Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Nikahilah dia


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


" Kalian sudah sampai? " Sahut laki-laki itu yang tak lain adalah tuan Edgard.


" Hmmm... Papa dari mana saja? Kelihatannya sibuk sekali... " Marvell menimpali dengan nada sedikit kesal.


" Kau tahu sendirilah papa sibuknya kaya apa? " Tuan Edgard melempar kembali pertanyaan nya.


" Yah... Sibuk memata-matai orang... " Selorohnya, ia masih kesal dengan sikap papa nya yang sangat menjengkelkan itu.


" Ihhh... Kalian apa-apaan sih. Kalau ketemu kerjaannya berantem aja, kaya anak kecil deh... " Umpat mama Clara yang merasa terusik dengan pertengkaran tak bermutu itu.


" Dari pada berantem, emang papa ngga mau lihat cucu-cucu papa yang gemesin ini... " Tangan lentik mama Clara mencubit pipi gembul Arshi, hingga membuat Arshi mengaduh karena acara bermainnya telah di ganggu.


" Euhhh... Atit glenni... " Masih tak bergeming dari mainan nya.


" Iya iya... Maaf ya sayang nya granny... " Di kecupnya pipi tembam itu gemas


Tuan Edgard mulai mendekat ke arah ranjang, menatap kedua bocah-bocah menggemaskan itu silih berganti. Tidak di ragukan lagi, wajah cucu laki-laki nya itu benar-benar mirip dengan wajah dingin putranya, bahkan aura dinginnya terasa lebih mencekam dari pada putranya sendiri yang sudah sangat dingin, benar-benar buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


" Sayang... Kenalin, ini grand-pa. Sapa dong grandpa nya... " Sahut mama Clara memperkenalkan.


" Assamikum glenpa... Assalamualaikum grandpa... " Sapa Arshi dan Arsha serentak.


" Wa'alaikumsalam, cucu-cucu grandpa... Kalian benar-benar menggemaskan sekali, benar kata granny... " Tuan Edgard mengusap wajah Arsha dan Arshi bergantian.


" Glenpa keunapa ballu nongol... Keumalin-keumalin kok eundak keulihatan idung na shihhh... " Arshi membuka percakapan nya.


" Kok hidung aja yang kelihatan... Matanya nggak kelihatan? "


" Hihihi iya dehhh... Mata na keulihatan, shama mulut na, shama tangan na, shama kaki na juda... Eummm.... Shama baju shama ceulana na juda deh, kalau eundak pake ceulana nanti keulihatan bulung na kaya Asha waktu mandi, hihihi... "


Mama Clara dan tuan Edgard yang mendengar celotehan Arshi seketika terbahak-bahak, benar-benar... gadis kecil itu memang luar biasa, luar biasa mesum nya.


" Kok malah keutawa-tawa sih..., tadi peultanaan na Ashi eundak di jawab... "


" Ohhh iya iya... Maafin grand pa ya, kemarin grandpa di Paris jadi nggak bisa nemenin kalian... "


" Pallis? Pallis itu dimana na euhhh... Jakalta... Lullus apa bellok... " Arshi tampak berpikir keras mengingat nama kota nya sendiri yang tiba-tiba saja menghilang dari ingatan nya.

__ADS_1


Semua orang yang mendiami ruangan itu tampak tertegun, dahinya berkerut dalam, sejenak mereka saling pandang, memastikan bahwa telinga mereka masih sehat hingga kini menangkap percakapan Arshi yang sudah jauh keluar jalur.


" Lullus apa bellok... " Ulang Arshi saat hanya kebisuan yang ia dapat.


" Lurus... " " Belok... "


Jawaban tak serasi itu datang dari mama Clara dan tuan Edgard, membuat Arshi jadi bingung bukan kepalang.


" Hahhh... Lullus? Bellok? " Arshi menatap mama Clara dan tuan Edgard bergantian, ia bingung, pusing tujuh keliling.


" Ouhhh... Ashi tahu Ashi tahu... pashti Pallis itu dalan na lullus balu... bellok-bellok " Arshi meliuk-liuk kan tangannya bak belut sawah.


" Ashi beneul kan... Ashi kan anak pintalll, hihihi... " Sahut Arshi menyombongkan diri, ia bangga dengan dirinya yang mampu menyimpulkan sesuatu yang tak serasi itu.


Seketika tawa mama Clara dan tuan Edgard kembali pecah, mereka tertawa terbahak-bahak, bahkan perut mereka sampai terasa kram setelah mendapati jawaban konyol dari gadis menggemaskan itu.


Mendengar celotehan Arshi itu, Anelis langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia mengulum senyum getir, putri nya itu benar-benar manusia langka, entah dulu ia ngidam apa sampai ia mendapatkan putri seperti itu, batin nya.


Sedang Marvell, manusia dingin itu tampak mengulum senyum, bahkan senyuman nya itu tampak melengkung lebar saking gemas nya dengan tingkah menggemaskan putri kecilnya.


Entah mengapa ada rasa haru yang menyelusup dalam relung hatinya, ia bagai laki-laki pengecut karena dulu tak mampu melindungi mereka, bahkan ia lah penyebab terbesar dari luka yang mereka rasakan, entah mengapa muncul perasaan ingin melindungi mereka, bahkan dengan nyawa nya sekalipun, akan ia relakan.


🍁🍁🍁


Ruangan mewah itu seketika terasa sesak, ribuan orang bagai menyumpal disana, padahal kenyataannya, hanya mereka berdua lah yang kini mendiami salah satu ruangan khusus VVIP di rumah sakit itu.


" Apa papa tak ingin menjelaskan sesuatu padaku? " Tatapan Marvell menghunus tajam, aura dingin kian terpancar dari wajahnya yang begitu beku.


" Tidak ada... " Jawab tuan Edgard santai, wajahnya ramah, tak sedingin yang di miliki putra satu-satunya itu.


" Wanita itu... Kenapa papa menyembunyikan nya dariku " Marvell mengingatkan.


" Papa tak menyembunyikan siapa pun... "


" Apa papa mendadak amnesia atau hanya pura-pura bodoh... " Sentak Marvell, ia sudah mulai kesal.


" Dengar Vell, percayalah... setiap orang tua memiliki caranya masing-masing, dan inilah cara papa untuk melihat seberapa besar usahamu untuk menemukan mereka... "


" Dengan mempermainkan ku? " Marvell naik pitam, nada bicaranya mulai naik, emosi dalam jiwanya kian meluap-luap.

__ADS_1


" Tidak ada yang mempermainkan mu Vell... "


Ck...


Marvell berdecak, ia muak dengan papa nya yang selalu saja berkelit dan tak langsung pada pokok intinya.


" Sekarang kamu sudah menemukan mereka, apa rencana mu selanjutnya? "


Marvell mengusap wajahnya kasar, sudah jelas dari gelagatnya, ia tak memiliki rencana apapun. Merebut anak-anaknya? Tidak, ia tak bisa lakukan itu. Sudah cukup luka yang telah ia torehkan untuk wanita itu, ia tak bisa menggoreskan luka yang lebih dalam lagi di sana.


" Kamu bukan lagi anak kecil Vell, bersikaplah dewasa, papa tak perduli bagaimana caranya, papa ingin kamu bertanggung jawab untuk semua perbuatan yang sudah kamu perbuat pada wanita itu "


Tuan Edgard bangkit dari duduknya, terlihat jelas bagaimana amarah kini memenuhi relung hatinya, namun ia sadar, marah pun tak akan berguna.


Nasi sudah menjadi bubur, kesalahan putranya itu benar-benar di luar kendalinya, uang pun tak akan berguna di sini, yang di butuhkan hanya kerelaan hati untuk menerima dan mempertanggung jawabkan segalanya, suka atau tidak suka.


" Nikahilah dia... "


🍁🍁🍁


Marvell duduk termenung dalam lamunan nya, wajahnya mengerut dalam, pikirannya kacau, ia frustasi, hatinya yang biasanya dingin tak tersentuh itu, entah mengapa kini terasa berdenyut hebat saat kembali teringat akan wajah sendu Anelis yang selalu berkelebat dalam pikirannya.


Entah seberapa besar rasa sakit yang telah ia torehkan pada wanita itu, entah berapa goresan luka yang telah ia sayat kan pada hati tulus itu, ia sadar ia salah, ia juga bukan laki-laki baik yang pantas mendapatkan maaf dari wanita itu.


Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, pikirannya melayang pada saran gila papa nya beberapa menit yang lalu, pernikahan?


Apa hanya itu satu-satunya jalan yang dimilikinya? Tidak adakah jalan yang lain?


Bukan... Bukan ia tak sudi dengan wanita itu, tapi... ia cukup tahu bahwa wanita itu tak menyukainya, atau bahkan sangat membencinya.


Lalu, bagaimana sebuah pernikahan bisa terlaksana hanya atas dasar rasa benci yang masih membara?


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Maap maap othor kemarin nyangkut di pohon pisang, ya udah deh sekalian aja pisangnya di makan di atas, jadi lupa turun lagi


Happy Reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2