
Di Ibukota Majapahit, Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa ketika mendengar adik perempuan nya telah meninggal dunia saat melahirkan merasa sangat sedih, ia dan beberapa orang kepercayaan nya segera berangkat ke pamotan guna mengikuti prosesi pemakaman Sang adik.
Demikian pula dengan Bhre Daha, Sang Adipati pun berangkat ke pamotan, untuk memberi kan penghormatan terakhir nya kepada adik nya itu yg merupakan Ratu dari Pamotan.
Di tengah bala bencana melanda, Wikala mendapat kan musibah yg cukup besar membuat sisi kejiwaan nya goncang, istri yg sangat di kasihi nya itu meninggalkan dia untuk selamanya dengan memberikan seorang putri yg sangat cantik.
Wikala sering menggendong putri nya itu untuk sekedar melepas rindu kepada Sang istri.
Putri Cemaravati amat cemas melihat ini, karena terkadang suami nya itu mau berbicara sendiri.
Menghadap lah Putri Cemaravati kepada Mpu Thanda dengan berkata ," Romo dan biyung sesungguhnya, nanda cemas dengan sikap dan tingkah laku dari Kanda Radeksa, sejak kematian dari kakang mbokayu,!" kata nya kepada mertua nya itu.
" Jadi aku sangat berharap bahwa Romo dan biyung dapat menasehati Kanda Radeksa,!" ujar nya lagi.
" Baiklah angger , Romo akan mencoba menasehati nya, karena saat ini Pamotan sangat-sangat memerlukan nya !" jelas Mpu Thanda.
" Terimakasih Romo,!" kata Putri Cemaravati.
Mpu Thanda bergegas mendatangi putra nya itu yg tengah goncang akibat di tinggal mati istri nya Itu.
Setelah bertemu dengan Wikala, berkata lah Mpu Thanda,
" Angger anakku Radeksa, Romo lihat akhir-akhir engkau seperti kehilangan pegangan, anak Romo yg dulu tidak nampak lagi sekarang ini, seakan diri mu berubah jadi orang lain,!" katanya.
" Maksud Romo,?" tanya Wikala acuh tak acuh.
" Maksud Romo, engkau sekarang lebih banyak menyendiri, belum pun mayat istri mu makamkan , engkau telah berubah jauh bagaimana nanti kalau telah di makam kan,?" tanya Romo nya.
Wikala diam saja namun tetap menggendong putri nya itu. Setelah datang seorang emban yg meminta putri nya itu untuk di beri minum barulah Wikala menatap Romo nya dengan tatapan kosong.
" Romo tahu, penderitaan yg telah kau alami selain kehilangan istri engkau juga kehilangan putra mu, namun semua nya itu harus kau lihat sebagai ujian buat mu untuk tetap bersemangat menjalani hidup bukan malah sebaiknya engkau banyak termenung dan berdiam diri, engkau sekarang pemimpin tertinggi dari kadipaten Pamotan ini seorang diri, kalau dulu engkau masih bersama istri mu dapat membagi, namun sekarang hanya kepadamu lah, hajat hidup rakyat Pamotan bergantung,!" jelas Mpu Thanda kepada putranya itu.
Wikala melempar kan pandangan nya ke arah lain, ia tidak berani memandang ayah nya itu.
" Dan Ngger, satu lagi tugas mu belum selesai! " tukas Mpu Thanda.
" Apa itu Romo,?" tanyanya kepada Sang Ayah.
" Menemukan putra mu yg hilang itu, kasihan istri mu, Putri Cemaravati, sampai saat ini kabar keberadaan dari Wiradamar belum jelas ditambah sikap mu, seperti orang yg putus asa,!" tutur Mpu Thanda lagi.
" Aku tidak sedang putus asa Romo, hanya ingin menyendiri, mengingat kenangan yg cuma sebentar dengan diajeng Ratu, mengapa Hyang widhi wasa begitu cepat mengambil nya,!" ucap Wikala dengan nada penyesalan.
__ADS_1
" Sikap itulah yg tidak boleh di miliki oleh Seorang pemimpin, engkau mesti tegar dan kuat mesti di hati sakit, tidak ada kata menyesal dan menyerah, masak Seorang Satria dari daha yg telah melanglang buana bahkan mengalahkan para Pendekar tangguh di kolong langit, hati nya sangat rapuh, bangkit dan semangat lah, dan sebentar lagi Gusti Prabhu dan Gusti Adipati dari Daha akan tiba , sambut lah mereka dengan semangat, jadi dirimu tidak akan terlihat lemah, meskipun di dalam sangat pedih,!" kata Sang Romo menyemangati putra nya itu.
Lama Wikala mendengar kan wenangan Sang ayah akhir nya membuat hati nya tersentuh, ia kemudian berkata lirih, " Semua yg Romo katakan adalah kebenaran, Aku seharus nya tidak bersikap begini, akan tetapi rasa sakit rasa sedih dan perasaan terkenang atas diajeng Ratu membuat ku sulit untuk mengatasi nya,!" jawab Wikala.
" Oleh sebab itu angger tidak mesti mengurung diri di dalam bilik, tidak harus menyendiri, buatlah suatu kegiatan, apakah itu melihat prajurit lagi berlatih atau sekedar melarikan kuda, hanya untuk tidak larut dalam kesedihan yg panjang, karena apabila dirirmu tetap dalam keadaan begini banyak akan menerima akibat nya, bukan cuma diri mu saja,!" ungkap Mpu thanda lagi.
" Baik lah Romo, semua perintah mu akan ku turuti, aku akan berusaha untuk tetap tegar dan semangat menjalani hidup ini," ucap Wikala mantap.
" Bagus, itu baru sikap ksatria sejati bukan hanya hebat dan jago dalam pertempuran, akan tetapi hebat dan mampu mengatasi hawa angkara murka di hati sendir,!" puji sang Romo lagi.
Sejak hari itu, terlihat Wikala telah berani muncul di depan rakyat nya, rakyat Pamotan. Ia seperti yg di saran kan oleh ayah nya, meninjau langsung pelatihan para prajurit Balasewu yg di pimpin oleh Lembu Petala.
" Bagaimana Paman, apakah pasukan Balasewu telah sesuai dengan yg di harap kan ,?" tanyanya kepada Lembu Petala.
" Seperti nya demikian Gusti Adipati, hanya ada yg perlu di perbaiki dari pasukan ini,!" kata Lembu Petala lagi.
" Masalah sikap dan sifat dari para prajurit nya yg terlalu mementingkan diri sendiri tidak dalam satu Kesatuan,!" jawab Lembu Petala lagi.
" Mengapa bisa terjadi begitu,?" tanya Wikala lagi.
" Karena kebanyak an dari mereka adalah murid-murid dari suatu padepokan dengan kemampuan yg lumayan sehingga merasa ia di atas yg lain sehingga menyebabkan sikap dan sifat itu terjadi,!" jelas Lembu Petala lagi.
" Jadi jalan keluar nya Paman,?" tanya Wikala.
" Baik lah paman, mudah mudahan Balasewu bisa menjadi pasukan yg di harap kan kemampuan nya baik pribadi maupun dalam kesatuan sbagai prajurit Pamotan,!" kata Wikala kepada Lembu Petala.
" Mudah-mudahan,!" jawab Lembu Petala.
Setelah dari barak pasukan Balasewu , ia kemudian mendapat kan laporan dari salah seorang prajurit yg mengatakan bahwa Prabhu Bhatara Purwawisesa telah tiba di susul pula Bhre Daha, dan Bhre Kahuripan yg baru.
Maka Wikala pun menyambut ketiga nya dan menempat kan di bilik khusus, dan dengan penjagaan kuat.
" Apa kabar nya, Kangmas Prabhu, ?" sapa Wikala kepada Prabhu Bhatara Purwawisesa di saat pertemuan antara keempat tokoh Majapahit itu.
" Baik dimas, dan kau sendiri,?" tanya Gusti Bhatara Purwawisesa balik.
" Ahh, kalau raga ku sehat Kangmas akan tetapi jiwa ku masih sakit,!" ucap Wikala kepada Raja Majapahit itu.
" Sudah lah dimas, mungkin demikian lah yg telah digaris kan oleh Hyang widhi wasa, bahwa Ratu Pamotan akan cepat kembali meninggalkan kita semua, kami semua memahami kesedihan mu dimas,!" nasehat Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.
" Lagian dimas Pamotan jangan berlarut -larut dalam kesedihan, nanti rakyat mu juga yg susah, karena kulihat saat ini Pamotan sudah benar-benar maju baik dalam pertanian , keprajuritan dan ke makmuran kawula nya, berbeda dengan kami di Daha ,!" ungkap Bhre Daha .
__ADS_1
" Terima kasih atas pujian Kangmas Daha, bahwa kemajuan yg di capai dari Pamotan ini tidak lepas dari campur tangan dari Diajeng Ratu,!" kata Wikala yg terputus karena mengenang kembali akan istri nya Itu.
" Itulah sentuhan tangan seorang perempuan yg mampu menata rapi kehidupan rakyat Pamotan ini, sungguh beruntung Pamotan memiliki kalian berdua,!'' kata Sang Prabhu dan di iya kan Bhre DAhA, hanya Adipati Kahuripan yg baru saja yg kurang mengerti dengan pembicaraan ketiga paman nya itu, yg nampak diam saja.
Setelah prosesi pemakaman dari Ratu Pamotan selesai di laksanakan dan Ratu Pamotan itu di candikan sebagai dewi Parwati, maka rombongan dari Kotaraja, Daha dan Kahuripan berangsur angsur kembali.
Hanya ibunda Ratu Jayeswari saja yg masih tinggal di pamotan , ia senang sekali bermain dengan ratna pambayun, sang cucu tersebut.
Hingga lebih satu purnama , ibunda Ratu baru kembali ke keraton Majapahit.
Sedang kan Kadipaten Pamotan mulai saat itu resmi di bawah kendali dari Wikala yg bergelar Bhre Kertabhumi dengan permaisuri nya Putri Cemaravati yg di beri gelar Ratu Dewi Dwarawati.
Namun kegelisahan Wikala akan keadaan putranya Wiradamar membuat nya tidak tenang, hingga akhir nya ia melakukan tirakat guna mengetahui keberadaan dari Wiradamar.
Akhir nya ia mendapatkan petunjuk dari pawisik yg telah di terima nya bahwa sang anak berada di suatu pulau.
Setelah di kumpul kan para pembesar Pamotan maka , maka di putuskan oleh Wikala, ia sendiri yg akan mendatangi tempat dimana Arya wiradamar berada.
************
Sementara itu Naja Pratanu dan Larasati yg mendapat ksn tugas dari Kakak nya itu langsung melakukan penyelidikan kemana sebenar nya keponakan nya itu.
Mereka bertanya kepada para pengawal tanah perdikan yg telah mendatangi rumah Mpu Thanda waktu itu.
" Apakah kalian tidak melihat anak kakang Radeksa saat menyampaikan berita kesana ,?" tanya Larasati.
" Kami tidak melihat yg kami lihat hanya Putri Cemaravati dan Yasuvati dengan seorang anak kecil,!" jawab pengawal Tanah perdikan Thandasain itu.
" Mungkin kau bisa bertanya kepada ki Ndenok, karena saat itu kami berselisih jalan dengan nya saat ia kembali dari sawah nya,!" kata pengawal Tanah perdikan itu lagi.
Akhir nya Larasati mendatangi ki Ndenok yg di maksud pengawal tersebut.
" Apakah aki melihat keponakan ku saat kembali dari sawah, sesaat Kelud akan meletus,?" tanya Larasati kepada ki nDenok.
" Ada Ngger, seperti nya aku mengenal nya yg berjalan dengan anakmas Wiradamar itu, kalau tidak salah,...!" kata -kata ki Ndenok berhenti.
" Siapa Ki, orang yg bersama keponakan itu,?" tanya Larasati penasaran.
" Sabar Rass, biar ki Ndenok mengingat-ingat nya, jangan terlalu di desak ,!" kata Pratanu menasehati istri nya Itu.
" Ia adalah,........, ah kok lupa lagi nama nya,!" ucap Ki Ndenok sambil memukul mukul kepala nya.
__ADS_1
----------------------,,,,,,,,,,,,,,..,,.,,......-------------------------