
°°°~Happy Reading~°°°
Hampir dua jam lamanya panggilan vidio itu masih tersambung, sepasang nenek dan cucu itu seolah tak ada bosan nya saling bercerita satu sama lain setelah berminggu-minggu terpisah oleh jarak dan waktu.
Celotehan Arshi benar-benar menggemaskan, cara bicaranya yang amburadul itu malah menambah kesan gemas pada bocah kecil yang memang sudah menggemaskan itu.
Gadis kecil itu seolah bertransformasi menjadi sutradara yang paling handal, berceloteh riang tanpa takut kehabisan topik pembicaraan, yang ada, gadis kecil itu selalu mendapat topik-topik baru untuk diceritakan pada granny sangat di rindukan nya.
" Gleni gleni... Keumalin om danteng na Ashi beuliin Ashi cucu tobeli baaanak ceukali... Ashi sheuneng banet... Tellus... om danteng na Ashi juda puk-puk Ashi waktu Ashi bobo, Ashi shuka... Tapi... " Wajah ceria itu berubah sendu, air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
" Tadi... om danteng na Ashi hillang, Ashi langsung nanit, Ashi eundak mahu om danteng Ashi peulgi... Ashi tunggu-tunggu tapi om danteng eundak dateng-dateng, Ashi jadi nanit tellus, Ashi sheudih di tinggal om danteng glenii... "
" Tellus waktu Ashi udah capek nanit, om danteng na ballu nongol, Ashi sheeeenneng ceukali glenni... tellus Ashi di kashih lihat deh Upin-Ipin, lambut na Upin tuma shatu, tellus lambut na Ipin botak... hihihi... lambut na lutu..."
" Ohhh... Cucu granny pinter banget sih sayang... Kalau gitu Ashi sayang nggak sama om danteng? "
Arshi mendongak menatap Marvell yang masih setia memangku nya. Lalu di rebahkan nya kepalanya di dada bidang itu, sedang kedua tangannya menggenggam erat tablet besar itu.
" Ashi shayaaang... banet shama om danteng, Ashi eundak mahu om danteng peulgi-peulgi ladi... Ashi mau shama om danteng telllus gleni... " Sahutnya, raut wajahnya terlihat sedih mengingat saat om danteng nya tadi menghilang tanpa jejak.
Anelis yang mendengar celotehan itu hanya menghela nafas dalam, bagaimana pun ia menyembunyikan kenyataan bahwa laki-laki itu adalah ayah dari kedua anaknya, tetap saja mereka memiliki ikatan batin yang begitu kuat. Darah lebih kental dari pada air, pepatah itu memang benar adanya.
Namun di sisi lain, sekelumit rasa tak nyaman kini juga menggelayut manja dalam relung hatinya, mengingat permintaan mama Clara yang baru saja di terimanya itu membuatnya dilema. Permintaan yang sederhana namun begitu berat untuk di lakukan, haruskan ia kembali ke kota yang penuh akan kenangan itu?
" Sejak kapan nyonya Clara sakit? " Anelis membuka perbincangan nya saat sambungan telpon itu terputus, sedang Arsha dan Arshi kini beralih pada mainan barunya, tepatnya mainan pemberian dari Marvell.
" Sejak kamu dan anak-anak menghilang, setelah itu kondisinya langsung drop... "
Deg
Jantung Anelis berdesir hebat, jadi dalam arti kata lain, dialah yang menjadi penyebab dari semua rasa sakit yang kini harus di derita mama Clara, orang yang begitu baik kepadanya.
__ADS_1
" Tidak bisakah kamu dan anak-anak ikut dengan ku kembali ke Jakarta? Tidakkah kau merasa kasihan dengan mama? Dia merindukan cucu nya... " Permohonan itu tulus apa adanya dari dalam lubuk hati Marvell yang terdalam.
Anelis terdiam sejenak, ia dilema, ingin menolak namun tak bisa, ingin menghindar pun akan semakin di kejar-kejar, otaknya menimbang-nimbang pilihan terbaik yang bisa ia ambil.
" Kalau saya setuju, bisakah anda menuruti permintaan saya? " Sahut Anelis, bola matanya menatap dalam-dalam pada bola mata berwarna biru di depannya, seolah tengah mencari ketulusan di tengah mata tajam yang kini menusuk ke arahnya.
" Katakanlah... "
" Berjanjilah anda tak akan pernah merebut anak-anak dari tangan saya... Berjanjilah untuk tetap seperti ini, biarkan kami hidup bebas tanpa rasa takut akan terpisah... " Sahut Anelis dengan penuh permohonan, bola matanya sudah berair, memerah, pikirannya kini terusik oleh satu kenyataan bahwa laki-laki di depannya itu bisa saja merebut buah hatinya kapan saja.
Deg
Marvell tersentak, seketika itu ia terpaku dalam posisinya, inikah yang di takutkan wanita itu selama ini?
Ia menatap dalam-dalam manik coklat yang begitu indah itu, menelisik ke dalam, ia berusaha memahami arti dari tatapan sendu itu, tatapan penuh luka dan rasa takut akan kehilangan, apakah tatapan itu yang benar-benar ia lihat saat ini?
" Apa itu yang selama ini kamu takutkan? "
" Bohong bila saya mengatakan saya tidak takut jika anda sewaktu-waktu akan merebut anak-anak dari tangan saya, bohong bila saya tak membenci anda, bohong bila luka yang anda goreskan waktu itu sudah menghilang dari dalam hati saya "
" Untuk itu, bisakah anda juga menahan perasaan anda untuk tidak merebut anak-anak dari tangan saya... Seberapa banyak uang yang anda berikan, jika tak ada kebahagiaan semua akan terasa hambar. Anak-anak adalah hidup saya, sekali saya kehilangan mereka, maka saat itu juga saya kehilangan hidup saya... "
Kalimat itu benar-benar telah berhasil mendobrak dinding tebal yang dulu tercipta dalam hatinya, mereka menerobos kuat dinding kokoh itu sampai hancur berserakan, hingga akhirnya menelusup sampai ke dalam relung hatinya, menusuk nya tajam hingga terasa berdenyut sakit namun tak berdarah.
Sebesar inikah luka yang tak sengaja ia ciptakan itu, sedalam inikah rasa benci yang sudah ia tanam untuk wanita sebaik Anelis sekalipun, tak ada lagi kah ruang di hati Anelis untuk menerima nya hanya dengan status ayah dari anak-anaknya? Tak ada lagi kah kata maaf yang bisa ia dapatkan dari mulut Anelis.
" Apa kau sangat membenciku? "
Anelis menggeleng.
" Saya masih berusaha untuk berdamai dengan diri saya sendiri... "
__ADS_1
" Bagaimana jika aku berniat merebut mereka darimu? "
Kata-kata itu sukses membuat Anelis mendongak menatap mata tajam itu.
" Saya akan berusaha untuk mempertahankan nya sekuat yang saya bisa... " Tegasnya tanpa keraguan.
" Baiklah, aku setuju!!! Siapkan dirimu, kita kembali malam ini... "
Marvell beranjak dari duduknya, terlihat wajahnya sudah tak bersahabat, ia butuh waktu untuk sendiri, menenangkan pikirannya yang kini di penuhi kemelut yang membumbung tinggi.
" Tidak bisa, setidaknya kita kembali besok hari... " Ucapan Anelis sontak membuat langkah Marvell terhenti.
" Semakin cepat semakin baik... " Sorot matanya tajam.
" Saya harus berbicara pada anak-anak lebih dulu "
" Bukankah gadis kecil itu sangat ingin kembali tadi? "
" Anda melupakan Arsha, saya harus berbicara pelan-pelan dengan anak itu. Saya tidak ingin dia merasa pendapat nya di abaikan... "
" Hmmm... " Marvell hanya menggeram, ia sudah tidak ada keinginan untuk melanjutkan percakapan itu, ia butuh ketenangan saat ini.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
bigimini kibirnyiiii....
Maacih yang selalu support othor
Doakan othor agar otaknya makin lancar buat menghalu ria, hehehe
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕