
°°°~Happy Reading~°°°
Riuh memenuhi seisi mansion, rengekan gadis mungil itu kian menggema saat om danteng kesayangannya itu tak kunjung pulang dari pengembaraan nya.
Bosan ia menunggu, penat kian mendera, ia kesal bukan main saat harus di pertemukan lagi oleh sebuah penantian panjangnya, gadis mungil itu tampak lesu, dimanakah gerangan om danteng kesayangannya kini berada?
Lama ia menunggu, akhirnya rindu yang terpendam itu kini terbayar sudah, di gantikan rasa bahagia saat ia kembali di pertemukan dengan sosok yang begitu di rindukannya.
" Yeiiiyy... Om danteng udah puyang... " Arshi langsung menyambut kedatangan om danteng nya itu dengan merentangkan kedua tangan mungil nya, dan kebahagiaan itu kian menggelayuti hatinya saat om danteng kesayangannya itu langsung mendekapnya erat.
Arshi menelisik ke belakang, di lihat nya Willy yang terlihat kesulitan dengan barang bawaannya, bahkan setengah wajahnya tampak tertutup oleh barang berukuran raksasa itu.
" Om Wil-Wil bawa apa cih... Kok beushall cekalliii... Keunapa om danteng na eundak bantuin om Wil-Willl, kan kacian om Wil-Will na.. " Sahut Arshi sembari melepas rengkuhannya.
" Itu hadiah untuk mu... " Marvell menatap hangat wajah menggemaskan Arshi yang sedikit menggelembungkan pipinya hingga menciptakan wajah gemas.
" Untuk Ashi? Beunelan? " Wajah Arshi berbinar secerah mentari, apalagi ketika mainan berukuran besar itu di letakkan di depan nya, bahkan badannya kini tampak tenggelam ketika di sandingkan dengan mainan berukuran raksasa itu.
" Wahhh... Badus ceukali... Belbi na tantik millip mommy... Walna na juda badus, ping-ping, hihihi... Ashi shuka Ashi shuka... Tellus ini apa, kok beushal ceukali om... " Tunjuk Arshi pada benda berukuran besar yang terletak di samping boneka barbie yang terlihat dari kemasan transparan itu.
Marvell yang dapat pertanyaan itu sontak melempar pandang pada Willy, mana tahu ia mengenai hal-hal seperti itu, yang ia tahu hanyalah tentang saham dan bisnis saja.
" Itu rumah nya barbie nona... " Willy langsung mengambil alih.
" Wuahhh... Lumah belbi na beushal sekalliii... Sheupelti lumah na pinces... Nanti Ashi mau dandanin belbi na deh... Ashi kashih beudak, telus kashih litik mellah, kan tomel... Ashik ashik ashik... " Haduh... Bahasa Arshi sudah ikutan Upin-Ipin aja, comel Arshi bukan tomel.
Marvell mengembangkan senyum tipis, bahkan sangat tipis sampai-sampai tak terlihat dari raut wajahnya yang pada dasarnya memang sangat dingin.
Membahagiakan putri kecilnya itu memang tak sulit, bahkan bisa di katakan sangat-sangat mudah, tapi...
Lagi-lagi pikirannya langsung beralih pada si kecil Arsha, bagaimana lagi ia harus bersikap agar putranya itu bisa menerima dan memaafkannya.
__ADS_1
Di liriknya Arsha yang masih diam membisu di tempat duduknya, putranya itu benar-benar mirip dengannya, lebih suka dengan kesendirian dan kebisuan, membuatnya tak tahu menahu bagaimana sebenarnya penilaian Arsha tentang dirinya. Apa rasa benci yang bersemayam dalam hati putra kecilnya itu begitu besar untuk nya?
" Will, berikan itu padaku... "
Marvell beranjak dari posisi nya, meninggalkan si kecil Arshi yang sudah sibuk membongkar mainan barunya di atas karpet.
Marvell berjalan mendekati keberadaan sang putra, di tangannya sudah ia genggam sebuah kantung berukuran besar, di sodorkan nya kantung itu pada Arsha, namun putra mungil nya itu hanya diam menatap Marvell dalam kebisuan.
" Ini hadiah untukmu... "
Arsha tak menjawab, ia malah mengalihkan pandangannya pada sang mommy seolah meminta izin pada nya, itulah sorot mata yang dapat di baca Marvell dari wajah beku putranya kali ini.
" Terimakasih... " Sahut Arsha pada akhirnya setelah mendapatkan anggukan dari Anelis, tangannya menyaut bingkisan besar itu dari tangan daddy nya yang masih menggantung di udara.
" Ayo aku bantu pasangkan... "
Tanpa permisi, Marvell langsung menyaut tangan mungil Arsha di genggaman nya, merasa tak ada perlawanan, Marvell mengajak putra nya itu untuk ikut bersamanya.
🍁🍁🍁
Di sinilah mereka berada, halaman belakang yang begitu luas dengan segala fasilitas mewahnya, kedua manusia yang memiliki paras rupawan namun berwajah dingin, Marvell dan Arsha, tengah duduk bersebelahan dengan mainan baru yang menjadi fokusnya.
Tanpa basa-basi lagi, Marvell langsung saja membongkar bungkus mainan itu, sesuai yang di harapkan nya, mainan itu berisi sebuah replika jet tempur yang bisa terbang dengan alat pengendali remote control.
" Kau tahu, mainan ini hanya ada 5 di dunia, jadi kamu anak spesial karena memiliki mainan ini... " Ucap Marvell di sela-sela ia membongkar mainan eksklusif itu, setidaknya ia ingin menunjukkan bahwa putra kecilnya itu memiliki posisi istimewa di dalam hatinya.
Arsha tak menyahut, wajahnya masih beku saja, ia hanya diam mematung sembari fokus menatap jemari Marvell yang membuka paksa mainan itu dengan tidak sabarnya, bahkan kardus ekslusif yang awalnya terlihat mewah itu, kini tercabik-cabik paksa hingga tak lagi berbentuk.
" Sudah siap... Kau mau mencoba nya? " Setelah perjuangan berat itu akhirnya mainan itu siap di luncurkan, di sodorkan nya remote control itu pada Arsha, ini adalah salah satu bentuk perhatian yang harus di tunjukkan nya jika ingin mendapatkan maaf dari putranya.
" Daddy dulu... "
__ADS_1
Deg...
Seketika itu, jantung Marvell terasa berdetak dengan kencang nya, ia terpaku, bola matanya kian menajam menatap Arsha tak percaya, benarkah saat ini putranya itu memanggil nya dengan sebutan " Daddy "?
Penuturan Anelis benar adanya, bahwa laki-laki mungil itu telah mengetahui kebenaran bahwa dirinya adalah daddy kandung nya, bahwa laki-laki yang seharusnya memiliki pemikiran polos, kini telah menjelma menjadi bocah jenius dengan pemikiran kritisnya.
Hatinya bahagia tak terkira, namun jujur saja, ia masih tak percaya, mungkin putra kecilnya itu membenci dirinya, namun ia bangga pada bocah kecil itu bahwa Arsha masih mengakui dirinyaya sebagai daddy meski masih di belenggu oleh rasa sakit hati.
" Yah... Kita coba... " Senyum melengkung dari bibir Marvell, wajahnya berbinar menatap Arsha sang malaikat kecilnya.
Marvell mulai mencoba memainkan jet tempur itu lebih dulu, awalnya sulit di rasa, tangan yang biasa nya sibuk berkutat di atas keyboard laptop, kini terasa begitu kaku saat harus beralih mengendalikan sebuah remote control.
Sukses dengan penerbangan pertama nya, Marvell menyerahkan remote control itu pada si kecil Arsha, mulai mengajari Arsha bagaimana cara kerja alat pengendali jet yang begitu canggih dan hebat itu dengan sabarnya.
Mereka mulai menikmati permainan pertama mereka, berkali-kali Marvell mengembangkan senyum bahagia saat melihat wajah putranya yang biasanya beku, kini terlihat menikmati mainan barunya.
Puas dengan permainan mereka, kini mereka duduk di bangku yang tak jauh dari taman, hening kembali menyergap, deruman mesin jet tempur yang tadi mereka mainkan kini lenyap bersamaan dengan mainan itu yang sudah tergeletak di atas meja.
" Apa kau menyukainya? " Marvell menatap lekat-lekat wajah beku putranya, lagi-lagi putra dinginnya itu hanya menganggukkan kepalanya dalam kebisuan.
" Boleh aku bertanya sesuatu? " Sahut Marvell, kini pandangannya kosong menatap lurus di kejauhan.
" Apa kau tau bahwa aku daddy mu? "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap kemarin nggak jadi double update, insyaallah nanti nyusul deh, hehehe...
Jangan lupa like nya di kencengin ya...
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja💕💕💕