Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
12. Rencana Qiara


__ADS_3

Qiara masih menangis, terharu Setelah mendengar sebuah kenyataan tentang dirinya dan juga orang tuanya. Ternyata dirinya bukan di buang, tetapi mamahnya berusaha melindungi dirinya dari orang jahat yang ingin membunuh dirunya dan juga mamahnya.


"Terima kasih, karena kamu mau menjelaskan semua ini ke padaku. Aku memang sudah tahu, bahwa Pak Andi adalah ayahku. Sudah hampir sebulan aku mengetahui hal itu," Qiara berhenti sesaat, menarik nafas sebentar. Tidak dapat di pungkiri, berita yang disampaikan David cukup mengguncang hatinya. Ternyata ada orang lain yang tahu bahwa Andi Pratama adalah ayahnya selain dirinya sendiri.


David agak terkejut mendengar pengakuan itu, "Lalu kenapa kamu diam saja? Apakah kamu tidak rindu dengan ke dua orang tuamu?" David merasa heran dengan Qiara yang bisa sesantai itu, setelah mengetahui fakta tentang identitas dirinya yang sesungguhnya. Kalau orang lain, pasti langsung menemui Andi Pratama, secara, mereka keluarga terpandang di kota ini, orang kaya dengan aset bejibun yang gak akan habis dimakan sampai tujuh turunan.


"Aku tidak bisa gegabah begitu saja. Banyak yang harus aku pertimbangkan. Aku tidak tahu siapa lawan dan siapa kawanku, Aku gak mau membahayakan nyawa ke dua orang tuaku," Qiara menunduk sedih. Betapa berat kenyataan itu, dia dulu sangat merindukan kedua orang tuanya, tetapi sekarang mereka ada di depan matanya, tetapi dia tidak sanggup berbuat apa-apa.


"Aku akan selalu membantu kamu, jangan takut. Pertama kita harus membuat strategi agar kamu bisa bertemu dengan orang tua kamu," David mendekatkan dirinya ke pada Qiara, namun Qiara menolak untuk David mendekatkan dirinya.


"Tolong tetap di tempatmu, aku takut nanti jadi salah paham kalau suamiku pulang," David terkejut, mendengar bahwa Qiara sudah bersuami.


"Suami? Bagaimana mungkin?" Qiara melotot mendengar ucapan David.


"Kami berdua saling mencintai, apanya yang tidak mungkin? Apa kamu pikir, aku tidak layak bersanding dengan Kevin?" Qiara tampak murka dengan tatapan garang ke arah David.


"Bukan itu maksudnya, aku hanya bingung saja. Tidak merasa dapat undangan dari Kevin," David mencoba menenangkan hatinya yang agak terkejut mendengar kabar pernikahan Qiara.


'Grandfa pasti kecewa kalau mendengarkan kabar ini,' bathin David frustasi.


"Kau kenapa?" tanya Qiara bingung dengan ekspresi David yang kayak orang hilang gitu.


"Gak papa, gak papa," David bangkit dari duduknya, lalu melihat ke jendela, menenangkan hatinya yang agak risau. David memang mencintai Susan, tapi hatinya agak kecewa dengan apa yang sudah di lakukan oleh keluarga Susan.


Sedikit banyak, saat mendengar grandfa bilang bahwa dia dan Qiara di jodohkan semenjak bayi, ada perasaan bahagia di hatinya. Tapi sekarang dia bingung, bagaimana menyampaikan pada grandfanya perihal pernikahan Qiara dan Kevin tersebut. Dia sungguh takut kalau grandfa kenapa-kenapa. David sangat mengerti tentang Grandfanya, dia selalu mendapatkan apapun yang dia mau. Tanpa kecuali.


"Masa aku nanti jadi pebinor? Aduh gak level banget deh," bathin David bergidik ngeri dengan nasibnya nanti.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? Dari tadi aku perhatikan, kamu aneh banget." Qiara mulai gak nyaman dengan David yang dalam pandangannya sangat aneh.


"Aku sedang bingung, bagaimana menyampaikan sama Grandfa tentang pernikahan kamu," David mengatakan kegelisahan hatinya dengan hati-hati.


"Memang apa urusan Kakek kamu dengan pernikahan aku? Aneh banget sih..." Qiara menyilangkan tangannya di dada, menatap David lebih intens lagi, mencoba mencari tahu, orang seperti apa laki-laki yang ada dihadapannya kini.


"Kenapa kamu melihat aku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" merasa di perhatikan Qiara, David malah merasa ngeri, bergidik rasanya sekarang, aneh saja.


"Kamu siapa sebenarnya? Tiba-tiba datang ke sini, ngaku-ngaku kita satu haluan, dan sekarang frustasi dengan status aku. Kamu mikir gak sih? Kamu itu aneh banget sumpah!" Qiara tersenyum kecut sambil menghela nafas berat. Masih menatap David dengan pandangan membunuh.


"Aku adalah tunangan kamu, sejak kamu dalam kandungan, kita sudah dijodohkan oleh Grandfa kita," David akhirnya jujur.


"What the hell? OMG!!!" bukan main terkejut Qiara mendapatkan satu kenyataan lagi.


"Saat itu kamu dikabarkan sudah meninggal saat dilahirkan. Jadi Grandfa pikir perjodohan kita dibatalkan." David mencoba menerangkan situasi saat ini pada Qiara yang sekarang melihat ke arahnya dengan tatapan bingung.


"Lagi pula, bukanlah setahuku, kamu ada hubungan dengan Susan? Sepupu aku itu," Qiara lalu melemparkan pandangan ke arah pintu, terdengar ada seseorang yang sedang memencet password apartemennya.


"Aku menyambut suamiku dulu," Amira langsung meninggalkan David tanpa menunggu jawaban.


"Dia tidak sopan sekali sebagai tuan rumah, meninggalkan tamu seenaknya jidat," David mulai tidak suka dengan Qiara yang terkesan gak perduli dengan perasaan dirinya.


"Sayang, aku perkenalan, David, dia pacarnya Bu Susan, manager di tempat aku kerja dulu," Kevin yang melihat seorang pria berdua dengan istrinya, merasa tidak suka. Wajahnya terlihat sudah tidak bersahabat pada David dan marah pada Qiara karena membiarkan pria asing masuk ke apartemennya di saat dirinya tidak ada di rumah.


"Maafkan aku sayang, dia hanya ada keperluan denganku, kami hanya mengobrol santai, benarkan Pak David?" tanya Qiara sambil tersenyum pada David yang menatapnya dengan kesal dan jengkel.


"Benar-benar bikin kesal saja," David bangkit dan langsung ke luar dari apartemen Qiara.

__ADS_1


"Aku pulang, sampai ketemu nanti lagi, bye." David memilih untuk pulang saja. David merasa jengkel dengan sikaf sok yang diperlihatkan oleh Kevin tadi. Kesal rasanya calon istrinya sedari kecil kini sudah jadi istri orang lain.


David langsung pulang ke apartemennya. Menghubungi Grandfa dan memberikan kabar tentang pernikahan Qiara dan Kevin


"Lebih baik aku kasih tahu saja, dari pada nanti grandfa berharap banyak pada pernikahanku dan Qiara," Kevin bicara pada dirinya sendiri. Orang lewat yang melihat itu sangat heran.


"Ganteng-ganteng tapi gila, kasihan sekali. Kamu nanti belajar yang baik ya nak, jangan gila seperti Om ganteng itu," ucap seorang ibu di samping David, yang sekarang menatap dirinya dengan heran dan aneh.


"Bahkan sekarang ada yang berpikir bahwa aku gila." David mengacak pucuk rambutnya karena frustasi dengan nasibnya sekarang.


krriiiiing kriiiing


"Mau apa Susan menelponku pada jam segini?" bathin David lalu mengangkat telpon itu.


"Ada apa?" tanya David agak ketus. Moodnya lagi ancur banget gara-gara Kevin yang sombong tadi.


"Kok kamu galak banget, sayang?" Susan heran dengan David. Tidak seperti biasanya.


David selama ini tidak pernah kasar atau galak. Sepanjang yang Susan ingat, David selalu memanjakan dirinya dengan penuh cinta.


"Maaf, sayang. Aku ada kerjaan yang bikin mood aku hancur banget!" dusta David.


'Biarlah dusta dikit sama Susan, dari pada nanti Susan nanya macam-macam dan dia jadi curiga. bisa ancur semua rencanaku," David akhirnya mencoba bicara lembut pada Susan yang sudah misuh misuh di sebrang sana.


"Maafkan sayang, aku ga niat jahat sama kamu, aku hanya lelah saja." David melihat jam tangan. Dia cukup terkejut saat melihat waktu yang ternyata sudah mau Maghrib.


"Sayang, aku mau pulang ke apartemen dulu. Nanti kita bicara lagi ya, bye!" David menutup telponnya tanpa menunggu jawaban Susan yang merasa heran di sebrang sana dengan kelakuan aneh kekasih gelapnya.

__ADS_1


__ADS_2