Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Arsha!!!


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Flashback On


Malam kian larut, dinginnya malam kian mendera, menusuk tajam pada dinding kulit yang tak begitu tebal.


Salah satu pintu ruangan di lantai bawah itu berangsur terbuka, pelakunya terlihat mengendap-endap, menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah memastikan tak ada saorangpun yang akan menggagalkan rencananya.


Di tutupnya pintu itu dengan gerakan halus, kaki mungilnya mulai melangkah mendekati area tangga yang terletak tak jauh dari jangkauannya.


Menapaki satu persatu jajaran anak tangga itu, ia terlihat kewalahan, kaki mungil yang dimilikinya benar-benar telah menyusahkan dirinya, bahkan menguras seluruh tenaga yang ia punya.


Huuuhhh...


Nafasnya seolah hampir putus, bongkahan keringat terlihat bercucuran, setelah melewati perjuangan yang sangat melelahkan itu, akhirnya ia sampai juga di lantai dua mansion itu.


Bola matanya mulai menelisik ke sekeliling ruangan, otak cerdasnya berusaha menebak-nebak, dimanakah letak kamar yang akan menjadi sasarannya malam ini?


Mungkinkah itu?


Ragu-ragu ia melangkah mendekati ruangan yang berada tak jauh dari area tangga, membukanya perlahan...


Ahhh... Ternyata terkunci, ia mengerucutkan bibirnya kesal, ia kecewa karena tebakan pertamanya salah besar.


Kaki mungil itu mulai bergeser ke area kamar sebelah, hmmm... Ia harap-harap cemas, ia takut kecewa untuk yang kedua kalinya, di bukanya pintu itu dengan harapan besar, dan...


Klek...


Ia tersenyum girang saat pintu itu berhasil terbuka lebar, bola matanya langsung saja terfokus pada seseorang yang tengah terkapar di atas ranjang.


Ia memasuki kamar bernuansa putih itu dengan hati bersorak gembira, tak lupa di tutupnya lagi pintu kamar itu dengan hati-hati, agar tak mengganggu tidur nyenyak sang pemilik ruangan.


Kaki mungil itu mulai mendekati sisi ranjang, menaikinya dengan susah payah, bahkan ia harus menyungkurkan kepalanya lebih dulu, lalu merambatkan kakinya ke atas.


Ia benar-benar mengutuk keras kaki mungilnya. Ahhh... Ia jadu bertanya-tanya, kapan kakinya itu bisa memanjang? Haruskah disirami dengan air layaknya sebuah tanaman?


Senyum lebar seketika menghiasi bibir piech nya, saat menatap wajah tenang laki-laki yang kini masih di rengkuh sang mimpi dalam tidurnya.


Di toel-toel nya pipi laki-laki itu dengan jemari mungilnya, sungguh, aktifitas itu menjadi hiburan tersendiri untuknya.


Oh ya... Ia sampai lupa tujuan awal mengapa ia sampai ada disini, di letakkan nya tangan mungil itu di atas dahi laki-laki di depannya.

__ADS_1


" Euhhh... Eundah nanus kok... " Gumam gadis mungil itu yang tak lain adalah Arshi.


" Sepeulti na om danteng eundak apa-apa deh... " Arshi bermonolog sendiri, tapi suara menggemaskan itu tetap saja mengganggu tidur nyenyak laki-laki itu yang tak lain adalah Marvell.


Marvell melenguh, rasa pusing di kepalanya masih terasa mendera, membuatnya hanya bisa menyipitkan sedikit kelopak matanya yang masih terasa lengket untuk di buka.


" Arshi ngapain, hmm... "


" Om danteng eundak apa-apa kan? Kok tadi dalan na pake nubluk-nubluk, kata mommy om danteng tuma pushing... sheukalang keupala na mashih pushing? "


Marvell mengangguk pelan.


" Sedikit... "


" Mau Ashi pijitin? Ashi pintell mijit lohhh... biasana Ashi mijitin tangan na mommy... "


Marvell menggelengkan kepala nya.


" Kamu tidak tidur, hmmm... "


" Emmm... " Arshi tampak berpikir sejenak " Ashi boleh tidul cini? " Ragu-ragu Arshi melontarkan keinginannya, tak lupa ia juga memasang wajah imut agar keinginannya itu bisa terlaksana.


" Hmm... Sini... " Di rentangkan nya tangan kanan milik nya, dan saat itu juga bocah kecil itu langsung tertidur di atas lengan kekarnya.


Marvell menyunggingkan bibirnya, di puk-puk nya pantat itu dengan sayang, bola matanya kembali terpejam rapat, ternyata kesadarannya belum sepenuhnya kembali, ia masih merasa berada di alam mimpi yang sangat indah. Tidur dengan putrinya, bahkan dengan leluasa merengkuh tubuh mungil itu, sungguh ini bagai mimpi indah yang tak ingin di tinggalkan nya.


Flashback Off


🍁🍁🍁


Deru mesin mobil berdenging halus, membelah keramaian kota yang begitu sibuk dengan lalu lalang kendaraan.


Marvell menatap di kejauhan, pikirannya kalut, entah kenapa hatinya terasa kosong, hari-harinya pun terasa hambar di lalui, sudah tiga hari berlalu, namun penolakan putranya itu masih saja terasa sangat menyesakkan.


Ia mengurut pelipisnya, rasa pusing kembali mendera, tak tahu lagi bagaimana ia harus bersikap, memaksa pun tak akan ada gunanya, namun untuk merelakan, akan terasa sangat menyiksanya, apa ini karma dari setiap perbuatan buruk di masa lalunya?


" Apa saya perlu memanggil dokter Richard, tuan? " Sahut Willy khawatir, karena siang tadi tuan mudanya itu mengeluh pusing hingga akhirnya memutuskan untuk pulang seketika itu juga.


" Tidak, kita pulang saja... "


Tak sampai setengah jam, mobil hitam mewah itu kini sudah terparkir di halaman mansion tuan Edgard. Ya, semenjak Anelis memutuskan bermalam di mansion itu, sejak itulah Marvell tak pernah lagi menyambangi mansion pribadi miliknya, entah bagaimana nasib kediaman mewahnya itu, ia tak perduli, jika bangunannya hancur pun, ia bisa dengan mudah membangunnya lagi, mudah kan?

__ADS_1


Marvell mulai memasuki kediaman tuan Edgard dengan dahi berkerut, tidak biasanya ia mendapati suasana lengang seperti ini, biasanya ia akan di sambut pelukan hangat dari putri kecilnya yang memang selalu menunggunya pulang.


" Dimana anak-anak? " Tanya nya dengan nada dingin pada salah satu pelayan yang tak sengaja melintas.


" Emmm... Nona muda dan tuan muda ada di halaman belakang tuan... " Pelayan itu bergidik ngeri, sudah terkenal di kalangan mereka, bahwa laki-laki angkuh itu tak akan mengenal kata ampun bagi siapapun yang melakukan kesalahan, bahkan untuk kesalahan sekecil apapun.


Marvell acuh dengan wajah tegang pelayan itu, segera saja ia menuju halaman belakang dimana putra-putrinya kini berada, ia tak lagi bisa menahan rasa rindu yang semakin liar menggerogoti hatinya, tak sabar ia ingin segera melihat bagaimana keadaan kedua buah hatinya saat ini.


Sesampainya di halaman belakang, lagi-lagi hanya kesunyian yang ia dapatkan, wajahnya menggeram, tangannya mengepal kuat, apa pelayan itu telah membohonginya?


Ia membalik badannya, hatinya kesal bukan main, ia ingin segera membuat perhitungan dengan pelayan tak tahu diri itu, bagaimana pelayan rendahan itu punya nyali besar hingga berani membohongi dirinya?


Belum sempat ia melangkah, tiba-tiba fokusnya beralih pada suara lirih meminta tolong, jelas-jelas ia mendengarnya, namun suara itu kembali tenggelam tak terdengar lagi.


Ia melangkahkan kakinya lagi, namun suara itu kembali menusuk indra pendengaran nya, bahkan kini lebih kencang, hatinya seketika gelisah, jelas sekali ia mengenal suara siapa itu.


Diedarkannya pandang ke sekeliling halaman belakang yang begitu luas, menajamkan pandangannya, seketika itu tubuhnya terlonjak kaget, hatinya berdegub kencang, ketakutan-ketakutan itu langsung memenuhi isi hatinya saat di dapatinnya seseorang tengah terjebak dalam kubangan air kolam yang begitu dalam.


" Arsha!!! "


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Update oh uptade...


Sudah terlalu sering othor beralasan


Sudah sering pula othor meminta maaf


Namun tanpa kalian apalah othor anak bawang ini...


Terimakasih untuk kalian yang masih setia di sini


Maaf untuk kalian yang telah menunggu-nunggu hadir nya othor


Maaf untuk kalian yang kecewa karena tak ada double update atau sekedar update rutin


Terimakasih Semua


Happy Reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2