
°°°~Happy Reading~°°°
Malam mulai menyingsing, cahaya rembulan yang temaram kini mulai merajai seisi bumi. Di sinilah mereka berada saat ini, di sebuah mansion mewah 2 lantai lengkap dengan segala kemewahan nya.
Mansion yang awalnya lengang bagai tanah kosong kini mendadak ramai penuh canda tawa dan gurauan, pertikaian kecil pun turut mewarnai nya, namun kegaduhan itu seolah berhasil menjadi warna baru di balik mansion mewah bernilai triliunan rupiah itu.
" Alip ba ta ta dim ha ho... dal dal lo ja cin cin chot... dhot to do 'ain gin hwa kofhh... Kafh min nun wau ha... Ya... " Lantunan lagu islami kini berdengung di balik ruang keluarga, si mungil Arshi lah pelakunya, lagu yang awalnya indah penuh makna itu kini mendadak hancur dengan lirik yang amburadul tak berbentuk.
" Itu salah Shi, lam alif sama hamzah nya kamu kemanain? " Arsha yang tengah membaca iqra' bersama mommy nya tak kuasa menahan untuk tak mengingatkan.
" Huhhh... Shuka shuka Ashi lah... Meulleka ladi bobo makan na eundak Ashi shebutin Asha... "
" Mana ada huruf Hijaiyah lagi bobo, kamu mah suka ngada-ngada... " Rutuk Arsha, ia tersulut emosi rupanya.
" Beunellan kok, melleka ladi bobo di kamall ballu na Ashi, tadi Ashi lihatin melleka tidull na ngollok kaya Asha waktu tidull, hihihi... iya kan daddy... " Marvell yang sedari tadi hanya fokus menikmati waktu kebersamaan bersama keluarga barunya itu, kini turut menjadi sasaran.
" Hmmm... Sekarang belajar nya di lanjut lagi ya... "
" Blablablabla... " Arshi menjulurkan lidahnya mengejek kembarannya, sebelum akhirnya kembali mendengungkan lagu kebanggaan nya.
" Alip ba ta ta dim ha ho... dal dal lo ja cin cin chot... dhot to do 'ain gin hwa kofhh... Kafh min nun wau ha... Ya... " Si kecil Arshi kembali menunjukkan bakat terpendam nya, meski membuat kuping menjerit sakit, namun suara melengking itu mampu menciptakan tawa terpingkal dari para pendengarnya.
Drt...drt...
Ponsel milik Marvell bergetar, segera ia merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih itu dengan tangan kanannya.
__ADS_1
" Hallo... "
Marvell terlihat mengerutkan dahi saat si penelepon mulai dengan percakapannya.
" Kau tak bisa menyelesaikannya nya sendiri? " Sorot matanya tajam dan begitu dingin, sosok tuan muda itu kembali pada wujud aslinya.
" Hmmm... Baiklah... " Marvell menutup sambungan teleponnya lalu menyimpannya lagi di kantong celananya.
" Aku ada sedikit pekerjaan, kalau kau mencari ku aku di ruang kerja lantai atas... " Tatapannya sedikit mencair, tak ada gurat dingin di wajahnya kala itu, tuan muda itu bagai memiliki kepribadian ganda yang bisa mengubah ekspresi secepat kilat.
" Iya mas... "
Jam terus berputar, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam, anak-anak sudah menyelesaikan belajar iqra' nya, dan saat ini adalah waktu untuk si kembar bermain sesuka hati mereka.
Anelis memilih menghampiri suaminya yang sudah satu jam lalu menghilang tanpa kabar, di tangannya sudah ada secangkir kopi hangat dan sebuah buku, entah buku apa itu.
Ia mengetuk pintu ruang kerja suaminya itu, tak ingin lancang adalah alasannya, bagaimanapun dia adalah suami yang harus ia hormati dan hargai privasi nya.
Di putar nya gagang pintu itu setelah instruksi masuk sudah di dapatkan nya, hingga akhirnya terlihatlah sosok suaminya yang kini tengah duduk tenang di kursi kerjanya.
" Apa mas sibuk? " Basa-basi nya sembari mendekati sang suami.
" Tidak, hanya masalah kecil di perusahaan. Ada apa? Apa anak-anak sudah ingin tidur? "
Anelis menggeleng.
__ADS_1
" Tidak... Hanya ingin memberikan mas ini... "Anelis menyodorkan segelas kopi hitam buatannya.
" Oh, iya... Terimakasih... "
" Dan ini.... " Anelis menyodorkan sebuah buku tuntunan sholat, sedikit ragu atau tak enak hati lebih tepatnya, karena mungkin dirinya terlalu lancang pada suaminya itu.
" Buku apa itu? "Marvell mengernyit.
" Buku tuntunan sholat, mas... Maaf, apa Ane lancang dengan memberi mas ini? " Lirihnya, ia benar-benar tak enak hati, tapi di sisi lain inilah peran istri saat sang suami tidak berada di jalan yang benar.
Marvell melengkungkan bibirnya tipis, bahkan sangat tipis, ia tak pernah mengira reaksi ini yang akan ia dapatkan setelah pengakuan nya yang lupa bagaimana cara menjalankan kewajibannya, di kiranya wanita itu akan menjauhinya, menyudutkan nya atau bahkan jijik bersentuhan dengannya, namun dia wanita berbeda, ia mau menerima baik buruk dirinya, meskipun cinta mungkin belum hadir diantara mereka.
" Tidak... Bagaimana kau berfikir seperti itu? Tapi... boleh aku minta sesuatu padamu? " Sahut Marvell sedikit ragu.
" Iya mas... "
" Ajarkan aku sholat... "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Othor usahain nih dah update
Insyaallah ada double up, kalau like nya banyak, hehehe 😅
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕