Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Kepintaran CEO De Enzo Corp yang menguap


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


" Sayang... Kenapa kamu menangis, hmmm... Apa yang terjadi sebenarnya... Kamu baik-baik saja kan... " Marvell menggenggam jemari tangan Anelis.


" Mas... " Anelis tercekat, bibirnya kelu tak mampu lagi berkata-kata.


" Heey... Cepat kalian katakan apa yang terjadi pada istriku, kenapa kalian buat dia menangis hah... JAWAB... " Sentak Marvell pada dokter Stephanie dan beberapa suster yang mendampingi nya.


" Tenanglah tuan... Nona Anelis baik-baik saja... Anda tidak perlu khawatir... " Sahut dokter Stephanie berusaha keras menenangkan singa yang tengah meraung-raung itu.


" Baik-baik saja? Bagaimana kau bilang istriku baik-baik saja kalau sekarang saja dia sedang menangis seperti ini, hah... Apa kau benar-benar bod*h... " Marvell semakin naik pitam.


" Mas... " Anelis menggenggam jemari tangan suami nya, ia masih terisak, antara terharu dengan kabar bahagia nya dengan menangisi kebod*han suaminya itu.


" Tenanglah sayang... Aku di sini... Aku tidak akan meninggalkan kamu apapun yang terjadi... Kamu istriku satu-satunya sayang... " Marvell mengusap wajah sembab Anelis, dikiranya ada penyakit berbahaya yang kini tengah bersarang pada tubuh istrinya itu.


Plak...


Mama Clara yang sudah jengah dengan tingkah bod*h putranya itu pun langsung mendekati Marvell dan sontak memukul keras punggung nya, membuat Marvell seketika mengaduh kesakitan.


" Ma... "


" Apa kau benar-benar bod*h Vell... "

__ADS_1


" Bod*h? Atas dasar apa mama berkata CEO perusahaan De Enzo itu bod*h, hah... " Sungut Marvell tak terima di katai bod*h oleh mama nya sendiri.


" Jika kau pintar, coba lihatlah layar monitor itu baik-baik dan buka matamu lebar-lebar, mama yakin, sedikitpun kau tak akan bisa melihatnya... "


" Cih... Aku tidak but* ma... Layar sebesar itupun aku bisa melihatnya dengan jelas... "


" Astaghfirullah... Emang dasar otak kamu aja yang kebangetan Vell ... itu artinya istri kamu sedang hamil... " Pekik mama Clara sudah tak mampu lagi menahan amarahnya, urusan kerjaan aja otaknya lancar jaya, gantian urusan perempuan, nol besar.


" Ini bukan waktunya bercanda mah... Mama tidak lihat istriku sedang menangis sekarang... " Marvell masih saja mengelak dengan kebenaran itu.


" Apa mama kelihatan bohong Vell... Lagi pula istrimu itu menangis gara-gara terharu bukan sedih seperti yang ada di otak dangkal mu itu... " Hihhh... Mama Clara benar-benar gemas dengan putranya itu.


Deg...


" M-mama tidak sedang berbohong kan kalau... istriku sedang... Hamil... Anak ku... " Marvell tergagap, antara rasa terkejut dan tak percaya.


" Sekarang mama benar-benar yakin bahwa kamu memang bod*h Vell... Kalau bukan anak kamu, anak siapa lagi hah... " Sentak mama Clara sudah gemas sendiri.


Marvell tak menanggapi cemoohan dari mama Clara, ia langsung beralih menatap pada sang istri yang masih terisak itu, di usapnya bulir air mata yang membasahi wajah cantik istrinya, lalu mengec*p kening istri nya lama dengan penuh kehangatan.


" S-sayang... Apa benar yang di katakan mama...kalau... " Marvell tercekat, ia tak mampu melanjutkan kalimatnya sendiri, bibirnya tiba-tiba kelu, ia mendadak menjadi seperti orang g*gu.


Anelis mengangguk dalam tangis yang semakin dalam, membuat Marvell seketika merengkuh tubuh istri tercinta nya itu erat, tanpa di rasa air matanya jatuh luruh tak tertahan, ia tak mampu menahannya lagi, ia seolah berubah menjadi manusia yang paling tak tahu malu karena telah menangis bahagia di depan banyak orang.

__ADS_1


" Sayang... Terimakasih... Terimakasih... "


Marvell kembali mengec*pi wajah sang istri, dari mata, hidung, pipi dan tak ketinggalan juga bibir kecil yang selalu menjadi candu nya itu, membuat Anelis malu bukan kepalang, bukan hanya mereka yang ada di ruangan itu wahai tuan muda, setidaknya tebalkan lah sedikit urat malu mu.


" Ehmm... Mas... "


Anelis berusaha melepaskan diri dari kungkungan sang suami, di dorongnya dada bidang suaminya itu, namun usahanya gagal karena saat ini Marvell malah kembali merengkuhnya erat.


" Diamlah... Jangan rusak kebahagiaan ku... aku sangat bahagia sayang... " Marvell masih setia memeluk istrinya itu tanpa perduli pada banyaknya pasang mata yang menatapnya tak percaya.


" Ehmmm... Bisa kita lanjutkan pemeriksaan nya tuan? " Sela dokter Stephanie, membuat Marvell mau tak mau harus melepas rengkuhannya karena pelototan istrinya itu semakin tajam menghunus ke arahnya.


" Hmmm... Lanjutkan... " Sahut Marvell sembari menormalkan ekspresi dinginnya.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Lanjutkan nggak, lanjutkan nggak, lanjutkan nggak?


Pilih mana wahai sodara-sodara


Happy Reading

__ADS_1


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2