
Setelah kepergian Bhre Kahuripan dari Pamotan, berkatalah Wikala kepada istrinya bagaimana diajeng kalau kita membentuk sebuah Pasukan khusus untuk menghadapi situasi yg tidak menentu seperti saat sekarang ini kata nya kepada istrinya Itu.
Maksud kangmas bagaimana tanya ratu Pamotan balik.
Maksud ku kita buat pasukan yg terampil dalam segala medan Tempur bahkan untuk bertarung sendiri an pun mereka sanggup diandalkan juga dalam hal telik sandi dapat di upayakan, dan jumlah mereka tidak terlalu banyak sekira seribu orang saja. jelas Wikala
Suatu usul yg sangat baik dimana kita saat ini memiliki banyak perwira yg dapat diandalkan juga sebagai pelatihnya daripada mereka yg telah di buang oleh kangmas Prabhu, sekaligus mereka bisa berguna disini tidak hanya makan tidur saja tanpa ada yg di kerjakan , Kalau begitu saya mendukung usulmu itu kangmas, ujar ratu Pamotan lagi.
Baiklah diajeng nanti Paman Petala dan Rangga Rawelu juga Arya bor bor yg akan kuserahi memimpin pembentukan Pasukan khusus Pamotan itu dan ku beri nama Balasewu, kata Wikala.
Ratu Pamotan nampak mengangguk menyetujui kemudian ia berkata dengan berbisik kepada suaminya, Kangmas sepertinya aku sedang hamil kata nya kepada suaminya itu.
" Hahh" benarkah itu diajeng sungguh aku sangat senang mendengar nya kata Wikala sambil memeluk erat dan menciumi istrinya itu.
Keduanya nampak sangat senang mendengar berita itu terutama bagi Seorang Ratu Pamotan yg telah lama mendambakn hadirr nya seorang anak, karena ia tahu bahwa suaminya telah memiliki seorang anak dari perempuan lain yg di dapatnya dari negeri Champa.
Setelah hari itu Radeksa memulai pembentukan Pasukan khusus Pamotan yg di namakan nya dengan pasukan Balasewu, karena jumlah nya memang seribu orang yg akan di ambil dari berbagai kesatuan prajurit di Pamotan juga di tambah dari beberapa murid cdari pelbagai padepokan yg ada di seputaran kadipaten Pamotan.
Untuk melancarkan usaha nya itu Wikala mengirimkan utusan dua orang Tumenggung yaitu Tumenggung Rapala dan Tumenggung Rapada untuk mendatangi beberapa padepokan tersebut.Banyak padepokan itu yg mengirimkan murid nya untuk mengikuti pendadaran di Pamotan, karena mereka rata-rata mengrnal baik dengan Wikala, tidak ketinggalan padepokan Telomoyo yg berada di puncak Telomoyo, yg sekarang telah di pimpin oleh Ki Warangga menggantikan Mpu Tela mahalaya yg tewas setelah melakukan perang tanding di Puncak Merapi kala itu setelah di klahkan oleh pendekar Xia si golok emas, dan ki Warangga di kirimlah dua murid terbaiknya yg bernama Sasra Bahu dan Wiera Tantra untuk mengikuti pendadaran itu.
******""""
__ADS_1
Sementara itu di Wengker, empat orang penunggang kuda telah memasuki wilayah kadipaten Wengker tersebut, mereka adalah Naja pratanu, Larasati, Tantri dan gurunya Nyai Dewi Putrani wijaya
" Bagaimana Tantri akankah kita masuk ke dalam kota , guna mengetahui apa sebenarnya yg di lakukan oleh calon suami mu, itu ?" tanya Larasati kepada Tantri, yg merasa curiga akan sepak terjang dari putra Rakryan Mantri Kuda Langhi itu.
" Kurasa sebaiknya kita tetap terus saja ke daha, nanti baru dari sana kita kembali lagi kemari,!" jawab Tantri yg ingin terus pulang ke daha.
" Sebenarnya ngger Muridku, sebaiknya kita melihat keberadaan dari calon suami mu itu, apa sebenarnya yg di lakukan nya di Wengker ini, Sementara dirimu belum mengenai betul dengan nya, jangan-jangan,...,!'' Nyai Dewi tidak meneruskan kata-katanya.
" Jangan-jangan apa, Guru,?" tanya Tantri kepada guru nya dengan penasaran.
" Jangan-jangan ia telah memiliki seorang anak dan istri yg di tempat kan di Wengker ini, dan seperti nya Angger Pratanu dan Larasati lebih mengenal calon mu itu,!" jelas Nyai Dewi kepada Tantri.
" Hah, benarkah kalian berdua memang sudah mengenai dengan kakang Mahisa Dara,?" tanya Tantri kepada Pratanu dan Larasati.
" Maksud kakang Pratanu dengan menggegerkan Majapahit,?" tanya Tantri yg tidak tahu duduk permasalahannya itu.
" Saat itu, ketika Majapahit mengalami kekosongan kepemimpinan dari Mangkatnya Gusti Prabhu, kami dari Pamotan bersama ibunda Ratu ke keraton Majapahit untuk memegang kendali kekuasaan kerajaan Majapahit sementara Dan, di Majapahit sendiri Rakryan Mantri Kuda tengah mempersiapkan pemberontakan, hingga harus di tumpas, sedangkan putranya Mahisa Dara selamat karena brada di daha bersama Adipati Daha, yg merupakan temannya itu,!" jelas Pratanu.
Akhirnya Tantri pun mengambil keputusan," baiklah kita masuk ke dalam kota Wengker untuk menyelidiki kakang Mahisa Dara, sedang apa sebenarnya ia disana,!" ucap Tantri.
Keempat kemudian menjalankan kudanya menuju gerbang kota kadipaten Wengker, namun sebelum mereka mendekati pintu gerbang itu, terlihat lah dua ekor kuda sedang berpacu keluar dari sana, nampak penunggang nya seorang lelaki Dan seorang perempuan yg masih muda.
__ADS_1
Yg agak menyesakkan dada Tantri bahwa pengendsra yg lelaki adalah orang yg di kenal nya yaitu Mahisa Dara, sedangkan yg perempuan ia tidak mengenal nya.
Buru- buru Tantri menghela kudanya dan mengikuti kedua orang itu, kemudian diikuti pula, oleh Pratanu, Larasati dan Nyai Dewi putrani wijaya.
Namun karena jarak yg lumayan jauh keempat orang itu nampak tertinggal sedangkan Kuda dari Mahisa Dara dan putri Nawang sekar terus melaju ke arah hutan perburuan.
" Kali ini kakang Mahisa Dara harus kalah dalam hal berburu menjangan, karena. kali ini kita hanya pergi berdua saja,!" kata Putri Nawang sekar yg nampak sudah sangat akrab dengan Mahisa Dara.
" Belum tentu Putri bisa mengalahkan ku dalam hal berburu menjangan," jawab Mahisa Dara di tengah lajunya lari dari kuda-kuda mereka
" Ahh, kalau di luar istana, kakang jangan panggil putri, panggil saja Nawang atau sekar pun jadi, " kata dara jelita putri dari Adipati Pandan alas itu.
" Baiklah adi Nawang," jawab Mahisa Dara yg tidak menyadari bahwa di belakang mereka ada empat ekor kuda yg tengah membuntuti mereka.
" Nah, begitu kan lebih baik,!" ujar putri Nawang sekar.
Ketika mereka telah mendekati ara-ara di sekitar hutan perburuan itu, kedua nya nemperlambat jalan kuda nya, kemudian mereka melihat ke arah hutan tersebut.
Begitu pula keempat ekor kuda yg ada di belakang mereka, kemudian menghentikan kuda mereka dengan jarak yg cukup jauh adalah Nyali Dewi putrani yg memberi isyarat kepada muridnya untuk tidak langsung menghampiri tunangan nya itu.
" Angger Tantri, lebih baik kita kihat dahulu apa yg mereka kerjakan, Aku curiga akan sikap mereka yg datang ke hutan itu hanya betdua saja,!" kata Nyai Dewi putrani wijaya.
__ADS_1
" Baiklah guru, jadi apa harus kita lakukan sekarang,,?" tanya Tantri.