
°°°~Happy Reading~°°°
Dan di situasi genting itu, Anelis malah melupakan sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini, ya, ponselnya tertinggal, dan supir nya pun tak tahu menahu berapa nomor ponsel suaminya, sedang si kecil Arshi kian menjadi dengan tangisnya, tak mau di ajak pulang meski sudah di janjikan banyak hal oleh Anelis, gadis mungil itu terlalu terluka hingga membuatnya begitu menginginkan daddy nya saat ini juga.
" Mo...myh... Ashi... Mauh daddyh... " Suaranya kian tersendat, nafasnya sudah terputus-putus oleh isak yang kian dalam.
" Iya iya sayang... Cup cup... Arshi berhenti dulu nangis nya, baru kita nyusul daddy ya sayang... " Anelis mengecup kening Arshi, hatinya begitu teriris menatap keadaan putrinya saat ini, kedua matanya bengkak, wajahnya memerah, basah oleh air mata, kuncir kuda rambut pirangnya pun bahkan sudah porak poranda tak beraturan, ya Allah... Apa yang sebenarnya sudah terjadi, hatinya gundah gulana, ingin bertanya namun ini bukan waktu yang tepat, ia hanya bisa menyimpan nya dalam hati sanubarinya.
" Bapak tahu dimana tempat kerja suami saya? " Sahut Anelis pada akhirnya setelah tak menemui titik terang.
" Iya nona... "
" Tolong antarkan saya kesana ya pak... "
" Baik nona... "
Mobil itu akhirnya melaju menuju tempat kerja sang suami, hingga tak lama berselang, akhirnya mobil itu mendarat di sebuah gedung pencakar langit, Anelis menganga dengan pemandangan di depannya, gedung tinggi menjulang itu kini berdiri kokoh di depannya, terlihat begitu megah nan mewah, benarkah suami nya itu bekerja di gedung tertinggi itu? Apa tak apa jika ia menyambangi suaminya di tengah jam kerja? Bagaimana jika atasan suaminya itu sampai tak memperbolehkan ada kunjungan? Ahhh... Ya Allah, semua ketakutan kini menggelayuti hati Anelis.
Baiklah, setidaknya ia harus mencoba, kalaupun tidak bisa yang penting sudah sampai disana dan tinggal membujuk si kecil Arshi untuk di ajak pulang.
Anelis mulai memasuki lobi dengan Arshi di gendongannya dan Arsha yang yang ia tuntun dengan tangan kanan nya, seketika itu ia langsung menjadi pusat perhatian, beberapa karyawan yang tak sengaja melintas tampak memandangnya sinis sembari saling berbisik-bisik.
Bagaimana tidak ia menjadi pusat perhatian, lihatlah keadaan nya sat ini, bekas tamparan itu masih tercetak jelas di wajahnya, di tambah Arshi yang tengah bersandar di pundaknya dengan rambut yang acak-acakan, dan jangan lupakan si kecil Arsha yang kini tengah melangkah dengan penuh pesona.
Anelis berusaha mengacuhkan semua pandangan yang menghujam ke arahnya, ia memilih menghampiri 4 resepsionis yang sepertinya juga menggunjing tentangnya, tidak ada jalan lain selain bertanya perihal dimana keberadaan suaminya, karena ia pun tak tahu menahu tentang perusahaan besar itu, apalagi mengenai pekerjaan suaminya.
" Selamat siang... permisi, saya mencari seseorang yang bernama Marvell, apa bisa saya menemuinya sekarang? "
" Maaf, bisa sebutkan nama lengkapnya? " Salah satunya menimpali dengan ramah.
" Marvell De Enzo "
__ADS_1
Sontak saja keempat resepsionis itu tersentak kaget, mereka saling pandang dengan tatapan yang tak bisa di artikan, bagaimana ada seorang wanita yang dengan beraninya ingin menemui sang bos besar? Apa wanita itu masih waras?
" Apa anda sudah membuat janji? "
Anelis mematung, apa saat bertemu salah satu karyawan nya harus membuat janji lebih dulu? Bukankah ini jam istirahat dimana semua karyawannya bebas menemui siapapun.
" Tidak, saya tidak bisa menghubungi nya karena ponsel saya tertinggal... "
Salah satu resepsionis itu menatap sinis Anelis, sungguh wanita murahan, bahkan mengaku-ngaku memiliki nomor ponsel sang tuan Marvell yang terkenal dingin tak tersentuh, cih... Trik murahan yang sudah pasaran.
" Maaf nona, anda tidak bisa menemui tuan Marvell jika tidak memiliki janji temu sebelumnya... "
" Ahhh... Begitu ya... " Anelis mendesah kecewa.
" Mommy... Ashi penen daddy, hiks... " Arshi kembali terisak karena sadar ia mungkin tak bisa menemui daddy nya saat ini.
" Kita pulang dulu ya sayang, daddy nya masih ada kerjaan, kita tunggu daddy nya di rumah aja yah... "
" Maaf, bisa tenangkan putri anda? Jangan membuat gaduh di sini atau saya akan panggilkan scurity " sahut salah satu resepsionis yang sudah tak tahan dengan tingkah wanita berhijab itu, berhijab kok hobi ngibulin, batinnya.
" Emmm... Boleh saya menunggu di kursi itu saja, saya akan menunggu sebentar, siapa tahu nanti mas Marvell lewat sini... "
Cih, masih tidak menyerah juga, bahkan sekarang sok-sokan manggil mas, ah... wanita ini benar-benar...
" Baik nona, tapi tolong untuk tidak berbuat gaduh di perusahaan ini... " Sahut wanita ramah itu, yang langsung mendapatkan senggolan dari temen di sebelahnya.
" Ihhh... Kamu ngapain sih ngebolehin, sudah jelas-jelas wanita nggak bener... " Bisik nya namun masih tertangkap jelas di indra pendengaran Anelis.
Anelis berusaha tak menanggapi cemoohan itu, ia berusaha tetap biasa saja, ia berjalan mendekati sofa di pojok ruangan, rencananya ia akan menunggu sebentar lalu berusaha membujuk si kecil Arshi untuk di ajak pulang jika memang tak bisa menemui Marvell disana.
Lima belas menit berlalu, namun yang di tunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya, Anelis sudah mulai lelah dengan penantian itu, apalagi gunjingan yang bersahutan kian memekakkan telinga.
__ADS_1
" Sayang... Arshi... Mungkin daddy nya masih sibuk kerja, kita pulang dulu ya sayang... kita tunggu daddy nya di rumah aja... " Bujuk Anelis.
" Tapi Ashi mau daddy... " Gadis kecil itu kembali menangis, perasaannya sudah terlanjur sakit, hatinya jengkel setengah mati, ia ingin segera mengadu pada daddy nya perihal apa yang sudah di perbuat teman sekolahnya terhadap dirinya.
" Iya, nanti kita tunggu daddy nya di rumah aja ya sayang... Nanti mommy masakin Arshi mie pasta kesukaan Arshi, mau? "
Seketika itu bola mata Arshi berbinar, bayangan lezatnya mie pasta berputar-putar bebas di kepalanya, ternyata gadis mungil itu tak mampu menahan godaan selezat mie pasta, dan tanpa pikir panjang, akhirnya Arshi memilih mengangguk dari pada tak mendapatkan apapun.
Akhirnya Anelis bisa bernafas lega, ia bangkit dari duduknya, di gandeng nya kedua buah hatinya, terlebih dulu ia menghampiri meja resepsionis itu.
" Terimakasih sudah mengijinkan saya menunggu tadi, saya permisi dulu... " Sahutnya ramah, namun tanpa di duganya ia malah langsung mendapatkan sentilan pedas.
" Ihhh... Nggak tahu malu banget, udah di tolak masih aja ngemis-ngemis... " Kini tak lagi bisikan, wanita itu melontarkan nya langsung pada sang korban.
Anelis hanya bisa tersenyum kecut, niat hati ingin berterimakasih namun tak di sambut baik, ya sudahlah, setiap manusia memiliki persepsi nya masing-masing, ia hanya bisa menerimanya, ia terlalu malas untuk berdebat dan membuang-buang pahalanya.
Ketiganya mulai melangkah keluar meninggalkan gedung perusahaan, namun tanpa di sadari Anelis, kini si kecil Arsha merasa berat meninggalkan tempat itu, ia ingin sekali menemui daddy nya, bercerita, menumpahkan segala perasaannya yang mengganjal.
Di tengah langkah kecilnya, ia menoleh ke belakang, berharap sang daddy bisa muncul di hadapannya.
" Daddy... "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap, othor tiba-tiba khilap
Ya udah, buat ganti yang kemarin aja yah😅
Happy Reading
__ADS_1
Saranghaja 💕💕💕