
Setelah di setujui oleh Wikala selaku Adipati Pamotan maka Naja pratanu dan Larasati kembali ke Nusakambangan dan membawa kan nawala kepada Adipati Daha guna memberitahu kan niat Adipati Pamotan untuk membangun kembali tanah perdikan Thandasain yg telah luluh lantak di buat oleh Letusan Kelud beberapa waktu silam.
Bahkan Adipati Pamotan telah menyiap kan para ahli bangunan untuk membangun kembali tempat kelahiran nya itu, diantara nya ada Ahli gebyok, ahli dudur dan Ahli Sala dengan di kirim pula narakarya dari Pamotan dan warga desa thanda yg merupakan teman dari dari Adipati tersebut.
Setelah mendapat kan balasan surat dari Adipati Daha , segera lah Adipati Pamotan mengerjakan proyek besar membangun kembali tanah perdikan Thandasain.
Sang Adipati sendiri turun langsung ke Thanda guna mengawasi pembangunan itu.
Mendengar adik ipar nya itu berasal di Daha, Adipati Daha segera ber kunjung ke Thanda yg masih berada di wulayah Daha di iringi beberapa pengawal nya.
Setelah bertemu kedua nya kemudian melakukan pembicaraan yg cukup serius.
" Ahh, apa kabar nya kangmas Daha,?" tanya Wikala kepada kakak ipar nya itu.
" Baik dimas, dan engkau sendiri bagaimana,?" balik Adipati Daha bertanya.
" Berkat Hyang Widhi wasa, aku pun dalam keadaan baik " jawab Wikala.
" Sungguh dimas Pamotan kelihatan semakin jaya saja, di lihat dari sisi kemakmuran dan kekuatan prajurit saat ini mungkin tidak ada yg mampu menyaingi dimas,!" ucap Adipati Daha itu
" Ahh, biasa saja, sekarang yg maju adalah kadipaten pandan Alas, terlebih masalah ke prajuritan , yg ku dengar saat ini Paman Pandan Alas telah mampu menyaingi Kotaraja Majapahit,!" jelas Wikala lagi. Sambil berusaha mengorek keterangan dari kakak ipar nya itu mengapa bisa turut mengahadiri hajatan dari Adipati Pandan Alas tersebut walaupun sesungguh nya Wikala tahu bahwa Adipati Pandan Alas itu adalah paman dari Adipati Daha, namun mengingat kejadian waktu lalu , Sang Paman telah berniat untuk menghabisi seluruh keponakan nya itu.
" Itu lah salah satu alasan Ku menghadiri prrnikahan adi Nawang sekar waktu itu, selain Aku memang ber sahabat dengan Mahisa Dara, namun yg sangat menggelisah kan Ku adalah kenyataan bahwa pasukan Pandan Alas yg sudah sangat banyak itu, merupakan ancaman dari Kangmas Prabhu Bhatara Purwawisesa di Majapahit ini, dan ternyata itu benar, dimas Pamotan!" jelas Adipati Daha.
" Jadi itu alasan Kangmas Daha menghadiri pesta pernikahan dari putri Nawang Sekar itu,?" tanya Wikala kepada Adipati Daha itu.
" Kira nya demikian lah, Aku memang merasa terpanggil untuk menyelamat kan kekuasaan dari Kangmas Prabhu, juga berharap Majapahit ini masih dalam keadaan utuh sepeninggal Ramanda Prabhu,!" ucap Adipati Daha sambil menghela nafas berkali-kali.
" Namun nampak nya terlalu sulit, karena Paman Pandan Alas kelihatan nya terus berusaha mendesak Kangmas Prabhu untuk menyerah kan kekuasaan Kerajaan Majapahit ini kepada nya, bahkan kali ini ia memanfaat kan Kangmbok Ratu untuk merayu Kangmas Prabhu Bhatara Purwawisesa agar bersedia meletak kan kekuasaan Kerajaan Majapahit ini dan menyerah kannya kepada Ramanda nya itu,!' kata Adipati Daha sambil memandang para narakarya yg sedang membangun rumah dari Mpu Thanda yg. merupakan orang tua dari Adipati Pamotan itu.
" Jadi sekira nya Paman Pandan Alas yg berkuasa, apa langkah yg akan Kangmas ambil,?" tanya Wikala yg penasaran dengan sikap dari Adipati Daha itu.
" Dimas, jika Paman Pandan Alas yg menjadi penguasa di Majapahit ini, tentu Daha akan bersikap bersebrangan dengan nya, karena mengingat kejadian waktu lalu yg tidak mungkin kami lupakan itu, seandai nya saja Pratanu dan Larasati tidak menolong kami mungkin Aku tinggal nama saja ,!" jawab Adipati Daha
" Demikian pula Hal nya dengan Pamotan, Pamotan tetap tunduk dan patuh jika Kangmas Prabhu Bhatara Purwawisesa yg memimpin Majapahit ini tidak dengan yg lain, meski perpecahan ini telah di ambang mata dengan tindakan dari Paman Pandan Alas yg terlalu memaksa kan kehendak nya, sikap ke serakahan Paman Pandan Alas akan membuat nya pada jurang kehancuran," kata Wikala kepada kakak ipar nya itu, Adipati Daha.
" Benar kah dimas Pamotan sewaktu mengirim kan pasukan ke Bali telah meminta persetejuan dari Kangmas Prabhu Bhatara Purwawisesa,?" tanya Adipati Daha kepada Wikala.
__ADS_1
" Benar Kangmas Daha, memang Prajurit yg Ku kirim tidak melalui jalur biasa untuk menghadap Kangmas Prabhu sehingga banyak orang yg tidak mengetahui nya, termasuk para pembesar Majapahit sendiri, mengingat di dalam istana banyak orang yg menjadi mata-mata di kirim oleh Paman Adipati Pandan Alas, untuk mengetahui segala tindak tanduk dari Kangmas Prabhu,!" jawab Wikala lagi.
" Kami pun hampir termakan hasutan dengan sikap dari Dimas Pamotan yg seperti nya melangkahi kebijakan dari Kangmas Prabhu, walaupun demikian kami di Daha tidak terlalu yakin atas berita itu, sampai ini baru Ku tanya kan langsung kepada dimas sendiri," kata Adipati Daha.
" Memang saat ini kami di Pamotan sedang giat-giatnya membangun termasuk dengan keprajuritan nya, namun semua itu bukan untuk berkhianat terhadap Kangmas Prabhu melain kan upaya menghindari hal terburuk jika kelak Kangmas Prabhu Bhatara Purwawisesa tidak menjadi Raja di Majapahit ini, dan kemudian di ganti kan oleh Paman Adipati Pandan Alas yg terang-terang tidak menyukai kita bertiga, Aku, kangmas Daha dan Kangmas Kahuripan yg sekarang Kahuripan di pegang oleh ananda Adipati yg juga tentu nya masih menyimpan dendam terhadap paman pandan Alas,!" ucap Adipati Pamotan itu.
Nampak Kepala Adipati Daha manggut-manggut mendengar penjelasan dari adik ipar nya itu.
Selama seharian Adipati Daha dan Pamotan berbicara tentang keadaan Majapahit saat ini yg di ambang keruntuhan akibat sikap adigang adigung dan adiguna dari Adipati Pandan Alas.
Sekembali nya Adipati Daha ke kota kadipaten, maka Wikala masih mengawasi jalan nya pembangunan kembali desa thanda, terutama tempat tinggal yg telah hancur luluh akibat di terjang dari keganasan Letusan Kelud pada beberapa waktu silam.
Banyak warga Tanah perdikan itu yg menjadi korban. Namun Ki Gede dan istri nya masih selamat, dan ia kembali dari tempat pengungsian nya di lereng Willis setelah mendengar bahwa tanah perdikan yg di pimpin nya itu tengah di bangun kembali oleh Wikala.
Dengan tergopoh-gopoh Ki Gede Thandasain mendatangi Adipati Pamotan di tengah pembangunan dari rumah Mpu Thanda itu.
" Ampun kan hamba Gusti Adipati, kami terlambat mendengar kabar bahwa Gusti Adipati telah bersedia membantu membangun kembali tanah perdikan Thandasain ini,!" ucap Ki Gede Thandasain kepada Wikala.
" Ki gede tidak usah ewuh pakewuh, panggil saja Aku seperti waktu dulu yaitu Radeksa, karena bagaimana pun ki Gede adalah orang tua ku di desa thanda ini,!" jelas Wikala kepada Ki Gede Thandasain.
" Begini saja Ki Gede, kalau di depan orang banyak silahkan ki Gede menyebut saya sebagai Adipati tetapi kalau kita cuma berdua saja , kuharap Ki Gede memanggil nama saja, seperti saat ini,!" ucap Wikala.
" Baik lah angger Radeksa,!" jawab Ki Gede Thandasain.
" Begini Ki Gede, karena permintaan dari Rara Tantri yg ku lamar beberapa waktu lalu, maaf kan sebelum nya karena Aku tidak mengetahui keberadaan dari Ki Gede bukan maksud ku melangkahi Ki Gede, Aku telah melamar Tantri yg kemudian bersedia menerima lamaran ku tetapi dengan syarat Aku harus membangun kembali Tanah perdikan Thandasain ini untuk tempat tinggal nya kelak, dan sebagai putra dari Daha tepat nya desa thanda ini Aku juga punya kewajiban untuk membangun kembali tanah kelahiran Ku ini selain memenuhi permintaan Tantri juga memenuhi permintaan dari Romo dan biyung yg kurang mapan tinggal di Istana, mereka berdua lebih tenang bila tinggal disini,!" jelas Wikala kepada Ki Gede.
" Jadi angger Radeksa telah melamar Putri kami untuk di jadi kan istri,?" tanya Ki Gede seolah-olah tidak percaya dengan apa yg telah di dengar nya Itu.
" Demikian lah kiranya Ki Gede, nanti setelah semua nya selesai biar Romo dan biyung yg akan menghadap langsung Ki Gede guna membicarakan masalah ini,!" ucap Wikala Sang Adipati Pamotan itu.
" Hyang Widhi wasa sungguh besar kurnia mu kepada kami, kami telah berpikir bahwa putri kami itu tidak akan menikah lagi setelah beberapa kali mengalami kegagalan,!" seru dari Ki Gede Thandasain yg terlihat sangat bergembira.
" Ki Gede , nanti setelah dari sini mereka akan membangun rumah Ki Gede, dan kuharap segera lah ki Gede menyuruh kembali para penduduk tanah perdikan ini untuk membuka kembali lahan pertanian yg telah tertutup Lumpur itu, jadi secara perlahan nanti nya kehidupan di sini akan berjalan kembali seperti biasa nya,!" ungkap Wikala.
" Baik--baik, Aku akan perintah kan para warga untuk segera kembali kemari dan mulai membuka persawahan yg telah tertutup Lumpur itu,!" ucap Ki Gede Thandasain.
Dua purnama lebih bangunan rumah kediaman dari Mpu Thanda dan Ki Gede baru selesai di bangun.
__ADS_1
Namun kali ini kedua bangunan itu menjadi megah seolah-olah mirip istana kecil yg berada di sebuah desa.
Sedang kan pembangunan rumah para warga masih terus berlanjut sampai pernikahan dari Adipati Pamotan dan Rara Tantri di adakan.
Secara perlahan kehidupan di tanah perdikan Thandasain itu berjalan kembali seperti biasa setelah mengalami kehancuran beberapa waktu silam akibat Murka dari sang Kelud itu.
Pernikahan Wikala dengan Rara Tantri di laksanakan setelah enam purnama dari selesainya rumah Mpu Thanda dan Ki Gede Thandasain.
Hajatan kali ini tidak terlalu meriah mengingat keadaan tanah perdikan Thandasain dalam keadaan yg belum mapan, masih banyak di topang dari Pamotan dan Daha bahkan beberapa kadipaten sekitar seperti Tumapel.
Namun di tengah suasana yg sedang serba kekurangan itu tidak menyurut kan kebahagiaan dari mempelai dan kedua keluarga, juga warga dari Tanah perdikan Thandasain itu.
Bahkan Adipati Pamotan itu masih berpesan kepada warga desa thanda untuk meningkat katkan kemampuan di semua segi kehidupan termasuk dalam peningkatan pengamanan desa. Ia juga berjanji apabila ada pemuda yg ingin jadi prajurit, Kadipaten Pamotan siap menampung nya.
Tidak sampai setahun setelah pembangunan kembali tanah perdikan Thandasain itu telah mampu mandiri dan bahkan menjadi lumbung padi di kadipaten Daha.
Berita itu cukup menggembira kan bagi Adipati Pamotan.
………………((((((((((()))))))))………………………
note :
**
dudur : rangka bangunan
Sala. : bangunan
gebyok. : jenis ukiran pada pintu
atau pembatas antara
pendopo dengan ruang
dalam.
Tumapel : Malang
__ADS_1