Apa Kabar Sayang

Apa Kabar Sayang
27. Qiara hamil


__ADS_3

Pov Qiara


Aku tidak tahu harus bersyukur atau bersedih dengan cinta Kevin kepadaku. Demi cintanya, Kevin menentang semua keluarga nya. Aku gak tega sebenarnya. Kevin sekarang memulai bisnis baru. Merintis dari awal kembali. Setiap hari Kevin selalu sibuk dengan bisnis baru yang dia bangun. Nyaris tidak ada waktu untuk diriku.


Perceraian Kevin dan Susan sudah masuk ke persidangan. Tetapi Kevin tidak pernah datang, hanya mewakilkan kepada pengacara saja. Katanya biar prosesnya cepat dan tidak bertele-tele. Kevin ingin segera meresmikan pernikahan kami secara hukum negara.


Aku hari ini rencananya akan mengunjungi Kevin di kantornya. Mau memberikan surprise buat suamiku. Aku sangat bahagia, Kevin tipe pria pekerja keras. Dia berhasil membangun perusahaan miliknya sendiri tanpa bantuan keluarga nya. Aku sangat bangga sekali.


Saat aku hendak memasuki ruangan suamiku, aku mendengar suara tawa yang begitu renyah. Aku melihat seorang perempuan yang duduk di pangkuan suamiku. Seketika hatiku hancur rasanya. Apakah suamiku selama di luar melakukan hal khianat macam ini? Aku melihat wanita itu mencium bibir suamiku. Tak kuasa aku melihat semua itu. Sakit rasanya. Aku segera pergi dari sana, kembali ke panthouse kami. Aku segera membereskan semua barang-barang ku. Aku memutuskan untuk pergi dari kehidupan Kevin.


"Aku tidak tahu harus kemana. Tapi aku pikir aku bisa hidup tanpa pria khianat macam Kevin." aku pergi dari Panthouse Kevin dengan taksi. Saat aku bingung dengan kehidupan yang akan aku jalani, Mamahku menelpon.


"Iya, Mah. Ada apa?" sapaku.


"Datanglah ke rumah Mamah sekarang. Mamah akan kirim alamat nya ke kamu." Mamahku langsung menutup telepon.


Aku meminta kepada sopir taksi untuk membawaku ke alamat yang di share oleh Mamahku tadi. Hatiku agak was was sebenarnya. 'Ada apa ya? Kenapa Mamah buru-buru sekali tadi?' bathinku aga bingung.


Biasanya Mamahku selalu menghubungiku dalam durasi yang lama dan santai. Kenapa ini tampak buru-buru sekali ya? Hati Qiara jadi tidak tenang.


"Pak, tolong dipercepat ya. Saya khawatir ada apa-apa sama Mamah saya." Pak supir mengikuti keinginan Qiara. Sehingga tak lama kemudian Qiara sampai juga di sebuah mansion yang sangat megah dan mewah. Mansion tersebut lebih mewah dari Panthouse Kevin ataupun rumah keluarga besarnya Kevin.

__ADS_1


"Apakah keluarga ku lebih kaya dari keluarga Kevin?" Qiara bermonolog sendiri.


"Sudah sampai, Nona!" Qiara menurunkan koper dari taksi, lalu membayar argo. Dengan langkah ragu, Qiara memasuki halaman rumahnya.


"Jadi ini, mansion keluargaku yang katanya orang adalah konglomerat?" tanya Qiara kepada dirinya sendiri. Ada rasa haru, ada rasa kesal. Campur aduk rasa hatinya.


"Sayang, ayo masuk. Kakek sudah menunggu kamu." Dari arah dalam manstion mewah tersebut, Mamah Melinda menyambut kedatangan Qiara.


"Ada apa, Mah? Qiara jadi gak enak perasaannya?" Tapi Qiara mengikuti langkah Mamah Melinda.


"Kakek kamu sakit, sayang. Jadi Mamah terpaksa membuka identitas kamu. Maafkan Mamah sayang, ya. Jadi nempatin kamu di posisi sulit saat ini." Mamah Melinda merangkul Qiara dengan lembut. Ada rasa haru di hari Qiara. Ini adalah kali pertama dirinya menginjak kakinya di manstion keluarga nya. Bertemu Kakek dan Papahnya sebagai seorang putri keluarga itu.


"Mamah, Qiara takut, kalau Papah dan Kakek tidak mau menerima kehadiran Qiara. Qiara belum siap, Mah!" Aku menggenggam tangan Mamahku.


"Anakku!" tiba-tiba dari arah kamar, Pak Andi Pratama yang aku kenal sebagai atasanku di tempat kerja, langsung memeluk tubuhku dan menangis haru. Tanpa terasa air mataku menetes.


"Papah!" Aku menangis dalam pelukan beliau. Akhirnya, setelah 20 tahun lebih, moment seperti ini terjadi juga dalam hidupku. Bertemu dengan keluargaku. Aku bukan yatim piatu, tetapi aku anak konglomerat di kota ini. Ini kayak mimpi bagiku. Sungguh keajaiban yang luar biasa.


"Cucuku!" suara Kakek menginterupsi pelukan kami, aku berlari menuju kakeku yang sudah membentangkan tangannya untuk memeluk aku.


"Kakek! Hiks hiks hiks!" tangisku pecah tanpa bisa aku kontrol lagi.

__ADS_1


"Maafkan Kakek sama Papah kamu, sayang! Karena konflik keluarga kita, kamu jadi hidup sengsara di luar sana! Hiks hiks!" Kakekku juga menangis sedih dan terharu dengan pertemuan kami. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang ternyata mencintai diriku.


"Qiara paham kesulitan Mamah, semua demi keselamatan Qiara. Jangan sedih Kakek, Qiara tidak apa-apa! Qiara baik-baik saja. Hiks hiks!" Qiara jadi sedih mengingat nasib asmaranya dengan Kevin. Mungkin, kalau keluarga Kevin tahu dirinya berasal dari keluarga konglomerat, mereka tidak akan merendahkan dirinya.


"Sayang, ayo kita makan malam dulu. Kamu pasti lapar. Oh ya, kenapa tadi Mamah melihat kamu membawa koper besar sekali? Apa ada masalah dengan suami kamu, sayang?" tanya Mamah Melinda. Aku hanya bisa menangis karena mengingat rumah tanggaku yang kacau balau.


"Qiara gagal sebagai istri dan menantu, Mah! Hiks hiks!" air mata rasanya tidak mau berhenti.


"Kita makan dulu, nanti kamu ceritakan semuanya sama kami!" Kakek bangun dari ranjangnya. Dengan semangat Kakek mengelus rambutku.


"Terima kasih, Melinda. Karena kamu sudah menyelamatkan pewaris Pratama Group. Ayah sangat bangga sama kamu. Mulai saat ini, kita akan meningkatkan pengawasan di mansion kita. Memberikan pengawal pribadi untuk Qiara, agar keselamatan Qiara terjamin dari musuh kita!" Kakek menggiring kami ke ruang makan.


Saat mendekati ruang makan, tiba-tiba perutku rasanya mual sekali, mau muntah. "Mah, dimana toilet? Qiara mual sekali!" Aku sudah tidak tahan menahan mualku, aku berlari ke dapur, muntah di wastafel. Hanya air yang keluar dari perutku. Maklum saja, sejak siang aku memang belum makan apapun. Pantas kalau perutku kosong saat ini. Tapi tiba-tiba kepalaku pusing dan aku jatuh tak sadarkan diri.


Saat aku terbangun, aku sudah terbaring di sebuah kamar yang sangat indah. Kakek, Mamah dan Papahku menatapku dengan cemas.


"Qiara kenapa, Mah?" aku berusaha bangun, tapi kepalaku rasanya berat sekali.


"Bu Qiara, selamat ya. Anda saat ini tengah hamil muda. Usia kandungan memasuki usia 8 Minggu. Dijaga kehamilannya ya, Bu! Ini saya berikan resep vitamin dan obat penguat kandungan." Dokter tersebut pergi setelah memberikan resep kepada Mamahku. Aku masih bingung dengan keadaanku.


"Selamat sayang! Akhirnya Kakek akan segera punya cicit! Alhamdulillah, Kakek senang sekali. Malam ini adalah malam paling indah dalam hidup Kakek. Menemukan Cucu Kakek yang lama hilang, dapat hadiah seorang cicit pula!" Kakek memeluk tubuhku dengan sangat bahagia.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu murung? Anak adalah anugerah sayang. Harus kita syukuri!" Mamah Melinda juga memelukku dengan erat. Aku semakin sedih karena mengingat pernikahan ku dengan Kevin yang di ujung tanduk.


__ADS_2