Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Apa Aku Tak Memiliki Kesempatan Lagi?


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


Hening kian melanda, tak ada percakapan yang tercipta, keduanya saling bungkam, diam dalam kebisuan, keduanya larut dalam lamunannya masing-masing.


Marvell menatap nanar kedua putra-putrinya yang tengah tertidur lelap, tak henti-hentinya ia menggenggam tangan mungil Arsha yang tergeletak lemah tak berdaya, entah bagaimana jika ia benar-benar kehilangan putra berharga nya itu, ia tak mampu membayangkan nya, melihatnya seperti ini saja, sudah mampu meluluhlantakkan hati dan jiwa tangguhnya.


Tatapan nya beralih pada sosok perempuan yang kini tengah menepuk-nepuk pantat gadis mungilnya, setengah tubuhnya menyender di kepala ranjang, sedangkan kedua kakinya menjulur ke lantai, posisi itu terlihat begitu tak nyaman dengan tubuhnya yang terus di rengkuh oleh tangan mungil putrinya, kenapa wanita itu tak memilih berbaring saja jika merasa tak nyaman? pikir nya.


Pikirannya mulai melayang ke antah-berantah, semua angan-angan indah tiba-tiba saja menyelusup ke dalam hatinya, suasana kamar yang begitu tenang dengan dua anak kecil di tengah-tengah mereka, bukankah ini potret keluarga harmonis yang di impikannya?


Seketika lamunan itu buyar saat ingatan penolakan Arsha kembali berputar bebas dalam ingatannya. Begitu besarkah rasa sakit yang ia ciptakan dalam hati putranya? Apakah ia tak lagi memiliki kesempatan untuk hidup bersama dengan kedua anaknya? Membangun sebuah keluarga yang layak dan hidup bahagia? Jujur, hanya itu inginnya.


Jika benar ia tak lagi memiliki kesempatan itu, maka, mau tak mau, suka atau tak suka, ia harus segera melepas mereka dari sisi nya, melepas mereka untuk merengkuh kebahagiaan yang lain, namun, apakah mampu ia melakukan itu?


Seketika itu hatinya berdenyut sakit, hatinya bagai teriris, nyeri tak terkira, melepas mereka sehari saja ia tak akan sanggup, bagaimana bisa ia melepas mereka untuk seumur hidupnya?


Sungguh, ini begitu menyiksa, hatinya terpenjara, mempertahankan ia tak bisa, merelakan pun ia merana. Sekejam inikah karma yang membelenggu nya? Apakah tak ada lagi kesempatan untuk membenahi dirinya, sang pendosa?


" Tuan... "


Tiba-tiba saja lamunannya terhenti oleh suara lembut yang menusuk halus indra pendengaran nya.


" Tuan... " Anelis kembali bersuara saat Marvell belum sepenuhnya bangun dari lamunannya.


" Ehm... " Marvell hanya berdeham, hanya wajah dingin yang kini di tampilkan nya.


" Saya ingin sholat dulu, bisakah anda menjaga mereka sebentar... " Pinta Anelis sedikit sungkan, biasanya ia akan dengan leluasa meninggalkan mereka untuk menjalan ibadahnya, namun, mengingat keadaan Arsha yang butuh penjagaan ketat, membuat ia tak ingin mengambil resiko terlalu besar.


" Hmmm... Lakukan yang kau inginkan! "

__ADS_1


Mendapat persetujuan itu, Anelis segera bangkit dari duduknya, terlebih dulu ia melepaskan belitan tangan mungil Arshi yang masih membelit tubuhnya, melepaskan nya dengan hati-hati, ia tak ingin sampai mengganggu tidur nyenyak anak gadisnya.


Selesai dengan ibadahnya, Anelis melipat kembali mukenah yang tadi di pakai nya, tak lupa ia menyelipkan beberapa untai doa dalam sujud sholat nya.


Ia meletakkan kembali mukenah nya ke tempat asal, lalu beralih menatap Marvell yang juga tengah menatapnya, entah apa yang sedang di pikirkan laki-laki itu hingga raut wajah dingin itu kini terlihat berbeda tak seperti biasa, lebih lembut bahkan terkesan menghangat.


Seketika ia memalingkan wajahnya saat pandangan mereka saling bertemu, menyibukkan diri dengan selimut yang membalut tubuh kedua anaknya, salah tingkah sudah ia di buatnya.


" Saya sudah selesai, sekarang giliran anda, waktu Maghrib mungkin tak akan lama lagi... " Sahut Anelis langsung to the point, mengingat dulu pernah menelisik ke dalam tanda pengenal Marvell bahwa laki-laki itu juga seorang muslim.


Mendengar penuturan Anelis sontak saja Marvell di buat kelimpungan, bingung sudah apa yang harus ia lakukan, apa ia harus pura-pura, ah... Tidak, gerakannya saja mungkin ia sudah lupa, apalagi bacaan-bacaan rumit itu. Sudah lama ia meninggalkan semua kewajibannya sebagai seorang muslim sejati.


" Aku ke atas dulu... "


Marvell bangkit dari duduknya, memutuskan untuk keluar dari kamar Anelis adalah solusi terakhir yang dimiliki nya, lagi pula ia belum mandi sore tadi, setelah pakaiannya basah kuyup, ia hanya berganti baju, itu saja di dalam kamar mandi milik Anelis sangking ia tak ingin meninggalkan kedua anak-anaknya yang masih tertidur lelap. Ya, kalau begitu, ia akan menghabiskan waktu sholat dengan berendam saja.


Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam, tubuh kekarnya sudah terasa jauh lebih segar setelah berendam air hangat di tambah aroma terapi yang begitu menenangkan.


Di ketuknya pintu kamar Anelis, menunggu dengan sabar hingga akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Anelis lengkap dengan hijab yang setia bertengger di kepala nya.


" Boleh aku masuk? " Pinta nya pada Anelis, membuat dahi Anelis seketika berkerut dalam, apa yang laki-laki inginkan larut malam seperti ini?


" Ada apa tuan? "


" Boleh aku menjaga mereka untuk malam ini saja? Setidaknya, aku ingin memanfaatkan sisa waktuku bersama anak-anak... " Pinta Marvell, suaranya lirih, terdengar begitu pedih dan penuh rasa putus asa, bukan kah ia akan menjadi wanita yang paling jahat jika menolak permintaan yang sangat sederhana itu?


🍁🍁🍁


Suasana hening kembali menyergap, lagi-lagi hanya kebisuan yang tercipta, membuat Anelis kian tak berkutik dengan tatapan tajam Marvell yang sedari tadi menghunus ke arahnya, seolah siap menerkamnya hidup-hidup.

__ADS_1


" Apa tak bisa... Jika kamu tetap di sini? " Sahut Marvell, kini tatapan nya beralih menatap dua wajah mungil yang masih nyenyak dalam tidurnya. Tatapannya sendu, gurat kesedihan terpancar jelas di sana, sungguh, ia tak sanggup jika harus melepaskan dua sosok mungil yang kini telah berhasil merebut posisi penting di hatinya.


Anelis hanya diam membisu, tak menolak ataupun mengiyakan, masih tersisa 3 hari kedepan, sampai ia benar-benar keluar dari mansion mewah itu sesuai kesepakatan nya dengan mama Clara.


" Kemarin... Aku sudah berbicara dengannya... " Marvell kembali bersuara, sejurus kemudian Anelis menatap lawan bicaramu itu, entah kenapa wajah dingin yang biasa di lihatnya kini seolah sirna, menyisakan sebuah penyesalan dan putus asa yang mendalam.


" Aku bahagia saat dia memanggilku daddy... " Seulas senyum terpancar dari bibir Marvell yang bergetar dengan ucapannya sendiri, namun detik kemudian, air mata itu luruh juga dari bola matanya yang sudah memerah.


" Tapi... Aku telah gagal menjadi daddy untuk nya, aku tak pantas menerima panggilan indah itu darinya, aku... Telah banyak menyakiti hati nya... " Marvell mengusap kasar wajahnya, membuang bekas air mata sialan yang tanpa permisi menerobos keluar dari pelupuk matanya.


" Dia menolak ku, aku tahu aku tak pantas, tapi... Apa aku benar-benar tak memiliki kesempatan... untuk berada di sisi kalian... " Marvell menaikkan pandangannya, menatap dalam-dalam wajah Anelis penuh harap.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Othor mau tanya nih, gimana sudut pandang kalian pd babang Marvell?


Masih benci atau makin benci, wkwkwk...


Oh ya, kemarin ada yang komen alurnya terlalu lama, benarkah itu?


Bukan othor berlama-lama mengulur novel, hanya othor tidak ingin lompat cerita hingga ngga ada feel nya lagi...


Terus othor mau nanya nih, cerita nya ngebosenin ngga sih menurut kalian?


Keluarkan semua pendapat kalian, jangan sungkan...


Othor akan berbenah diri

__ADS_1


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2