
°°°~Happy Reading~°°°
" Jadi, ini keputusan yang kalian ambil? " Selidik tuan Edgard pada sepasang orang tua yang masih belum terjerat dalam satu hubungan.
" Iya pa, kami sudah sepakat untuk menikah... " Jelas Marvell.
Wajah mama Clara seketika berbinar, ia bangkit dari duduknya, langsung menyambar tubuh Anelis yang kini tampak menegang, merengkuhnya erat membawanya dalam dekapan hangat, ia terisak, haru dan bahagia kini menelungkup dalam hatinya.
" Terimakasih sayang... Terimakasih kamu sudah mau menikahi putra mama yang begitu banyak kekurangan ini, jika bukan kamu, maka siapa lagi yang mau menerima anak mama yang tengil itu nak... "
" Ma... " Dan mama Clara langsung mendapatkan hadiah pelototan dari Marvell, mama Clara hanya nyengir kuda, wajahnya benar-benar sangat menyebalkan dengan wajah tanpa dosa nya.
" Apa kalian sudah memilih tanggal pernikahan? " Sela tuan Edgard agar perdebatan itu segera berakhir.
" Sudah pa, dua hari lagi... "
" Apa!!!! "
Pekik tuan Edgard dan mama Clara serempak, mereka bagai di sambar petir, terkejut bukan main, bagaimana putranya itu dengan seenak jidatnya memutuskan untuk menikah hanya dalam 2 hari?
" Apa kau benar-benar gila Vell? Bagaimana kita melakukan persiapan nya? Pesta, gedung, tamu undangan, seserahan, semua tidak bisa dilakukan sesingkat itu Vell... Bahkan butuh waktu berminggu-minggu untuk hasil maksimal nya, dan kamu malah... " Decak mama Clara.
" Kami sudah sepakat hanya melangsungkan pernikahan sederhana, semakin cepat semakin baik, kasihan anak-anak jika harus menunggu lebih lama lagi... Jika mama ingin pesta, atur saja sesuai keinginan mama, nanti bisa di langsung kan setelah kita sah nanti... "
Mama Clara manggut-manggut, benar juga apa yang di katakan putranya itu, pesta bukan hal paling penting, yang terpenting adalah kata "SAH" dari para saksi nikah dan penghulu.
" Kau benar-benar sudah dewasa Vell, mama masih ingat dulu kamu sangat nakal, kamu suka ngompol jika di gendong sama pamanmu, bang Ardi, bahkan saat minum asi mama kamu selalu menggigit put... "
" Ma... Bisakah kita hanya fokus membahas tentang pernikahan saja? " Geram Marvell, lagi-lagi mama nya itu hanya mengumbar aib nya saja, apalagi dengan aib yang begitu memalukan itu.
" Apa kau malu pada calon mantu mama putraku? " Goda Mama Clara.
" Ma... " Kekesalan Marvell kian menjadi saat mama Clara menggodanya dengan mengerlingkan kedua matanya, benar-benar... Bagaimana bisa ia memiliki seorang ibu yang sikapnya tidak seanggun dengan penampilan nya, bahkan terkesan amburadul dan bar-bar.
__ADS_1
" Sudah-sudah... Kalian ini hobinya berantem saja ahhh... "
" Ya sudah... Lakukan sesuai rencana awal kalian saja, untuk gedung nya papa yang akan atur, kalian tinggal urus masalah fitting baju pernikahan saja... "
Masih sibuk membahas masalah pernikahan dan segala pernak-pernik nya, tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan si kecil Arshi yang mendadak menerobos masuk, bahkan bocah mungil itu terlihat berlari kencang berusaha menghindar dari kejaran dua pelayan yang tengah menjaganya.
" M-maaf nyonya, tuan, kami sudah berusaha menjaga nona muda, tapi... Nona terlalu lincah jadi... Kami... "
Keringat dingin sudah memenuhi kening keduanya, mereka sadar telah melakukan kesalahan besar, lalu... hukuman apa yang akan di dapat nya.
Ohhh... ya Tuhan... jantung mereka semakin berdemo, masih jelas di ingatan mereka bagaimana sang tuan Marvell memberikan hukuman pada dua pelayan yang telah abai menjaga putranya tempo hari, jika bukan karena bujukan sang nona Anelis, mungkin kedua pelayan itu sudah mati berdiri sat itu juga.
" Oh... Tidak apa-apa, kembalilah... " Sahut nyonya Clara, tidak akan mudah untuk mengusir cucu mengembangkan nya itu, apalagi setelah melihat bagaimana gadis mungil itu merengkuh daddy nya dengan posesif.
" Cucu nya granny kenapa? Kok cemberut, hmm... "
" Tadi kata glenni, pinjem daddy na Ashi tuma sheubentall aja, tapi kok lama sheukalli... Ashi cape nunggu na... Jimmy juga... Jimmy malah udah bobo, sheukalang di tungguin shama Asha... " Suntuk Arshi, ia duduk di pangkuan daddy nya dengan merengkuh erat tubuh kekar itu, sungguh ia begitu posesif, ia tak ingin berbagi kehangatan tubuh daddy nya pada yang lain.
" Arshi tunggu sebentar lagi ya... Main sama daddy nya nanti dulu, granny mau ngobrol sama daddy... " bujuk mama Clara.
" Tidak, sebentar aja kok sayang... "
Arshi tampak berpikir sejenak, menimbang nya, lalu menggeleng yakin.
" Eundak mau ahhh... Nanti gleni boongin Ashi lagi, bilang na tuma sheubentall, tapi lama sheukalli... "
" Arshi... Nggak sopan sayang... Minta maaf sama granny... " Sahut Anelis mengingatkan, sejak kecil, ia sudah mengajarkan pada kedua anaknya tentang tata kesopanan, mana yang baik dan yang buruk, mana yang boleh di lakukan dan mana yang tidak. Namun, kadang kalanya, si kecil Arshi suka keluar batas jika tengah kesal seperti ini.
Mendengar bentakan mommy nya, seketika Arshi terisak, padahal ia hanya ingin main dengan daddy nya, kenapa harus di larang? Kenapa harus menunggu nanti? Kenapa tidak sekarang aja? Ia sudah terlalu lelah menunggu kedatangan daddy nya begitu lama.
" Hiks... Ashi tuma penen main shama daddy myh... Keunapa eundak boleh... Momny shama daddy eundak sayang shama Ashi ya... "
Melihat buah hatinya menangis, membuat Marvell tak tega, di usapnya air mata itu, menepuk-nepuk punggung nya menenangkan.
__ADS_1
" Sudah-sudah... Tidak apa-apa, kita main sekarang... " Bujuk nya yang langsung di angguki Arshi dengan penuh semangat.
" Kita bicarakan lagi lain waktu... "
Marvell beranjak dari duduknya dengan Arshi yang ada di gendongan nya, di buntuti Anelis yang terlebih dulu pamit dan mencium punggung tangan kedua calon mertuanya.
Mama Clara dan tuan Edgard menatap kepergian Marvell dengan senyum mengembang, tak pernah terbayang di benak mereka jika laki-laki dingin itu bisa bersikap begitu lembut pada seorang anak kecil sekalipun.
" Lihat... Putramu itu sudah dewasa pa... " Puji mama Clara membanggakan putra semata wayangnya.
Tuan Edgard mengangguk setuju.
" Ya... Sudah saatnya dia berubah dewasa, membangun sebuah keluarga tidaklah mudah, harus saling mengerti dan memahami, apalagi dengan segala kebutuhan pasangan nya, benar kan ma... " Tuan Edgard merengkuh istrinya, mengerlingkan matanya, tatapannya terlihat tak biasa membuat mama Clara bergidik ngeri.
" Apa... " Mama Clara sudah bergidik ngeri, sepertinya malam ini ia akan habis oleh suaminya.
" Ma... " tuan Edgrad merajuk, wajah dinginnya berubah menggemaskan jika tengah bersama dengan mama Clara seperti ini.
" Apa... " Sepertinya tidak dapat di cegah lagi.
" Ma... Ayolah... "
Dan...
Selesai...
Lanjutin kalian sendiri ya😅
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Jangan lupa like nya di kencengin...
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕