
°°°~Happy Reading~°°°
Tak terasa matahari kian meninggi, kabut tebal yang biasanya menyelimuti daerah itu, kini berangsur sirna, digantikan terik matahari yang kian membias memancar ke segala arah.
Jarum jam telah menunjukkan angka 9, namun sedari tadi masih belum terlihat aktivitas berarti dari rumah sederhana Anelis yang sejak sore kemarin terkunci rapat.
Hanya terdengar satu dua percakapan di dalam sana, kemudian percakapan itu mulai meninggi saat Anelis berusaha menenangkan putrinya yang tengah merengek, meminta agar permintaan nya itu segera di kabulkan.
" Mommy... Ayo kita anteul kue-kue na ke walung tante Engkom... Ashi penen jalan-jalan myh... " Kilah Arshi, padahal di dalam lubuk hatinya, ia memiliki maksud lain di balik permintaan nya itu.
" Maaf sayang... Hari ini anter kue nya libur dulu ya, mommy belum sempat bikin kue nya... Sekarang Arshi maem dulu yah... Aaa... " Anelis menyodorkan sendok yang berisi nasi lengkap dengan lauk nya.
" Ashi eundak mahu maem, kalo eundak anteul kue na ke walung tante Engkom... " Arshi memanyunkan bibirnya, ia merasa kesal dengan mommy nya yang seolah telah lupa dengan janjinya.
Anelis menghela nafas dalam, membujuk Arshi selalu berhasil menguras kesabarannya, putri kecilnya itu memang begitu keras kepala. Berbeda dengan Arsha yang kini begitu tenang memakan sarapannya, putra kesayangannya itu lebih penurut dan selalu mendengarkan semua perkataan nya.
" Sekarang Arshi bilang ke mommy, Arshi pengen apa ke warung nya tante Kokom? "
" Ashi penen cucu tobeli myh... Kan keumalin mommy dah janji mahu beuliin Ashi cucu tobeli duwa? " Arshi mengingatkan, kemarin saat ia terbangun dari tidurnya dan enggan memakai pakaiannya, mommy nya itu sudah menjanjikan dua susu stroberi hingga ia menurut untuk memakai pakaiannya.
" Iya sayang... Nanti siang kita beli susu stroberi nya ya... Tapi sekarang Arshi maem dulu, udah jam 9 nak... "
" Eundak mahu myh... Ashi mau na sheukalang, eundak mahu nanti... " Bola mata berwana biru itu mulai berkaca-kaca.
" Sayang... mommy kan udah bilang sama Arshi belinya nanti siang... kenapa Arshi nggak mau dengerin mommy... " Anelis tersulut emosi, permasalahan nya sudah membuatnya sesak, hatinya kian terhimpit dengan Arshi yang terus merengek tanpa mahu di tenangkan.
" Mommy mallahin Ashi... Mommy eundak shayang ladi shama Ashi... Mommy kan dah janji mahu beuliin Ashi cucu tobeli, keunapa mommy malah-malah shama Ashi... hiks... " Arshi sudah terisak, bahkan kini sudah menangis kencang karena jengkel dengan mommy nya yang tak mahu menuruti permintaan sederhana nya itu.
Seketika itu Anelis tersadar, ia telah kehilangan kontrol tubuhnya, bagaimana bisa ia memarahi gadis mungil yang hanya menginginkan permintaan sesederhana itu... tidak... Ia salah.
__ADS_1
" Oh... Sayang... Cup cup... Udah dong sayang, maafin mommy yah... "
" Tapih... Mommy halus beuliin Ashi cucu tobeli duwa sheukalang!!! hiks... " Sentak Arshi.
Anelis menghela nafas dalam-dalam, memutar otaknya yang serasa tak bisa ia gunakan untuk berpikir.
Apa yang harus ia lakukan? Bisa saja ia menuruti permintaan sederhana dari putri kecilnya itu, tapi bagaimana ia akan keluar, jika...
Melihat mommy nya hanya terdiam, Arshi sudah bisa menangkap jika mommy nya itu enggan untuk menuruti perkataannya.
" Mommy eundak shayang shama Ashi... " Arshi bangkit dari duduknya, ia melangkahkan kakinya ke pintu depan, membukanya... Dan...
Berhasil, pintu itu ternyata tak terkunci, ia berlari ke luar, hingga bola matanya menangkap sosok laki-laki jangkung kini tengah menatap ke arahnya sembari melakukan panggilan telepon.
" Om danteng... Hiks...hiks... " Arshi melangkah lebar, ia ingin memeluk om danteng nya itu, meluapkan segala kesedihan yang kini mengendap dalam relung hatinya.
Entah mendapat bisikan dari mana, kini Marvell menurunkan berat badannya, ia menyambut pelukan dari putri kecilnya yang kini berlari kencang ke arahnya.
" Om danteng keunapa balu datang keusini... Hiks... Ashi kangen shama om danteng... Hiks... Hiks... " Dalam rengkuhan Marvell, Ashi menumpahkan segala rasa sesak hati nya, ia menangis tersedu di atas bahu kekar Marvell, tangan mungil nya merengkuh erat bahu Marvell, ia ingin melepaskan segala kesedihan nya.
Marvell membelai surai rambut bergelombang Arshi, entah kenapa ia mendapat kehangatan disana, hatinya berdebar hebat, entah kenapa perasaan haru kini menyelusup dalam hatinya, ini adalah momen pertamanya bisa merengkuh putri kecilnya itu.
" Maaf... Om sibuk... Kamu kenapa... Hmmm... " Dan entah dari mana, kata maaf itu terucap dari mulut nya yang memang anti dengan satu kata itu.
" Sayang... Arshi... " Terdengar suara Anelis yang terdengar bergetar, putri kecilnya itu sudah berada di tangan laki-laki bejat itu, perasaan takut kembali menghantui nya, bagaimana jika ia benar-benar kehilangan putri kesayangannya itu.
Ia melangkah mendekat, namun baru beberapa langkah, langkahnya tiba-tiba terhenti saat putri kecilnya itu kembali bersuara.
" Eundah mahu... Mommy jahat, mommy mallahin Ashi. Ashi eundah mahu shama mommy... Ashi mahu shama om danteng... " Arshi mempererat rengkuhannya, tangisnya kian kencang, ia masih kesal dengan mommy nya yang tak bisa menuruti permintaan nya.
__ADS_1
Marvell berusaha menenangkan Arshi, tangan lebar nya menepuk-nepuk punggung kecil Arshi yang bergetar dengan tangisnya, ada rasa pilu saat ia melihat putri kecilnya itu menangis meraung-raung hingga terdengar nafasnya yang tersengal-sengal.
Hati Anelis bagai di tusuk ribuan jarum, putri kecilnya sudah tak mahu lagi dengannya, apa ia benar-benar akan kehilangan putri kecilnya itu?
Tangisnya tak dapat di bendung lagi, air mata itu luruh bersamaan dengan rasa perih yang kian menancap dalam relung hatinya, kakinya lemas, ia tak mampu lagi menyangga berat badannya yang begitu ringan, ia meringkuk di atas lantai dingin itu.
" Tolong... Tolong kembalikan putriku... Jangan ambil dia dariku tuan... Hiks... bertahun-tahun saya mengasuh nya sendiri, bagaimana saya bisa hidup tanpa putri ku... " Anelis tertunduk, ia tak mahu terlihat lemah, tapi entah kenapa kekuatan dalam dirinya kini tiba-tiba lenyap, menguap bersama dengan rasa sakit yang kian mendera.
Marvell terdiam dalam posisinya, ia masih merengkuh tubuh Arshi yang masih sesenggukan dengan tangisnya.
Entah kenapa, rasa sedih wanita itu kini ikut menyelusup dalam relung hatinya. Ada apa dengan hatinya, kenapa ia tak tega melihat wanita lemah itu meringkuk di sana dengan tangis yang terdengar begitu pilu, hingga berhasil menyayat dalam hati nya.
Marvell bangkit dari posisinya, sembari membawa Arshi dalam gendongannya, terasa sedikit sulit, karena ini adalah pertama kalinya ia menggendong seorang anak kecil dalam pelukannya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap kalo 2 hari ini othor menghilang tanpa jejak
Kemarin othor nyangkut di pohon kelor🤣
Woke, jangan lupa like nya ya
Always semangatin Othor yang comel ini
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1