
Pov David
Susan memang hobby cari penyakit. Sudah aku bilangin buat tidur di kamar tamu, malah nekat masuk ke kamarku dan tidur di kasurku. Grandfa sekarang marah ke padaku. Matanya melotot menatapku. Rasanya seperti de javu. Kejadian seperti ini pernah terjadi lima tahun lalu, waktu kami tinggal bersama di Meksiko.
Grandfa melakukan hal yang sama, waktu mengetahui kami tinggal bersama di apartemenku di Meksiko. Grandfa sudah punya calon istri buatku, makanya Grandfa selalu galak dengan setiap wanita yang dekat denganku. Sikap Grandfa sudah seperti istri pertama yang menangkap suaminya berselingkuh saja. Bikin kesal!
"Dasar cucu durhaka! Baru di tinggalkan sehari saja sudah berbuat mesum di rumah Grandfa! Memang minta saya coret kamu dari ahli waris!" Grandfa marah sekali kayanya. Mampus sudah!
"Grandfa, kami tidak melakukan apa-apa. David juga tidak tahu kenapa Susan bisa ada di kamar ini. Tadi David menyuruh dia tidur di kamar tamu, David juga bingung, Grandfa!" suaraku sudah gemetaran. Takut dengan kemarahan Grandfa.
Selama ini hanya Grandfa yang perduli kepadaku. Walaupun sifat dia yang suka ngatur-ngatur, tapi dia satu-satunya yang sayang denganku.
"Kamu memang wanita murahan! Tidak heran, begitu mudahnya kamu naik ke ranjang seorang laki-laki." maki Grandfa. Susan matanya sudah memerah, menahan tangis dan amarah.
"Setahu saya, bukankah kamu baru kemarin menikah dengan Kevin? Kenapa sekarang kamu malah tidur di kasur cucuku, huh? Perempuan murahan kamu itu!" cecar Grandfa sambil menunjuk-nunjuk Susan pakai tongkatnya.
Susan sudah menangis sesenggukan. Rasanya gak tega juga. "Grandfa, sudah dong! Kasihan Susan. Beneran, kami gak ngapa-ngapain. Kami hanya tidur pelukan doang!" belum selesai ucapanku, kepalaku sudah kena toyor ujung tongkat Grandfa.
"Grandfa! Kebiasaan sekali, tidak mau mendengar penjelasan orang lain!" bentakku keras. Kesal sekali rasanya.
Aku bangun dari ranjang. Badanku basah kuyup. Kalau berlama-lama, pasti nanti kena flu dan masuk angin. Grandfa memang keterlaluan. Kelakuan bar-bar selalu dipelihara. Jengkel sekali!
"Susan, kembali ke kamarmu. Ganti pakaian yang ada di lemari saja. Gak apa-apa. Itu pakaian alm kakaku. Ukuran badan kalian sama, bajunya pasti pas di badan kamu." ucapku pada Susan.
Susan langsung keluar dari kamarku. Saat Grandfa akan memukul Susan dengan tongkatnya, aku langsung menjadi perisai Susan. Memeluk tubuhnya dari amarah Grandfa. Biar saja, aku gak tega kalau Susan kena pukul Grandfa.
__ADS_1
"Memang cucu durhaka kamu itu!" Grandfa geram sekali dan berlalu dari hadapanku. Syukurlah! Akhirnya Grandfa pergi dari kamarku. Aku sangat ketakutan dengan amarahnya.
Setelah mengganti pakaian, aku ke ruang tamu, menemui Grandfa yang tampaknya masih murka. Walaupun Grandfa ketua mafia di Meksiko, tapi Grandfa bukan penganut free ***, makanya dia selalu mengamuk kalau menanggap cucunya berprilaku a moral.
"Grandfa kok tiba-tiba sudah di Indonesia? Katanya asistenku, Grandfa ada urusan di Meksiko." tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
"Kalau Grandfa lama-lama di Meksiko, pulang-pulang pasti sudah dikasih cucu haran sama kamu!" Maki Grandfa sewot.
"Astagfirullah Grandfa! Gak gitu juga kali! David juga tidak tahu, kenapa Susan ada di kamar David. Percaya sama cucunya kenapa ya?" kepalaku masih sakit gara-gara di toyor Grandfa pakai ujung tongkatnya tadi.
"Grandfa percaya sama kamu! Pasti itu perempuan gatel itu yang naik ke atas ranjang kamu! Kenapa kamu tidak bisa move on dari pelacur seperti dia?" Grandfa memang kalau sudah marah, ga bisa kontrol mulutnya. Auto maki-maki bawaannya. Semoga Susan tidak dengar, kasihan dia. Pasti sakit hati nantinya.
"Grandfa, kami berdua saling jatuh cinta. Kami tidak mau hidup berpisah lagi!" Aduh, ini Susan, memang hobby banget cari penyakit. Grandfa lagi murka kaya gini, malah dia bicara masalah cinta. Auto aku tepuk jidatku. Gemas soalnya.
Grandfa kalau sudah marah bikin merinding disko pokoknya. Serem! Sejauh ini memang hanya aku yang bisa menenangkan kemarahan Grandfa. Tapi sekarang malah aku yang bikin masalah.
"Grandfa, Kevin meninggalkan Susan tepat di malam pernikahan mereka. Kevin sampai sekarang tinggal bersama Kesya di Panthousenya. Kesya itu Istri pertamanya. Tapi mereka menikah secara siri, karena belum dapat restu kedua orang tuanya Kevin." aku berusaha menerangkan situasi terbaru dari mereka.
"Grandfa, pernikahan aku sama Kevin, murni karena paksaan orang tua kami. Tidak ada cinta di dalamnya. Kevin juga sudah mendatangkan pengacara untuk memproses perceraian kami. Tapi hal itu masih di tentang oleh orang tua Kevin." Susan menerangkan kepada Grandfa dengan suara gemetar.Ketakutan dengan amarah Grandfa.
"Pulangkan wanita ini, awas kalau kamu berani membawa dia lagi ke rumah ini! Saya hapus nama kamu dari ahli waris keluarga kita!" Grandfa memberikan keputusan final.
Aku lemas sekali, tapi juga bersyukur. Setidaknya Susan selamat dari murka Grandfa. Kasihan Susan, dia pasti sedih dan sakit hati dengan hinaan Grandfa ku yang keterlaluan.
"Susan, ayo aku antar kamu pulang!" ajakku.
__ADS_1
"Kami permisi Grandfa!" ucap Susan berpamitan.
"Pwegi! Jangan berani-berani datang ke hadapan ku lagi! Muak aku lihat muka murahan kamu!" Grandfa masih saja, mengumbar kemarahannya.
Aku langsung menarik tangan Susan untuk masuk ke mobilku. Hari sudah semakin malam. Kasihan kalau Susan jam segini masih Luntang lantung di jalanan. Grandfa memang keterlaluan kalau sudah marah. Ga pandang bulu.
"Maafkan aku ya, gara-gara aku kamu jadi kena marah Grandfa!" ucap Susan sambil terisak.
"Udah, gak apa-apa. Grandfa memang bar-bar kalau menyangkut hal kaya gituan. Kamu sih, kan sudah aku bilangin, tidur di kamar tamu. Ko kami nekat masuk ke kamar aku? Untung ini Indonesia, kalau di Meksiko, bisa mati kita di tembak sama anak buah Grandfa!" aku bergidik ngeri membayangkan kekuasaan Grandfa yang seorang ketua mafia di Meksiko.
"Aku gak bisa tidur, biasanya kalau di pelukan kamu, aku nyenyak tidurnya. Maklumlah, kan aku udah nyandu sama kamu!" ucap Susan tanpa dosa.
"Kamu ada-ada aja sih! Kita jadi tambah kesulitan buat dapat restu dari grandfa. Dia sudah ilfell duluan sama kamu!" sesalku kemudian.
"Maafkan aku ya, yang udah kacaukan semuanya." Tampaknya Susan benar-benar menyesali perbuatannya tadi yang udah lancang masuk dan naik ke ranjangku.
"Sudahlah, bukan salah kamu juga. Aku tadi sangat lelah, jadi lupa buat kunci pintu kamar aku."
Susan menunduk semakin dalam.
"Malam ini kamu tidur di apartemen kita saja. Tapi aku gak bisa temani kamu, ya. Grandfa bisa ngamuk nanti sama aku!" ucapku.
"Iya, gak apa-apa. Aku akan menunggu kamu di sana!" Susan sekarang jadi penurut sekali. Seingatku, dulu dia selalu membangkang padaku. Ah, sudahlah! Lagi pula ini sudah mau dini hari, kasihan Susan kalau belum bisa mendapatkan tempat buat istirahat.
Setelah aku mengantar Susan ke apartemen yang dulu kami tempati bersama. Aku langsung pulang ke kediaman Grandfa. Aku menjaga agar Grandfa tidak semakin murka kepadaku.
__ADS_1