Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Mas Lama


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Senyum berbinar senantiasa terpancar dari wajah cantik mama Clara, penantian yang selama ini sering membuat nya frustasi itu akhirnya terbayar lunas saat ia bisa memamerkan kedua cucu menggemaskan itu pada khalayak ramai, khususnya pada teman-teman sosialita nya yang sering kali mengejeknya punya putra imp*ten. Meski sekedar candaan, namun terkadang ia juga merasa kesal sendiri karena putranya juga selalu acuh saat ia minta di buatkan cucu.


" Uhhh... Gemesh banget ini anak ciapa sih... " Natasya, salah satu teman mama Clara terlihat gemas dengan si kecil Arshi, bahkan tangannya kini sudah menjembel pipi chubby gadis mengemaskan itu, membuat gadis kecil itu seketika memekik.


" Uhkkk... Tatit tante... Dalli tadi pipi na Ashi di tubit-tubit tellush shama teuman-teuman na glanny... Nanti pipi na Ashi jadi tambah beushall kaya ballon...Ashi eundak shuka... " Sungut Arshi dengan bibir manyun yang malah menambah kesan imut.


" Ihhh... Tambah gemes deh kalau lagi bicara kaya gini... Buat aku aja ya Ra... " Timpal yang lain, membuat mama Clara langsung ambil suara.


" Main nyomot-nyomot aja kalian ini, kalian ngga inget dulu ngatain anakku imp*ten, lihat tuh hasil bibit nya, kualitas super kan... "


" Iya iya... Bibit De Enzo emang nggak kaleng-kaleng lah... "


" Glanny... Impotun itu apa? "


Seketika itu semua orang tersentak kaget, tak percaya dengan apa yang di tanyakan gadis belia berumur hampir 4 tahun itu.


" Itu... Emmm... Itu sayang... " Mama Clara tampak bingung harus menjawab apa pertanyaan polos dari cucunya itu.


" Heh... Ini jawabnya gimana, tanggung jawab kalian... " Bisik mama Clara pada teman-teman nya.


" Bilang aja gampang loyo Ra... " Celetuk Rossaline.


" Loyyo itu apa? "


" Capek cantik... " Natasya yang kini menimpali.


" Tapek? Daddy ceupat tapek keunapa glanny? "


" Itu... Emmm... Main bola... Daddy kamu kalau main bola suka capek sayang... "


" Kalau tapek kan boleh minum, keunapa eundak minum Glanny? Kan eundak bullan Lomdon... "


" Hah... Lomdon itu apa sih Ra... Kalau London sih aku tahu... "


" Aku juga ngga tahu... "


" Lomdon itu yang eundak boleh maem shama minum tante... " Sahut Arshi dengan penuh percaya diri.


" Ohhh... Romadhon... " Semuanya menepuk jidat.


Tak lama berselang, kini terlihat Arsha yang baru menyusul sang granny setelah tadi minta singgah dulu ke kamar mandi.


" Pipis nya udah sayang... " Tanya mama Clara pada cucu laki-laki nya itu.

__ADS_1


Arsha hanya mengangguk, sebenarnya ia sangat malu dengan pertanyaan dari granny nya itu.


" Asha kalau pipis itu shambil beuldilli glanny, lutu, hihihi... " Arshi terkikik geli, berbeda dengan si kecil Arsha yang sudah menampilkan aura dingin dengan bola mata yang melotot tajam.


" Kamu kok tahu sayang... " Pancing mama Clara.


" Ashi peulnah intip-intip Asha waktu mandi... Tapi ketahuan sama Asha... Tellus Asha hukum Ashi shulluh beuldilli shambil jewell teullinga... "


Seketika itu semua tergelak, bagaimana gadis sekecil itu sudah nakal dalam tingkah polos nya.


" Duhhh... Aku jadi pengen punya cucu laki-laki yang kalau pipis sambil berdiri... " Tangan itu mulai mengayun hendak menjembel pipi Arsha, namun pergerakan nya seketika terhenti saat mendapati Arsha mundur satu langkah seolah enggan untuk di sentuh.


" Kalau yang satu ini di larang sentuh-sentuh, barang langka ini... " Seloroh mama Clara.


" Pasti ini keturunan bapaknya, wajahnya aja sebelah dua belas, apa lagi sikap dinginnya, bikin hati langsung membeku... "


🍁🍁🍁


Anelis terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya, sang mimpi seperti nya tengah memanjakan dirinya hingga membuat nya tetap terjaga meski ada sesosok yang tengah berusaha mengusik tidur lelap nya.


Sosok itu terus melancarkan aksinya, menyentuh, mengec*p bahkan ******* bibir piech Anelis yang terlihat begitu mengg*da. Namun, usahanya itu pun sia-sia, Anelis seolah tenggelam dalam mimpi indah nya.


Merasa sentuhan nya tak kunjung di respon, membuat aksinya semakin li*r, memaksa Anelis untuk menyudahi mimpi indahnya dan sesegera mungkin membuka kelopak matanya jika tak ingin aksi itu bertambah li*r tak terkendali.


" Ehmmm... Mas... " Lenguh Anelis dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.


" Mas lama... " Sungut Anelis, bibirnya mengerucut kesal, terlihat imut dan semakin mengg*da.


Cup


Marvell mengecup bibir piech Anelis, menatap dalam-dalam istri nya yang kini tengah ngambek di malam pengantin mereka.


" Apa istri mas ini lagi ngambek, hmmm... "


" Nggak... " suntuk Anelis.


" Nggak tapi kok bibir nya manyun gitu sayang... "


" Biarin... "


" Ya udah... Maaf ya sayang nya mas... " Pinta Marvell sembari menghamburkan kecupan di wajah Anelis.


" Hmmm... " Anelis hanya menggeram, setengah tidak ikhlas.


" Udah dong sayang... jangan manyun terus... Apa minta mas cium ini... "

__ADS_1


Anelis hanya membisu, membuat Marvell seketika mengernyit, biasanya istrinya itu langsung menolak keras jika ia menawarkan sebuah ciuman.


Cup...


Bukan Marvell pelaku nya, namun Anelis lah yang kini berinisiatif memberikan kec*pan di bibir Marvell, membuat laki-laki itu seketika memekik girang.


" Sayang... " Sahut Marvell dengan wajah berbinar seperti habis mendapatkan kontrak kerja sama senilai triliunan rupiah.


" Mas lama... " Sahut Anelis acuh.


" Kamu semakin nakal saja sayang... "


Marvell semakin gemas dengan tingkah istrinya itu, membuatnya tak tahan lagi untuk melakukan kegiatan malam pertama mereka yang sudah kadaluarsa, saling bertukar peluh merengkuh kenikmatan, hingga akhirnya memilih menyudahi saat sama-sama letih dan tak sanggup untuk meneruskan.


" Terimakasih sayang... " Untuk yang kesekian kalinya kecupan itu mendarat di kening Anelis.


Anelis hanya mengangguk lemah sembari mengatur nafasnya, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, harum wangi suaminya itu begitu memabukkan.


" Kenapa tadi mas lama sekali? " lirih nya, ternyata kekesalan wanita itu belum luntur juga.


" Tadi kan tamunya banyak, nggak enak kalau tidak menyapa, kamu menunggu mas tadi? " Sembari mengusap-usap ujung kepala istrinya.


" Iya... Lama sekali... Ane sampai bosan... " Suntuk Anelis.


" Maaf ya sayang... Beneran mas nggak bermaksud kok... "


" Iya, Ane maafin mas, tapi janji jangan di ulangin lagi... "


" Iya sayang... "


" Anak-anak gimana mas? Udah tidur? "


" Belum kayaknya, tadi masih sama mama, nenek tua itu lagi pamer cucu sama teman-temannya... " Marvell tersenyum jenaka saat mengingat kehebohan mama nya saat memperkenalkan kedua cucu nya.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Maap beberapa hari sempat tenggelam, hehehe


Bukan karena sibuk sama karya satunya, tapi karena othor ngga ada feel saat nulis yang part ini, jadi sering aku hapus dan ketik ulang


Duh... aku jadi meng sedih nih, huhuhu...


Cukup sekian

__ADS_1


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2