
°°°~Happy Reading~°°°
Dinginnya malam mulai terasa mencekik, cahaya bulan yang temaram mulai menggantung di langit yang di penuhi hamparan bintang yang terlihat berkedip-kedip indah.
Anelis yang baru selesai membersihkan piring sisa makan malam tadi, kini menghampiri Arsha yang tengah menonton televisi seorang diri, tak terlihat Arshi di sana, putri kecilnya itu tengah sibuk mengemasi mainan yang akan di bawanya kembali ke Jakarta.
Jakarta?
Ya, Anelis sudah memberi tahu pada si kembar bahwa mereka akan bertolak ke Jakarta saat makan malam tadi. Dan sudah bisa di tebak Anelis, bahwa putri kecilnya itu pasti akan sangat senang mendengar kabar itu. Sedang Arsha... Sepertinya anak itu agak sedikit keberatan.
Anelis duduk di sebelah Arsha yang tampak termenung sendirian, wajahnya menekuk, bisa di baca Anelis bahwa suasana hati putra kecilnya itu tengah buruk setelah kabar kunjungannya ke Jakarta.
" Sayang... " Anelis duduk di sebelah Arsha, terlihat Arsha yang menoleh dengan wajah dinginnya.
" Apa Arsha keberatan jika kita kembali ke Jakarta? Jika iya, mommy akan membatalkan nya sayang... "
Arsha terdiam sejenak lalu menggeleng lemah, ia tahu ia tak boleh egois, nenek nya disana tengah sakit, dan mungkin saja tengah menunggu kedatangan mereka. Tapi...
" Apa kita akan kembali lagi kesini? " sorot matanya sudah diliputi kekhawatiran yang membuncah.
" Tentu saja sayang, kita hanya beberapa hari disana, setelah itu kita akan kembali ke sini. Ada apa sayang, hmmm... Cerita sama mommy... "
Anelis mengusap lembut wajah menekuk putra kesayangannya, sejak kejadian di rumah sakit kala itu, kini Arsha menjadi pribadi yang lebih terbuka di banding dulu yang begitu dingin tak tersentuh.
Seketika itu Arsha merengkuh tubuh mommy nya erat, bola matanya memerah, cairan bening itu akhirnya luruh juga.
" Arsha sayang sama mommy... Arsha mau sama mommy aja... Arsha nggak mau mommy ninggalin Arsha sendirian dengan daddy... " Arsha terisak, ia merengkuh tubuh mommy nya dengan tangis yang yang kian dalam dan menyayat.
" Tidak akan sayang... Mommy tidak akan meninggalkan Arsha. Berhentilah menangis, mommy sakit jika melihat Arsha menangis seperti ini... " Anelis menghempaskan bulir air mata yang membasahi wajah sembab Arsha.
Arsha melepas dekapannya, ia menatap Anelis dengan sorot mata penuh permohonan, wajah dinginnya kini tergantikan oleh raut kesedihan yang begitu melekat di sana.
" Berjanjilah mommy tidak akan meninggalkan Arsha... "
" Mommy sayang sama Arsha... Mommy tidak akan meninggalkan kamu sendirian sayang... Mommy janji... "
Anelis merengkuh tubuh mungil itu, ia tahu ini tak mudah untuk Arsha, ada kebencian yang sudah tumbuh subur dalam hati putra kecilnya itu.
__ADS_1
Ia tak boleh gegabah, ia tak boleh memaksakan kehendaknya sendiri, ia harus pelan-pelan saat memberikan pengertian pada bocah sensitif itu, dan pelan-pelan, ia akan menghilangkan segala rasa benci yang kini bertengger di dalam hati putranya.
Jangan sampai, putra kecilnya itu tumbuh dalam rasa benci yang akan mengikat hati yang masih murni itu, untuk seumur hidupnya.
🍁🍁🍁
Matahari mulai merangkak naik, hawa dingin bercampur sejuk itu berhasil menyelusup ke dalam sela pori-pori kulit yang begitu sempit.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Anelis telah selesai dengan segala persiapan nya, anak-anak pun telah rapih dengan penampilan nya. Kedua bocah menggemaskan itu tak ubahnya bagai tokoh kecil Hollywood yang tengah berlenggak-lenggok di red carpet, begitu mengagumkan dan penuh pesona.
" Sudah siap? "
Suara bariton itu membuat Anelis seketika menoleh menatap asal suara.
" Insyaallah... " Sahut Anelis, senyum tipis menyungging di sana.
Sontak saja Marvell menatap kagum pada penampilan Anelis yang terlihat begitu mempesona, tak banyak perubahan sebetulnya, hanya polesan make up tipis itu saja sudah membuat aura kecantikan Anelis semakin menguar hebat tak terbantahkan.
Anelis tak memperdulikan tatapan menyidik Marvell, ia lebih memilih membalik badan dan mengunci pintu rumah nya, menuntun si kecil Arsha, ia mulai mendekati mobil hitam mewah yang kini masih menghiasi pelataran rumah nya.
Marvell membuka pintu mobil itu dengan tangan suci nya, mempersilahkan Anelis yang masih setia menggandeng Arsha untuk masuk dan duduk tenang di sana.
Kalau di pikir-pikir, ini kali pertama seorang Marvell bersedia membukakan pintu untuk seorang wanita, ia bahkan menurunkan ego nya sampai ke bagian terdasar lautan, demi memenangkan hati wanita yang telah berhasil mengobrak-abrik isi hatinya.
" Saya di mobil itu saja... " Anelis melempar pandang pada mobil satunya, mobil hitam yang tak kalah mewah dengan mobil yang kini ada di hadapannya.
" Itu untuk bodyguard. Cepatlah masuk, tanganku pegal!!! " Sentak Marvell dengan aura dingin menghunus.
Anelis melengos, ia jengkel dengan laki-laki yang hobinya marah-marah itu, dari pada memperdulikan nya, Anelis lebih memilih menaiki mobil dengan Arsha yang kini di pangku nya.
" Om danteng om danteng... Shini ceupeutan, Ashi mau shama om danteng..." Terdengar teriakan dari gadis mungil Arshi yang sudah jingkrak-jingkrak di dalam mobil.
Seorang bodyguard dengan sigap membukakan pintu untuk tuan nya, Marvell langsung saja duduk di bangkunya, di sebelahnya sudah duduk Anelis dengan Arsha di pangkuannya.
Sedang dirinya? Sudah bisa di tebak siapa yang kini ada di pangkuannya. Ya, nona kecil Arshi, gadis kecil itu langsung menempel erat pada Marvell seolah tak ingin melepas om danteng nya sedikitpun.
Kedua mobil mewah itu mulai melaju meninggalkan perkampungan itu, membelah jalanan setapak yang di kelilingi oleh hamparan perkebunan teh di sisi kiri dan kanan nya.
__ADS_1
Setengah jam berlalu, mobil itu mulai keluar dari area perkampungan, mulai memasuki jalanan kota yang sedikit-sedikit mulai ramai dengan kendaraan sepeda motor dan mobil-mobil bak terbuka.
Riuh memenuhi seisi mobil, sedari perjalanan panjang itu di mulai, Arshi sudah sibuk dengan celotehan-celotehan nya, menanyakan ini itu ini itu yang melintas cepat di hadapannya.
Marvell yang notabene nya adalah seorang yang irit bicara itu harus menekan dalam kesabarannya, menjawab cepat pertanyaan putri nya, sebelum gadis mungil itu semakin mencecarnya dengan pertanyaan berulang saat dirinya tak kunjung membuka mulut nya.
Lama berceloteh, akhirnya gadis menggemaskan itu merasa lelah juga, ia mulai menyedot susu stroberi nya untuk membasahi tenggorokan nya yang terasa kering, kepalanya menyender di dada bidang Marvell sembari memandangi pemandangan di luar kaca jendela.
Satu menit dua menit, dot susu yang di genggam nya mulai mengendur, Arshi tak mampu lagi menahan kantuk nya, hingga akhirnya bola mata biru itu mulai terpejam, wajah imut menggemaskan itu terlihat tenang dalam tidurnya, menelusup dalam belahan dada Marvell yang terasa harum dan menyegarkan, Arshi benar-benar merasa nyaman berada dalam posisi itu.
" Apa Arshi tidur? " Tanya Anelis memastikan ketika tak mendapati pergerakan dari putri kecilnya.
" Hmmm... " Marvell hanya menggeram, ia segera mencopot dot susu yang masih di genggam putri nya, lalu membuangnya ke tong sampah.
" Biar saya saja yang memangku nya " tawar Anelis.
" Tidak, biarkan seperti ini "
*Biarkan seperti ini, ini sangat menenangkan, merengkuh gadis kecil ini, entah mengapa membuatku terasa nyaman, hatiku seolah damai tanpa beban.
Sebentar saja, biarkan seperti ini*
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap update nya telat, othor ngga sengaja nyangkut di pohon cabe punya tetangga...
Untuk update selanjutnya masih di usahakan, karena othor lagi nggak enak badan sejak kemarin
Doain othor ya Chingu, agar othor cepet sembuh terus rutin update nya
Maacih semua
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1