Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
54. Kehidupan Penuh Cinta


__ADS_3

Seharian ini, Kevin penuh dengan kesabaran, hatinya kesal sebenarnya, tetapi Kevin juga tahu, bahwa Arjun sedang membutuhkan waktu untuk hal pribadi. Kevin sadar, bahwa asistennya dan juga sahabatnya itu selama ini sudah mengabdikan hidupnya kepada dirinya sebagai seorang asisten yang baik dan juga teman yang selalu ada untuk dirinya. Oleh karena itu, Kevin berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaan hari ini.


"Tuan, apakah Tuan Arjun belum kembali juga?" tanya Sekretaris Kevin.


"Apa kau tidak bisa bekerja apabila tidak ada Arjun? Perasaan, kau ini digaji sebagai sekretarisku. Kenapa apa-apa kau selalu tergantung dengan Arjuna? Arjun juga memiliki kehidupan pribadi, apakah harus selalu ke repotkan dia?" Kevin sudah hilang sabar dengan kelakuan sekretarisnya itu yang sejak tadi bolak-balik terus menanyakan keberadaan Arjun. Sementara dirinya juga pusing dengan segala keperluan yang selama ini selalu Arjun yang menyelesaikannya.


"Oh Arjun! Kau baru pergi sehari ini, tetapi, ah Lihatlah begitu banyak kekacauan dikarenakan dirimu yang tidak ada di kantor seharian ini!" desah Kevin frustasi.


"Baiklah Tuan, saya akan coba Kerjakan file ini. Semoga tidak mengecewakan Anda!" kemudian sekretaris Kelvin keluar dari ruangan Kevin. Kevin menatap nyalang pintu tersebut. Berharap Arjun segera datang, tapi apalah daya, ternyata Arjun sampai sore menjelang, tidak juga kembali Kevin benar-benar sangat frustasi dengan segala urusan yang begitu menyiksa dirinya.


"Aku harap, kamu bisa memulai awal hidupmu yang baru. Sehingga semua kekacauan yang kau buat ini, tidak akan menjadi sia-sia!" ucap Kevin, meraup wajahnya dengan kasar. "Syukurlah! Hari ini, aku akan biarkan hal ini kau lakukan Arjun! Tapi lain kali, aku pastikan bahwa aku tidak akan memaafkanmu! Kau, asisten sialan! Beraninya kau memberikanku beban mental semacam ini!" Kevin sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah, setelah seharian ini dibuat pusing dengan segala urusan pekerjaan dan ***** bengeknya, yang biasanya semuanya diurus oleh Arjun.


"Oh Arjun! Betapa hebatnya kau selama ini! Bisa mengurusi segalanya sendiri. Aku sehari tanpamu, kacau balau seperti ini, apalagi kalau selamanya? Oh, no!" Kevin berteriak frustasi.


"Ayo kita pulang, biar besok kita selesaikan!" ucap Kevin berlalu dan meninggalkan sekretaris nya sendiri, menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk.


"Anda duluan saja, Pak! Saya akan menunggu Tuan Arjun, sebentar lagi. Siapa tahu dia akan kembali ke kantor ini. Saya masih ada beberapa hal yang bingung dan masih ragu untuk mengerjakannya. Saya masih menunggu Tuan Arjun untuk memberikan beberapa petunjuk kepada saya!" Kevin hanya mengedikkan bahunya, lalu kemudian meninggalkan sekretarisnya seorang diri di ruangan itu. Kevin benar-benar sangat pusing melewati hari ini. Sehari tanpa Arjun, rasanya seperti di neraka saja.


"Awas saja kau, Arjun! Kalau besok-besok, kau berani melakukan hal seperti ini lagi! Akan kupastikan kau mendapatkan pelajaranmu!" kesal Kevin lalu pergi dengan mobilnya beserta sopir pribadinya.


Sementara itu, di luar kota Santi dan Arjun tampak sangat menikmati kebersamaan mereka berdua.Hari bersejarah bagi mereka, hari jadi mereka sebagai sepasang kekasih.


"Apa kau tahu? Aku sangat bahagia sekali dengan malam ini. Terima kasih ya, karena kau benar-benar hanya ada untukku malam ini!" ucap Santi sambil menaruh kepalanya di bahu Arjun. Arjun merangkul bahu kekasihnya.


"Apa kau sebahagia itu?" tanya Arjun.

__ADS_1


"Tentu saja! Aku sangat bangga dengan menjadi kekasihmu! Apa kau tahu? Para karyawan di perusahaan Kevin, mereka menjuluki kamu ap?" ucap Santi.



Visualisasi kebahagiaan Santi dan Arjun.


"Mereka menjuluki aku apa?" tanya Arjun penasaran.


"Es balok!" Arjun cemberut, tidak terima dengan julukan itu.


"Bagaimanapun aku tetap jatuh cinta kepadamu!" ucap Santi yang kini mendekap tubuh kekasihnya, Santi benar-benar tergila-gila dengan pesona seorang Arjun.


"Kenapa mereka menjuluki aku es balok? Apa kau tahu?" tanya Arjun menatap lekat wajah kekasihnya.


"Cepat kerjakan pekerjaan kamu! Apa kau sudah bosan hidup, huh?" ucap Santi berdiri memparodikan kebiasaan Arjun di kantor. Arjun terbahak-bahak melihat kelakuan absurd kekasihnya itu.


"Hahahaha, apakah aku segalak itu?" tanya Arjun lagi.


"Kau bukan hanya galak, tapi juga dingin. Kaya kutub Utara! Tapi gara-gara itu, aku merasa tertantang, untuk menghangatkan dirimu, agar meleleh dalam panasnya cintaku kepadamu!" ucap Santi lalu mencium bibir sang kekasih, seakan-akan telah menjadi candu baginya.


Mereka begitu menikmati malam itu, hembusan angin menjadi saksi kehangatan cinta mereka yang sedang mekar-mekarnya. Maklum saja, keduanya sama-sama baru mengecap manisnya cinta.


"Ayo kita pulang! Orang tua kamu. Pasti kebingungan mencari kamu saat ini!" ucap Arjun, mengajak Santi meninggalkan tempat itu. Tempat yang akan menjadi saksi sejarah kisah cinta mereka berdua.


Santi tampak sangat patuh kepada Arjun, mereka bergandengan tangan bersama, menyusuri jalan setapak yang mereka lalui, menuju mobil mereka yang agak jauh mereka parkiran.

__ADS_1


Arjun membawa Santi jalan-jalan ke puncak, melihat bintang dan juga rembulan malam yang gilang gumintang. Suasana yang sangat romantis dan syahdu. Sepanjang jalan, mereka saling menggenggam tangan satu sama lain. Dunia serasa milik mereka berdua saja.


"Apa kau akan menyesali hari ini?" tanya Arjun.


"Tidak akan! Hari ini adalah hari terindah dalam hidupku!" ucap Santi sambil mengecup tangan sang kekasih. Arjun mengelus lembut rambut sang kekasih.


"Aku harap, semua baik-baik saja. Semoga tidak ada rintangan dalam cinta kita!" ujar Arjun tampak fokus menatap jalanan.


"Apa aku mengantarmu sampai rumahmu?" tanya Arjun.


"Terserah kepadamu!" ucap Santi.


Mereka akhirnya sampai di rumah mewah santi. Arjun tampak takjub dengan rumah kedua orangtuanya Santi. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih.


"Ayo kita masuk, sepertinya, Papah dan Mamah masih belum pulang dari luar kota!" ajak Santi.


"Apakah boleh?" tanya Arjun ragu.


"Tentu saja, boleh! Ayo!" Santi lalu menggamit lengan Arjun, menarik tangan Arjun untuk masuk ke kamarnya.


"Wah, kamar kamu rapih juga, ya? Ini adalah kali pertama, aku masuk ke kamar seorang gadis!" ucap Arjun jujur.


"Benarkah? Wah, aku sangat beruntung!" ucap Santi.


"Apakah, aku juga wanita pertama, yang mencicipi manisnya bibir kamu?" tanya Santi dengan suara mendayu dan merayu. Arjun serasa kena setrum saja.

__ADS_1


"Ya, kau adalah orang pertama!" jawab Arjun gugup. Tangan Santi yang mulai nakal, bergerilya di atas tubuhnya, membuat Arjun jadi hilang fokus. Apalagi mereka hanya berdua saja di dalam kamar Santi. Orang tua Santi juga sedang pergi ke luar kota. Para pelayan juga sudah pada tidur semuanya.


__ADS_2