Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
111. Pergi!


__ADS_3

David terus menatap Susan yang saat ini sedang berjalan keluar dari perusahaannya.


"Entah apalagi yang akan direncanakan oleh perempuan itu. Aku rasa aku harus segera mengantisipasi semua ini!" David kemudian menghubungi anak buahnya untuk bisa membereskan masalah tentang Susan.


"Tolong kau hack perusahaan milik Susan dan pastikan untuk kau menghancurkan semua data-data perusahaan itu! Gunakan Black Swan virus untuk menghancurkan data mereka!" ucap David memberikan perintah kepada Sunar.


"Apakah Susan kembali lagi Tuan? Bukankah dia sudah menikah?" tanya Sunar di seberang sana.


"Baru saja Susan datang ke ruanganku. Katanya dia ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita. Akan tetapi aku langsung mengusirnya. Segera laksanakan perintahku Aku ingin data-data perusahaan itu hancur dalam sekejap!" perintah David dengan Aura yang sangat mencekam.


Perasaan sakit hati David ketika mengetahui Susan yang menikah tiba-tiba ketika itu kini mencuat kembali ketika dia bertemu dengan Susan kembali.


"Kalau dulu dia tidak membunuh anakku, mungkin sekarang anakku sudah remaja. Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang bisa membunuh anaknya sendiri!" ucap David dengan penuh amarah di hatinya.


"Tuan! Apakah saya harus menghancurkan semua data perusahaannya ataukah hanya data perusahaan induk saja?" tanya Sunar di seberang sana.


"Cukup kau hancurkan di perusahaan induk saja. Anggaplah itu sebagai pelajaran agar dia tidak mengganggu hidupku lagi!" ucap david dengan wajah garang dan menyebarkan aura pembunuhan di ruangan itu.


"Tuan, team IT mereka pasti akan sangat kebingungan kalau tiba-tiba saja data-data and tulisan mereka hilang begitu saja!" ucap Sunar merasa prihatin membayangkan kesulitan apa yang akan terjadi di dalam perusahaan tersebut.


"Aku tidak peduli. Kau hancurkan saja semua data-datanya. Biarkan mereka lembur selama berminggu-minggu untuk bisa merecovery kembali data-data yang sudah kau hancurkan!" ucap David dengan penuh amarah yang membuncah di dadanya.


"Baiklah Tuan sekarang juga saya akan mengirimkan virus Black Swan untuk menghancurkan semua data-data mereka!" setelah mengatakan itu Sunar pun kemudian langsung menutup panggilan telepon.


"Kau yang menginginkan peperangan ini Susab. Maka aku akan memberikan pertarungan yang sengit untukmu Susan! Kau hanya tidak beruntung saja karena kau mencari lawan yang tidak sepadan denganmu!" ucap David sambil tersenyum miring dia merasa sangat bahagia membayangkan kesibukan dan juga kebingungan yang akan melanda perusahaan induk milik Susan.


"Welcome to the jungle! kalau kau belum kuat jangan berani-beraninya kau menantangku kan aku tidak akan pernah mengampuni siapapun yang berani mencari masalah denganku!" David mengepalkan kedua tangannya.


"Kita akan lihat Susan. Apakah kau sanggup mengambil kembali data-data Yang sudah dihancurkan oleh Sunar! Kita akan lihat seberapa lihai Team IT kalian untuk melawan virus itu! Hahaha!" ucap David Sambil tertawa dengan penuh kebahagiaan.


Tiba-tiba saja pintu ruangan David diketuk oleh seseorang dari luar.

__ADS_1


"Siapa?" tanya David.


"Ini aku! Aku datang untuk membawakan makan siang untukmu dan juga Putri kita aku tahu Kau pasti sangat merindukan ya bukan?" ucap Martha sambil mencium pipi suaminya yang saat ini masih belum tenang hatinya karena perihal permasalahan Susan yang kembali masuk ke dalam hidupnya.


"Terima kasih karena kau sudah membawa mood booster ku yang akan memberikan semangat kembali dalam hidupku!" ucap David sambil mengambil Stella dalam pelukan istrinya dan kemudian dia pun kembali sibuk bermain dengan sang putri tercinta.


Aelama ini memang hanya Stella yang bisa membuat perasaan David menjadi lebih baik.


"Katakanlah padaku! Apakah kau sedang mengalami kesulitan kenapa aku melihat aura tidak menyenangkan di dalam wajahmu?" tanya Martha sambil mendekati David yang masih bermain dengan Stella.


"Tidak usah bertanya sesuatu hal yang tidak kau pahami. Tugasmu hanya mengurus Putri kita yang lain adalah urusanku!" jawab David dengan nada datar dan dingin sehingga membuat Martha merasa kesal.


Martha langsung menarik setelah yang saat ini sedang bermain dengan ayahnya.


"Ayo sayang kita pulang. Ngapain kita jauh-jauh datang kemari kalau hanya untuk diacuhkan saja!" ucap Martha dengan penuh emosi.


"Ayolah Martha jangan kau memberikan kepusingan kepadaku. Sudah banyak masalah dalam hidupku!" ucap David menatap tajam kepada istrinya dan kembali mengambil Stella dalam genggaman Martha.


"Katakan padaku! Apakah kau kembali menemukan seseorang yang membuatmu kembali marah seperti ini?" tanya Martha meneliti wajah sang suami yang saat ini tampak diam dan membeku.


"Apa maksud perkataanmu?Jangan membuat teka-teki!" ucap David kene melirik sekilas kepada Martha yang sudah bermata merah karena menahan amarah.


"Selama ini yang bisa membuatmu mengamuk seperti ini hanga Qiara mu itu. Wanita yang meninggalkanmu dan menikahi Kevin!" ucap Martha langsung menembak David ke ulu hatinya.


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu berhentilah bicara tentang Qiara!" ucap David.


"Kenapa?" tanya Martha.


"Karena kau tidak layak untuk membicarakan Qiara. Sudah kau pulang sana, tolong jangan mengganggu kesenanganku bersama putriku!" ucap David.


"Aku tidak layak untuk membicarakan Qiara?Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Martha dengan menggenggamkan kedua tangannya dan bersiap untuk menghajar David.

__ADS_1


"Rasa cemburumu yang tidak masuk akal itu yang membuatmu tidak layak membicarakan dia. Kau sudah tahu bahwa Qiara sudah punya suami dan bahkan mereka akan memiliki anak kembali. Entah Kau sedang meributkan apa di sini!" ucap David kini berdiri di hadapan Martha.


"Cemburu yang tidak masuk akal? Bahkan sampai hari ini kau masih mengirimkan detektifmu untuk terus mencari kabar tentang Qiara. Apakah itu yang disebut cemburu yang tidak masuk akal?" ucap Martha dengan menatap tajam kepada David.


"Itu adalah urusanku. Apakah aku akan mengirimkan seorang detektif untuk Qiara atau tidak. Itu bukan urusanmu!" ucap David menatap tajam kepada Martha dan siap untuk bertarung.


"Selagi aku masih bicara baik-baik. Silakan keluar dari ruanganku. karena aku tidak punya mood untuk berantem denganmu!" ucap David sambil membuka pintu ruangannya mempersilahkan Martha untuk keluar.


Ketika Martha akan mengambil Stella, David langsung memeluk Stella dengan erat.


"Kau bisa pergi tanpa Stella. Karena Stella akan bersamaku!" ucap David dengan suara bariton. Menamlakkan wajah serius dan tanpa ingin dibantah oleh siapapun.


"Bagaimana mungkin kau tega melakukan ini padaku!" ucap Martha dengan berlinang air mata.


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu jangan sekali-kali membahas tentang Qiara karena aku tidak mau sembarang orang membicarakan dia!" ucap David sambil menatap tajam kepada Martha.


"Apakah dia sangat berharga untukmu?" ada ribuan luka di hati Marta saat ini ketika mendengarkan suaminya mengatakan hal seperti itu kepada dirinya.


"Selama ini aku tidak pernah membicarakan Qiara ataupun memikirkannya!" ucap David.


"Omong kosong! Sepanjang hidupmu hanya memikirkan dia. Kau tidak pernah melihatku ada di hadapanmu. Untuk apa sebenarnya kau menikahiku kalau Hati dan Cintamu Bukan Untukku!" ucap Martha dengan menatap tajam ke arah suaminya.


"Kenapa kau tidak menceraikan aku saja? Karena aku sudah tak sanggup untuk menghadapi pernikahan gila semacam ini!" ucap Martha sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Kau bisa melakukannya kalau kau memang sangat menginginkannya. Cuman satu hal yang harus kau ingat. Kau akan kehilangan hak asuh atas Stella dan kau juga akan kehilangan segala tunjangan dari Kingford, dan yang penting adalah deviden saham Kingford!" ucap David berusaha untuk mengancam istrinya.


"Persetan dengan sahammu! Aku tidak peduli sama sekali!" ucap marthah dengan menatap tajam ke arah David yang saat ini sedang meringis tersenyum mengejek Martha.


"Saya yakin kau akan berbicara berbeda kalau mengetahui deviden dari saham yang akan kau dapatkan setiap bulannya. Ketika kau menjadi berstatus nyonya Kingford." ucap David kemudian dia meninggalkan ruangan itu bersama dengan Stella.


"Apa maksud perkataanmu? Jangan berbuat semacam itu dan jangan pernah bermain teka-teki denganku!" teriak Marta merasa jengkel terhadap kelakuan David yang hari ini benar-benar membuatnya sangat marah.

__ADS_1


__ADS_2