
°°°~Happy Reading~°°°
Malam mulai menyingsing, sudah waktu nya makan malam di langsungkan, Anelis tengah membujuk sang suami untuk ikut turun ke bawah sekedar mengisi perutnya yang kosong, namun Marvell menolak, ia lebih memilih rebahan di atas ranjang, ia tak berselera makan, perut nya juga masih terasa sedikit mual.
" Mas beneran nggak apa-apa kalau Ane tinggal sendiri? " Tanya Anelis untuk yang ke sekian kalinya.
Marvell menggeleng lemah.
" Tidak apa-apa sayang... Kamu turun saja... Pasti anak-anak butuh kamu... "
" Tapi mas kan juga butuh Ane... " Anelis masih tak tega jika harus meninggalkan suaminya itu seorang diri, ingin rasanya tetap di sana bersama sang suami, tapi apa daya, di bawah juga ada anak-anak yang mungkin tengah membutuhkan dirinya, mengingat ia sudah meninggalkan mereka beberapa hari ini.
" Tidak apa-apa sayang, kamu turun saja... "
Cup...
Anelis mengecup kening suaminya lembut, mungkin saja kecupan itu bisa menambah stamina suaminya, pikir nya polos.
" Maaf ya mas... Ane janji cuma sebentar aja kok... "
" Iya sayang... "
Dengan berat hati akhirnya Anelis memilih turun ke lantai satu, melangkah menuju ruang makan, di sana sudah duduk tuan Edgard, mama Clara, dan si kembar.
Arshi sudah tak cemberut lagi, padahal tadi siang gadis kecil itu terlihat sangat kesal bahkan sampai menangis karena pesanan dedek bayi nya tak bisa di penuhi sang mommy, membuat Anelis sedikit lega, mama mertua nya itu benar-benar bisa di andalkan.
" Selamat malam pa, ma... "
" Selamat malam An... " Sahut tuan Edgard dan mama Clara bersamaan.
" Anak-anak mommy mau makan apa, hmmm... " Tawar Anelis.
" Ashi mau mie pashta myh... " Sahut Arshi dengan girang, setelah lama tak memakan mie kesukaan nya itu, akhirnya kini ia bisa kembali menyantap nya sepuas hati, bahkan sampai sebulan ke depan, non stop, sesuai dengan janji mama Clara pada nya.
" Kalau Arsha mau makan apa sayang... " Tawar Anelis pada putranya itu.
" Arsha mau Risotto myh sama ikan yang tadi Arsha pancing sama grandpa... " Tunjuk Arsha pada makanan asal Italia itu.
" Ashi juda mau ikan na myh... " Rengek Arshi.
" Tidak boleh... Itu kan ikan nya Arsha sama grandpa... " Pancing Arsha, padahal sebenarnya sih tidak apa-apa juga kalau kembaran nya itu ikut memakan ikan itu, toh ikan itu juga di hidangkan di atas meja makan untuk di makan.
" Asha peullit sheukalli... Kang peullit kang peullit kang peullit... " ejek Arshi pada saudara kembarnya itu.
__ADS_1
" Kalau mau ikan nya harus bayar dulu ke Arsha... " Usul Arsha.
" Tapi Ashi eundak puna uang... "
" Bayarnya tidak usah pakai uang... "
" Tellus pakai apa? "
" Arshi nangis dulu, baru boleh makan ikan nya... " Sahut Arsha dengan senyum smirk nya.
" Hwaaa.... Mommy.... " Pintar sekali gadis kecil itu mempraktekkan jurus ngambek nya.
" Sayang... Udah dong... Kok malah pada berantem sih... " Anelis memperingatkan, membuat tangis palsu Arshi akhirnya berakhir, gadis kecil itu mengusap setetes air mata palsu yang membasahi wajahnya.
" Udah... Sheukallang Ashi mau makan ikan na yang buaaaanak myh... Ashi kan udah bayall... jadi ikan na puna Ashi, shemua... " Suntuk Arshi.
" An... Mana Marvell? Kok nggak kelihatan? " Mama Clara celingukan, siapa tahu putranya itu jalannya kaya siput hingga akhirnya jauh tertinggal di belakang.
" Mas Marvell sedang tiduran di kamar ma, katanya masih pusing, tadi juga masih mual... " Sahut Anelis, sedang tangannya kini sibuk menyiapkan makanan untuk Arshi.
" Kenapa sih dia sebenarnya, kok mual-mual terus... waktu di Bali juga kayak gitu An? "
" Iya mah... Tapi nggak separah ini sih ma... "
" Mas Marvell nya nggak mau ma, katanya nanti-nanti aja... "
" Mana mau dia kalau di ajak ke rumah sakit, orang dia takut sama jarum suntik... " Ejek mama Clara.
" Apa!!! Takut jarum suntik? Beneran ma? "
" Iya... Dulu aja nih... Waktu dia mau di suntik, pelayan-pelayan di rumah harus main kejar-kejaran dulu sama dia... "
" Hihihi... Daddy lutu... Tatut shama dallum shuntik... Teulnata daddy na Ashi temen... "
Selesai menyiapkan makanan untuk kedua anaknya, Anelis pun memutuskan untuk pamit ke atas, padahal ia sendiri belum makan, entahlah, ia merasa tak tenang karena telah meninggalkan suaminya seorang diri.
" Sayang... Arshi sama Arsha makan sama granny sama grandpa dulu ya... "
" Mommy mau keummana? "
" Mommy mau lihat daddy dulu sayang... "
Arshi mengangguk setuju, lalu segera ia menyeruput mie pasta kesukaannya.
__ADS_1
" Ma, pa... Ane pamit ke atas dulu ya... "
" Nggak makan dulu An... " Cegat tuan Edgard.
" Tidak usah pa... Ane nggak tenang udah ninggalin mas Marvell sendirian... "
" Iya sayang... Nanti biar pelayan yang bawain makanan ke kamar kamu ya... " Usul mama Clara.
" iya ma... "
Anelis meninggalkan ruang makan itu dengan perut kosong, entah kenapa dari tadi hatinya merasa risau memikirkan sang suami yang ia tinggal seorang diri.
Sampai di lantai dua, ia segera melangkahkan kaki nya ke arah kamar nya, cepat-cepat ia membuka pintu kamar yang tertutup rapat itu, bola matanya langsung saja tertuju ke atas ranjang.
Kosong? Kemana perginya suaminya itu.
Di kamar mandi kah?
Anelis berjalan menuju kamar mandi dengan setengah berlari.
Tok tok tok...
" Mas... "
Tidak ada satupun suara yang terdengar.
" Mas... mas di dalam kan... "
Masih tak terdengar apapun, membuat Anelis menjadi semakin risau.
Tok tok tok...
" Mas... Mas... Mas di dalam kan? " Anelis mengeraskan suaranya, namun masih tak terdengar sahutan dari dalam, membuat Anelis nekat membuka pintu kamar mandi itu yang untungnya tak di kunci.
" Astaghfirullah... Mas... "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
__ADS_1