
"Aku seorang wanita, Mas! Aku bisa mengerti perasaan Bu Susan bagaimana. Dia pasti sangat sedih sekarang." Qiara menunduk sedih.
"Aku gak perduli! Udah deh, stop bicara tentang Susan. Aku gak mau dengar nama dia lagi!" Kevin mulai jengah karena sejak mereka berdua tiba di Panthouse, Qiara hanya membahas tentang Susan dan juga orang tuanya.
"Kamu egois, Mas!" Qiara lalu masuk ke kamar secara acak. Tak peduli dengan Kevin yang memanggilnya di belakang.
"Sayang, itu bukan kamar kita!"
"Aku mau istirahat, Mas! Cape!" tanpa memperdulikan Kevin lagi, Qiara langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Sayang! Buka pintunya, dong! Masa kamu tega sama Mas! Mas gak mau tidur sendiri!" Kevin menggedor-gedor pintu, namun Qiara tidak perduli sama sekali. Qiara butuh istirahat sekarang.
"Ya Allah! Punya dosa apakah hamba-Mu ini? kenapa kau berikan cobaan seperti ini? hiks hiks" Qiara sudah tidak mampu menahan kesedihan di dalam hatinya lagi.
"Berikan hamba kekuatan ya Allah! Bagaimanapun hamba mencintai suami hamba. Tapi hamba juga tidak mau, kalau bahagia di atas tangisan wanita lain. Hiks hiks hiks" gedoran pintu Kevin sudah tidak ada. Qiara juga sudah terlelap. Karena kelelahan, terlalu banyak menangis hari ini.
Sementara Kevin di luar, sedang berusaha mencari kunci cadangan kamar yang di tempati Qiara.
"Di mana aku menyimpan kunci cadangan ya? Kenapa aku jadi lupa begini! " Kevin membuka semua laci, tapi tidak ketemu.
"Ah.. Bodohnya aku!" lalu Kevin mengambil ponselnya dan mencari nomor pengelolaan Panthouse miliknya.
"Hallo, saya Kevin Bramantyo. Saya memiliki kondisi disini, bisakah kalian membantu saya, untuk membuka pintu salah satu kamar di unit saya? Istri saya mengunci diri di kamarnya. Sudah hampir lima jam. Saya kwatir, kalau terjadi hal buruk kepadanya." Kevin berusaha agar suaranya sealami mungkin, agar pihak pengelola tidak curiga kepada dirinya.
"Oh... ya. Saya tunggu, yah!" Kevin menutup panggilan dan merasa senang. Sekarang dia hanya perlu duduk santai, menunggu manager dari pengelolaan unitnya.
Tak lama kemudian, terdengar bel berbunyi.
"Ah.. itu pasti mereka!" tanpa pikir panjang, Kevin langsung membuka pintunya.
"Selamat malam, Pak Kevin. Saya manager di gedung ini." ucap seorang pria yang berdiri di depan Kevin.
"Tolong saya, pak. Saya sudah mencari kunci cadangan di Panthouse saya, tapi saya lupa menaruhnya di mana. Maklumlah, sudah sangat lama saya tidak menggunakan unit ini." Kevin mempersilahkan manager untuk masuk.
__ADS_1
"Kami memang memegang satu kunci cadangan, sengaja untuk berjaga-jaga, hal darurat seperti ini." lalu manager itu mengeluarkan kumpulan kunci, semua itu adalah kunci cadangan di unit Kevin. Setelah menemukan dan berhasil membuka kamar yang di tempati oleh Qiara, Kevin langsung meminta petugas itu segera pergi. Dia tidak mau kalau nanti petugas itu melihat Qiara mengamuk padanya. 'Untung Qiara masih terlelap' bathin Kevin senang sekali.
"Terima kasih, dan maaf sudah merepotkan."
"Sama-sama, Pak! Tidak apa-apa. Ini sudah menjadi tugas kami. Agar penghuni gedung ini merasa nyaman. Saya permisi, Pak." Kevin langsung menutup pintu dan masuk ke kamar Qiara.
Kevin mulai mengambil semua kunci di semua ruangan di unitnya, jangan sampai nanti kejadian seperti ini berulang lagi. Setelah itu Kevin menyembunyikan semua kunci tersebut di tempat rahasianya. Kevin memang cerdik sekali.
"Aku memang lelaki paling keren!" ucapnya memuji diri sendiri, lalu berbaring di samping Qiara. Kevin membawa Qiara ke dalam pelukannya. Qiara yang memang kelelahan, tidak sadar dengan kelakuan Kevin di kamarnya.
Malam itu, Kevin tidur di kamar yang Qiara pilih, memeluk istrinya yang tercinta. Karena memang Kevin juga sangat lelah hari ini. Dia juga langsung terlelap dan tidak mau melepaskan Qiara dalam pelukannya. Mencintai seseorang memang membuat kita mampu melakukan segala hal yang di luar logika dan akal sehat. Itulah yang kini sedang dilakukan oleh Kevin Bramantyo.
Keesokan paginya, saat matahari sudah mulai muncul di permukaan bumi, Qiara mulai terjaga. Dirinya merasa terkejut, karena Kevin memeluk dirinya sangat kencang.
"Bagaimana dia bisa ada disini? Perasaan tadi malam aku mengunci kamar ini." Qiara mulai mengingat kejadian tadi malam.
"Emang dasar Kevin! Selalu saja, berbuat sesuka hatinya!" tapi ada perasaan hangat di dalam hatinya. Qiara tidak bisa menipu perasaannya sendiri. Hatinya sangat bahagia, Kevin mau melakukan semua itu. Kevin membuktikan bahwa dirinya memang mencintai Qiara.
Qiara merasa sangat terharu dengan sikap manis Kevin pagi ini. "Maafkan hamba ya Allah! Biarkan hamba bersikap egois kali ini. Hamba tidak mau kehilangan moment seperti ini dari lelaki yang hamba cintai" Qiara bermonolog sendiri.
"Sayang, ayo bangun! Kita sholat shubuh sama-sama, yuk!" Kevin mencium pipi Qiara dengan lembut. Qiara yang sudah bangun dari tadi, akhirnya membuka matanya. Menatap Kevin dengan haru dan sahdu.
"Ko kamu bisa di kamar ini?" tanyanya heran.
"Aku buka kuncinya pakai kunci cadangan, sayang!" ucap Kevin tanpa rasa bersalah sama sekali. Qiara hanya memutar bola matanya karena malas mendengar ucapan Kevin.
"Sudah aku duga!" Qiara lalu turun dari ranjangnya. Kevin mengikuti dari belakang.
"Mau apa sih, ngikutin aku ke sini? Keluar, aku mau mandi." Qiara mengusir Kevin dari sana.
"Aku juga mau mandi, sayang!" ucap Kevin seenaknya saja.
"Gak mau, ah! Kalau kamu ikut mandi juga, nanti jatuhnya jadi lama. Mana kamu mau mandi biasa aja!" Qiara mengerucutkan bibirnya. Kevin yang gemes langsung mencium bibir Qiara.
__ADS_1
"Apaan sih, Mas!" Qiara langsung mendorong tubuh Kevin karena terkejut dengan kelakuan Kevin yang menciumnya tiba-tiba.
"Ayo kita mandi sayang, waktu shubuh sudah mau lewat! Aku janji, kita cuma mandi. Gak akan macam-macam! Tapi setelah sholat, Mas gak janji apa-apa!" ucap Kevin sambil tersenyum licik.
"Kebiasaan!" sungut Qiara.
Karena memang waktu sudah sempit, akhirnya Qiara mengalah juga. Mereka hanya mandi secukupnya, yang penting bersih dan wangi. Kwatir ketinggalan sholat shubuh.
Mereka sholat shubuh bersama-sama. Setelah selesai, Kevin membaca Al-Quran bersama Qiara.
Qiara langsung ke dapur, niatnya mau membuat sarapan tapi langkahnya dihentikan Kevin.
"Mau ke mana, sayang?"
"Mau ke dapur. Mo bikin sarapan."
"Gak usah sayang, kamu disini aja. Temani Mas!"
"Jangan ngada-ngada deh, Mas!" Qiara mulai kesal dengan Kevin pagi ini.
"Aku serius, sayang! Disini belum ada bahan makanan apapun. Kemarin kita datang kesini tanpa rencana. Nanti siang, kita ke mall yang ada di bawah, sekarang kita pesan online saja dulu." Kevin lalu meraih ponselnya dan memesan makanan untuk sarapan mereka berdua.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu." Kevin memeluk Qiara dari belakang.
"Apaan sih, Mas. Masih pagi udah aneh-aneh!"
"Kita sudah lama gak kayak gini, aku kangen sama kamu, sayangku!" Kevin mencium bibir Qiara dengan lembut. Qiara yang juga merindukan Kevin, secara tak sadar, membalas ciuman Kevin. Kevin yang merasa bahagia, semakin memperdalam ciumannya. Di sela-sela kegiatan ciumannya, Kevin berbisik di telinga Qiara dengan halus.
"Bertahanlah sayang! Demi cinta kita!" Kevin lalu membawa Qiara ke kamar utama, kamar yang dia pilih menjadi kamar mereka berdua. Sudah lama Kevin merindukan istrinya yang kemarin menghilangkan sebulan lamanya. Oleh karena itu. Kevin merasa sekarang sedang berbulan madu bersama sang istri tercinta. Seharian mereka tidak keluar kamar, makanan selalu beli di luar.
Janji Kevin yang katanya akan beli bahan makanan juga hanya tinggal janji. Kevin mengurung Qiara di kamar seharian. Tidak di ijinkan turun dari ranjang. Kecuali urusan sholat, makan dan ke toilet. Kevin merasa seperti pengantin baru saja.
"Dasar aneh! Menikah dengan siapa, bulan madu dengan siapa!" protes Qiara dengan kelakuan absurd suaminya. Kevin hanya tersenyum bahagia. Baginya bersama Qiara adalah kebahagiaan terbesar. Dirinya tidak mau mengganti dengan apapun di dunia ini.
__ADS_1