Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Kamu Masih Marah?


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Mobil hitam mewah itu mulai melaju membelah jalanan, meski kursi-kursi itu penuh akan penumpang, namun entah mengapa suasananya terasa begitu sunyi dan senyap, hanya celotehan Arshi yang sesekali terdengar, dan akan tenggelam ketika bocah kecil itu memilih menyesap manisnya susu stroberi kesukaannya.


Keluarga kecil itu tengah menuju ke kediaman tuan Edgard, mama Clara yang sudah rindu berat dengan kedua cucu kesayangannya itupun meminta agar mereka bersedia menginap disana, karena esok hari adalah akhir pekan, jadi mama Clara akan bisa bermain dengan cucu-cucunya itu sepuas hatinya.


" Asshamikum glanny... " Suara cempreng Arshi melengking ke setiap sudut ruangan, kaki mungil nya berlari menyusuri ruang tamu, mencari keberadaan sang nenek yang tak ada menyambut kedatangan nya.


Sesampainya di ruang santai, tiba-tiba langkahnya terhenti, tatapan mata tajam itu seketika membekukan tubuhnya, kaki mungilnya tak lagi melangkah, tubuhnya diam bagai patung, susu stroberi yang ada di genggaman nya bahkan sampai tumpah membasahi lantai.


Raut wajah Arshi berubah menegang, air mata bahkan sudah mengalir dari bola matanya, dengan tubuh yang gemetar hebat, ia lebih memilih berlari menghampiri sang mommy yang masih jauh tertinggal di belakang.


" Hiks... Mommy... Mommy... Ashi tatut myh... Hwa.... " Teriak Arshi di tengah pelarian nya, membuat Marvell dan Anelis seketika terkejut dengan tingkah tak biasa Arshi, ada apa gerangan hingga sampai membuat gadis kecilnya itu tampak sangat ketakutan.


Anelis merengkuh putri kecilnya itu lalu membawanya dalam gendongan nya.


" Ada apa sayang... " Anelis mengusap punggung Arshi yang bergetar, tubuh Arshi juga kini terasa begitu dingin tak seperti biasanya.


" Mo...myh... Ashi tatut... Myh... " Sahut Arshi dengan nafas tersengal, keringat dingin bahkan kini membasahi dahinya.


" Takut apa sayang... "


" Ashi tatut ada shellam-shellam myh... " Arshi menunjuk ke arah ruang keluarga.


" Apa nya yang seram sayang... "


" Mata na duwa, bullat-bullat, meulotot ke Ashi myh... Ashi tatut... " Rengek Arshi.


Matanya dua, bulat-bulat, melotot, apakah itu?


Anelis bermonolog sendiri, berusaha menebak apa itu, namun sayangnya, otaknya itu tak se-ajaib pemkiran putrinya, alhasil ia pun tak bisa menemukan jawaban nya.


" Heiii... Cucu-cucu granny sudah pada sampai ternyata... " Sapa mama Clara yang baru saja keluar dari arah dapur.


" Loh ini Arshi kenapa sayang... " Pekik mama Clara saat mendapati si kecil Arshi terlihat masih sesenggukan.


" Tadi Ashi lihat shellam-shellam glanny... mata na meulotot ke Ashi... Ashi tatut... " Sahut Arshi mengadu pada granny nya.

__ADS_1


Hahhh... Mama Clara pun tak ayal ikut me-loading otaknya, semua yang ada disana tak ada satupun yang mengerti apa yang di maksud gadis kecil itu.


Tak lama kemudian, seekor kucing berwarna putih bersih keluar dari persembunyiannya, benar kata Arshi, mata nya dua, bulat dan melotot, tubuhnya sangat gemuk penuh akan lemak, kucing jenis anggora itu begitu cantik dengan bulu-bulu nya yang panjang nan lebat.


Arshi yang melihat kucing menggemaskan itu kini tengah berjalan ke arahnya, sontak saja kian mengeratkan rengkuhan nya, wajahnya ia sembunyikan di balik kerudung Anelis yang menjuntai, tangisnya kian menjadi dengan ketakutan yang membuncah.


" Hwaaa... mommyh... Itu shellam-shellam myh... Ashi tatut... Ashi eundak mau shama shellam-sheullam... Hwa... " Tunjuk Arshi ke arah kucing itu, membuat semua orang seketika menepuk jidat berjamaah atas tingkah konyol Arshi yang begitu absurd itu.


" Ohhh... Astaga... Itu bukan seram-seram sayang... Itu kucing menggemaskan, namanya Lexy... Granny baru membelinya minggu lalu, Arshi mau lihat Lexy sama granny? "


" Eundak mahu... Ashi eundak mahu keutemu shama sheullam-sheullam... Hwa... Ashi tatut myh... " Arshi semakin terisak di gendongan sang mommy.


" Kok Arshi takut sama Lexy? Padahal Lexy sangat menggemaskan loh, lihat ini... tuh bisa di pegang-pegang, di cubit-cubit, Lexy juga bisa ajak main... Nanti Arshi bisa kasih makan, terus bisa main kejar-kejaran, bisa juga di puk-puk saat mau tidur... " Sahut mama Clara sembari memainkan kucing nya layaknya boneka.


Mendengar kalimat yang di lontarkan mama Clara, sontak saja Arshi menyembulkan sedikit kepalanya, wajahnya yang tadi bersembunyi di balik kerudung Anelis kini perlahan menoleh ke arah granny nya yang tengah bermain bersama kucing, terlihat sangat seru.


" Tuh kan... Ngga serem... Lexy kan baik... Unch unch... Imut sekali... "


" Shellam-shellam na eundak akan gigit Ashi kan glanny? "


" Ashi mau shama Shellam-shellam... "


Arshi pun meminta untuk di turunkan dari gendongan sang mommy, lalu mendekati granny nya yang tengah memegang kucing menggemaskan itu.


Awalnya terasa geli dan aneh, apalagi dengan bulu-bulu yang lebat itu. Namun, lama-kelamaan, gadis kecil itu tampak menikmati setiap sentuhannya.


" Hihihi... Shellam-shellam teulnyata lutu myh... Hihihi... Ashi shuka shama Shellam-shellam... "


🍁🍁🍁


Malam kian menyingsing, hawa dingin kian memekik di tengah rintik hujan yang turun membasahi bumi.


Marvell baru saja selesai membersihkan diri, dengan handuk yang hanya melilit di pinggangnya, ia berangsur keluar dari kamar mandi dan menghampiri sang istri yang tengah sibuk menyiapkan baju tidur untuknya.


" Anak-anak jadi tidur sama mama? " Sahut Marvell memecah keheningan, tangannya sibuk mengacak-acak rambutnya dengan handuk hingga semakin mempertegas lekukan roti sobek di perut sixpack nya.


" Iya mas... " Sahut Anelis tanpa menatap ke arah sang suami, tangannya masih sibuk berkutat dengan baju-baju itu, dan tak lama kemudian, ia memilih berlalu ke kamar mandi tanpa sedikitpun memperdulikan suaminya.

__ADS_1


Marvell menghela nafas berat, sudah dua hari ini istrinya itu mendiamkan nya, hanya membuka suara ketika di rasa perlu, meski tetap menyiapkan setiap kebutuhan nya, tetapi istrinya kini cenderung cuek dan acuh terhadapnya.


Tak berselang lama, Anelis pun keluar dari kamar mandi, berniat langsung merebahkan diri di kasur, namun pergerakannya itu terhenti ketika sang suami kembali memanggilnya.


" Bisakah kau membantuku mengancingkan ini? Ini agak sulit? " Seloroh Marvell sembari menatap jengah pada kancing baju tidurnya, padahal kalau di lihat-lihat tidak ada masalah, mungkinkah ini hanya trik nya semata?


Anelis mendekat, lalu mengancingkan kancing baju suaminya itu secepat mungkin, rasanya begitu tak nyaman, hembusan nafas suaminya yang menyambar rambutnya yang ia biarkan tergerai itu begitu mengusik hatinya.


" Sudah mas... " Anelis berbalik, namun pergerakannya tertahan saat pergelangan tangannya kini di cekal oleh Marvell.


" Kamu masih marah? " Sahut Marvell dengan wajah sendu, meskipun tak pintar membaca ekspresi wajah, namun bisa ia lihat bahwa istrinya itu masih marah dengan sikap kejam nya tempo hari.


Anelis menunduk, bohong jika ia katakan ia tak marah, kenyataannya ia masih ingin marah dengan sikap semena-mena suaminya itu.


" Ane tidak suka dengan cara mas membalaskan dendam... Bagaimana pun dia tetaplah perempuan, tak sepatutnya dia mendapat kekerasan sekejam itu. Jika memang dia telah menampar Ane dan mas ingin membalas nya, cukuplah mas balas dengan satu tamparan saja, jangan lebih dari itu. Ane tidak suka... Allah pun tidak akan suka. Jadi... Ane harap, mas tidak akan melakukan hal yang sama lagi... "


Anelis melepas genggaman tangan suaminya itu dari pergelangan tangannya, berbalik, ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah.


Namun, untuk kesekian kalinya, langkahnya terhenti saat suaminya itu merengkuh tubuhnya dari belakang, membelit rapat seolah tak mengizinkan Anelis untuk jauh darinya sedikitpun.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Maap sedikit telat, hehehe


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Kepo?


Saya juga🤣


Stay healthy yah...


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2