
°°°~Happy Reading~°°°
Hampir seminggu tak menilik kondisi perusahaan, membuat pekerjaan kantor kian menggunung, dokumen-dokumen penting mangkir karena tak ada bubuhan tanda tangan miliknya, membuat Marvell kini memilih untuk memulai kembali rutinitas nya di perusahaan yang telah melambungkan nama besarnya.
Dengan gagak berani, Marvell mulai melangkah pasti memasuki areal perusahaan. Seluruh karyawan menyambut kedatangan sang CEO dengan gurat bahagia, mereka begitu antusias, setelah sekian lama absen akhirnya pimpinan mereka itu kembali juga ke dunia kerja.
" Selamat pagi tuan... Selamat datang kembali di perusahaan... "
Para jajaran dewan direksi membungkuk hormat pada sang CEO, di ikuti oleh ribuan karyawan yang memadati pelataran lobi perusahaan.
Bukannya menyahut, raut wajah Marvell malah terlihat aneh, laki-laki berahang tegas itu terlihat mengernyit dengan sebelah tangan yang menutupi areal hidungnya.
" Apa kau mencium bau yang aneh? Bau busuk? " Seloroh Marvell, membuat semua orang seketika mengernyit. Bau busuk? Mana ada bau busuk?
" Bau busuk? Sepertinya tidak ada tuan... Setiap sudut perusahaan kita di jamin kebersihan nya... "
" Tapi ini sangat... Huekkk... "
Marvell menutup mulutnya rapat-rapat dengan rasa mual yang tertahan, perutnya kembali bergejolak hebat, bau menyengat itu benar-benar mengganggu indra penciuman nya.
Semua orang tampak khawatir, bisik-bisik mulai berdengung halus, ada apa dengan bos besar itu? Apa karena ini si tuan gila kerja itu memilih meliburkan diri hampir seminggu lamanya?
" Tuan... Apa anda baik-baik saja... "
Salah satu dewan direksi kini berangsur mendekati Marvell, membuat bau menyengat itu kian mendera nya, mual kian bergejolak, isi perutnya kian ingin keluar membebaskan diri dari perutnya.
" Berhenti kau... Kau membuat ku semakin mual... "
Sentak Marvell, dengan menahan mual ia melangkah cepat menjauh dari kerumunan, di buntuti oleh Willy sang asisten dan para bodyguard kepercayaan nya.
Setelah kepergian pimpinan tertinggi itu, semua orang tampak bingung bukan kepalang, khususnya sang dewan direksi yang kini menjadi terdakwa utama.
__ADS_1
" Apa kau mencium bau busuk dari tubuhku? "
Salah satu rekan kerjanya tampak membaui ke sekeliling tubuhnya. Mengendus-endus nya bak anjing pelacak.
" Tidak kok... Malah wangi, sangat wangi... Apa satu toko parfum kau pakai semua? " Seloroh rekan kerjanya itu.
" Hehehe... Setelah tahu kalau CEO akan kembali bekerja aku pakai semua parfum milikku, tidakkah penampilan dan performa harus baik saat menghadap pada pimpinan? "
" Ya sih... Tapi tidak begitu juga... "
🍁🍁🍁
Kaki jenjang itu melangkah lebar menyusuri koridor perusahaan, jantungnya berdebar hebat, perasaan khawatir memenuhi relung hatinya, setelah mendengar kabar sang suami kembali mual-mual, Anelis langsung meluncur ke perusahaan, karena hanya dengan pelukannya lah mual sang suami bisa sedikit mereda.
" Selamat pagi nona... "
Kedatangan sang istri pimpinan itu langsung saja di sambut baik oleh kedua sekretaris Marvell.
" Pagi... Suami saya... Di dalam kan... " Sahut Anelis dengan nafas memburu dengan jantungnya yang berdegup kencang.
Tanpa menunggu lama, Anelis pun segera memasuki ruangan milik suaminya itu, bola matanya menelisik ke seluruh ruangan. Kosong, ruangan megah itu tampak lengang tanpa sedikitpun pergerakan. Namun di detik berikutnya, suara erang*n muntahan kini memenuhi setiap sudut ruangan, membuat Anelis memekik, benar praduga nya jika suaminya itu masih berkutat dengan rasa mual nya.
Dengan kekhawatiran yang membuncah, Anelis melangkah menuju kamar mandi, terlihat di sana Willy tengah membantu suaminya itu untuk memuntahkan isi perutnya.
" Mas... "
Suara lembut bak sutra itu membuat kedua laki-laki itu menoleh, Willy seketika menyingkir, membuat Anelis langsung menggantikan posisi Willy untuk membantu sang suami memuntahkan isi perutnya.
Berkali-kali Marvell memuntahkan isi perutnya, membuat Anelis semakin tak tega.
" Sayangnya mommy... Sudah ya nak... Kasihan daddy kalau harus mual-mual seperti ini, hmmm... " Sahut Anelis sembari mengusap-usap perutnya yang mulai sedikit membuncit, sedang sebelah tangannya yang lain setia mengusap punggung suaminya yang bergetar akibat muntahan yang tak berkesudahan.
__ADS_1
" Sayang... "
Marvell akhirnya terkulai dalam pelukan sang istri, pelukan hangat yang selalu membuatnya berhenti dari rasa mual yang membara.
Anelis segera menuntun sang suami keluar dari bilik kamar mandi, di rebahkan nya tubuh lemah suaminya itu di atas sofa empuk.
" Minum dulu mas... "
Anelis menyodorkan segelas air mineral, Marvell lantas meminumnya sampai tandas, tenaganya benar-benar terkuras habis.
" Sayang... " Rengek Marvell sembari merengkuh kembali sang istri tercinta.
" Maafin Ane ya mas... Udah buat Mas ngalamin mual kaya gini... " Seloroh Anelis dengan bola mata yang sudah berkaca-kaca.
" Tidak sayang... Mungkin ini adalah balasan buat aku karena dulu nggak ada saat kamu hamil baby twins... "
" Tetap saja ini salah Ane... Karena Ane hamil mas jadi mual-mual kaya gini... "
" Shhht... Jangan ngomong gitu, mas malah seneng bisa ngalamin ini sayang... jadi mas bisa meluk-meluk kamu sepuasnya... " Marvell mengeratkan rengkuhan nya.
Anelis membelalakkan bola matanya, air matanya tiba-tiba surut, sontak saja ia memukul punggung laki-laki itu dengan gerakan lemah.
" Mas ngga pernah berubah... Lagi sakit masih aja mikir yang begituan... "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Terimakasih atas semua dukungan kalian ya
Jangan bosan-bosan ingatin othor dalam kebaikan yah
__ADS_1
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕