
°°°~Happy Reading~°°°
" Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu sebagai bentuk permintaan maaf mu? Tidak etis jika seseorang yang telah melakukan kesalahan namun tidak mengucapkan permohonan maaf kan? Misalkan saja... Emmm... Berlutut di hadapan istriku? " Suaranya begitu lembut namun penuh intimidasi.
Tuan Marshall menghela nafas berat sebelum akhirnya kembali bersuara.
" Lakukan... "
" Pa... " Nyonya Anyelir mengguncang lengan sang suami, ia enggan melakukan hal memalukan itu, bagaimana mungkin seorang nyonya sepertinya di perintah untuk berlutut dan merendahkan dirinya sendiri?
" Ku bilang lakukan, apa kau tuli... " Bentar tuan Marshall yang seketika membuat Marvell tersenyum sinis, ternyata tontonan itu sangat menarik untuknya.
Dengan tubuh yang sedikit gemetar, nyonya Anyelir beringsut ke lantai yang dingin itu, menundukkan wajahnya, ia merutuk keras dengan apa yang kini tengah ia lakukan.
" Maafkan saya... Sungguh saya tidak bermaksud melakukan kekerasan itu pada anda, saya tidak tahu jika anda adalah istri tuan Marvell... Saya... sangat menyesal... " Lirihnya sembari diam-diam mengepalkan tangannya.
" Jadi kalau wanita itu bukan istriku, kau akan melakukannya lebih kejam lagi, maksudmu seperti itu, hmmm... "
Nyonya Anyelir kian membeku di posisinya, memilih membisu, ia tak ingin terjebak dalam pertanyaan yang nantinya kian memojokkan nya.
" Mas... " Anelis tak sanggup lagi membungkam mulutnya, ini salah, tidak seperti ini.
" Tunggu sebentar... "
" Ane... Ane sudah memaafkan nya mas, sudah... Biarkan dia berdiri... " Mohon Anelis.
" Kau sudah memaafkan nya, tapi aku belum... istriku. Tenanglah, kau hanya harus menikmatinya... " Sahut Marvell sembari mengusap lembut wajah Anelis, sikap suaminya itu terasa begitu hangat dan lembut, berbeda seratus delapan puluh derajat saat kini berhadapan dengan lawan di depannya.
__ADS_1
" Tuan Marshall... Sebenarnya aku ingin membalas pukulan istri mu itu untuk istriku, tapi, aku tak ingin mengotori tanganku sendiri. emmm... jadi... bisakah tuan Marshall menggantikan ku? " Marvell menatap sinis pada tuan Marshall.
Tuan Marshall masih membisu di tempatnya, seolah masih menimbang keputusan mana yang akan ia ambil.
" Apa tuan Marshall keberatan menggantikan ku, hmmm... "
Tuan Marshall yang sebenarnya sudah geram sejak tadi pun tak dapat lagi membendung amarahnya, ia menampar istrinya itu keras hingga sudut bibirnya kini berdarah, tidak hanya itu, ia juga menjambak rambutnya, memukulnya hingga membabi buta, membuat istrinya itu mengerang kesakitan, namun tak mampu berbuat apapun karena cengkraman kuat dari sang suami.
Mendapati itu, seketika Anelis memekik tajam, kebrutalan laki-laki berusia pertengahan abad itu begitu mengiris hati lembut nya, bukan ini yang ia inginkan, ini terlalu kejam.
" Mas... Tolong hentikan... " Sahut Anelis, nafasnya sudah kembang kempis, pemandangan di depannya itu terlihat begitu memilukan untuknya, perlakuan itu terlalu kasar untuk seorang perempuan.
" Kamu nikmati saja dulu... " Marvell tak bergeming, membuat tuan Marshall kian membabi buta memukuli istrinya.
" Mas... " Anelis kian memekik tajam, air matanya sudah luruh tak tertahan, ia menggoyang-goyangkan lengan suaminya, berusaha menyadarkan suaminya yang sudah tenggelam dalam jurang amarah, namun usahanya pun tetap sia-sia, suaminya masih tak bergeming dan masih menikmati tontonan di depannya.
Nyonya Anyelir sudah tak mampu lagi melawan, darah mengalir dari ujung bibir dan keningnya, bahkan sekujur tubuhnya pun kini telah lebam membiru.
" Mas... Cukup mas... Ane tidak ingin mas seperti ini... tolong hentikan... Cukup... Bukan ini yang Ane minta... Tolong hentikan mas... Ane mohon... " Rintihnya dengan isak yang kian dalam.
Seketika itu Marvell tersadar dari kesenangan dunianya, apa kini ia telah salah langkah dan telah membuat istrinya itu begitu ketakutan?
" Cukup... Cukup... Berhenti... " Marvell mengangkat tangannya ke udara.
Bagaikan titah yang tak dapat di tolak, tuan Marshall pun mengakhiri aksi kekerasan nya pada sang istri.
Marvell membalas pelukan sang istri, mengusap-usap punggung Anelis yang masih bergetar karena isaknya, ia berusaha menenangkan istrinya yang masih terisak dalam rengkuhan nya.
__ADS_1
" Iya... Sudah... Sudah selesai... Maafkan aku... "
Cup...
Di kecup nya kening istrinya itu lembut, lalu kembali merengkuhnya dalam dekapan hangatnya.
" Ane... Ane sudah memaafkan nya mas... lepaskan dia, hiks... " Anelis sesenggukan di rengkuhan suaminya.
" Ya, Sudah selesai... Tenanglah, berhentilah menangis... Maafkan aku... Maafkan aku... " Marvell mengeratkan pelukannya, menutup kedua matanya, ia meresapi rengkuhan hangat istrinya yang entah kenapa terasa begitu menenangkan untuknya.
" Keluar dari ruangan ku... " Titahnya tanpa melepas rengkuhannya, bahkan bola matanya masih terpejam menikmati hangat dekapan dari istri kecilnya.
Ada rasa sesal yang menyeruak dalam hati Marvell, di kiranya istrinya itu akan bahagia dengan aksi pembalasan nya, di kiranya istrinya itu akan puas dengan aksi kejinya.
Namun, istrinya itu tetaplah wanita yang penuh dengan kelembutan, wanita yang menyandang status sebagai istri sah nya itu tak akan tega dengan aksi pembalasan yang bahkan menurutnya tak ada apa-apa nya jika di banding dengan hinaan yang telah di terima oleh istrinya itu.
Wanita itu begitu istimewa, istrinya itu sangatlah istimewa, sungguh beruntung ia bisa mendapatkan wanita setulus istrinya itu.
Tak ada rasa sesal karena ia telah menjadikan wanita itu sebagai istrinya, menjadi ibu dari anak-anaknya, dalam hatinya kian mantap, ia tak akan membiarkan setetes pun air mata jatuh dari pelupuk mata istrinya, hanya akan ada kebahagiaan, ya... kebahagiaan.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Mana nih suaranya...
Like nya jangan lupa ya chingu
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕