Baby Twins CEO

Baby Twins CEO
Jangan Ganggu Mommy ku


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


" Cukup... Jangan bermain teka-teki lagi denganku, cukup kita bicarakan soal anak-anak kita... " Marvell mulai muak jika harus selalu menekan kesabarannya.


" Anak-anak kita? Sepertinya anda masih bermimpi tuan, saya tidak pernah berhubungan dengan anda, lalu bagaimana saya memiliki anak dengan anda? Jadi, silahkan anda pergi dari kediaman saya... "


Marvell berdecak, ia muak bukan main. Wanita di depannya ini benar-benar menyebalkan.


" Ikut saja dengan ku... "


Marvell menyaut tangan Anelis, namun secepat mungkin Anelis menepisnya. Wajah yang ia jaga-jaga untuk tetap tenang, kini akhirnya menunjukkan wujud aslinya, air matanya langsung terkoyak hebat, luruh tak tertahan bersamaan dengan amarah yang kian membuncah.


" Cukup!!! Jangan pernah menyentuh ku dengan tangan kotor mu itu "


Amarah dalam hatinya tak mampu ia kontrol lagi, semua lepas kendali. Namun ia masih berpikir sehat, ini salah, ada putra nya di belakang tubuhnya yang mungkin mendengar semuanya, ini tak bagus untuk psikologis nya. Ia menarik nafas dalam-dalam, ia harus menjaga emosi nya agar tidak meledak di depan putra nya.


" Jadi... Tolong pergilah dari rumah saya tuan... " Sahutnya dengan penuh pengharapan, ia tak ingin lepas kendali untuk yang kesekian kalinya, meski air matanya masih saja menderas, ia berusaha sekuat mungkin untuk menekan segala perasaan nya.


Tanpa menunggu tamu tak di undang itu enyah dari rumahnya, Anelis memutuskan untuk memasuki rumahnya, namun belum selangkah ia pindah dari tempatnya, Marvell kembali menyaut tangannya, membuat emosinya kian memuncak tak tertahan.


" Apa kau tuli? Lepaskan ku bilang... " Untuk kesekian kalinya ia kehilangan kontrol tubuhnya. Ia memberontak dalam genggaman Marvell, namun tak sedikitpun Marvell berniat melepaskan nya, hingga tiba saatnya tangan mungil itu yang kini merebut tangan Anelis dari genggaman tangan Marvell.


Ya, Arsha, putranya kini maju menghadapinya, menatap Marvell tajam, wajahnya kian kelam, sorot matanya kian menajam.


" Jangan ganggu mommy ku... " Sahut nya dengan nada yang begitu dingin dan setengah emosi, dan entah kenapa membuat hati Marvell luluh saat itu juga, perlahan ia mengendurkan cengkraman tangannya, melepaskan wanita itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


🍁🍁🍁


Secepat kilat Anelis menutup pintu rumah nya rapat-rapat, jantungnya masih berdebar hebat, air matanya masih setia luruh tak tertahan, perasaan takut masih menggelayuti hatinya.


Ia menjatuhkan tubuhnya, lalu merengkuh tubuh putra nya itu erat, hampir saja, hampir saja ia kehilangan putra kesayangan nya itu, hampir saja ia tak bisa lagi merengkuh tubuh kecil itu.

__ADS_1


Air matanya kian menderas, bagaimana jika itu benar-benar terjadi, ia tak akan mampu hidup tanpa putra kecil nya itu, ia mempererat rengkuhannya, hingga ia tak menyadari kini tengah terisak di pundak kecil itu.


Begitu malang nasib anak-anaknya, di usia nya yang belum genap 4 tahun, kedua buah hatinya itu malah harus terjebak dalam pelik nya kehidupan yang terus mengekang nya.


Anelis akhirnya tersadar, tangisnya mulai surut, ia melepaskan rengkuhan nya dari tubuh Arsha, menelisik tubuh putranya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.


" A-Arsha tidak apa-apa kan, apa ada yang terluka nak... " Sahutnya dengan suara yang masih bergetar, nafasnya masih tersengal sisa tangisnya.


Arsha menggeleng cepat, ia takut mommy nya akan lebih mengkhawatirkan dirinya saat ia terus bungkam.


" Tidak mommy, Arsha tidak apa-apa. Apa mommy juga tidak apa-apa? " Sahut Arsha, tatapan tajamnya sudah sirna dari sorot matanya, yang tersisa hanya tatapan lembut yang begitu menenangkan.


Anelis menggeleng pelan, entah kenapa air matanya kembali luruh, kenapa saat ini ia menjadi sosok yang sangat rapuh, kenapa ia tak bisa menjadi wanita tangguh seperti sedia kala.


Tidak, ini tidak benar. Sadar Anelis, tolong sadarlah, hanya kamu yang dimiliki anak-anakmu, jika kamu saja seperti ini, siapa lagi yang akan melindungi mereka dari kejamnya dunia?


Anelis kuatlah, kuatlah Anelis, sekali saja tolong lebih kuat, hanya untuk anak-anak mu.


" Tidak, tidak sayang... Mommy baik-baik saja... Maafkan mommy karena meninggalkan kalian sendiri nak... "


Ya Allah... Seberapa kejam lagi dunia yang akan Anelis hadapi, ia hanya wanita muda yang yang entah sampai kapan bisa bertahan jika terus di kekang. Ia hanya wanita rapuh yang butuh cinta dan perlindungan, bukan di hina dan di caci maki, apalagi di tekan seperti ini.


Arsha yang sedari tadi di rengkuh sang mommy, kinj tak mampu berbuat banyak, jemari tangannya setia mengusap punggung Anelis yang kian bergetar karena isaknya. Ia ingin menjadi pengobat hati Anelis.


Namun, tiba-tiba perasaan bersalah itu kembali hadir dalam relung hatinya, jika saja ia tak mengeluh sakit waktu itu, pasti kehidupan mereka akan baik-baik saja, jika saja ia menjadi lebih kuat sedikit saja, mungkin mereka masih merasakan kebahagiaan dengan kehidupan sederhana nya, jika saja....


Ahhh... Pikiran-pikiran buruk itu terus membelenggu perasaannya.


" Maafin Arsha mommy... Maaf karena Arsha tidak jadi anak yang baik untuk mommy. Arsha janji, Arsha akan jadi anak yang baik untuk mommy, Arsha akan lindungin mommy dan Arshi, Arsha tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian, Arsha janji myh... "


Dalam rengkuhan mommy nya ia berjanji, ia tak sanggup jika harus melihat mommy nya terus-terusan bersedih, ia tak akan membiarkan siapapun itu menyakiti mommy nya lagi, termasuk, Daddy nya sekalipun.

__ADS_1


Setelah sekian menit menumpahkan kesedihannya di punggung kecil itu, tangisnya mulai mereda, ia melepas rengkuhannya, ia teringat pada putri kecilnya yang sedari tadi tak di temui nya.


" Sayang... Arshi dimana? " Sahutnya, bola matanya menelisik ke seluruh ruangan mencari keberadaan putri nya.


" Tadi lagi mandi myh... "


Anelis bangkit dari duduknya, menggandeng tangan Arsha untuk ikut bersamanya, jika putri kecilnya itu tengah mandi, pasti sekarang membutuhkan nya untuk sekedar membilasnya, karena ia tahu kebiasaan Arshi yang tidak pernah mau membilas tubuhnya sendiri.


Sampai di kamar mandi, ia terkejut karena di dalam kamar mandi itu sudah kosong tak berpenghuni, tak ada Arshi yang tengah telanjang, hanya menyisakan baju-baju Arshi yang teronggok di lantai, menandakan gadis mungil itu benar-benar telah selesai mandi. Namun, dimana Arshi saat ini.


Ia beralih ke ruangan lain, dapur? Mungkin sehabis mandi putri nya itu kelaparan. Pikirnya polos, namun lagi-lagi nihil, tak ada putri nya itu disana.


Di kamar tidur, ia mencoba mencarinya disana, hingga akhirnya bola matanya melebar seketika, saat menatap gadis kecil itu tengah meringkuk dengan nyaman di atas ranjangnya, bahkan tanpa sehelai kain yang membelit tubuh mungil itu, bagaimana putri kecilnya itu tertidur pulas tanpa berbusana?


Ia menyunggingkan senyum nya, rasa takut akan kehilangan dua malaikat kecilnya itu seketika sirna sudah, setidaknya, saat ini, keduanya masih berada di sisinya.


Tak tahu nanti, tapi yang pasti, ia akan selalu memperjuangkan kedua nya, apapun yang terjadi, ia akan tetap mempertahankan kedua buah hatinya untuk selalu berada di sisi nya.


Ia tak ingin kedua anaknya itu jatuh ke tangan laki-laki tak bermoral itu, ia tak ingin kehidupan kedua buah hatinya itu hancur hanya karena salah asuhan.


Tidak boleh, ia akan tetap mempertahankan anak-anaknya.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Othor hadir lagi nih


Jangan lupa like, hadiah sama vote nya dong


Banyak-banyakin sedekah di bulan ramadhan ini🤣

__ADS_1


Happy Reading


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2