Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Apakah Wanita itu Akan Menerimanya?


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Matahari kian naik ke peraduan nya, berdiri dengan kokoh seolah ingin menunjukkan betapa tinggi kedudukan nya.


Marvell masih berjibaku dengan berkas-berkas yang sudah menumpuk setelah dua hari ini ia tinggalkan, sesekali ia membubuhkan tanda tangan berharga nya sebagai bukti persetujuan.


Empat jam bertempur dengan berkas-berkas sialan itu, akhirnya semua bisa ia selesaikan, tak ada lagi alasan baginya untuk tetap mendiami ruangan mewah itu yang entah kenapa kini terasa sesak dan membosankan.


" Will... Kita berangkat sekarang... " Marvell beranjak dari duduknya ketika Willy baru saja memasuki ruangan nya.


" Maaf tuan, masih ada satu berkas lagi yang harus anda approve... " Willy meletakkan berkas itu di meja kerja Marvell, mau tak mau memaksa Marvell untuk kembali merebahkan tubuhnya di kursi kepemimpinan nya.


" Sst... menyusahkan sekali... " Umpatnya, lalu menyambar kembali pena yang tadi sudah di tanggalkan nya dengan setengah emosi.


" Anda tak mengeceknya lebih dulu tuan... " Willy mengingatkan ketika ia mendapati bos besarnya itu begitu ceroboh dengan membubuhkan tanda tangan berharga triliunan itu tanpa mengecek lebih dulu berkas di depan nya.


" Aku sudah percaya padamu... " Marvell tak perduli, ia tetap beranjak dari duduknya, rasanya sudah tak sabar untuk meninggalkan gedung pencakar langit itu.


" Bagaimana jika saya memalsukan berkasnya? " Willy benar-benar bernyali tinggi sampai-sampai berani mempermainkan tuan muda arogan itu.


Seketika itu Marvell menghentikan langkah cepatnya, lalu berbalik menatap Willy dengan sorot mata menghunus tajam.


" Ohhh... Mudah saja... Tinggal ku lempar kau ke kandang macan lalu ku gantung mayat mu di atas gedung perusahaan, mudah kan... "


Willy tercekat, ia menyesal menanyakan pertanyaan yang bahkan ia sendiri sudah tahu bagaimana jawabannya.


" Bodoh kau Will " Rutuknya.


🍁🍁🍁


Entah kenapa perjalanan itu terasa begitu lama, Marvell merasa gusar dalam duduknya, berkali-kali ia mengendurkan dasi yang masih setia membelit leher nya, hingga akhirnya ia tak tahan lagi, di bukanya dasi itu secara paksa lalu menghempaskan nya dengan kasar.


" Apa wanita itu akan menerimanya Will... " Tak tahan Marvell memendamnya sendiri, akhirnya ia mengeluarkan unek-unek yang selama ini berkecamuk dalam hatinya.


" Nona Anelis bukan wanita yang mudah di tebak, saya pun tak bisa membaca bagaimana perasaan nya yang sebenarnya tuan, tapi saya yakin hatinya begitu lembut bagai malaikat tak bersayap, tapi mungkin hatinya masih terluka dengan perlakuan anda tempo dulu... "


" Kau terlalu berbelit Will... Jadi apa intinya... " Marvell tersulut emosi mendengar ceramah panjang Willy yang tak mengenal situasi.

__ADS_1


" Mungkin anda harus menguatkan hati anda jikalau nona Anelis... Menolak anda... "


" Kau menakut-nakuti ku Will? " Tatapan tajam itu terpancar jelas dari wajah yang kini mulai terlihat kelam.


" B-bukan begitu tuan, saya hanya menyampaikan... f-faktanya saja tuan... " Ucap Willy takut-takut.


" Fakta? Ck... Hari ini kau kurang ajar sekali Will, sepertinya kau butuh sedikit pelajaran... " Seringai Marvell berhasil membuat Willy tersenyum getir, sudah pasti bukan hal baik yang akan ia dengar.


" Ku potong gaji mu 30 persen, tiket liburan keliling Eropa ku tarik, sebulan kedepan setiap pekan kau tetap masuk kerja, tanpa libur, tanpa istirahat... "


Ancaman Marvell membuat Willy seketika menggigit jari, ia langsung lemas, tulang-tulang nya bagai remuk tak bertulang, ia menyesal menjawab setiap pertanyaan dari tuan mudanya itu. Tapi, jika tidak ia jawab pun, ia akan tetap kena semprot habis-habisan dari tuan muda arogan itu.


Ahhh... Tuan muda itu benar-benar menyusahkan, lebih repot mengasuh bayi besar itu dari pada anak kecil yang tengah rewel sekalipun.


🍁🍁🍁


Setelah sekian lama tak menyambangi tempat itu, akhirnya kini Marvell kembali menapakkan kakinya di sebuah mansion mewah dengan nuansa serba putih, di sinilah ia berada, di sebuah mansion milik orang tuanya atau tepatnya milik tuan Edgard dan mama Clara.


Bukankah mama Clara masih di rumah sakit?


Jawabannya tidak, karena baru esok tadi mama Clara memutuskan untuk menyudahi drama panjang nya dan memutuskan untuk pulang ke kediaman. Untuk apalagi ia di sana, toh semua rencana yang telah di gagas nya sudah berjalan mulus tanpa hambatan.


Sampai di ruang santai, terlihat Anelis yang tengah berusaha memakaikan baju untuk si kecil Arshi yang tampak tak mau diam dengan tubuh polosnya.


Anelis kewalahan, putri kecilnya itu terus saja berlarian meski dengan tubuh polosnya sekalipun.


" Sayang... Pakai baju dulu nak... " Anelis sudah mulai putus asa.


" Nanti dulu mommy... Ashi mahu calli Jimmi... Tapi Jimmi koo eundak ada ya myh... Ashi mahu jimmi... " Arshi mulai terisak, boneka teddy kesayangannya telah menghilang entah kemana.


" Arshi pakai baju dulu, nanti mommy cariin jimmy nya... " Bujuk Anelis.


" Eundak mahu... Ashi mahu calli jimmi na sheukalang ajah.. " Sahut Arshi dengan suara mengiba, wajahnya menekuk dengan lelehan air mata yang sudah berderai di sana.


" Om danteng... "


Arshi langsung berlari mendekati Marvell begitu menyadari om danteng nya itu tengah berdiri di belakang mommy nya, di rengkuh nya tubuh kekar itu tanpa permisi, Arshi menangis dalam rengkuhan Marvell.

__ADS_1


" Gadis cantik om kenapa... Hmmm... " Di usapnya rambut bergelombang itu, entah mengapa selalu ada rasa haru yang hinggap dalam hatinya tiap kali merengkuh tubuh mungil itu.


" Jimmi ngambeuk shama Ashi om danteng... Ashi calli-calli dali tadi... eundak keutemu, jimmi eundak mahu main shama Ashi ladi, hiks...hiks... " Sahut Arshi, suaranya tersendat dengan isak yang masih menderas.


Susah payah Marvell mencoba memahami kata demi kata yang keluar dari mulut cadel Arshi, tapi tetap saja otaknya tak sepintar Albert Einstein sang penemu teori relativitas. Yang bisa ia pahami hanya kata depan dan panggilan kesayangan Arshi untuknya.


Di tatapnya Anelis, seolah meminta bantuan pada wanita berparas cantik itu agar menerjemahkan celotehan Arshi untuknya, dan untungnya wanita itu mengerti dengan isyarat nya hanya dengan tatapan tajamnya.


" Boneka nya hilang, ia tak bisa menemukannya... "


Marvell manggut-manggut mengerti, ternyata hanya karena masalah sepele, lagi.


" Om belikan boneka baru mahu? Kita beli yang lebih bagus? lebih besar? " Tawar Marvell, namun langsung mendapat kan penolakan dari Arshi.


" Ashi eundak mahu... Ashi mahu na jimmi... hiks..."


Haduuuhh... Membujuk putri kecilnya itu memang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Tapi, kenapa wanita itu bisa begitu sabar menghadapi gadis penuh tuntutan itu.


Mau tak mau Marvell memutuskan untuk mencari boneka itu, percuma jika terus merayu Arshi, gadis kecil itu begitu keras kepala, tetap kokoh dengan pendiriannya.


Semua orang mulai sibuk mencari keberadaan boneka yang sedikitpun mereka tak tahu bagaimana bentuknya, di mulai dari pelayan, bodyguard, sampai scurity, semua sibuk mencari ke seluruh penjuru mansion. Beberapa di antaranya juga mengecek puluhan CC TV yang terpasang di mansion mewah itu agar menemukan jejak sang Jimmy.


Dan tak butuh waktu lama, akhirnya mereka menemukan boneka teddy yang berhasil membuat seisi mansion itu gempar bukan kepalang, dan lebih menjengkelkan nya lagi, boneka teddy itu ternyata terselip di antara sandaran sofa, hanya tertutup bantal sofa hingga tak dapat terlihat oleh mata.


Masalah gempar yang di sebabkan si Jimmy akhirnya bisa teratasi dengan baik, gadis mungil itu sudah berhenti dari isaknya, bahkan sekarang sudah kembali bermain dengan boneka teddy yang tadi membuatnya gundah gulana.


" Aku sudah memberimu cukup waktu, aku butuh jawaban... "


🍁🍁🍁


Annyeong


Pisssh... othor nyankut di pohon jambu nya mantan, ya udah sekalian aku petikin jambunya, aku rampok semuanya😭


Kita basmi sang mantan


Happy Reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2