
Alhamdulillah novel ini telah sampai di angka bab 78. Semoga Author diberikan inspirasi dan kesehatan untuk terus bisa update setiap hari. Mohon dukungan kalian semua ya readerku tersayang, dengan like, favorite, vote, gift semampu kalian dan komen agar menjadi semangat untuk Author update novel ini setiap harinya. Terimakasih semuanya, tanpa kalian semua, Author bukan apa-apa dan tidak akan sampai ke mana-mana.
Yuk kita langsung dengan novel kita, yang makin seru saja, alur serta konflik yang ada di dalamnya.
Happy reading for All.
Martha kini menangis di kamar hotel yang dipersiapkan oleh grandfa untuk malam pernikahannya. Selama tiga hari di sewa.
Tetapi di hari pertama David sudah meninggalkannya di hotel tersebut. Dengan perasaan yang tidak karuan dan bercampur aduk. Marta kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Biarlah aku menikmati kamar ini sendirian. Kapan lagi aku bisa melakukan hal seperti ini? Bahkan seumur hidupku, aku tidak akan bisa mendatanginya, kamar yang begini indah dan mewah. Sayang sekali, kalau ditinggalkan begitu saja, padahal sudah dibayar!" ucap Martha menghibur dirinya sendiri.
Tetapi air matanya tetap saja tidak bisa berhenti mengalir. Perasaan sedih di hatinya lebih mendominasi. Daripada perasaan bahagianya tinggal di sebuah hotel mewah.
Akhirnya karena terlalu lelah menangis, Martha pun tertidur lelap. Apalagi tubuhnya masih merasakan sakit-sakit, setelah melewati malam pertama yang dilaluinya bersama David tadi malam. Malam pertama yang begitu panas membara dan menjadi pengalaman pertama dalam hidupnya.
Martha tertidur begitu lelap, sehingga dia tidak mengetahui bahwa sejak tadi Grandfa nelponnya untuk mempertanyakan tentang David sang cucu.
"Kenapa Ditelepon dari tadi tidak diangkat-angkat juga ya? Apakah terjadi sesuatu dengannya? Aku jadi khawatir begini!" ucapkan sambil melirik jam yang kini menunjukkan jam 12.00 siang.
Grandfa kemudian mencoba untuk mulai menghubungi David, dia ingin bertanya mengenai Martha. "Halo David Di mana kau sekarang?" tanya grandfa.
__ADS_1
"Di kantor tentu saja. Memangnya grandfa menginginkan David ada di mana sekarang?" ucap David dengan Ketus.
"Dasar cucu durhaka, huh! Begitu caramu, bicara dengan grandfa? Seharusnya kau menemani istrimu. Bukankah kau sudah diberikan cuti selama 1 minggu oleh pihak kantor? Cepat kau kembali ke hotel itu dan temani istrimu. Atau kau akan tahu segera bagaimana kemarahan dari grandfa!" ucap kakek memarahi David dengan penuh semangat di dalam hatinya.
Sejujurnya grandfa merasa iba dan kasihan kepada Martha, yang ditinggalkan oleh David begitu saja di kamar hotel tersebut.
"Cepat sekarang juga kau kembali ke hotel! Atau kau akan segera tahu tindakan Grandfa padamu!" ancam Grandfa dengan nada tinggi karena saking marahnya terhadap cucunya tersebut.
"Iya, iya, iya David sekarang pergi ke sana!" ucap David dengan murkah kemudian langsung menutup panggilan sang grandfa.
Dengan misuh-misuh dan emosi yang membara di dalam dadanya. David pun kemudian meninggalkan kantornya dan pergi menuju hotel, di mana Marta masih berada di sana.
Begitu sampai di sana, mata David melotot sempurna. Ketika mendapatkan kenyataan Martha yang masih terlelap dalam tidurnya. Bahkan nyaris seperti orang mati saja.
"Eh, bangun! Enak sekali kau tidur. Bahkan suamimu datang pun, kau tidak tahu!" David mengguncangkan tubuh Martha untuk membangunkannya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tega sekali membangunkan aku? Tubuhku sangat lelah dan sakit sekali, semuanya gara-gara perbuatanmu!" ucap Martha sambil memejamkan matanya.
Demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Martha. Wajah David kini memerah karena menahan rasa malu. Seketika dia mengingat pergulatan panasnya tadi malam bersama Martha. Ketika dirinya melewati malam pernikahan mereka.
"Kau mau bangun atau tidak? Aku mau mengajakmu untuk jalan-jalan. Cepatlah! Kau bersiap-siap. Aku paling malas menunggu orang!" ucap David sambil menggoncangkan tubuh Martha.
__ADS_1
"Kau pergi sendiri saja, aku males jalan-jalan. Aku hanya ingin tidur, tubuhku sakit semua. Seharusnya, kalau kau ingin menawarkan kebaikan padaku. Lebih baik kau memijit saja tubuhku! Itu lebih berguna untukku, daripada jalan-jalan yang tidak ada faedahnya sama sekali!" ucap Martha masih memejamkan matanya.
"Kau ini benar-benar sangat lancang padaku. Bagaimana mungkin kau menyuruh aku untuk memijatmu? Kenapa kau tidak minta layanan kamar saja untuk mendatangkan seorang pemijit profesional!" ucap David memberikan solusi kepada Martha atas masalahnya saat ini. Tetapi mata tidak bergeming sama sekali dia tampak lelap kembali.
"Perempuan ini benar-benar sangat menyebalkan. Apa sebaiknya, Aku meninggalkan dia ya? Tapi bagaimana kalau grandfa mengecek keberadaanku di sini? Ah benar-benar dia memberikan masalah dalam hidupku!" ucap David, sambil menendangkan kakinya ke kaki ranjang yang sekarang ditempati oleh Martha.
David meringis kesakitan, karena kakinya membengkak. Saat dia menendangkan kakinya ke kaki ranjang.
"Ah perempuan ini betul-betul memberikan kesialan dalam kehidupanku. Baru hari pertama, dia sudah seperti ini. Bagaimana aku akan menjalani sisa hidupku dengan dia?" ucap David sambil mendesah frustasi.
Kemudian akhirnya David memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di kamar itu. Sambil memijat-mijat kakinya yang terasa sangat sakit saat ini.
"Sebenarnya perempuan ini terbuat dari apa? Kenapa dia bisa begitu nyenyak tertidur, sementara aku sangat kesulitan untuk tidur saat ini!" ucap David sambil terus memperhatikan mata yang masih lelap di atas ranjang.
Tiba-tiba saja, Martha kembalikan tubuhnya. Sehingga selimut yang menutupi tubuhnya terbuka dan menampakkan kaki mulus dari sang istri. Sehingga membuat David kesulitan untuk menelan salivanya sendiri.
"Lihatlah dia, bisa sangat tidak tahu malu tidur seperti itu di depan seorang laki-laki. Sungguh benar-benar tidak bisa ditolong lagi!" David kemudian mendekati tubuh Martha, dia berniat untuk membenarkan selimut yang tadi tersingkap. Karena sejujurnya dia merasa terganggu dengan hal itu.
Jantung David seakan berolahraga berat, darahnya mengalir deras ke kepalanya. Ketika melihat Martha yang kini malah tidur dengan posisi terlentang dan menampakkan sebagian dadanya yang tidak tertutup selimut. David kesulitan mengendalikan dirinya sendiri.
Sesuatu di balik celananya, menggeliat sempurna, ketika memperhatikan pemandangan indah yang ada di depan matanya saat ini.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Sepertinya dia memang sengaja menggodaku. Dia mencoba imanku dan kekuatanku. Apa yang harus kamu lakukan sekarang?" David kembali bermonolog dengan dirinya sendiri.
Ketika David mencoba untuk menyelimuti tubuh Martha dengan selimut tebal yang tadi tersingkap, tiba-tiba saja Marta menariknya ke atas ranjang sehingga tubuh mereka berhimpitan saat ini.