
Pov Kevin
Siang ini aku kedatangan teman semasa kuliah di luar negeri dulu. Tidak tahu dari mana dia tahu alamat kantor ku yang baru. Tapi aku harus menghormati seorang tamu. Aku mempersilahkan dia duduk di kursi depan meja kerjaku. Siang ini hampir jam makan siang, aku ingin pulang ke rumah. Rasanya sangat rindu dengan istriku.
Tapi Kelly tampaknya masih betah di ruanganku. Saat aku bersiap untuk bangun, tiba-tiba Kelly terjatuh dan duduk di pangkuan ku. Aku terkejut saat itu, belum selesai hatiku mengatur perasaan ku, tiba-tiba saja Kelly mencium bibirku dengan sangat rakus dan memaksakan agar aku membalas ciumannya.
Aku terkesiap sejenak. Sempat membalas ciuman Kelly selama beberapa detik. Tapi kemudian akal sehat ku kembali, aku langsung mendorong tubuh Kelly dari pangkuan ku. Dan mengusir dia.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini! Jangan coba-coba menggodaku! Aku sudah punya istri dan aku mencintai dia! Pergi sekarang juga!" Hardikku dengan emosi. Kelly tampak ketakutan lalu langsung pergi dari ruanganku.
"Sialan! Hampir saja aku tergoda! Untung Qiara selalu jadi penguat imamku!" aku sudah tidak bisa menahan diri lagi dai rasa rindu terhadap istriku. Aku langsung menemui sekretaris ku.
"Kalau wanita tadi datang lagi ke kantor ini, apapun alasannya, kamu langsung usir! Paham kamu?" sekretaris ku tampak ketakutan karena melihat aku yang berkilat menatap dia.
"Baik, tuan! Maafkan keteledoran saya." ucapnya.
"Ya sudah! Untuk kali ini aku akan maafkan kamu! Tali lain kali, aku akan langsung pecat kamu!" bentakku lalu aku masuk kembali ke ruanganku. Lupa belum bawa ponsel dan kunci mobilku.
"Aku mau pulang, cansel semua janji temu sore ini. Bilang saja aku sakit!" ucapku langsung pergi dari kantor dan langsung kembali ke panthouse.
Sejak tadi perasaan aku gak tenang, rasanya gelisah sekali. Tidak tahu kenapa. Setelah sampai ke panthouse, aku langsung mencari istriku. Semua ruangan sudah aku telusuri, tetapi tidak aku temukan. Aku mulai gelisah.
"Kemana istriku? Kok gak biasanya begini!" aku lalu mengambil ponselku. Mencoba menghubungi istriku. Tapi aku terkejut saat melihat nomorku di blokir. Aku mencoba menelpon pakai panggilan biasa juga tidak bisa. Kenapa Qiara mem-block nomorku di semua jalur ya? Aku mulai panik.
Aku masuk ke kamarku. Aku pergi ke wall in close ternyata pakaian Qiara hampir 50% sudah tidak ada di tempatnya. Yang aku heran, Qiara tidak membawa tas-tas branded maupun perhiasan yang aku berikan kepadanya. Dia hanya membawa pakaian dia yang dulu dia bawa dari rumah lamanya, pakaian sebelum menikah denganku.
"Ada apa dengan istriku? Pergi kemana dia?" aku langsung turun dan menemui pihak manajemen gedung tempat tinggalku.
__ADS_1
"Maaf, Pak! Saya mau melihat CCTV dari tadi siang hingga malam ini!" ucapku buru-buru.
"Ada apa memangnya Pak Kevin?" tanya manager tampak bingung dengan permintaan ku.
"Istriku menghilang sejak siang tadi!" jawabku.
"Astagfirullah! Mari Pak, ikut saya ke ruang CCTV." kami langsung ke sana dan melihat rekaman di semua sudut gedung. Saat waktu jam makan siang, aku melihat Qiara keluar dari gedung dengan membawa kotak makan siang. Lalu pergi dengan sebuah taksi.
Selang satu jam kemudian Qiara kembali ke panthouse dan pulang dengan berderai air mata. Tidak lama kemudian Qiara keluar dengan membawa kopernya dan pergi dengan taksi yang tadi membawa dia kembali. Dadaku langsung berdenyut nyeri.
" Apakah Qiara salah paham dengan Kelly? Jangan-jangan tadi Qiara melihat apa yang Kelly lakukan di kantor ku! Ya Allah, habislah sudah!" ucapku frustasi. Aku hilang akal seketika.
Aku kembali ke unitku dan menenangkan diriku. Saat ini pikiran ku rasanya buntu. Tidak bisa berpikir. Hatiku rasanya sakit, membayangkan istri yang Aku cintai meninggalkan aku sendirian.
"Bagaimana aku melanjutkan hidupku tanpa kamu, sayang?" ratapku sedih. Aku sudah hilang semangat. Gak bisa berpikir jernih lagi.
"Sayang, kenapa kamu pergi begitu saja. Kenapa tidak bertanya dulu dan menunggu penjelasan dariku?" aku lalu mengambil ponselku lagi.
Aku akan menelpon bagian keamanan. "Hallo, tolong kirimkan rekaman CCTV siang tadi saat ada teman saya berkunjung ke kantor saya. Kirim langsung ke ponsel saya. Terima kasih! Saya tunggu sekarang juga!" aku lalu pergi ke kamar mandi dan merendam tubuhku di bathtub dengan air hangat. Pikiranku saat ini sangat kacau.
"Kamu kemana, sayang?" lirihku sambil terisak.
"Apa kamu kembali ke kontrakan kamu yang dulu?" seketika aku mendapatkan semangat ku kembali. Aku bergegas membilas sabun yang masih menempel di badanku. Dengan tergesa aku keluar dan menggunakan baju sedapatnya. Aku gak perduli dengan penampilanku saat ini.
Aku bahkan belum makan sejak siang tadi. Pikiranku saat ini hanya ingin menemukan istriku. "Dia anak yatim piatu, tidak memiliki siapapun. Kalau dia pergi dari sisiku, kemana dia akan pergi? saat ini hanya aku Keluarga terdekatnya." aku terus bermonolog dalam perjalanan ke kontrakan Qiara yang lama. Saat sampai ke sana, aku langsung mengeruk pintu kontrakannya.
"Sayang, apa kamu di dalam? Keluarlah sayang! Mas ingin bicara sama kamu!" Teriakku tidak perduli saat ini tengah malam.
__ADS_1
Aku melihat sesosok laki-laki keluar dari sana. Aku terkejut. Kenapa ada laki-laki keluar dari kontrakan Qiara? Pikiranku sudah tidak karuan rasanya.
"Heh! Apa kau gila! Malam-malam teriak-teriak di rumah orang!" laki-laki itu mengomel dan marah-marah. Tapi aku juga tidak kalah marah. Hatiku sudah panas. Bagaimana mungkin Qiara berselingkuh dengan pria gendut jelek ini?
"Di mana istriku kamu sembunyi kan?" ucapku sambil menerobos masuk ke kontrakan Qiara. Aku mencari Qiara di kamarnya, namun aku terkejut saat mendapatkan tubuh seorang wanita asing yang tertidur tanpa busana.
"Astagfirullah!" aku langsung keluar dari kontrakan itu. Lalu meminta maaf pada bapak gendut tadi.
"Maafkan saya, Pak. Tampaknya ada kesalahan pahaman. Kontrakan ini dahulu di tempati istri saya, Qiara. Saya kira dia kembali kesini!" ucapku merasa malu karena malam-malam sudah membuat gaduh di rumah orang.
Aku melihat ke sekeliling, tampaknya hampir 80% penghuni kontrakan pada keluar. Aku lihat ibu kost Qiara juga ada di sana, dia mendekatiku.
"Ada apa, Mas Kevin? Kenapa malam-malam berbuat gaduh di kontrakan saya?" tanyanya ketus, tampak kalau dia sangat marah padaku.
"Maafkan saya, Bu! Istri saya menghilang, saya kira dia kembali ke sini." jawabku jujur.
"Sejak Qiara menikah denganmu, dia tidak pernah kembali ke mari. Kamarnya sudah lama diisi oleh pasangan suami istri asal Surabaya." jawab ibu kost mulai terdengar tenang.
"Maafkan sekali lagi, Bu! Saya panik karena ini sudah larut malam, tetapi istri saya belum pulang juga." ucapku putus asa.
"Coba besok Mas Kevin cari Qiara di panti asuhan yang dulu membesarkan Qiara. Siapa tahu dia kembali ke sana!" ucap ibu kost lagi.
"Saya tidak tahu alamatnya, Bu!" ucapku frustasi.
"Sebentar, saya ambil. Dulu Qiara pernah memberikan alamat panti asuhan itu, saat dia meminta saya mengantarkan donasi dari warga penghuni kontrakan saya." ibu kost Qiara lalu masuk ke rumahnya dan kembali dengan secarik kertas. Ada alamat panti asuhan di sana.
"Terima kasih, Bu! Semoga Allah membalas kebaikan Ibu! Mohon maaf kepada semua karena sudah bikin gaduh tengah malam begini." aku lalu pamit dari kontrakan lama Qiara.
__ADS_1
Malam ini aku istirahat, agar besok aku bisa mencari Qiara di panti asuhan tersebut. Semoga aku bisa bertemu dengan istriku lagi. Amien