Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
58. Arjun Menemui Keluarga Santi


__ADS_3

Siangnya, Santi mengajak Arjun untuk menemui kedua orang tuanya di sebuah restoran mewah. Rencananya Santi akan memperkenalkan kekasihnya kepada mereka.


"Ayolah! Relax saja! Janganlah kau tegang seperti itu! Sayang, kenapa tanganmu dingin sekali?" tanya Santi merasa khawatir dengan kekasihnya.


"Ini adalah pengalaman pertamaku, bertemu dengan orang tua dari orang yang kucintai. Jadi aku rasa, wajarlah! Kalau aku gugup! Ya, kan?" ucap Arjun sambil meremas tangan Santi. Santi menatap mata kekasihnya dengan penuh cinta.


"Ini juga pengalamanku, yang pertama kalinya untuk memperkenalkan seorang laki-laki yang kucintai, kepada kedua orang tuaku. Jadi, aku juga sama gugupnya dengan kamu! Ayo kita temui mereka, mereka pasti sudah menunggu kita di dalam!" ucap Santi sambil menggandeng tangan Arjun, yang terasa begitu dingin dan berkeringat.


"Tunggu, sayang! Tunggu-tunggu! Aku perlu untuk menarik nafas dulu. Oh Tuhan! Ini benar-benar sangat menakutkan untukku!" Arjun kemudian meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Berusaha mencari ketenangan sambil menghirup nafas dalam-dalam.


Santi terus menatap Arjun. Matanya sama sekali tidak bisa mengalihkan dari sang kekasih. Santi benar-benar sudah terpesona dan terjerat oleh seorang Arjun Prawira.


"Santailah, sayang! Kedua orang tuaku tuh, orang baik! Nggak mungkin, mereka itu akan mencelakai kita. Oke? Kamu tenang aja! Ada aku di samping kamu!" Santi berusaha menghibur sang kekasih yang masih gemetar.


"Tau nggak? Daripada aku menghadapi situasi semacam ini, lebih baik aku menghadapi klien dari luar negeri atau lebih baik aku menghadapi para mafia. Aku lebih berani menghadapi mereka semua!" ucap Arjun sambil menatap mata Santi, yang ada dihadapannya.


"Jadi kamu nggak mau berjuang untuk cinta kita?" tanya Santi. Pertanyaan itu, sontak membangkitkan semangat juang seorang Arjun.


"Ayo kita masuk?! Aku siap berjuang untuk cinta kita, agar bisa bersama!" ucap Arjun dengan semangat 45.


" Hahahaha! Sayang, kamu lucu banget!" santai terus tertawa melihat mimik wajah Arjun yang begitu lucu.

__ADS_1


"Ih, Sayang! Kenapa kok, kamu malah mentawakan aku? Emangnya apa yang lucu? Aku kan, sekarang semangat loh! Untuk memperjuangkan cinta kita! Memang, apa yang lucu? Gara-gara ketawain aku sih, aku jadi down lagi nih!" Arjun kini cemberut, misuh-misuh, karena dari tadi Santi tidak juga mau berhenti tertawa.


"Sayang! Aku tuh, nggak menertawakan kamu! Aku tuh, cuma ngerasa lucu aja, dengan mimik wajah kamu! Rasanya nggak percaya! Aku memiliki kesempatan untuk melihat ini! Kan, kamu tuh, selama ini selalu dingin, cuek, di kantor gitu, galak! Sekarang, kau berubah menjadi laki-laki yang begitu manis dan imut! Gemes!" Santi lalu mencubit kedua pipi Arjun saking gemesnya dengan sang kekasih, yang kini sangat tampan di matanya.


"Setelah menertawakanku, sekarang kau memperlakukan aku layaknya seperti bayi! Hah kau benar-benar seorang kekasih yang sangat buruk!" mendengar yang diucapkan oleh Arjun santai bukannya marah dia malah semakin tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh membuat Arjun benar-benar hilang kendali, hilang akal dengan sang kekasih.


"Ini, kita berdua selamanya akan di sini? Kau sebetulnya niat nggak sih? Mau memperkenalkan aku dengan kedua orang tuamu?" Arjun kini pasang wajah cemberut.


"Jadi dong, sayang! Masa, sudah jauh-jauh ke sini, kita malah pulang lagi? Udah ya, nih Papaku dari tadi udah miscall terus!" Santi kemudian menggamit tangan Arjun, dan membawa masuk ke sebuah ruangan VVIP yang mana di situ, kedua orang tuanya sudah menunggunya.


"Aduh, Sayang! Lama sekali kalian ini, datang! Mama sama Papa, sampai kelaparan begini! Gara-gara nungguin kalian, tahu nggak sih? Nih makanan yang kita pesan aja udah pada dingin!" ucap Mamanya Santi terus ngomel tanpa jeda. Sehingga membuat Arjun menjadi relax pikirannya.


"Maafkan kami Tante! Ini salah saya, karena tadi saya sangat gugup, jadi Saya minta kepada Santi, untuk menenangkan diri dulu!" ucap Arjun jujur.


"Ya, benar Tuan! Saya adalah asistennya Tuan Kevin Atmajaya!" tiba-tiba Arjun merasa tidak enak perasaannya, ketika melihat mimik wajah Ayahnya Santi saat ini, ketika menatapnya dengan dalam.


"Sudah berapa lama kamu menjadi asistennya Kevin?" tanya ayahnya Santi dengan nada dingin.


"Papa, kok kita malah jadi bicarain pekerjaan sih? Santi tuh ngajak Arjun ke sini, sebagai kekasihnya Santi! Udah stop! Jangan bicara masalah pekerjaan! Santi nggak suka!" Santi sudah pasang wajah cemberut sambil menatap wajah ayahnya yang kini menatap dirinya dengan dalam.


"Tuh, Mah! Memang bener kan kata orang jaman dulu? Kalau memelihara anak perempuan itu tidak ada gunanya! Lihat tuh, belum menikah aja, dia udah ngebelain terus kekasihnya, daripada kita. Belum apa-apa aja, kita udah di judge akan mencelakai kekasihnya!" ucap Ayahnya Rianti dengan mimik sedihnya.

__ADS_1


"Ih, Papah nyebelin! Dari tadi ngerjain kami, ya?" tanya Santi, lalu ikut tertawa ketika semua orang di sana tertawa dengan tingkah konyol dirinya tadi.


"Arjun di mana kedua orang tuamu?" tanya Ayahnya Santi.


" kedua orang tua saya tinggal di Amerika, Tuan!" ucap.Arjun, ya, kebiasaan kerja, memanggil orang lebih tua dengan Tuan, jadi sekarang terbawa juga.


"Panggil Papa aja! Jangan dipanggil Tuan! Dia itu, calon mertua kamu loh, bukan majikan kamu!" ibunya Santi protes dengan panggilan Arjun kepada suaminya.


"Maafkan! Mungkin ini memang adalah kebiasaan profesional kerja. Saya biasa memanggil orang yang lebih tua itu dengan sebutan Tuan! Jadi, akhirnya lidahku jadi latah gitu. Maafkan saya!" ucap Ajun gugup.


"Bukankah, keluarga Prawira di Amerika itu cukup terkenal ya? Kenapa kamu malah bekerja sebagai seorang asisten di Indonesia?" tanya Ayahnya Santi.


"Tuan menyelidiki latar belakang saya? Oh, Maaf, maksudnya, Ayah!" ucap Arjun tambah gugup.


"Tentu saja, saya harus menyelidiki latar belakang kamu! Saya tidak mungkin melepaskan Putri kesayangan saya dengan orang Sembarangan betul begitu?" Arjun sudH berdiri dari kursinya.


"Maafkan saya! Tetapi saya meninggalkan keluarga Prawira adalah karena saya ingin hidup bebas. Saya tidak suka dengan peraturan-peraturan yang tidak penting. Saya tidak suka hidup saya terikat. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk hidup mandiri di Indonesia dan saya sudah meninggalkan keluarga besar saya!" ucap Arjun.


"Tenanglah!" ucap ayahnya Santi.


"Tolong maafkan saya, sekali lagi! Kalau Anda menerima saya sebagai calon menantu Anda adalah karena memandang keluarga Prawira, dengan ini, saya mohon maaf! Lebih baik saya mundur dari rencana pernikahan ini! Permisi!" Arjun kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Tidak menengok lagi ke belakang, tidak peduli dengan panggilan Santi.

__ADS_1


"Papa! Apaan sih? Kenapa malah bikin Arjun jadi marah kayak gitu? Apa sih maunya Papa sebenarnya?" Santi kemudian pergi dari ruangan tersebut dan menyusul Arjun.


__ADS_2