Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
65. Surat Kecil Dari Qiara


__ADS_3

"Maafkan semua hal yang aku katakan hari ini. David menaruh penyadap di tas yang aku gunakan. Aku harus mengatakan semua itu. Agar keselamatan Kalian tidak terancam. Aku akan berusaha untuk bisa menemui kamu lagi, tanpa interupsi David. Tunggu kabar dariku. Oh, ya! Ini adalah nomorku, kau bisa menghubungi aku di nomor ini. Nomor yang lama, sudah di sadap oleh David. Jadi, aku tidak berani memakai nomor itu untuk menghubungi kamu! Qiara!" Kevin seketika kegirangan membaca Surat kecil dari Qiara tersebut. Yang tadi ditinggalkan di kursi taman tempat mereka bertemu tadi.


Arjun tampak menatap Kevin dengan senang. Karena akhirnya sahabatnya dan juga majikannya itu bisa memiliki akses untuk bisa berhubungan dengan Qiara lagi.


"Selamat ya, akhirnya kamu bisa juga bertemu dengan Qiara. Dan sekarang, bahkan sudah memiliki nomor pribadinya Qiara. Kalian bisa membicarakan hal-hal yang ingin kalian diskusikan bersama, tanpa mengalami kesulitan lagi!" ucap Arjun.


"Terima kasih atas perhatiannya. Lalu, bagaimana dengan hubunganmu bersama Santi. Apakah masih sama seperti kemarin atau Sudah ada kemajuan?" tanya Kevin sambil menatap sahabatnya itu.


"Masih seperti kemarin, dan sepertinya tidak akan pernah ada kemajuan. Karena, ternyata kedua orang tuanya Santi ingin agar aku kembali kepada ayahkku di Amerika. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa, hidup bersama orang itu! Yang bahkan tidak memiliki perasaan apapun terhadapku, sebagai anaknya!" ucap Arjun tampak merenung.


"Tapi bagaimana pun juga, Om Bagas itu adalah ayahmu. Apa mungkin, kamu tidak menginginkan untuk tinggal bersamanya, atau sekedar untuk bertemu dengannya? Apalagi yang kudengar, sekarang Om Bagas, sering sakit-sakitan!" ucap Kevin sambil menatap sahabatnya itu.


"Dari mana kamu tahu? Kabar tentang ayahku yang sedang sakit-sakitan?" tanya Arjun tampak khawatir.


"Ayah dan ibuku kan, masih sering berhubungan dengan Om Bagas! Jadi, ya, kabar terbaru selalu update kepada mereka. Kemarin pun, Kami sempat video call dengan ayahmu. Dia sedang berada di rumah sakit sekarang. Jantungnya bermasalah lagi. Apa kau tahu, sekarang istri muda ayahmu telah menguasai perusahaan di sana. Kemarin, orang kepercayaan Ayahku yang sengaja dibenamkan di perusahaan ayahmu, telah melaporkan, bahkan istri muda ayahmu, telah menjual beberapa persen saham perusahaan kepada pihak asing!" ucap Kevin.


"Lalu apa yang kau inginkan untuk aku lakukan saat ini? Ketika mengetahui laporan yang diberikan oleh orang kepercayaan Ayahmu itu?" tanya Arjun dengan sinis.


"Oh, ayolah, Arjun!" ucap Kevin frustasi.

__ADS_1


"Apa?" tanya Arjun dengan mata berapi.


"Arjun! Apakah kamu tidak memiliki sedikit saja perasaan terhadap ayahmu? Bagaimanapun juga, Dia adalah orang yang sudah membuat kamu ada di atas dunia ini. Dan saat ini, beliau sedang sakit. Bahkan, perusahaannya dalam bahaya. Masa, kamu sebagai putranya satu-satunya. Tidak ada rasa tersentil, sedikitpun perasaanmu, untuk menyelamatkan perusahaan yang susah payah dibangun oleh ayahmu?" tanya Kevin dengan gemas.


"Aku tidak peduli! Itu adalah hal yang dia cari sendiri. Dia yang cari penyakit sendiri, dengan mengundang perempuan itu ke dalam rumahnya. Dan menggantikan posisi ibuku. Aku sama sekali tidak peduli. Walaupun dia meninggal sekalipun. Sudahlah Kevin! Jangan kau membicarakan lagi orang itu! Aku muak! Aku tidak ingin mendengarnya. Akubenci sekali dengan dia, seumur hidup! Aku tidak akan pernah memaafkan dia, yang sudah berani berkhianat di belakang ibuku!" ucap Arjun dengan mata berapi-api. Tampak sangat besar, kebencian di matanya saat ini. Sehingga Kevin tidak bisa berkutik lagi.


"Ya sudah! Kalau itu yang sudah menjadi keputusanmu. Aku sebagai temanmu, hanya bisa mengingatkan. Jangan sampai nanti kamu menyesal. Kalau sampai terlambat. Ya udah! Ayo kita pergi ke tempat meeting saja. Sepertinya klien kita sudah sampai dari tadi. Mungkin saja, sudah menunggu kita!" Kevin dan Arjun kemudian pergi dari ruangan Kevin. Menuju ruangan meeting. Dan di sana, para klien sudah menunggu mereka berdua.


"Apa kabarnya Pak Kevin! Senang sekali saya bertemu dengan Anda. Lama ya?Kiita tidak bertemu. Saya berharap dengan pertemuan ini, akan menghasilkan hal positif bagi perusahaan kita berdua. Saya harap, kerjasama kita bisa saling menguntungkan kedua belah pihak!" ucap Pak Agung yang tampak masih segar bugar, walaupun usianya sudah hampir 60 tahun.


Ketika mereka sudah bersiap untuk masuk ke ruang meeting, tiba-tiba saja seorang perempuan berlari dari arah lift. "Ayah tunggu! Kenapa kau tega sekali meninggalkan putrimu? Ayah macam apa kau ini?" ucap gadis yang berusia sekitar 26 tahun.


"Alena! Apa yang kau lakukan di sini, huh? Siapa yang menyuruhmu datang ke sini? Bukan ke Ayah sudah bilang kamu sebaiknya tinggal saja di kantor. Kalau mau belajar, belajar saja di sana. Jangan ikut-ikutan di sini. Ini bukan wilayahmu!" ucap Pak agung tampak kesal kepada putrinya. Kevin dan Arjun hanya saling panjang saja.


"Apa Kita bisa mulai rapat kita, Pak Agung? Mengingat waktu saya sangat sempit. Dan setelah ini pun, kami masih harus menemui beberapa klien lagi di luar!" ucap Kevin menginterupsi perdebatan ayah dan anak.


"Maafkan saya Pak Kevin! Ini anak saya, Alena ini, memang dia ini, sangat sulit sekali dikendalikan. Saya sudah mengatakan kepadanya, untuk diam saja di kantor. Dia malah menyusul saya ke sini. Sekarang saya jadi tidak tahu akan melakukan apa. Saya takut dia nanti malah membuat kekacauan dengan meeting kita!" ucap Pak Agung tampak frustasi.


" Tidak apa-apa Pak Agung! Kita bisa memberikan kesempatan kepada putri Bapak. Barangkali dia ingin mencoba untuk mempresentasikan rapat kita kali ini. Tidak apa-apa, saya bisa memahami semangat anak muda, yang memang sedang semangat-semangatnya dalam belajar. Ayo kita mulai saja meeting ini semoga ada hal baik yang akan kita temui hari ini!" ucap Kevin dengan senyuman yang tulus.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Pak Kevin! Atas pengertiannya. Saya berharap, putri saya ini tidak akan membuat masalah dalam pertemuan kita kali ini. Ya, dia memang sedang sangat bersemangat sekali. Untuk membantu saya dalam mengurus perusahaan ini!" ucap Pak Agung sambil melirik ke arah Alena sekilas.


"Pak Agung harusnya merasa bersyukur dengan semangat Alena yang mau membantu dan mau mengembangkan perusahaan orang tuanya. Ada loh, Pak! Orang yang bahkan tidak peduli dengan perusahaan ayahnya sendiri yang hampir saja bangkrut gara-gara perbuatan orang lain!" ucap Kevin sambil melirik ke arah Arjun.


Arjun yang melihat Kevin saat ini melirik kepadanya, tampak merasa tersinggung dengan ucapan sahabatnya itu, "Kita akan melanjutkan meeting ini atau tidak? Kalau tidak, saya akan pergi saja dari tempat ini. Banyak urusan yang harus saya lakukan!" sengit Arjun merasa kesal.


"Ih gayamu seperti bos besar saja! Di sini aku loh bosnya, bukan kau!" sengit Kevin kepada sahabatnya yang semakin meningkat saja, kurang ajarnya terhadap dirinya.


"Bodo, amat!" ucap Arjun sambil masuk ke ruang meeting duluan. Kevin sontak merasa terkejut dengan kelakuan sahabatnya itu. Kevin bahkan memukul lengan Arjun yang membuatnya malu di hadapan para kliennya dengan kelakuannya itu.


"Kau ingat! Kau itu asistenku! Bukan bosku! Kenapa kau dari tadi memerintahkan aku terus? Eh Arjun! Kalau kau ingin menjadi seorang bos besar. Kau urus sana perusahaan ayahmu yang di Amerika! Baru kau bisa jadi bos besar di sana!" sengit Kevin jengkel.


"Cerewet kau ini! Seperti perempuan saja, dari tadi terus saja menggerutu. Ayo cepat! Kita mulai rapatnya saja aku sudah mulai bosan di sini!" ucap Arjun kesal.


Semua orang yang hadir di sana pun, saling menatap satu sama lain. Mereka tamlak heran dengan kelakuan Arjun, yang berani sekali memerintah Kevin sebagai bos besar di perusahaan itu. Mereka tampaknya tidak tahu tentang status Arjun yang merupakan pewaris dari Prawira group yang berpusat di Amerika.


Perusahaan Prawira Group adalah perusahaan multi internasional. Yang bergerak di bidang penerbangan dan juga transportasi darat. Bisa dikatakan hampir 40% industri penerbangan di dunia adalah milik Prawira Group, milik keluarganya Arjun.


Jadi, Arjun ini sebenarnya adalah keturunan sultannya sultan. Tetapi karena permasalahan di keluarganya, Arjun lebih memilih untuk hidup sederhana. Menjadi seorang asisten di perusahaannya Kevin. Dan dia bahkan tidak bersedia sama sekali, untuk berhubungan lagi dengan ayahnya. Yang saat ini bahkan sedang meringkuk di rumah sakit, karena bermasalah dengan jantungnya.

__ADS_1


Setelah semuanya siap dan sudah berada di sana. Meeting pun segera dimulai. Kevin memimpin rapat tersebut, dengan Alena yang sedang melakukan presentasi untuk meeting tersebut. Semua orang tampak takjub dengan kemampuan Alena dalam melakukan presentasi. Sehingga kerjasama itu akhirnya di tandatangani hari itu juga.


__ADS_2