
°°°~Happy Reading~°°°
Pagi mulai menyingsing, matahari perlahan naik ke peraduannya. Bola mata itu tampak mengerjap, ia terusik oleh sinar matahari yang dengan tak tahu malunya telah menerobos ruangannya, hingga akhirnya manik biru berkilau itu kini terbuka sempurna.
Marvell terbangun dari tidur panjangnya, bola matanya mulai menelusuri sudut demi sudut ruangan yang terasa begitu asing itu.
Hingga akhirnya pandangannya tertuju pada sosok berkerudung yang kini tengah duduk meringkuk di samping ranjangnya, kepalanya bersandar pada ranjang rawat nya, sedang tangannya dengan setia menggenggam jemari tangan nya, sosok itu terlihat begitu lelap dalam tidurnya, dialah Anelis, sang istri tercinta.
Di usapnya pucuk kepala istrinya itu lembut, bahkan sangat lembut, namun usapan itu malah berbuah petaka, istrinya mulai melenguh, tidurnya terusik hanya dengan usapan halus dari tangannya.
" Ehmm... Mas... Mas sudah bangun... " Anelis terlonjak saat di dapati nya sang suami kini telah tersadar dari tidurnya.
" Hmmm... "
" Alhamdulillah... Apa yang mas rasakan, apa mas masih pusing? "
" Iya... Sedikit... " Suaranya terdengar lirih, laki-laki itu benar-benar terkapar di ranjang rawat nya.
" Kalau gitu Ane panggilkan dokter sebentar ya mas... " Anelis hendak beranjak, namun pergerakannya itu tertahan oleh cekalan tangan Marvell.
" Di sini saja, temenin mas... "
Anelis kembali terduduk, di tatapnya wajah suaminya itu dalam-dalam, jemari tangannya mulai berkelana menyusuri setiap jengkal wajah sang suami yang masih memucat, bayangan saat ia mendapati suaminya tak sadarkan diri kembali mencuat, membuat hatinya semakin teriris tak karuan.
" Maafin Ane ya mas... Ane tidak bisa menjaga mas dengan baik... Sampai mas... " Kalimatnya tercekat, perasaan bersalah kini benar-benar mengusik hatinya, ia telah gagal menjadi istri yang baik untuk suaminya.
" Kenapa kamu bicara begitu, hmmm... kamu adalah istri terbaik mas, sayang... " Sahut Marvell, jemari tangannya mengusap pada setitik air mata yang kini mengalir dari bola mata Anelis. Entahlah, akhir-akhir ini istrinya itu telah banyak berubah, lebih sering mellow dan menangis karena hal sepele.
" Tapi Ane sudah membuat mas sampai pingsan, Ane... "
__ADS_1
" Shhhtt... Sudah, jangan membantah mas... Pokoknya kamu istri terbaik mas, tidak ada bantahan... " Mau sesakit apapun, Marvell tetaplah sosok yang tak terbantahkan.
Pintu ruangan VVIP itu mulai membelah, menampilkan si kecil Arshi yang sudah berlari mendekati Marvell, tak ketinggalan Arsha dan mama Clara yang masih tertinggal di belakang.
" Daddy... " Gadis kecil itu sudah heboh sendiri, bahkan memaksa naik ke ranjang rawat Marvell.
" Hei... Putri daddy kenapa, hmmm... " Marvell mengusap wajah cantik putrinya yang terlihat sedikit kusut.
" Ashi hawatill shama daddy... Daddy keunnapa tadi mallam pisang... Ashi tatut daddy keunnapa-keunnapa... "
" Arsha juga khawatir sama daddy... Kenapa daddy tiba-tiba pingsan seperti itu, apa daddy masih lelah karena perjalanan jauh? " Arsha yang juga naik ke atas ranjang rawat Marvell kini ikut buka suara.
" Tenanglah my twins... Daddy baik-baik saja kok, yang di katakan Arsha benar, mungkin daddy hanya kecapean... "
Marvell pun mengecupi kening kedua buah hatinya itu bergantian, kehadiran keduanya lebih mujarab dari pada selang infus yang kini begitu menyiksa punggung tangannya.
" An... Kamu terlihat pucat sayang... Kamu belum makan ya? Semalam juga kamu melewatkan makan malam loh... " Tegur mama Clara pada menantu nya itu.
" Tidak apa-apa kok mah... Ane baik-baik saja... "
" Jangan gitu, kamu juga harus jaga kesehatan kamu, kalau kamu ikut sakit gimana, siapa yang ngurusin bocah tengik itu An... Mama ogah kalau suruh ngurusin bocah tua itu, lebih enak ngurusin dua cucu mama dari pada ngurus satu bocah tengik... " Meski sang putra tengah sakit pun, mama Clara masih saja julid dengan pasien tak berdaya itu.
" Ma... "
" Apa... " Tantang mama Clara.
" Sini makan dulu An... Ini mama sudah bawakan makanan buat kamu... "
Mama Clara mulai membuka wadah makanan yang ia bawa, harum semerbak seketika memenuhi ruangan, membuat perut setiap insan seketika meronta ingin meminta tumbal makanan.
__ADS_1
Berbeda dengan kebanyakan orang, kini Marvell tampak mengernyit, harum makanan itu bagai racun untuk hidung sensitif nya, membuat perutnya seperti di aduk seperti sebelumnya, ia mual, ia ingin memuntahkan isi perutnya.
Huekkk...
" Mas... Mas kenapa? " Anelis panik saat mendengar muntahan tertahan dari sang suami.
" Mual sayang... "
Anelis secepat kilat menyambar infus yang tergantung itu untuk di bawa dalam genggaman tangannya, langsung saja ia membantu memapah sang suami memasuki kamar mandi.
Berkali-kali Marvell memuntahkan isi perut nya, Anelis pun dengan sabar memijit tengkuk sang suami tanpa merasa jijik sekalipun, hingga akhirnya tubuh kekar itu lunglai di rengkuhan Anelis.
" Sayang... Tolong singkirkan makanan itu dari mas... Mas ngga kuat sayang... "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap ye, sering absen, hehehe
Kemarin ada yang komen kalau ceritanya rada muter-muter
Hehehe, iya sih emang😅
Soalnya othor masih gedek sama babang Marvell sih, jadi pembalasan nya di maksimalkan aja😂
Gimana menurut chingu yang budiman???
Happy Reading
__ADS_1
Saranghaja 💕💕💕