
Sunar menyerahkan hasil penyelidikan atas Qiara. David merasa terkejut saat mendapatkan kenyataan bahwa Qiara ada kemungkinan merupakan anak dari Andi Pratama.
Saat ini David tengah memegang dokumen Qiara di panti asuhan. Disana tercantum bahwa nama orang tuanya adalah Andi Pratama dan Melinda. Sunar membobol data panti asuhan tentu saja. Tidak ada yang tidak bisa Sunar lakukan, Sunar adalah heacker yang handal.
"Kamu harus menyelidiki kecelakaan 20 tahun yang lalu yang menimpa istri pak Andi," pesan David pada Sunar.
David menjadi serba salah sekarang, kalau benar Qiara adalah anak Andi Pratama, itu artinya dia adalah calon istrinya. Karena kakeknya bilang mereka menjodohkan David dan Qiara sejak masih kecil.
David keluar dari ruangan rahasianya. Sudah seminggu dia meminta agar Susan tinggal bersama mamahnya, kasihan kalau beliau tinggal sendiri karena papah Susan sekarang mendekam di penjara berkat kerja bagus anak buahnya.
"Aku harus melaporkan penyelidikan ini pada grandfa dan menanyakan kepadanya apa yang harus aku lakukan sekarang," David kemudian menghubungi grandfa nya yang sekarang ada di Mexico.
"Ada perkembangan apa David?" Grandfa ada di ruang kerjanya, "Semakin tua Grandfaku," monolog David saat melihat grandfanya di layar monitornya
"Grandfa, aku mendapatkan info tentang anak Pak Andi yang dahulu mengalami kecelakaan,"
"Apa maksudnya? Bukankah dia sudah meninggal saat di lahirkan?" Grandfa menyela.
"David juga kurang paham Grandfa, tapi anak buah David yang membobol data sebuah panti asuhan, menemukan seseorang dengan nama orang tua bernama Andi Pratama dan Melisa," David melaporkan penemuan anak buahnya.
"Kamu yakin?" grandfa masih terkejut dengan penumuan anak buah cucunya.
"David yakin Grandfa, coba nanti Grandfa cek ponsel Grandfa, tadi David mengirim beberapa foto," Grandfa tampak membuka ponselnya, dari laptopnya David melihat keterkejutan Grandfa nya.
"Memang bahasa tubuh mereka tampak intim, dari yang Grandfa lihat dari foto itu, tampaknya wanita muda itu mengetahui sesuatu, coba nanti kau temui dia, selidiki, apakah dia sudah tahu mengenai statusnya?" David melihat kembali foto yang tadi dia kirimkan pada Grandfa nya, ah... sekarang dia sadar, foto itu memang sangat intim, tidak salah memang Grandfa nya menjadi orang sukses, dia bisa mengerti bahasa tubuh hanya dari sebuah foto.
"Ya sudah Grandfa. David akan menemui gadis itu. salam buat mamah dan Papah," David langsung pergi ke kamar mandinya dan bersiap untuk ke kantor tempat dia bekerja.
Setelah sampai dia langsung pergi ke ruangan Susan, tetapi Susan tidak ada di sana. David menghubungi Susan tetapi tidak kunjung di angkat David mendengus kesal lalu kembali ke ruangannya dan mulai mengerjakan yang menjadi tugasnya sebagai Asisten Susan.
"Ada apa menghubungiku?" pesan dari Susan.
__ADS_1
"Kamu di mana?" David menghubungi Susan.
"Di penjara, aku sedang mengunjungi Papahku dengan Mamah," suara Susan tampak lesu.
"Ya sudah salam buat Papah, aku lanjutkan kerja," David mengakhiri panggilan dan diam sejenak, memikirkan langkah selanjutnya.
"Aku harus segera menemui Qiara, mumpung Susan tidak ada di kantor," David mengambil kunci mobilnya dan langsung ke parkiran.
David tadi sudah bertanya pada anak buahnya yang dia tugaskan untuk mengawasi Qiara. Qiara sekarang ada di apartemen Kevin.
David memang meminta anak buahnya untuk mengawasi Qiara, selain memantau dia juga menjaga agar tidak ada hal buruk terjadi pada gadis itu. Sejak mengetahui Qiara adalah anak Andi Pratama, David menambah jumlah bodyguard yang menjaga Qiara.
David masuk ke apartemen Kevin, saat ini jam kerja, Kevin pasti tidak ada di apartemennya, David butuh bicara dengan Qiara secara pribadi.
David sudah sampai di unit Kevin. Dia menekan bel dan menunggu Qiara ke luar menemui dirinya.
"Siapa?" terdengar suara Qiara dari interkom.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, keluar seorang gadis cantik dan anggun, menggunakan hijab dan busana muslimah.
"Jadi dia yang bernama Qiara?" David memang beberapa kali bertemu dengan Qiara tetapi hanya sepintas lalu saja, sebelumnya tidak terlalu dia perhatikan. Setelah tahu bahwa dia adalah tunangannya David sedikit demi sedikit mulai memperhatikan Qiara.
"Maaf ada keperluan apa ya?" Qiara menyadarkan David dari lamunan.
"Bisa kita bicara?" Qiara tampak bingung, suaminya saat ini tidak ada di apartemennya, bagaimana dia berani mengijinkan seorang pria asing untuk masuk?
"Kita bisa bicara di cafe atau restoran kalau kamu keberatan aku masuk ke dalam," David mengerti kesulitan Qiara saat ini.
"Silahkan masuk," Qiara merasa tidak enak kalau mengusir tamunya, tidak sopan rasanya.
"Kamu sendirian saja? Mana Kevin?" sekedar basa-basi, David sudah mendapatkan laporan kalau Kevin ada di kantor sekarang.
__ADS_1
"Ini jam kerja, tentu dia kerja di kantornya!" Qiara mempersilahkan tamunya duduk, David mengedarkan pandangannya ke seluruh apartemen Qiara, tampak besar dan mewah.
"Silahkan sampaikan keperluan anda," Qiara meletakan minuman dingin di meja.
David menatap Qiara sejenak, berpikir apa yang akan dia sampaikan pertama kali.
David meletakkan Laporan yang kemarin di setorkan oleh anak buahnya. Qiara membaca laporan itu dengan seksama.
"Ini adalah laporan panti asuhan tempat aku dibesarkan, bagaimana dia bisa memiliki ini?" bathin Qiara heran.
"Anda sudah mengerti dengan laporan itu?" tanya David sambil menikmati minuman yang tadi di suguhkan oleh Qiara.
"Maksudnya apa ini? Saya kurang paham, mohon jelaskan kepada saya," Qiara meletakan laporan itu dan menatap David, bertanya-tanya siapa pria itu, kenapa dia bisa memiliki laporan terkait dirinya?
"Aku meminta anak buahku untuk membobol komputer panti asuhan tempat kamu di besarkan,"
"Kenapa?" itu yang harus dijelaskan oleh David.
"Karena saya mencurigai bahwa Anda adalah anak Pak Andi Pratama," David to the point.
"Maksudnya?" Qiara pura-pura kaget dan berusaha menutupi kegusaran hatinya.
Sangat berbahaya kalau ada orang yang tahu bahwa dia anak Andi Pratama. Dia belum yakin harus melakukan apa, karena masih belum paham siapa musuh dan siapa teman.
"Jangan kwartir, saya bukan musuhmu, saya mendapat tugas dari Grandfa untuk menjaga keluarga Pratama, khusus nya kamu," Qiara terkejut mendengarnya.
"Tolong jelaskan padaku, aku sungguh tidak mengerti dengan semua yang kamu sampaikan padaku," Qiara tidak bisa percaya begitu saja pada laki-laki dihadapannya itu, dia tahu kalau David adalah asisten Susan.
"Dengarkan," David memutarkan sebuah rekaman dari ponselnya, rekaman pengakuan Susan bahwa ke dua orang tuanya bertanggung jawab atas kecelakaan Mamahnya Qiara 20 tahun yang lalu.
"Mereka sungguh jahat," Qiara sangat marah mengetahui kebenaran yang selama ini jadi misteri baginya.
__ADS_1
"Mamahmu menitipkan kamu di panti asuhan karena takut mereka mencelakai kamu, " Qiara sekarang paham, dia bukan di buang oleh orang tuanya, tanpa sadar, air mata mengalir di pelupuk matanya.