
Rasa nya kenangan itu baru saja ber lalu, saat Patih Kebo mundira dan adik seperguruan nya dan Paman guru mereka Mpu Thula dan anak murid nya menyerang padepokan semeru demi sebuah pedang, ya demi sebuah pedang Naga geni, ia dan seluruh rombongan saat itu mengahabisi penghuni padepokan semeru tempat di mana Naja Pratanu dan Tumenggung kembar , Rapala dan Rapada menimba ilmu .
Melihat kemarahan dari murid padepokan Semeru itu, Patih Kebo Mundira menciut nyali nya di tambah lagi pasukan Majapahit tengah ter desak hebat, hampir gelar perang dari Kahuripan dan Pamotan tempuk alias bertemu, membentuk lingakaran penuh, sehingga hampir tidak ada jalan lari bagi pasukan Majapahit selain ber tempur sampai mati.
Patih Kesayangan dari Prabhu Suraprabhawa itu hanya ber harap kepada para prajurit Majapahit yg berada di kali Brantas dan pasukan Bajak laut dari pesisir utara, namun sampai saat ini belum ada penghubung yg memberi kan berita.
Jelas pasukan yg di harap kan dari Patih Kebo Mundira dalam keadaan ter tahan oleh pasukan Kahuripan dan Pamotan.
Adalah di kali Brantas, pasukan Balasewu dari Pamotan yg membuntuti armada laut Majapahit itu sudah mempersiap kan rencananya untuk mencegat pasukan Majapahit itu di sebuah kelokan yg agak sempit.
Dan ketika iring-iringan perahu yg ber jumlah tiga puluh perahu itu berada di kelokan yg sempit, maka para prajurit Balasewu segera menyerang dengan anak-anak panah, pisau-pisau bahkan sumpit yg ter biasa di pergunakan oleh prajurit Balasewu itu.
Serangan pertama dari Pamotan itu mem buat armada laut Majapahit jadi kalang kabut, banyak jatuh korban dari prajurit Majapahit itu hingga membuat aliran sungai Brantas itu merah dengan darah, melihat hal itu Tumenggung Watulangka selaku Senopati Armada laut Majapahit segera meng hentikan para prajurit nya untuk membalas serangan itu.
Namun dengan cepat pasukan Balasewu segera menghindar dari serangan pasukan Majapahit itu dengan masuk agak ke dalam, dan tetap mengarah ke depan mendekati ibukota Kahuripan.
Merasa tidak di serang lagi armada laut Majapahit itu ber gerak lagi , dengan meninggalk kan para prajurit nya yg telah menjadi korban itu.
Memang pantas lah di semat kan gelar pasukan siluman untuk para prajurit Balasewu itu, setelah melakukan penyerangan pasukan itu kembali ber sembunyi di dalam semak-semak yg ber air dan ber lumpur bahkan mereka menyelam ke dalam lumpur itu memper gunakan sebatang bambu kecil untuk pernafasan nya, sehingga tampak di tepi kali Brantas itu tidak ada seorang pun manusia.
Karena siasat Pasukan Balasewu kali adalah merampas perahu yg paling belakang dan nantinya akan melakukan perang terbuka dengan mengguna kan perahu itu.
__ADS_1
Pasukan armada laut Majapahit itu lewat dari tempat para prajurit Balasewu ber sembunyi, satu persatu perahu itu lewat dan ketika tinggal beberapa buah ter sisa di belakang, maka para prajurit Balasewu mengejar nya dengan berenang di sungai Brantas itu, laksana bajul yg akan menangkap mangsa nya, dengan tenang prajurit Balasewu itu mendekati empat buah perahu Armada laut Majapahit itu, dan begitu mencapai perahu-perahu itu para prajurit Balasewu segera ber lompatan menyerang para prajurit Majapahit.
Sebenar nya para prajurit Majapahit telah siap siaga namun mereka tidak menyangka bahwa serangan kali datang dari dalam air Kali Brantas itu, sedang kan pengamatan prajurit Majapahit ter tuju pada balik pepohonan yg berada di tepi kali.
Walhasil empat buah perahu Armada laut Majapahit dengan mudah di kuasai oleh prajurit Balasewu itu dengan mengahabisi seluruh prajurit Majapahit yg ada di atas nya.
Tumenggung Watulangka amat murka dengan kejadian itu, ia memerintah kan kepada para prajurit nya untuk memutar balik perahu untuk mengambil k mbali perahu yg telah di rampas oleh pasukan Balasewu itu.
Namun aliran sungai Brantas itu agak cukup deras sehingga upaya memutar bailk dari armada laut Majapahit itu agak telat sehingga pasukan Balasewu yg berada sebelah menyebelah kali Brantas itu mem berikan serangan terhadap armada laut Majapahit itu.
Kembali pasukan armada laut Majapahit ter jepit, di kelokan sungai yg agak sempit itu mereka di serang dari tiga jurusan, dari arah kiri dan kanan mereka bahkan dari depan dari perahu-perahu yg telah di kuasai oleh prajurit Balasewu itu.
Melihat ke kalahan di depan mata, Tumenggung Watulangka berusaha memutar lagi perahu nya menuju arah Kota Kahuripan, dengan sekuat tenaga mereka berusaha lari dari kejaran pasukan Balasewu itu.
Karena sebahagian besar dari prajurit Balasewu itu telah menguasai perahu-perahu yg di tinggal kan oleh prajurit Majapahit maka pengejaran terhadap pasukan armada laut Majapahit yg di pimpin oleh Tumenggung Watulangka itu pun berhasil setelah mendekati kota kadipaten Kahuripan.
" Baik lah mari kita ber tempur habis-habisan karena pasukan kita tidak akan ada yg membantu lagi,!" ucap Tumenggung Watulangka kepada para prajurit nya itu.
Maka prajurit Majapahit pun segera ber hadapan kembali dengan pasukan Balasewu yg memang lebih unggul jumlah pasukan nya.
Adalah Rangga Rawelu dan Rangga Jumena yg ber hadapan langsung dengan Tumenggung Watulangka itu.
__ADS_1
Sementara beberapa lurah prajurit Balasewu segera mengahabisi prajurit Majapahit yg ada di lima perahu ter sisa itu.
" Ehh, Rangga Rawelu apa maksud mu menghadang per jalan ku,?" tanya Tumenggung Watulangka yg memang mengenal Rangga Rawelu itu bahkan Tumenggung Watulangka mengetahui siapa Rangga Rawelu itu di saat perang dengan Pandan Alas , Rangga Rawelu di sebut-sebut sebagai seorang Rangga ter baik Majapahit karena mampu membunuh salah satu Tumenggung Pandan Alas kala itu.
" Ahh, kakang Tumenggung Watulangka, aku hanya menjalan kan perintah junjungan ku untuk menghadang per jalanan kakang yg mem bantu pasukan Patih Kebo Mundira itu yg akan men duduki kota kadipaten Kahuripan,!" jawab Rangga Rawelu sementara Rangga Jumena diam saja.
" Apakah engkau tidak memandang Aku adi Rawelu,?" tanya Tumenggung Watulangka.
" Sekarang begini kakang, jika kakang Tumenggung mau menyerah dan kembali pulang ke kotaraja Majapahit , aku atas nama Adipati Pamotan memper silah kan, tetapi jika kakang Tumenggung ber sikukuh ingin membantu pasukan induk dari Majapahit itu maka langkahi dulu mayat ku,!" ucap Rangga Rawelu.
Tumenggung Watulangka ter diam di pandangi nya para prajurit nya dan para prajurit Balasewu, memang tampak nya kata menyerah lebih baik dari pada pasukan nya tumpas semua nya.
Akhir nya di putus kan oleh Tumenggung Watulangka untuk menyerah dengan pertimbangan bahwa diri nya akan mendapat kan hukuman yg berat dari Prabhu Suraprabhawa, tetapi biar lah dari pada mati sia-sia pikir nya dalam hati.
" Baik lah Adi Rangga Rawelu, kami menyerah, dan izin kan kami kembali ke kotaraja Majapahit,!" ucap Tumenggung Watulangka kepada Rangga Rawelu.
" Sebagai syarat kakang Tumenggung menyerah tinggal kan seluruh senjata kalian,!" jawab Rangga Rawelu.
" Baik lah, kami akan meletak kan senjata,!" kata Tumenggung Watulangka dan kemudian memerintah kan kepada seluruh prajurit nya untuk meletak kan senjata dan menyerah kan kepada para prajurit Balasewu itu.
Lima buah perahu Armada laut Majapahit itu ber putar balik meningggal kan tempat itu.
__ADS_1