
°°°~Happy Reading~°°°
Suasana mall itu tampak sangat ramai, orang-orang sibuk berlalu lalang mencari barang incaran atau hanya sekedar melihat-lihat sembari mencuci mata dari kepenatan dunia.
Di sinilah mereka saat ini, Enzo Mall, salah satu mall terbesar dan tercanggih di negara itu, bangunannya yang megah dengan desain arsitektur yang begitu mewah benar-benar mampu memanjakan mata setiap insan.
Mama Clara mulai mendesah kesal, pantatnya mulai kebas, tulang-tulangnya yang tua itu mulai lelah setelah hampir 2 jam lamanya ia harus duduk manis di kursi tunggu untuk menunggu sang cucu menyelesaikan permainannya.
Berbeda dengan sang nenek yang mulai di landa kepenatan, kini si kecil Arshi tengah menikmati permainannya, meski berkali-kali mommy nya itu membujuk untuk menyudahi permainan nya itu, namun Arshi tetaplah Arshi, gadis mungil itu masih berat untuk meninggalkan permainan-permainan itu, kapan lagi ia bisa bermain kalau tidak saat ini, bahkan ia harus mengeluarkan banyak tenaga karena harus menangis sampai berjam-jam lamanya sampai sang nenek menawarkan nya untuk bermain disana.
Ya, setelah semua orang tidak berhasil membujuk si kecil Arshi yang ngambek dan terus menangis karena lupa cebok pakai tangan yang mana, akhirnya mama Clara memutuskan untuk membujuk bocah menggemaskan itu untuk pergi ke mall dengan iming-iming bermain di arena bermain, dan tentu saja si kecil Arshi tak menyia-nyiakan penawaran itu dan langsung saja mengiyakan.
" Sayang... Mainnya udah yuk... Itu kasihan granny nungguin Arshi... " Bujuk Anelis yang ke sekian kalinya.
" Tapi Ashi mashih mau main di shini myh... " Arshi mengeluarkan jurus memelas.
" Iya... Nanti kapan-kapan kita kesini lagi, sekarang udah dulu ya sayang... Itu granny nya udah nungguin Arshi sayang... "
" Tapi shama daddy ya myh... Nanti Ashi mau ajak daddy naik pelloshotan itu... " Arshi menunjuk perosotan mini yang hanya muat untuk anak-anak.
" Itu nggak muat buat daddy Arshi... Itu kan buat anak-anak kaya kamu... " Arsha mendesah kesal.
" Ashi eundak anak-anak, Ashi udah deude, Ashi kan udah bisha cebok sheundilli, bleee... " Arshi menjulurkan lidahnya.
" Cebok salah tangan aja bangga... " Cebik Arsha.
" Biallin... Yang peunting cebok sheundilli... " Geram Arshi.
__ADS_1
" Nanti jadi keushini ladi shama daddy ya myh? "
" Iya, nanti ajak daddy... "
" Yeay... Ashik ashik ashik... Beshok shini ladi... "
Mereka bertiga pun menyusul keberadaan mama Clara, wajah tua itu tampak lega setelah melihat Anelis berhasil membawa kedua cucunya itu keluar dari arena bermain.
" Alhamdulillah... Akhirnya kelar juga, mama ngga tahu gimana jadinya kalau mama harus nunggu lagi, bisa-bisa mama encok ini An... "
" Maaf ya ma, jadi ngerepotin mama kaya gini... " Sahut Anelis tak enak hati.
" Nggak ngerepotin, mama malah seneng pergi sama mereka, asik, nggak pernah sepi, hahaha... "
" Mainnya kan udah, sekarang waktunya belanja, yuhu... "
Mama Clara pun mengajak Anelis dan kedua cucunya itu menuju salah satu tempat belanja langganannya, disana sudah bertengger puluhan tas-tas mewah yang terlihat eksklusif dan pastinya dengan harga selangit.
Tak ingin mengecewakan pilihan sang mertua, Anelis pun menerima tas itu, mencoba melihat harga yang di tawarkan, seketika itu bola matanya melebar penuh.
" Astaghfirullah ma... " Cukup nyaring hingga mama Clara dan beberapa pengunjung lainnya menoleh ke arahnya.
" Kenapa sayang? " Mama Clara menaruh kembali tas yang tadi di pegang dan menyusul keberadaan Anelis.
" Ini ngga salah ma? " Lirih nya, sembari memperlihatkan harga yang di bandrol untuk satu tas yang kini tengah di pegang nya.
Mama Clara menelisik harga tas itu, 180 juta, biasanya kalau ia beli apapun memang tak pernah melihat harga, yang penting matanya tertarik dan hatinya kepincut sudah cukup membuat nya memiliki alasan untuk membeli barang itu.
__ADS_1
" Memang apa salahnya An... " Mama Clara menatap bingung pada menantu polos nya.
" Ini harganya hampir 200 juta ma, apa ini salah kasih nol ya ma? " Sahut Anelis dengan wajah tak percaya.
" Hahaha... Kamu ini ada-ada aja, ya kali salah kasih nol... Ambil aja kalau kamu suka... "
Anelis tak memungkiri jika tas yang di pegang nya saat ini memang benar-benar cantik, bahannya pun terasa sangat halus, namun dengan harga segitu, lebih baik ia menaruh kembali tas bernilai fantastis itu.
" Nggak usah ma, sayang uang nya, uang Ane juga ngga cukup... "
" Nggak cukup? Emang kamu ngga di kasih nafkah sama suami kamu? " Mama Clara mulai mencak-mencak.
Haduh, Anelis kalang kabut, sepertinya ia salah bicara, ia tak sengaja memunculkan citra yang buruk untuk suaminya itu.
" Bu-bukan begitu ma... Emmm.. Mas Marvell kasih nafkah Ane kok... Bahkan ngasihnya banyak banget, setiap hari Ane di kasih uang 10 juta, padahal uang kemarin nya juga masih ada, tapi mas Marvell selalu ngasih Ane tepat waktu ma... "
" Apa? Kamu cuman di kasih 10 juta? Anak itu benar-benar... " Mama Clara kesal sendiri sampai kehilangan kata-katanya, membuat Anelis bingung sendiri, memang apa salahnya dengan "hanya" 10 juta, bukankah nominal uang itu sudah sangat fantastis menurutnya?
" Lalu buat apa dia kerja kalau bukan buat kamu dan anak-anak? Apa dia takut miskin? Bahkan tujuh turunan pun uang nya nggak bakalan habis kalau cuman buat belanja kamu... Kalau di biarin terus-terusan anak itu memang ngga pernah sadar, perlu mama jitak biar otaknya rada waras dikit... " Kesal mama Clara.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Othor mau kenalan dong sama chingu...
Kalian asalnya dari mana sih, apakah jarak kita sedekat makkah-madinah, atau sejauh indonesia-korea😂
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja