
Setelah mendengarkan sejarah kehidupan Kevin, Santi malah semakin bersemangat untuk mendapatkan Kevin sebagai suaminya. Bukannya merasa ilfil ataupun merasa takut, bersuamikan seorang pria yang memiliki begitu banyak skandal dalam kehidupan percintaannya.
Begitulah seorang Santi, dia malah merasa tertantang untuk menaklukkan pria seperti Kevin. Yang tampak begitu angkuh dan dingin, kepada wanita-wanita yang berusaha mendekatinya. Santi suka dengan tantangan. Santi yang selama hidupnya tidak pernah dekat dengan seorang pria, hatinya sudah bersemangat untuk mendapatkan Kevin.
Pagi itu Kevin berangkat ke kantor bersama dengan Arjun. Tetapi mata Kevin auto melotot, ketika melihat seorang wanita cantik sudah berdiri di pintu ruangannya.
"Kau sedang apa? Pagi-pagi sudah menunggu di depan ruanganku? Apakah kau sudah beralih profesi menjadi penunggu pintu?" tegur Kevin dengan keras, merasa tidak suka, melihat kehadiran perempuan yang dari kemarin seharian penuh, sudah mengganggu semua aktivitas dan pekerjaannya. Gara-gara perbuatan Mamahnya dan Santi kemarin, Kevin sampai lembur, hampir tengah malam baru semua pekerjaannya selesai.
Itulah yang mengakibatkan kenapa Kevin sampai datang terlambat hari ini. Karena Kevin yang bangun kesiangan.
"Mulai hari ini, aku akan bekerja di kantor ini! Ucapkan selamat untukku!" ucap Santi sumringah, Kevin terkejut dengan perkataan Santi.
"Apa maksudmu, Nona besar? Jangan kau kira kantorku bisa jadi tempat arena bermainmu! Pergilah sana! Jangan mengganggu pekerjaan orang lain!" Hardik Kevin karena merasa kesal dengan tingkah Santi yang dari kemarin selalu berusaha membuat dirinya emosi.
"Kevin! Kamu tidak boleh selalu begitu terhadap Santi! Santi hanya ingin mengenalmu lebih dekat, Nak! Cobalah buka pintu hatimu sedikit saja! Untuk bisa menerima kehadiran seorang wanita dalam kehidupan kamu!" Kevin auto melotot melihat Mamahnya sudah duduk di sofa dalam kantornya. Kevin mendesah frustasi.
"Mama apa-apaan sih? Masih pagi sudah bikin orang jantungan aja!" teriak Kevin sambil memegang jantungnya yang sampai sekarang masih berdegup kencang sangking kagetnya. Arjun saja sampai mundur kebelakang. Tidak mau ikut terlibat dalam perdebatan ibu dan anak itu yang bisa dipastikan tidak akan ada ujung pangkalnya.
"Santi Ikuti saya!" perintah Arjun dengan suara keras. Santi yang sebenarnya enggan untuk mendengarkan ucapan Arjun, tetapi akhirnya mengikuti Arjun. Santi merasa takut melihat tatapan mata Arjun yang begitu tajam serta menusuk hati. Tanpa terasa, Santi merasakan desir aneh dalam hatinya.
__ADS_1
Visualisasi Arjun
Kini tinggallah Arjun dan Santi di ruangan itu. Arjun menatap Santi dengan tajam, melihatnya dari atas sampai ke bawah. Santi sampai merasa risih dengan tatapan Arjun. Bagaimanapun, Arjun adalah seorang laki-laki yang cukup tampan di mata Santi.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada yang salah denganku?" tanya Santi dengan salah tingkah.
Arjun bangun dari tempat duduknya, memutari Santi sambil melihat Santi dari atas sampai ke bawah. Menilai dan menelisik nilai seorang Santi. Santi benar-benar merasa terganggu dengan perlakuan Kevin yang menurutnya tidak sopan itu.
"Heh kamu! Apa yang sedang kau lakukan? Cepat jawab pertanyaanku!" Santi adalah seorang nona muda di keluarganya, pemilik Indo Mall yang terkenal memiliki banyak cabang, hampir di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura.
"Katakan padaku! Apa tujuanmu sebenarnya masuk ke dalam kantor ini?" ucapan dingin Arjun membuat harga diri seorang Santi merasa terluka. Dengan menggedikan bahu, Santi menatap tajam ke arah Arjun. Menantang pria tampan tersebut untuk mengadu ego.
"A.. apa.. apa yang kau lakukan?" Arjun malah mundur-mundur merasa salah tingkah dengan apa yang dilakukan Santi saat ini. Santi yang melihat Rona ketakutan di mata Arjun, malah semakin bersemangat untuk menggoda pria tampan itu. Santi terus mepet Arjun, sampai ke dinding.
Santi mengunci pergerakan Arjun dengan meletakkan kedua tangannya, di samping bahu kanan dan kiri Arjun. Arjun sudah gemetar diperlakukan seperti itu oleh seorang wanita cantik seperti Santi.
Santi tersenyum licik, merasa penuh dengan kemenangan. Santi merasa bahagia karena sudah membuat seorang Arjun gemetaran dengan kelakuannya.
__ADS_1
"Men.. men.. menjauh dariku!" hardik Arjun gemetar, tiba-tiba ada seorang yang mengetuk pintu ruangan Arjun, Santi yang terkejut, tanpa sengaja malah mendaratkan bibirnya di bibir Arjun. Keduanya kini berciuman tanpa sengaja. Darah Arjun mengalir cepat, dunia seakan berhenti, Santi gemetar, seakan ada listrik yang mengalir di tubuhnya, kakinya tiba-tiba merasa lemas.
Ketika akan terjatuh, Arjun secara otomatis, memeluk pinggang Santi. Sejenak dua mahluk yang sama-sama baru berhubungan dengan lawan jenis, tampak terpesona dengan satu sama lain. Tiba-tiba saja, entah keberanian yang datang dari mana, Arjun kembali mengecup bibir Santi. Santi yang masih lemas kakinya, tidak bisa menolak ciuman Arjun yang memabukkan. Santi seakan masuk ke dunia yang sama sekali baru baginya.
Perasaan yang baru dia rasakan. Seakan-akan ada ribuan kupu-kupu yang sedang terbang menari di atas perutnya. Perasaan geli, perasaan senang, bercampur aduk ketika merasakan bibir Arjun semakin menuntut untuk mengeksplor kedalaman mulutnya.
Ciuman pertama bagi mereka berdua. Seumur hidupnya, Arjun hanya mengikuti kemanapun Kevin melangkah, tidak pernah mengenal seorang wanita secara pribadi, apalagi berdekatan dengan seorang wanita seperti saat ini.
Suara ketukan pintu kini semakin kencang, menyadarkan dua insan yang masih terhipnotis oleh pesona masing-masing. Santi memerah pipinya. Merasa malu, karena hanya dalam lima menit, dirinya telah berciuman dua kali bersama pria tampan di hadapannya.
Santi tahu, bahwa Arjun adalah asisten Kevin, orang nomor dua yang berkuasa di perusahaan tersebut. Perusahaan yang di rintis oleh Kevin ketika dirinya memutuskan untuk hengkang dari keluarga Atmajaya. Karena mereka yang tidak menerima pernikahan dirinya dan Qiara.
"Kau, keluarlah dan suruh orang yang di depan pintu itu untuk masuk!" ucap Arjun kembali dingin. Santi terkesiap untuk sesaat. Otaknya masih blank. Masih terpesona dengan keindahan di hadapannya. Ya, Santi seperti telah kena sihir. Seketika niatnya untuk mendekati Kevin, hilang menguap entah kemana. Di dalam otak Santi saat ini, ada bayangan ciuman dirinya dengan Arjun.
"Apa yang sedang kau lakukan? Cepat keluar sana! Panggil orang yang ada di depan pintu itu!" hardik Arjun dengan suara keras, sehingga Santi cukup terkejut.
"Oh, iya, iya, aku keluar sekarang!" Santi lalu keluar dengan tergesa, Santi sampai menabrak pintu yang tiba-tiba terbuka dari luar. Rida masuk ke dalam dan menatap curiga kepada mereka berdua.
"Maafkan saya Tuan Arjun, karena sudah mengganggu aktivitas kalian berdua. Kalau begitu, saya permisi dulu nanti saya kembali ke sini!" Rida sudah bersiap akan keluar, tapi di cegah oleh Arjun.
__ADS_1
Rida melihat bekas lipstik yang ada di bibir Arjuna. Rida sedikit banyak bisa membaca situasi di ruangan ini. 'Pantas saja panggilanku dari tadi lama sekali tidak di sahut, lagi happy halpy ternyata!' bathin Rida sambil senyum-senyum sendiri.
"Eh apa yang kau butuhkan? Kenapa kau senyum-senyum sendiri seperti orang gila begitu?" tegur Arjun yang sudah salah tingkah, Santi sudah ambil langkah seribu dari tadi.