
°°°~Happy Reading~°°°
" Apa kau butuh sesuatu? Kenapa kamu keluar dari kamar mu, hmmm... " Sapa Marvell pada si kecil Arsha.
Kalau di pikir-pikir, ini adalah kali pertama nya bisa menyapa putra kecilnya itu. Entah sengaja atau tidak, ia selalu tak ada kesempatan untuk menyapa anak es itu. Setiap ingin mendekati nya, pasti ada saja kelakuan si kecil Arshi yang berhasil mengambil alih semua perhatian nya, bahkan sampai menyandera seluruh tubuh nya.
" Kau butuh sesuatu? " Marvell kembali bersuara saat hanya kebisuan yang di dapatnya.
Arsha terhenyak, baru kali ini daddy nya itu menyapa dirinya. Entah bagaimana isi hatinya yang sebenarnya, jujur, masih ada rasa benci yang mengganjal kuat dalam relung hatinya. Tapi...
" Arsha cari mommy... " Lirihnya pada akhirnya, dengan suara pelan, bahkan sangat pelan.
" Mommy? Sebentar... " Sahut Marvell lalu merogoh ponsel dari dalam saku jas nya.
Arsha di buat bingung dengan tingkah daddy nya yang tiba-tiba saja menggagalkan rencana nya, dan sekarang malah mengabaikan nya, bahkan asik bermain dengan telepon genggamnya.
" Dimana wanita itu? " Terdengar perbincangan Marvell dengan seseorang di sebrang sana.
" Hmmm... " Marvell hanya menggeram, seketika sambungan telponnya terputus secara sepihak.
" Mommy mu masih di bawah, mengambil minum untuk Arshi... " Sahut Marvell, nada dingin yang selama ini melekat pada dirinya, kini berangsur menipis, meski masih terlihat sedikit aura dingin di wajahnya.
" Baiklah... Terimakasih... " Arsha berbalik, dari pada harus terjebak dalam situasi aneh itu, lebih baik ia kembali menyusul Arshi.
Belum juga melangkah, langkah kakinya terpaksa terhenti saat tangan kekar Marvell menyaut tangan kirinya, membuat Arsha sontak berbalik, menatap manik biru itu yang terlihat sama persis dengan miliknya.
" Arsha mau nyusul Arshi... "
Wajah kelam itu menguar hebat tak terbantahkan, ia tak suka saat laki-laki itu terus memaksa nya, atau bahkan menyentuh tubuhnya. Sudah sedari tadi ia berusaha menjaga tata krama yang selalu di ajarkan mommy nya, namun tidak untuk saat ini, ia tak peduli lagi, di tatapnya laki-laki itu dengan sorot mata tajam menghunus.
Marvell tak menggubris wajah kelam putra kecil nya itu, baginya sudah tak asing lagi dengan raut dingin itu, bahkan ia sendiri biasa melakukan nya.
Marvell menurunkan berat tubuhnya, menyamakan nya dengan tinggi tubuh putranya yang tak seberapa, di tatapnya manik biru itu dalam-dalam, terlihat jelas masih ada rasa benci yang ia tangkap dari sorot mata indah itu.
Di usapnya wajah rupawan itu, wajah yang tak ubahnya bagai foto copy an dari wajah tampan nya. Ada rasa sesal mengapa dulu ia tak memperhatikan nya dengan seksama hingga salah mengambil langkah.
" Kau sangat tampan, aku suka padamu, bisakan kita menjadi teman, boy? "
Arsha masih terdiam di posisinya, ia menatap lekat wajah daddy nya, kenapa image buruk daddy nya itu perlahan luntur dari bola matanya?
__ADS_1
Tapi... Bagaimana dengan mommy nya, bagaimana bisa ia mengabaikan segala rasa sakit hati mommy nya, bagaimana ia tega dengan mommy nya yang selalu menangis di setiap malam nya. Begitu egoiskah ia jika menginginkan kasih sayang itu benar-benar hadir dalam hidupnya.
" Sayang... "
Suara Anelis berhasil memutus tatapan intens itu, membuat kedua laki-laki berbeda generasi itu seketika menoleh ke arah sumber suara, hingga sepersekian detik lamanya, ketiga orang itu tenggelam dalam lamunan nya masing-masing.
" Apa yang kamu lakukan di sini sayang... " Anelis berusaha bersikap biasa saja saat ia di tatap begitu dalam oleh kedua laki-laki di depannya.
Akhirnya Arsha tersadar juga dari segala pergulatan isi hati nya, ia melepas paksa genggaman tangan Marvell yang masih melingkar di pergelangan tangan nya, buru-buru ia melangkah mendekati mommy yang sangat di cintai nya.
Di rengkuh nya tubuh mommy nya erat, entah kenapa ia ingin meluruhkan air matanya. Tapi ia tak bisa, ia tak boleh lemah, ia harus bisa menjadi laki-laki pelindung untuk mommy dan adik nya.
" Arsha kenapa? " Anelis mengusap lembut rambut pirang Arsha, sungguh ia bingung dengan sikap Arsha yang tiba-tiba saja merengkuh nya erat.
Arsha menggeleng, di lepaskan nya rengkuhan itu, ia berusaha mengenyahkan segala rasa sesak di hatinya, di tatapnya wajah mommy nya yang terlihat begitu khawatir itu.
" Arshi tadi cari mommy... " Alih nya .
" Benarkah... Maafkan mommy ya sayang... Ikut mommy ya... "
Di gandeng nya tangan putranya, menuntunnya kembali ke ruangan nya, melewati Marvell yang sudah berdiri dari posisi nya begitu saja, tanpa menoleh, tanpa menyapa, Anelis hanya cukup bersikap dingin dengan laki-laki itu.
🍁🍁🍁
Mereka menaiki lift khusus di ujung koridor, menuju lantai teratas bangunan megah itu, tepat nya di bangsal VVIP, bangsal yang hanya berisi beberapa ruangan dengan fasilitas bak hotel berbintang.
Sampai di lantai teratas, mereka menuju salah satu ruangan, masih terekam jelas di ingatan Anelis, di salah satu ruangan itulah dulu Arsha pernah di rawat di sana, meski setelah nya ia harus segera melarikan diri agar tak semakin di hina dan di caci maki.
Salah satu bodyguard membukakan pintu untuk mereka, membuat manusia di dalam ruangan itu seketika memekik girang setelah mendapati siapa tamu kehormatan nya hari ini.
" Ohhh... Kalian datang? Kalian benar-benar datang? " Mama Clara sudah heboh saat anak dan calon mantu idaman nya itu baru saja memasuki ruangan nya.
" Uhhh... Cucu granny... Sini sayang... " Kembali mama Clara bersuara saat mendapati Arshi yang kini berada di gendongan Marvell dan Arsha yang berjalan beriringan dengan Anelis.
" Glanniiii... Ashi mau shama glanniiii... " Arshi sudah berontak di rengkuhan Marvell, ingin segera di turunkan.
" Sayang... Salam dulu nak... " Anelis mengingatkan kembali tentang tata krama.
" Assamikum glenni tantik... " Sahut Arshi dengan senyum mengembang di sudut bibirnya, membuat nya semakin imut nan menggemaskan.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam cantiknya granny... "
" Assalamualaikum... Maafkan saya nyonya, karena baru menyempatkan untuk mengunjungi anda... "
" Oh... tak apa sayang. Tapi, mama tak suka kamu memanggil mama seperti itu lagi, kamu masih ingat kan...? " Sahut mama Clara sembari menyunggingkan senyum indahnya.
" Ahhh... I-iya ma, maafkan Ane.. "
Mama Clara menyunggingkan senyum nya, lalu beralih pada cucu kesayangan nya Arsha.
" Cucu granny yang paling ganteng ini apa kabar sayang? " Mama Clara menyapa Arsha yang masih menggenggam tangan mommy nya.
" Arsha baik granny, granny bagaimana kabar nya... "
" Granny baik sayang... Uhhh... Kamu pinter banget sih sayang... " Mama Clara mengusap lembut pipi gembul Arsha, lalu beralih lagi pada Arshi yang kian menggemaskan itu.
" Gimana kabar cucu cantik nya granny ini, ehmmm... "
" Ashi seuneng sheukali Ashi bisha nusul glani keushini, Ashi eundak shuka di shana, Ashi kesheupian, eundak puna temen, temen Ashi tuman Lio, tapi Lio na shuka beulangkat ke sheukulah kalo pagi-pagi, jadi Ashi eundak bisha main shama Lio shehalian gleni... "
" Uhhh... Kamu gemesin banget sih sayang... Kalau begitu kita main bareng, sama Arsha juga... Oke? "
" Ashiap... Ashi mau Gleni...Ashik ashik ashik... " Arshi meloncat-loncat girang.
Tak ingin membuang waktu lama, akhirnya Arsha dan Arshi kini bergabung di ranjang milik mama Clara, ranjang besar itu akhirnya menjadi tempat bermain mereka, mereka begitu menikmati kebersamaan nya setelah hampir seminggu lamanya terpisah.
Asik bermain, tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar menampilkan sosok laki-laki berusia pertengahan abad dengan pakaian santainya, namun masih terlihat jelas aura kepemimpinan nya yang menguar hebat.
" Kalian sudah sampai? "
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maap rada telat
Pissss✌️
Happy Reading
__ADS_1
Saranghaja 💕💕💕