
°°°~Happy Reading~°°°
Tok tok tok
Suara ketukan itu terdengar begitu nyaring, memaksa putri kecil itu untuk segera menyelesaikan guyuran terakhir dari sang mommy yang sudah lelah menungguinya berendam sedari tadi.
Dengan menggendong si kecil Arshi yang masih di lilit handuk di tubuhnya, Anelis membuka pintu kamarnya, tampak disana laki-laki tua berumur 60 tahunan dengan pakaian serba hitamnya, dia lah pak Li, kepala pelayan sekaligus orang kepercayaan Marvell sejak lama.
" Selamat sore nona... " Pak Li membungkukkan badannya hormat, membuat Anelis sedikit tak enak hati karena mendapat penghormatan dari orang yang di tuakan.
" Sheulamat solle kake utih... " Arshi yang di gendong Anelis ikut menimpali.
" Sayang... " Gertak Anelis, sedari menginjakkan kaki di sini, putrinya itu sudah kurang ajar karena memanggil pak Li dengan sebutan kakek utih, mungkin karena sebagian rambut pak Li sudah memutih, tapi percayalah aura ketampanan masih kental disana.
" Tidak apa-apa nona, saya senang nona Arshi memiliki panggilan khusus untuk saya... "
Anelis tersenyum kecut, rupanya wanita itu tetap merasa tak enak hati.
" Saya hanya ingin memberitahu kan pada nona, jika tuan Marvell akan segera pulang setengah jam lagi, jadi nona bisa bersiap-siap dulu sebelum menyambut nya... "
" Yeay... Daddy Ashi puyang... Daddy Ashi puyang... Ashik ashik ashik... " Terdengar teriakan dari si kecil Arshi yang tampak girang setengah mati.
" Mommy... Teupeutan, Ashi mau pakai baju pincess, Ashi eundak mahu keutemu daddy na mashih pakai handuk... Kan eundak luttu... " Sahutnya tak sabar.
" Iya iya sayang... "
" Oh ya... Terimakasih pak Li... "
🍁🍁🍁
Kedua rentetan mobil itu berangsur memasuki halaman mansion, bak seorang penguasa, kedatangan sang tuan Marvell itu langsung di sambut hangat oleh jajaran para pelayan.
Wajah lelah yang tercetak jelas di wajah tampan Marvell seketika memudar, saat di dapatinnya sosok wanita cantik yang kini tengah menggandeng dua tangan mungil di sampingnya, hatinya tiba-tiba menghangat, ia tak pernah membayangkan akan menikahi sosok wanita sholehah itu, namun kalau boleh jujur, hatinya selalu nyaman saat berada di dekatnya.
" Yeay... Daddy Ashi udah puyang... Ashi mau hadiah... Ashi mau hadiah... " Baru saja Marvell menginjakkan kakinya di lantai, ia sudah di tagih oleh si kecil Arshi yang menginginkan hadiahnya.
__ADS_1
Marvell melangkah mendekati keluarga kecilnya itu, terlebih dulu ia menggendong si kecil Arshi yang sudah menggeliat bak cacing kepanasan, lalu mengecup kening Arsha, sebelum akhirnya pandangannya jatuh pada Anelis.
Wanita itu mengulur tangannya, sontak saja hal itu membangkitkan ingatan Marvell tentang kebodohan yang ia buat esok tadi. Ahhh... Masa bodoh, bukankah itu sudah berlalu?
Dengan wajah stay cool nya, Marvell mengulur tangannya yang langsung di sambut oleh Anelis, dan tanpa di duga, sang tuan muda itu lantas mencium kening istrinya itu hingga membuat wanita itu membelalakkan bola matanya seketika.
Seolah tak merasa berdosa, Marvell malah pura-pura tak terjadi apa-apa, laki-laki itu sibuk sendiri, berbincang bersama putri mereka, sedang Anelis sang korban kecu*pan itu hanya bisa menahan malu karena adegan singkat itu di lihat langsung oleh para pelayan yang masih berjajar.
" Hadiah na Ashi mana daddy? "
" Hadiah? " Marvell mencoba mengingat-ingat, ia terlihat lupa, membuat tawa si kecil Arshi seketika memudar dan digantikan dengan rintihan kecil, gadis kecil itu menangis kesal.
" Hiks... Daddy eundak shayang shama Ashi... Daddy lupa hadiah na Ashi, Ashi eundak mahu shama daddy...hwa... " Tangis gadis kecil itu kian menjadi saat ia meronta ingin melepaskan diri dari daddy nya namun sang daddy tak kunjung melepaskan nya.
" Besok daddy belikan, okay? "
" Eundak mahu... Mahu na sheukallang... " Bentak nya, saat ini si kecil Arshi tengah bertransformasi menjadi wanita galak.
Tak berselang lama, muncullah mobil box yang berangsur memasuki halaman mansion itu, membuat tangis Arshi teralihkan dengan wallpaper yang memenuhi dinding luar mobil.
" Itu... shepeulti gambal esh kim tobelli na Ashi, sruk... " oh... ingus... kenapa kamu bandel sekali.
Arshi menatap bingung pada sang daddy.
" Itu eundak bisha di makan, daddy boongin Ashi lagi... " Gadis itu kembali terisak.
" Ssshh... Ssshh... Hadiahnya di dalam mobil itu girl, kamu samperin om itu " tunjuk nya pada dua orang pemuda yang tengah berusaha menurunkan sesuatu yang berukuran besar dari dalam mobil.
Arshi turun dari gendongan sang daddy, membuktikan sendiri apakah ia kena tipu lagi atau benar-benar mendapatkan hadiahnya, dan seketika itu bola matanya berbinar bahagia, saat ia mendapati hadiah untuknya, tidak hanya sepuluh, tapi... Satu, dua tiga, empat... Dua puluh... Lima puluh... Masih ada lagi... Dan masih banyak lagi. Membuat gadis kecil itu girang bukan main dan sontak memeluk erat daddy nya.
" Hadiah na Ashi banak sheukalli daddy... Maacih... Ashi shuka sheukalli... Ashi shayang shama daddy... " Arshi menghadiahi ciuman daddy nya bertubi-tubi.
" Ngga ngambek lagi? "
" Eundak, Ashi eundak ngambek ko... " Kilah Arshi.
__ADS_1
" Terus tadi yang bilang ngga mau sama daddy siapa? " Goda Marvell.
" Ihhh... Itu bukan Ashi daddy, Ashi kan sayang sheukalli shama daddy... "
🍁🍁🍁
Sepasang suami istri itu tengah menyendiri di kamar milik mereka, Anelis tengah menyiapkan berbagai keperluan suaminya untuk menjalankan ritual mandinya, sedang duo kembar yang baru saja mendapatkan segudang es krim itu, kini tengah menikmati dinginnya es krim yang menyejukkan, dengan catatan, sang daddy masih membatasi nya.
" Bagaimana tadi anak-anak di sekolah? " Sahut Marvell sembari membuka kancing kemeja nya, sedang Anelis baru saja keluar setelah menyiapkan air hangat untuk sang suami.
" Semuanya baik mas, Alhamdulillah anak-anak masih bisa mengikuti pelajaran nya... "
" Bagaimana dengan kerjaan mas...? " Anelis mencoba sedikit memberi perhatian.
" Ahhh... Sangat melelahkan, banyak berkas yang terbengkalai selama aku tak masuk kerja... "
" Apa tak ada yang menggantikan mas atau sekedar membantu menyelesaikan nya? "
Bicara apa kamu Anelis, mana bisa jabatan CEO bisa di gantikan seenak jidat, bahkan jika ingin melengserkan CEO berkuasa itu harus melewati berbagai rapat yang begitu rumit dan panjang
" Tidak bisa "
Anelis beralih ke ruangan walk in closet, mencari baju ganti untuk suaminya itu di beberapa almari raksasa disana. Selesai mengambil pakaian untuk sang suami, ia kembali ke kamar tidur utama.
" A-apa yang kamu lakukan mas? " Sentaknya, lagi-lagi ia di kejutkan dengan tingkah suaminya yang tengah membuka celana di depan bola matanya.
" Tenang saja... Aku masih pakai celana... " Jawabnya santai, ia masih meneruskan kegiatannya itu tanpa rasa malu sedikitpun.
Anelis membuka mata perlahan, bola matanya menatap ke arah sang suami yang telah berhasil melepas celana nya, benar bahwa suaminya itu masih mengenakan celana. namun, apa itu, ia menyebut itu celana? Itu hanya boxer minim yang melekat ketat di tubuh suaminya, membuat Anelis seketika memalingkan wajahnya dari pada harus mengotori matanya yang sudah terlanjur tak suci itu.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maacih atas semua doanya...
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕