
Rasanya sangat malu, karena seorang pria melihat dirinya dalam keadaan telanjang di bathtub, Qiara sudah kesal sama David, sudah bersiap memukul.
"Ampun!!" David berlarian menghindari Qiara yang seperti singa mengamuk itu.
"Kamu memang layak di hajar!! Sembarangan masuk kamar mandi seorang wanita!" Qiara sudah marah sampai ke ubun-ubun.
"Aku sudah manggil-manggil kamu loh, tapi kamu gak nyahut juga. Cepatlah bersiap, orang tua kamu sudah datang. Apa kamu mau membuat mereka menunggu kamu?" Qiara yang mendengar perihal orang tuanya, seketika membeku dan berhenti mengejar David.
"Baiklah, untuk kali ini aku akan melepaskannya. Tapi lain kali, aku akan pastikan kamu menerima hukuman dariku." Qiara langsung menyambar totebag yang sudah disiapkan oleh David dan masuk kedalam kamar mandi.
"Dia benar-benar menakutkan. Bahaya kalau sudah jadi istri, apa kabar hari-hari aku nanti?" David bergidik ngeri saat membayangkan dirinya sport jantung setiap hari.
"Punya istri bar-bar kaya dia, sepertinya bukan ide yang bagus!" David bicara sendiri sambil terus mengelus dadanya yang tidak sakit.
"Memang siapa gitu, yang mau menikah sama kamu? PD amat!" Qiara menimpuk kepala David dengan bantal dan tidak perduli dengan David uang misuh misuh di belakangnya. Qiara langsung ke ruangan yang sudah disiapkan David untuk pertemuan dirinya dan juga orang tuanya.
"Assalamualaikum, maaf terlambat semuanya." Qiara menyalami semua orang yang hadir disana. Grandfa David dan juga mamahnya.
"Hello.. Apa kabar sayang? Maafkan suamiku tidak bisa ikut, tadi saat akan siap berangkat, klien dari Dubai ternyata datang dan mendesak untuk bertemu sekarang juga." Melinda memeluk Qiara dengan erat. Melepaskan segala kerinduan akan Putri yang sekian lama dia titipkan di panti.
"Tidak apa-apa. Kedatangan Anda sudah lebih dari cukup." Qiara duduk di dekat Mamahnya sambil tak lepas melihat sosok yang sangat cantik. Sekarang dia paham, kenapa dirinya memiliki wajah begitu cantik. Mamahnya menurunkan kecantikan itu ke padanya.
"Apa kabar sayang?" Melinda menjabat tangan David, Melinda sudah diberi tahu oleh Grandfa bahwa David adalah cucunya. Hubungan Melinda dengan Grandfa memang lumayan erat. Dahulu mereka mengikat perjanjian pernikahan David bersama anaknya yang saat itu masih dalam kandungan. Tetapi dia sembunyikan selama bertahun-tahun lamanya, demi keselamatan anaknya dari ambisi keluarga suaminya yang selalu mengincar perusahaan yang dirintis oleh suaminya semenjak muda dahulu.
__ADS_1
Hati suaminya memang baik, saat perusahaan bertambah besar. Andi membagikan beberapa persen saham di perusahaan bagi adik-adiknya beserta kakaknya. Tapi hal itu bukan mereka syukuri tapi malah membuat mereka tambah serakah. Menginginkan lebih dari apa yang sudah diberikan. Sampai puncaknya merencanakan pembunuhan akan dirinya dan juga anaknya.
Untung saat itu suaminya tidak jadi ikut dengan dirinya, jadi beliau selamat dari kecelakaan maut tersebut. Dari yang Melinda dengar ketika dia sudah siuman dari pingsannya, ada banyak nyawa yang melayang saat itu.
"Kabar aku baik Tante, terima kasih." David memilih duduk di samping Grandfa dari pada dekat dengan Qiara.
Tatapan membunuh Qiara berhasil membuat bulu kuduknya merinding disko. Mereka tampak sangat bahagia, menikmati pertemuan ini.
"Melinda, apakah kamu sudah tahu kalau Qiara adalah putrimu?" Grandfa yang biasa to the point tidak mau berlama-lama dengan basa basi yang tak penting menurutnya.
"Apa maksud Anda?" Melinda tampak syock. Bagaimanapun dia khawatir kalau ada orang lain yang tahu hal itu. Selama ini dia berusaha sangat keras untuk hal tersebut.
"Sudahlah Melinda, jangan menutupi dari saya. Saya sudah jauh-jauh hari menyelidik perihal Putri kalian. Bahkan aku sudah melakukan tes DNA untuk putrimu itu. Lihatlah hasilnya!" Grandfa melemparkan map putih di hadapannya.
"Aku menyembunyikan Putriku dari dunia karena sangat takut dengan keselamatan dirinya. Aku mengetahui bahwa kecelakaan dua puluh tahun lalu bukan Kecelakaan biasa. Tapi ada seseorang yang ingin membunuh semua keluarga saya." Melinda menghapus air matanya.
Duka itu teramat menyakitkan. Jauh dari putrinya sungguh amat berat baginya. Kesedihan dan kerinduan yang selama ini ditahannya, sedikit banyak menggerogoti kesehatan dan kekuatan mentalnya. Di kaum sosialita, mungkin Melinda terkenal dengan kedermawanan dan kesantunan dirinya. Tapi jauh di dalam hatinya, dia menyimpan banyak luka dan air mata.
"Mamah, apapun yang terjadi, aku akan tetap memaafkan kalian. Aku tahu, pasti sangat berat bagimu, memutuskan untuk menyembunyikan diriku." Tanpa aba-aba anak dan ibu tersebut sudah saling merangkul dan menangis tersedu-sedu. Pertemuan itu berubah jadi sendu.
"Aku sangat bahagia bisa melihat moment langka ini. Semoga kalian ibu dan anak bisa segera saling mengakui di depan publik dan bisa hidup bahagia bersama." Grandfa memecah keharuan di antara ibu dan anak tersebut.
"Grandfa saya sangat bahagia. Tetapi hal itu tentu sangat beresiko. Kita bersembunyi di tempat terang, tetapi musuh bersembunyi di tempat gelap. Aku gak mau ambil resiko dengan keselamatan Orang tuaku." Qiara masih belum melepaskan pelukannya dari Mamahnya yang selama ini sangat dia rindukan.
__ADS_1
"Kamu jangan kwatir sayang. Musuh utama yang berbahaya bagi kalian sudah di tangani oleh David. Papahnya Susan sudah mendekam di penjara untuk waktu yang lama. Kalian bisa tenang!" Qiara menatap David tak percaya.
"Bukankah Susan adalah kekasihmu? Bagaimana kamu tega memasukan ayahnya ke penjara?" David menatap sang Grandfa. Meminta beliau untuk menjelaskan situasi yang dimiliki dirinya saat ini.
"David tinggal di negara ini atas perintah dariku. Untuk menjaga keluarga kalian. Kebaikan leluhur kalian pada kami, yang membuat kami harus melindungi kalian dari musuh yang berusaha menyakiti kalian." Qiara tak habis pikir dengan keadaan ini. Bagaimana David sampai menjalin hubungan romantis dengan Susan demi melindungi keluarganya.
"Kamu luar biasa." ucap Qiara sarkas.
"Come on! This is my duty." ucap David salah tingkah dengan sindiran Qiara kepadanya.
"Tapi kamu berlebihan Ok!" Qiara melihat mamahnya kembali. Menghirup parfum sang mamah sungguh menenangkan baginya.
Sementara itu, Kevin sudah gelisah karena sang istri belum juga kembali. Waktu semakin malam dan tidak ada tanda-tanda bahwa istrinya akan kembali. Anak buah yang diperintahkan untuk mencari juga belum ada kabarnya.
"Kamu di mana sayangku? Kalau sudah pulang, aku gak akan ijinkan kamu pergi keluar lagi. Kamu bikin aku jadi gelisah begini!" David sangat gugup.
"Sayang! Jangan pernah ninggalin aku." David sudah menangis tanpa dia sadari. Ketakutannya sudah di ambang batas.
Selama ini Qiara tidak pernah melakukan hal yang demikian. Istrinya selalu memberikan kabar kepada dirinya. Tapi sekarang? Seharian Qiara bahkan tidak membalas ratusan chat yang Kevin kiriman. Bagaimana Kevin tidak kalang kabut?
Selama ini dunia Kevin hanya berpusat pada Qiara. Walaupun pernikahan mereka hanya siri. Tapi Kevin sangat mencintai Qiara. Dirinya hanya menunggu restu ke dua orang tuanya saja. Agar pernikahannya dengan Qiara penuh berkah nantinya. Tetapi meminta restu kepada mereka sungguh sangat sulit, tidak sesuai dengan perkiraan dirinya.
Mamahnya sangat keras kepala. Hanya perduli dengan bisnis dan kekayaan. Sungguh Kevin benar-benar kehilangan ide untuk membuat mereka menerima Qiara sebagai istri yang dia cintai dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Kevin takut dengan zinah. Oleh karena itu dia memutuskan untuk menikah siri dengan Qiara. Menjaga Marwah Qiara sebagai seorang wanita. Tidak ingin menghinakan wanita yang dia cintai dengan hubungan tanpa pernikahan.