
Berbulan-bulan Kevin berusaha mencari keberadaan Qiara, tetapi nihil. Kevin menjalani hari-hari dalam hidupnya hanya dengan kerja, kerja dan kerja. Bahkan sekedar makan hampir tak ada waktu. Arjun sebagai asisten yang pontang panting harus selalu ingetin Kevin makan.
"Tuan, Anda harus tetap makan. Jangan sampai nanti Anda sakit. Anda masih ingin bertemu dengan istri Anda bukan?" ucap Arjun siang itu.
Pihak perusahaan bahkan sampai menyewa khusus ahli gizi untuk Kevin. Tapi Kevin masih susah kalau di suruh makan. Badannya sampai kurus, lelaki macho ber roti sobek di perutnya sudah menghilang sejak kepergian Qiara dalam kehidupan Kevin. Kevin yang dulu periang dan jahil, kini hanya ada Kevin yang murung dan selalu bersedih. Arjun sungguh kasihan melihat atasannya.
"Tuan, ayo makanlah!" Kevin akhirnya mau makan, tapi hanya beberapa sendok saja. Tapi Arjun bersyukur masih ada makanan yang masuk ke perut atasannya tersebut.
tring tring tring...
Suara ponsel Arjun berdering. Arjun mengangkat lalu raut wajahnya tiba-tiba sendu.
"Baik, kami segera ke sana!" Kevin terheran dengan asistennya yang malah menatap dirinya dengan air mata hampir jatuh di kelopak matanya.
"Ada apa?" tanya Kevin.
"Tuan, tadi telpon dari Pak komando polisi, katanya pihak mereka menemukan Jenazah. Ciri-ciri nya mirip seperti Bu Qiara. Mereka meminta tuan untuk ke sana, mengklarifikasi jenazah perempuan tersebut." ucap Arjun hampir tersekat.
"Hiks hiks hiks! Gak mungkin itu Qiara! Aku bisa merasakan, Qiara ku masih hidup, dia hanya sedang marah dan salah paham kepadaku!" Kevin menangkupkan tangannya ke wajah, lalu menangis sesenggukan.
Arjun sungguh tidak tega melihat penderitaan atasannya. Kevin memang sangat mencintai Qiara. Kevin bahkan rela dibuang keluarganya karena menolak permintaan mereka yang menghendaki agar melanjutkan Pernikahan dengan Susan. Kevin memilih melanjutkan perusahaan yang dia rintis bersama Qiara sebelum Qiara menghilang.
Perusahaan itu sekarang sudah berkembang, semakin maju, bahkan di jadwalkan akan membangun hotel berbintang lima di Meksiko, dua bulan lagi. Kevin sebagai CEO telah dijadwalkan akan terbang ke sana menggunakan jet pribadi miliknya.
__ADS_1
"Ayo Tuan, habiskan dulu makanan Anda, kita harus segera ke kantor polisi, mereka sudah menunggu kita!" Arjun berusaha membujuk Kevin.
Kevin menurut, dia perlahan makan dengan linangan air mata yang tak mau berhenti. Hanya Arjun pria beruntung yang melihat sosok Kevin seperti ini. Di luar pintu kantor, Kevin berubah sosok menjadi manusia kutub Utara. Yang dinginnya melebihi kulkas dua pintu. Orang lain mengenal Kevin sebagai pribadi yang ulet dan keras. Tegas dalam berbisnis.
Setelah makan, mereka akhirnya ke kantor polisi. Di sana, komando sudah menunggu kedatangan Kevin. "Pak Kevin, syukurlah Anda sudah datang. Kami semalam menemukan jenazah di tumpukan sampah, ciri-ciri nya hampir mirip 90% dengan istri Anda. Silahkan Anda masuk ke ruang mayat, untuk identifikasi, wajahnya hampir busuk, karena mayat itu di ketemukan setelah 1 Minggu kematian. Oh ya, kami menemukan ini di tangan mayat tersebut," Pak komandan memberikan sebuah jepit rambut kepada Kevin.
Mata Kevin nyalang, melihat jepit rambut dengan batu safir tersebut. Kevin ingat, itu adalah hadiah yang dia berikan untuk Qiara, hadiah perjalanan nya ke Turkey. Kevin menatap lekat jepit rambut tersebut. Tanpa terasa air matanya mengalir lagi.
"Tuan, ayo kita periksa dulu mayat itu, Anda harus kuat, Tuan!" pinta Arjun berusaha menopang tubuh tuannya yang sudah merosot ke lantai dan menangis pilu. Beberapa polisi bahkan ikut menitikkan air mata mereka.
Mereka sangat tahu, pengusaha muda yang kini sedang menangis, selama berbulan-bulan terus bolak balik ke kantor mereka karena mencari istrinya yang menghilang beberapa bulan. Mereka tahu perjuangan Kevin dan berapa besar cinta Kevin. Makanya mereka merasa sedih melihat keadaan Kevin tersebut. Mayat di dalam sudah hampir 90% dipastikan adalah Qiara.
"Ayo, Tuan!" Arjun membimbing Tuannya menuju ruang mayat. Arjun menutup hidungnya, karena bau mayat yang sudah hampir seminggu belum di kuburkan tersebut. "Tuan, cepatlah! Identifikasi mayat itu!" pinta Arjun kepada Kevin yang masih bengong di depan mayat itu.
"Tuan, ayolah! Kita harus identifikasi mayat ini. Agar bisa dikubur, kasihan kalau lama-lama di biarkan begini!" ucap Komandan polisi.
Kevin membuka matanya, dengan kekuatan terakhirnya, Kevin membuka penutup mayat tersebut. Saat di buka, Kevin melihat mayat tersebut memakai pakaian Qiara. Kevin ingat, bahwa pakaian itu dia yang belikan saat itu, bersama jepit rambut tadi.
"Qiara! Jangan tinggalkan aku, sayang! Hiks hiks!" Kevin mengguncang mayat tersebut. Sampai akhirnya Kevin jatuh pingsan. Arjun dan komandan polisi langsung mengangkat tubuh Kevin dari kamar mayat.
"Tuan, sadarlah!" Arjun berusaha menyadarkan Kevin, sungguh miris nasib Kevin.
"Berarti, jenazah tersebut adalah benar, Bu Qiara? Istri Pak Kevin?" tanya Komandan menegaskan.
__ADS_1
"Siapkan pemakaman Pak Polisi, nanti pihak kami yang akan membiayai semua nya." perintah Arjun.
Mayat itu sudah rusak, wajah maupun badan. Hanya jepit rambut dan pakaian lusuh yang di ingat oleh Kevin sebagai pemberian dirinya, yang membuat mereka yakin itu adalah mayat Qiara.
Disinilah sekarang, Kevin tengah menangis di atas kuburan yang di atas papan nisan di beri nama Qiara. Tanpa henti, Kevin menangis tersedu-sedu.
"Aku gak percaya, kalau kamu meninggalkan diriku, sayang! Kamu tidak mungkin meninggalkan aku! Tidak mungkin! Kembalilah padaku, sayang! Hiks hiks!" kepedihan hati Kevin tersebut membuat orang-orang yang hadir di pemakaman tersebut menangis juga.
Cinta Kevin untuk Qiara sungguh luar biasa. Mereka tahu kisah hidup Kevin. Karena surat kabar maupun televisi selalu memberitakan keluarga Kevin. Kevin yang demi cinta rela meninggalkan status dia sebagai pewaris keluarga besarnya.
Jauh di sana, ada seorang pria berkaca mata hitam, tampak menelpon seseorang.
"Misi kita berhasil Tuan, Mayat itu sudah di makamkan dengan nama Nona Qiara. Ya, saya menggunakan mayat tanpa identitas yang kami temukan kemarin di danau, kami memakaikan mayat tersebut dengan pakaian Nona Qiara, kami juga menaruh jepit rambut Nona Qiara di tangan mayat tersebut. Makanya mereka yakin bahwa mayat itu adalah nona!" laporan yang diberikan oleh pria misterius tersebut kepada seseorang yang entah siapa.
Sementara itu, di kediaman Pratama, "Baik, terima kasih atas kerja bagus Anda, bonus akan saya transfer ke rekening Anda!" Pak Andi Pratama lalu menutup telepon, lalu beliau menarik nafas lega.
"Sudah beres, Pah?" tanya istrinya.
"Alhamdulillah, sudah beres! sekarang Kevin sudah yakin, bahwa anak kita sudah meninggal. Nanti kita ajukan identifikasi baru untuk Qiara. Saat anak dan cucu kita kembali ke sini!" ucap Pak Andi merasa senang.
"Syukurlah, Pah! Ayo kita siap-siap. Kita harus ke Meksiko, sebentar lagi anak kita akan melahirkan. Mamah ingin mendampingi Qiara!" permintaan sang istri tidak pernah di tolak oleh Andi Pratama.
Sejak menemukan Qiara, Andi semakin mencintai istrinya. Merasa bangga dengan tindakan yang sudah di ambil, kalau tidak, mungkin sekarang keluarga Pratama benar-benar tidak punya keturunan lagi. Karena keserakahan keluarganya yang tidak pernah bersyukur dengan kebaikan dirinya selama ini. Andi merasa geram dengan cerita anak buahnya, bahwa kejadian 22 tahun lalu adalah rencana sang kakak, Radit!
__ADS_1
Syukurlah. Radit sudah di penjara. Makanya Andi tidak mempermasalahkan apapun lagi. Susan dia berikan kepercayaan sebagai Direktur di hotelnya. Andi tahu, keponakannya itu tidak jahat seperti ayah ibunya. Andi kenal Susan sejak kecil. Karena memang Susan lebih banyak menghabiskan masa kecilnya dengan dirinya dan istrinya. Andi sangat sayang dengan Susan.