatap sinis kepada Steven.
"Tuan Steven, sebaiknya Anda diam saja. Tidak usah menanggapi apa yang dikatakan oleh Tuan Arjun! Dia memang seperti itu sejak dulu. Tapi percayalah Tuan Arjun itu orang yang baik. Kalau kau sudah mengenal dia lebih lama lagi. Kau pasti akan lebih menyukainya lagi!" ucap sopir tua itu sambil melirik kepada Steven yang kini duduk di sampingnya.
"iya aku mengerti!" ucap Steven kemudian dia melihat keluar jendela.
"Cih, seakan kau mengenalku saja pak tua!" ucap arjun sambil berdecih kesal. Arjun kemudian memalingkan wajahnya melihat jalanan amerika yang sudah sangat lama tidak pernah dikunjungi.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di kediaman perwira. Kedatangan Arjun sudah ditunggu oleh ayahnya dan juga ibu tirinya yang merupakan ibu kandung dari steven.
"Selamat datang tuan muda Arjun semoga Anda betah tinggal di rumah ini!" ucap paman Heiden kepala pelayan di kediaman Prawira.
"Siapa yang mau tinggal di tempat ini? Aku datang hanya untuk melihat keadaan pak tua itu!" ucap Arjun sambil menunjuk kepada ayahnya yang saat ini sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Sejenak Arjun menatap rumah yang sudah sangat lama dia tinggalkan. Ada sedikit kerinduan terbesit di dalam hatinya.
"Pak tua! Cepat katakan apa yang kau butuhkan dariku! Karena aku harus segera kembali kepada keluargaku!" ucap Arjun dengan nada keras terhadap ayahnya.
"Arjun kau Istirahatlah dulu besok baru kita akan berbicara tentang apa yang ayah butuhkan darimu!" kemudian ayahnya Arjun meninggalkan Arjun sendirian di ruang tamu.
"Cih, kau sejak dulu sampai sekarang masih belum juga berubah. Kau kira kau itu orang hebat apa?" ucap ibu tirinya Arjun sambil menatap dia dengan sinis.
"Diam kau pelacur aku tidak Sudi bicara denganmu!" ucap Arjun sambil menatap tajam kepada ibu tirinya kemudian dia meninggalkan wanita itu dengan kemarahan yang jelas-jelas terlihat di wajahnya.
"Mah, Kak Arjun Baru saja sampai apa Mama pantas mengatakan hal seperti itu?" ucap Steven sambil menatap mamanya dengan kecewa.
"Steven kau dengar ya kau tidak usah terlalu dekat dengan anak durhaka itu! Mama tidak suka kalau kau dekat-dekat dengan Arjun!" ucap Emeralda sambil menatap tajam pada Steven yang saat ini sudah berkaca-kaca.
" Ayo datang ke kamar Steven, karena Steven ingin berbicara dengan Mama!" ucap Steven sambil menarik tangan ibunya untuk berangkat menuju kamarnya yang ada di lantai 2 mansion itu.
__ADS_1
"Apa yang mau kau bicarakan Steven? Sampai menarik-narik mamamu seperti ini!" ucap Emeralda sambil terus menggerutu terhadap putranya yang sejak tadi terus menarik tangannya tidak juga mau dilepaskan sampai akhirnya mereka sampai di depan kamar Steven.
"Apa yang mau kau bicarakan Steven? Cepat katakan sama mama!" Emeralda duduk di sofa yang ada di dalam kamar Steven dia menatap tajam ke arah putranya yang saat ini sedang melihatnya dengan tajam.
" Apakah benar yang dikatakan oleh kak Arjun kalau Steven adalah anak dari hasil perselingkuhan Mama bersama asisten mama?" tanya Steven to the point karena dia tidak mau berbelit-belit berbicara dengan ibunya.
Tampak Emeralda terkejut dia langsung bangun dari duduknya dan mendekati Steven yang ada di hadapannya.
"Apa yang tadi kau katakan Steven?" ulang Emeralda sambil menggenggam tangan putranya.
"Apa benar kalau saya adalah anak hasil perselingkuhan Mama bersama asisten mama? Tolong jujur Mah sama Steven! Karena Steven punya hak untuk mengetahui hal itu!" ucap Steven dengan mata yang sudah berderai air mata tampak sekali ada kesedihan di wajah tampannya.
"Dengarkan Mama! Jangan kamu dengarkan Arjun! Dia itu hanya ingin mempengaruhi hatimu. Karena dia tidak mau bersaing denganmu dalam memperebutkan perusahaan ayahmu!" ucap Emeralda dengan sangat yakin dan memegang tangan Steven yang masih menangis.
"Kenapa Mama masih juga bohong sama Steven? Kak Arjun bahkan mempunyai sebuah surat tentang pemeriksaan DNA bawa Steven bukanlah anaknya Ayah!" tentu saja kalimat ini adalah karangan dari Steven sendiri untuk menjebak ibunya.
"Apa kau bilang Steve Arjun mempunyai tes DNA mu dengan asisten mama?" tanya Emeralda seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Steven saat ini.
"Betul Mah! Steven sudah melihatnya bahwa Steven memang anak dari asistennya Mama. Kenapa Mama belum mau ngaku juga?" Steven sudah berteriak histeris di depan ibunya sehingga membuat Emeralda mulai gemetar dan ketakutan.
"Dengarkan Mamah Steven! Walaupun kau memang anak dari asistennya mama. Tapi kau masuk di dalam kartu keluarga keluarga Prawira! Kau juga adalah pewaris dari keluarga ini!" ucap ibunya Steven dengan memegang tangan putranya.
Tetapi Steven dengan kasar menghempaskan kedua tangan ibunya, agar menjauh dari dirinya. Steven seakan merasa jijik melihat ibunya sendiri.
"Sebaiknya Mama mulai melupakan Ambisi Mama untuk menjadikanku sebagai pewaris dari keluarga Prawira. Karena Steven sampai kapanpun tidak akan mau melakukan itu!" ucap Steven dengan penuh kemarahan.
Tanpa diketahui oleh mereka berdua, di ambang pintu terlihat Arjun yang sedang mendengarkan percakapan mereka berdua. Dia tampak tersenyum ketika melihat Steven yang begitu menentang ibunya untuk menjadikan dia sebagai pewaris dari keluarganya.
"Boleh juga anak ingusan itu! Ternyata dia tidak mewarisi darah kotor dari ibu dan ayahnya. Baguslah dia tidak perlu menjadi musuhku!" ucap Arjun sambil tersenyum bangga.
__ADS_1
Kemudian dia meninggalkan kamar Steven yang tampak masih ramai dengan pertengkaran Steven dan Emeralda.
Visualisasi Steven
"Kamu tidak boleh mengatakan seperti itu Steven. Kau harus tetap berjuang agar bisa menjadi pewaris dari perusahaan Prawira!" Emeralda sambil terus memegang tangan Steven yang terus menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya menolak keinginan ibunya.
"Bertahun-tahun ibu dan Ayahmu menyusun rencana agar bisa membuatmu menjadi pewaris keluarga Prawira. Bagaimana mungkin, di saat itu tinggal selangkah lagi, kau malah meninggalkan mama dan Ayahmu?" ucap Emeralda seakan kecewa kepada Steven putranya.
"Aku tidak akan pernah mau mengikuti Ambisi Mama! Aku tidak akan sudi untuk mengambil bagian daripada keluarga yang selama ini sudah baik padaku. Aku tidak mau memberikan kejahatan dari kebaikan yang sudah mereka berikan padaku!" ucap Steven kemudian dia meninggalkan ibunya di kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Arjun di kamarnya sedang menelpon Santi.
"Aku sudah sampai di Amerika! Kemungkinan mungkin besok atau lusa Aku sudah kembali ke Indonesia. Kau harus jaga kehamilanmu jangan sampai terjadi masalah apa-apa dengan anak kita!" ucap Arjun dengan pelan, memberitahukan keberadaannya kepada Santi saat ini.
"Baiklah, Aku istirahat dulu masih lelah sekali setelah perjalanan yang begitu panjang!" Arjun kemudian menutup panggilan telepon tersebut.
Tanpa Arjun ketahui, di sana ada ayahnya yang sedang menguping pembicaraan Arjun bersama dengan istrinya.
"Jadi istrinya Arjun sedang hamil. Itu artinya aku sudah mempunyai seorang cucu semoga cucuku akan selamat dan selalu sehat!" ayahnya Arjun untuk cucunya yang saat ini ada di dalam kandungan Santi, istri dari putranya.
Ayahnya Arjun kemudian meninggalkan kamar Arjun dan dia kembali ke kamarnya sendiri.
Tampak Emeralda sedang menangis di kamar itu sehingga membuat ayahnya Arjun merasa heran dengan istrinya yang sedang menangis sedih.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis malam-malam seperti ini?" tanya ayahnya Arjun kepada Emeralda yang saat ini sedang menangis tersedu-sedu.
__ADS_1