Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Dullakula Lagi


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Anelis memakai pakaian nya dengan gerakan cepat, nafasnya memburu, jemari yang tengah mengancingkan blus berwarna baby pink itu tampak gemetaran, anak-anak sudah memasuki area lobi perusahaan, sedangkan dirinya saja belum beres dalam berpakaian, ahhh... Ia gugup bukan main.


Selesai dengan pakaian nya, ia langsung menyambar kerudung bermotif bunga untuk segera di pakai nya, namun tiba-tiba saja bola matanya memicing.


" Mas... " Sahutnya dengan bola mata yang masih menatap kosong pada kaca besar di depannya.


Tidak ada sahutan, memaksa Anelis untuk menoleh menatap sang suami yang tengah duduk di sofa pojok ruangan, Anelis mendesah kesal, meski suaminya kini tengah menatapnya intens, namun laki-laki berparas rupawan itu masih saja berkelana dalam lamunannya.


Entah apa yang tengah di pikirkan suaminya itu dengan wajah penuh smirk dan tatapan tak biasa, jangan bilang jika suaminya itu tengah membayangkan yang tidak-tidak tentangnya.


Ahhh... Pinggang nya saja masih terasa kebas.


" Mas... " Setengah merengek.


" Hmmm... " Hanya menggeram setelah sadar sang istri tengah memanggilnya.


" Ini kenapa leher Ane ada merah-merah nya sih mas... kan Ane udah wanti-wanti jangan buat di leher... Nanti kalau ketahuan sama Arshi gimana... " Sahut Anelis setengah menahan geram.


" Maaf sayang... Mas khilaf... " Marvell hanya nyengir kuda.


" Khilaf aja terus... " Sungut Anelis.


" Ya udah ayo... " Timpal Marvell dengan entengnya.


Ucapan absurd suaminya itu membuat Anelis seketika mengerutkan dahinya.


" Hah... Maksud mas... "


" Katanya mau yang khilaf-khilaf... Ayo... Mas siap kok, kapanpun dan di manapun... " Sembari mengedip-ngedipkan matanya.


" Mas... "


Marvell terkekeh, menggoda istri kecil nya itu benar-benar hiburan tersendiri untuknya.


" Oh iya... Baju... Baju Ane yang di luar, udah mas beresin kan... " Sentak nya, baru saja ia melupakan hal terpenting agar tak sampai terciduk oleh sang putri.


" Sudah sayang... "


Anelis bernafas lega, namun, baru beberapa detik hatinya merasa tenang, kini hatinya kembali terusik saat tangisan Arshi mulai berdengung di penjuru ruangan.


" Mommyh, hiks... "


Terdengar teriakan Arshi yang di ikuti dengan isakan kecil.


" Mas... Arshi... "


" Tenanglah, kamu pakai kerudung dulu, biar aku yang keluar... "

__ADS_1


Marvell keluar dari ruangan rahasia itu seorang diri, meninggalkan sang istri yang masih sibuk memakai kerudungnya.


" Hai my... Twins... " Ucapan Marvell tertahan saat mendapati sang putri kini tengah memegang sebuah helaian baju yang ia yakini adalah baju istrinya yang tadi ia buka dengan paksa.


Marvell memicing, ia merasa sudah membereskan semua kekacauan yang tadi di buatnya, bahkan sudah menyingkirkan pakaian istrinya itu ke tong sampah. Tapi, dari mana putri nya itu mendapatkan baju Anelis yang sudah porak poranda itu?


Mampus, apa tadi ia melempar baju itu terlalu jauh hingga tak terjangkau penglihatan nya?


" Ahhh... Sial... "


Marvell pun melangkah mendekati kedua buah hatinya itu


" Putri daddy kenapa, hmmm... " Sembari melempar senyum nanar.


" Inni... Hiks... Inni baju na mommy kok pada shobek-shobek... Mommy Ashi kennapa daddy... " Tangisnya semakin kencang saat teringat tadi pagi mommy nya masih rapih dengan pakaian itu, dan sekarang pakaian itu sudah tergolek mengenaskan.


" Tenanglah girl... Mommy baik-baik saja kok, mommy ada di dalam... Sebentar ya... "


" Ashi mau mommy sheukallang... " Dengan tangis yang masih setia luruh dari wajahnya.


" Daddy apain mommy? " Kini Arsha tak tinggal diam, bahkan sorot matanya kini penuh intimidasi, menghunus tajam pada bola mata daddy nya.


" Mommy tidak apa-apa boy, tenanglah "


" Sayang... kalian sudah pulang... " Akhirnya Anelis keluar juga dari tempat persembunyian nya itu, atau kalau tidak Marvell akan semakin terpojok oleh anak-anaknya sendiri.


Kedua bocah kecil itu pun sontak berlari mendekati Anelis yang masih berdiri di ambang pintu rahasia, keduanya memeluk erat mommy nya itu seolah takut akan kehilangan.


" Mommy... Are you ok? " Sahut Arsha dengan wajahnya yang layu, ia sudah tak mampu lagi memendam kekhawatirannya.


" Mommy baik-baik saja sayang... Kenapa anak-anak mommy ini, hmmm... " Anelis membelai wajah sendu Arsha, lalu beralih mengusap wajah putrinya yang sudah basah bekas isaknya.


" Inni... Baju na mommy kennapa shobek-shobek... Apa dullakula na nakal ladi shama mommy? "


Anelis mendelik, bukannya tadi suaminya itu bilang sudah menyingkirkan nya, lalu apa ini?


" Ti-tidak sayang... Lihat ini, mommy baik-baik saja kan... " Anelis berusaha tetap bersikap setenang mungkin.


" Toba lihat... "


" Lihat apanya sayang... "


" Lehel na mommy... "


Anelis mematung, perasaan tenang yang sudah di bangunnya sedari tadi runtuh seketika, pandangannya langsung beralih menatap tajam pada sang suami.


" Girl, kita beli susu stroberi kesukaan mu yuk... " Marvell mencoba mengalihkan perhatian si kecil Arshi.


" Eundak mahu... Ashi kenyang... " Timpal Arshi tanpa mengalihkan pandang dari sang mommy.

__ADS_1


" Teupetan myh... " Sambung nya.


Huuuh... Anelis membuang nafas kasar berusaha untuk lebih tenang lagi.


" Mommy baik-baik saja sayang... " Yakin nya.


" Eundak mahu... Pokok na Ashi mahu lihat lehel na mommy sheukallang, hiks... "


" Shttt... ***... Iya iya... Tapi Arshi berhenti dulu nangisnya... "


Dan ucapan Anelis seolah menjadi sihir tersendiri untuk si kecil Arshi, bocah itu seketika terdiam dari tangisnya.


Anelis terpaksa membuka jilbab nya, hanya bisa pasrah, berharap tiba-tiba saja bola mata kedua anaknya itu memburam agar tak menyadari keberadaan tanda merah itu di lehernya.


Arshi menelisik leher mommy nya dengan teliti, dan seketika ia memekik tajam.


" Ini ada mellah-mellah na ladi, dullakula na nakal ladi shama mommy, hwa... " Tangis bocah kecil itu kembali berdenging membuat Anelis pusing sendiri.


" Daddy... Stop nakal-nakal lagi sama mommy... " Sahut Arsha kepada daddy nya dengan nada marah.


" Bukan daddy yang nakal Asha, tapi dullakula na yang nakal... " Sahut Arshi di tengah isaknya.


" Itu daddy Arshi... "


" Bukan daddy... " Sentak Arshi.


" Dasar otak udang, makannya kalau belajar itu jangan sambil makan, jadi otak kamu rada pinteran dikit... "


" Otak Ashi bukan otak udang... Otak Ashi otak manushia... " Sentak Arshi merasa kesal dengan Arsha karena selalu mengatainya.


" Stop... Calm down twins... kenapa kalian malah berdebat, hmmm... " Marvell mengakhiri perdebatan itu.


" Itu daddy... Asha na shuka ejek-ejek Ashi otak udang, padahal kan Ashi manushia, masha puna otak na udang, udang kan ikan, bukan manushia... "


" Udang itu hewan, bukan ikan Arshi... "


" Kan tinggal na di aill, belalti udang itu ikan... "


" Terserah kamu aja... " Sentak Arshi.


Perdebatan demi perdebatan terus bergulir, permasalahan tentang drakula kini menguap begitu saja, kedua bocah menggemaskan itu seolah lupa dengan pembahasan mengenai drakula yang tak pernah mencapai titik terang.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Selalu sabar ya hadapin othor yang malas ini


Happy Reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2