
°°°~Happy Reading~°°°
" Kalian dari mana aja sayang... " Anelis langsung menyidang kedua anaknya itu.
" Kita tadi dalli taman beulmain myh... Tapi taman beulmain na anneh eundak shepeulti biasa na, tapi shellu, Ashi shuka... " Sahut Arshi dengan antusias.
" Terus Arshi main apa, hmmm... Naik bianglala? " Tanya Anelis tanpa curiga sedikitpun.
" Eundak myh... Di shana eundak ada bing lala, ada na tembak-tembakan, doll doll doll... "
" Tembak-tembakan? Tidak ada yang lain? " Anelis mengerutkan dahinya tak percaya.
" Huum... Ashi tembak melleka pake pishang doll doll doll gitu myh... Ashi meunnang deh... tellush di kashih hadiah shama daddy bonneka yang beushall shekalli, Ashi shuka Ashi shuka... "
" Terus putra mommy ini, di kasih hadiah apa sama daddy, hmmm? " Tanya Anelis pada sang putra.
" Asha hadiah na gaib myh... Eundak keulihatan, eundak shellu... "
" Dari pada kamu hadiahnya nyusahin orang... " Sungut Arsha tak terima.
" Biallin... Tapi kan keullihatan, eundak kaya hadiah na Asha eundak keulihatan... "
Perseteruan demi perseteruan terus menghujam, namun tak membuat Anelis tau apa maksud dari kedua buah hatinya itu.
" Emang hadiah nya Arsha apa sayang, jin? " Sahut Anelis asal.
" Bukan myh... Mana bisa daddy tangkapin jin buat Arsha, daddy kan bukan dukun... "
" Iya... Daddy bukan dukun, tapi dukun c*bul... " Lirih Anelis menatap tajam ke arah Marvell.
" Sayang... " Peringat Marvell, tatapannya penuh permohonan agar istrinya itu tak berulah di sini atau ia benar-benar tak akan bisa menahannya.
" Terus, hadiahnya Arsha apa sayang... " Sahut Anelis tanpa sedikitpun perduli dengan suaminya.
" Saham... "
" Saham lagi? " Sentak Anelis, wanita itu sudah bosan dengan permainan baru putranya itu.
" Bermain saham sangat menyenangkan myh, dari pada sama boneka merepotkan itu, ngga seru... " Seloroh Arsha.
" Shellu kok... "
" Nggak!!! "
" Shellu!!! Ashi billang shellu ya shellu... " Sungut Arshi berapi-api.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Si kembar telah rapih dengan penampilan masing-masing, Arsha dengan baju casual nya, sedang si kecil Arshi tetap dengan baju princess nya.
" Sayang... Kalian turun dulu sama bibi Mei, mommy panggil daddy dulu yah... "
Keduanya pun mengangguk patuh, segera mereka turun di temani bibi Mei dan beberapa pelayan lainnya, sedang Anelis kembali ke kamarnya, suaminya itu masih belum selesai membersihkan tubuhnya.
Memasuki kamarnya Anelis langsung menghela nafas dalam saat ia dapati pakaian suaminya itu tercecer kemana-mana, yah... Kebiasaan buruk suaminya itu memang sulit untuk di hilangkan.
Satu per satu Anelis memunguti pakaian suaminya itu, tiba-tiba Anelis mengernyit.
Noda merah?
Anelis terpaku pada noda merah yang kini mengotori kemeja putih bersih milik suaminya.
Apakah ini darah? Anelis meragu, ia mulai mengendus noda merah itu, berbau sedikit anyir, membuat Anelis yakin bahwa noda merah itu benar-benar noda darah.
Dari mana noda darah itu berasal? Apa suaminya itu terluka? Tapi kenapa suaminya itu tak memberi tahu dirinya?
" Sayang... Anak-anak sudah selesai kan? Kita turun sekarang yuk... "
Terlihat Marvell keluar dari ruangan walk in closed, ternyata laki-laki itu sudah lengkap dengan pakaian nya, segera Anelis mendekati suaminya itu.
Marvell mengikuti arah pandang istrinya itu, seketika itu ia terlonjak kaget, darah, kenapa ia tak sadar jika kemeja yang tadi ia pakai itu ternoda oleh darah lawan?
Ahhh, siall... Laki-laki itu memaki dirinya sendiri dalam hati.
" Mas... "
" Sayang... "
" Kenapa kemeja mas ada noda darahnya, apa mas terluka? Dimana yang sakit? Kenapa mas tidak cerita sama Ane? " Cecar Anelis.
" Tidak sayang... Mas tidak apa-apa... percayalah... "
" Tidak... Mas pasti berbohong. Sekarang buka baju mas... " Sahut Anelis diiringi dengan isakan kecil.
" Sayang... Sedikitpun mas tidak terluka... "
" Buka baju sekarang!!! " Sahut Anelis setengah menyentak.
Melihat istrinya itu semakin berderai, membuat Marvell mau tak mau kembali membuka baju nya. Anelis lantas memeriksa seluruh tubuh suaminya, menggerayangi tubuh kekar itu dengan hati yang begitu khawatir tak terkira.
" Benarkan... Mas tidak apa-apa sayang... " Sahut Marvell saat istrinya itu tak kunjung mendapati luka yang ia maksud.
__ADS_1
" Terus ini darah apa mas... "
" Darah... Darah kucing sayang... " Asalnya.
" Mas jangan bohongin Ane... " Sentak Anelis, tangisnya kian menderas.
Marvell membisu, laki-laki itu merutuk keras karena di saat seperti ini, ia malah tak bisa memikirkan ide cemerlang.
" Mas... Sebenarnya dari tadi mas sama anak-anak dari mana? Kenapa tidak memberi kabar, kenapa Ane telephon tapi tidak di angkat. Ane ngga percaya kalau mas hanya dari taman bermain... Jangan bohongin Ane lagi! "
" Sayang... Mas beneran tidak apa-apa... " Marvell masih berusaha menenangkan sang istri tanpa harus membongkar rahasia nya.
" Mas jawab dulu mas dari mana!!! "
Marvell menghela nafas dalam, sepandai-pandainya ia menyembunyikan rahasia, percayalah, tak akan bisa bertahan lama, lebih baik jujur atau kebohongan itu akan menambah luka pasangan kita.
" Sini... Duduk dulu... "
Marvell menuntun istrinya itu duduk di tepi ranjang, perlahan, laki-laki itu mulai menceritakan duduk permasalahan.
" Tadi, anak-anak... Di culik... "
" A-apa!!! Di... Culik... " Sentak Anelis tak percaya.
" Hmmm... Mereka di culik sama saingan bisnis mas, mas ngga cerita sama kamu karena mas takut kamu jadi khawatir sayang... " Sembari mengusap wajah sendu sang istri.
" Tapi dengan seperti ini mas malah buat Ane semakin khawatir mas... "
" Iya, maafkan mas ya sayang... Janji ngga gini lagi... "
" Terus... Ini mas nggak apa-apa kan? Apa ada yang sakit? " Anelis menelusuri tubuh suaminya yang kini hanya memakai celana pendek itu.
" Hmmm... Ini sakit sayang, pengen kamu sembuhin... " Sahut Marvell sembari menunjuk pada pusat tubuhnya.
Plakkk...
" Sembuhin sendiri!!!! "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1