
" Kalau tidak kenapa ki Demung,?" tanya Tumenggung Wirana.
" Kalau tidak pasukan kita akan hancur,!" jawab Demung Ananta boga.
" Di karena kan kita kalah jumlah dan kurang memahami medan,!" kata ki Demung lagi.
" Jadi kita harus secepatnya mengalahkan mereka , begitu maksud ki Demung, ?" tanya Tumenggung Rabanar.
" Benar kita harus secepatnya mengalahkan mereka,!" jawab ki Demung.
" Dan sebaiknya kita tetap menggunakan gelar Garuda nglayang tetapi besok tanpa ekor pasukan,!" jelas Ki Demung.
" Maksud ki Demung bagaimana,?" tanya Sang Patih Gajah Nata.
" Besok kita memadatkan induk pasukan dengan diisi dengan ki Patih, ki tumenggung Reksa sudira dan Tumenggung Wirana sebagai trisula di paruh pasukan,!" ki Demung terdiam sejenak kemudian melanjutkan lagi.
" Sedangkan di kedua sayap kita ubah posisi dengan Tumenggung singha wara yg tadinya di kanan sekarang kita buat Kiri dan sebaiknya demikian Tumenggung Rabanar mengisi posisi kanan, agar mereka mengira kita mempunyai pasukan yg banyak karena lawan yg ditemui berbeda,!" ungkap demung Ananta boga .
Seluruh pemimpin pasukan Majapahit menyetujui usulan ki Demung Ananta boga itu.
Sementara Lurah waringka yg diutus oleh Rakryan Mantri Kuda Langhi telah pun sampai di alas Roban.
Dengan perlahan ia menjalankan kudanya memasuki hutan tersebut. Namun belum pun jauh ia memasuki alas tersebut ia sudah ditegur oleh seseorang.
" Siapa orangnya yg berani masuk wilayah kekuasaan ku, apakah sudah bosan hidup ,!" teriak orang itu.
" Maafkan saya, saya adalah Lurah waringka seorang prajurit Majapahit yg di utus oleh Rakryan Mantri Kuda Langhi ingin bertemu dengan ki Jabang wingit," jawab Lurah waringka.
" Hehh, apa perlunya si Langhi itu terhadap ku,!" ucap orang tersebut yg tiada lain adalah ki Jabang wingit dan ia pun muncul tiba- tiba telah berada di dekat Lurah waringka.
Seraya menahan keterkejutan Lurah waringka pun menjawab,
" Ki Jabang wingit di harapkan kehadiran nya di istana Majapahit, demikian pesan dari Rakryan Mantri,!" jelas Lurah waringka.
" Baiklah pesan sudah kuterima sekarang , dan segera aku akan ke Majapahit ," kata ki Jabang wingit.
" Karena ki Jabang wingit telah menerima pesan dari Rakryan Mantri, sebaiknya saya akan kembali ke Majapahit,!" ucap Lurah waringka.
" Oh , silahkan ki lurah, nanti aku menyusul," balas ki Jabang wingit.
Lurah waringka pun memutar kudanya dan keluar dari alas Roban dan kembali ke Majapahit. Ia memacu kudanya dengan cepat.
Di istana Majapahit sendiri Rakryan Mantri Kuda Langhi telah kedatangan tamu dari alas Turanggana, yaitu Rumangsa berserta kesepuluh adik seperguruannya termasuk Bawon.
" Ada perlu apa kakang Mantri memanggil kami,,?" tanya Rumangsa pada Kuda Langhi.
__ADS_1
" Begini adi Rumangsa, saya memerlukan kalian untuk melakukan sesuatu,!" jawab Mantri Kuda Langhi.
" Apa itu,?" tanya Rumangsa.
Kemudian Kuda Langhi menjelaskan apa keperluannya atas Rumangsa, setelah itu ia berkata,
" Tugas kalian menghabisinya setelah berada di luar gerbang istana, !" ucap Rakryan Mantri Kuda Langhi.
" Apakah mungkin ia akan keluar gerbang istana, ?" tanya Rumangsa.
" Ahh, itu persoalan mudah, setelah kedatangan Ki Jabang wingit, itu dapat di atur," kata Rakryan Mantri lagi.
" Jadi tugas kami menghabisinya jika ia berada di luar gerbang, begitu kan kakang,?" tanya Rumangsa.
" Tepat sekali, kalian bertugas menghabisinya kemudian satu hal lagi, kalian Jangan meninggalkan jejak, jika ada yg memergoki, bunuh sekalian,!" jelas Mantri Kuda Langhi.
" Sesudah itu kalian harus meninggalkan keraton Majapahit ini, jangan pernah kembali, nanti aku yg akan mengirim penghubung untuk keperluan kalian," kata Rakryan Mantri Kuda Langhi menutup pembicaraan itu.
------
Sementara di desa Kame ketika hari sudah pagi maka pasukan Majapahit bergerak kembali menuju medan peperangan dengan tiupan sangkakala dan di tabuhnya genderang perang, pasukan segelar sepapan Majapahit itu maju.
Sedangkan dari dalam desa Kame, pasukan pandan alas pun bergerak menyambut pasukan Majapahit.
Untuk kedua kali nya pasukan itu bertemu dengan perobahan dari pasukan pandan alas yg langsung menerjunkan pasukan intinya, karena kekalahan semalam.
Kali ini Senopati pandan alas sayap kiri dengan mudah menggerakkan pasukan karena prajurit di pasukan pandan alas adalah pasukan yg terlatih dan telah sering mengikuti perang.
Pasukan Majapahit di sayap ini tidak bisa terlalu menekan lawan, hingga perang senopati pun terjadi.
" Inikah Tumenggung singha wara yg mampu mengalahkan Mpu Thula itu,?" tanya Tumenggung Jayasena kepada Tumenggung singha wara.
" Benar akulah Singha wara, tetapi aku tidak pernah mengalahkan Mpu Thula,!" ucap Tumenggung Singha wara.
" Sudah lama aku ingin menjajal kemampuan singha wara yg terkenal linuwih," ucap Tumenggung Jayasena.
" Ahh, biasa saja, aku hanya seorang abdi yg harus setia kepada Rajaku, bukan seperti kalian pemberontak, " ejek Tumenggung singha wara.
Merasa di ejek oleh Tumenggung singha wara maka Tumenggung Jayasena pun panas, segera memacu kudanya mendekati kuda Tumenggung singha wara dan setelah dekat ,
" Traaanng, " bunyi pedang Tumenggung Jayasena yg beradu dengan pedang Tumenggung singha wara.
Kedua senopati itu pun bertarung diatas punggung kudanya, kemahiran menyerang lawan dengan sambil menggerakan kuda adalah sesuatu yg sulit di lakukan, tetapi tidak bagi kedua pemimpin pasukan Majapahit dan pandan alas ini.
Setelah keduanya terikat perang tanding maka adik dari Tumenggung Jayasena yaitu Tumenggung Wirasena segera mengambil alih kepemimpinan pasukan pandan sayap kanan tersebut.
__ADS_1
Melihat tandang Tumenggung Wirasena yg sesuka hatinya membabati pasukan Majapahit seperti menebas pohon pisang, maka Tumenggung singha wara memberi isyarat kepada Rangga Waluya untuk menghentikan sepak terjang Tumenggung itu.
Mendapati perintah dari senopati nya maka Rangga Waluya pun segera menempatkan posisinya sebagai lawan dari Tumenggung Wirasena.
" Heh, siapa kau, sudah bosan hidup ,?" tanya Tumenggung Wirasena.
" Aku Rangga Waluya yg akan menghadapi mu,!" ujar ki Rangga Waluya.
" Bagus , kenalkan ini adalah Tumenggung Wirasena Senopati pandan alas,!" ucap Tumenggung Wirasena sambil menepuk dadanya.
Tanpa menjawab , segera Rangga Waluya menyerang Tumenggung Wirasena dan pertarungan pun terjadi, ternyata walaupun jabatan nya hanya seorang Rangga ternyata ilmu silatnya tidak di bawah Tumenggung Wirasena, beberapa kali Tumenggung pandan alas itu harus menjauhkan diri dari serangan ki Rangga Waluya.
Di Sayap kanan Majapahit pun tidak jauh berbeda, kali Tumenggung Rabanar bertemu dengan Senopati Kebo Ndaru yg memiliki ilmu yg nggegrisi yaitu ajian Waringin sungsang.
Beberapa kali Tumenggung Majapahit ini harus berjumpalitan menghindari serangan dari senopati kebo ndaru.
Melihat Senopati nya terdesak Rangga Rawelu yg di perbantukan di sayap kanan pasukan Majapahit itu segera menyerang Senopati Kebo Ndaru, kali ini Senopati Kebo Ndaru harus melawan dua orang sekaligus , terlihat ia keteteran menghadapi kedua senopati pasukan Majapahit itu.
Kalau di kedua sayap kanan dan kiri pandan nampak mampu bertahan atas tekanan dari pasukan Majapahit berbeda dengan induk pasukan nya, Patih Kebo Mundira terlihat hanya mampu bertahan dan mundur perlahan akibat tiga orang senopati Majapahit ada di induk pasukan, Tumenggung Reksa sudira dan Tumenggung Wirana menggila di induk pasukan Majapahit itu, sudah banyak korban akibat sepak terjang kedua senopati itu.
Ketika Sore menjelang terlihat pasukan pandan alas telah keluar dari garis peperangan dan agak mundur kebelakang, meskipun pasukan yg diturunkan adalah pasukan intinya.
Namun mereka terus bertahan sampai malam tiba, yg membuat kedua pasukan menghentikan peperangan dan kembali ke tempat masing-masing.
Pada hari kedua itu pasukan Majapahit masih memenangkan pertempuran dengan jumlah korban yg lebih sedikit.
Di perkemaha pandan alas , terjadi pembicaraan serius membahas tentang keadaan hari itu.
" Akibat kita salah menilai pasukan Majapahit , hari ini pun kita belum mampu mendesak mereka," kata Patih Kebo Mundira.
" Bagaimana kakang kalau besok , pasukan cadangan diturunkan mengingat Pasukan Majapahit telah dua hari bertempur dan mereka tidak memiliki pasukan cadangan,!" Senopati Kebo Ndaru.
" Sebaiknya demikian Gusti Patih kita turunkan pasukan cadangan kita dan kita buat Gelar Jurang grawah,!" kata Tumenggung Jayasena.
" Dan lebih baiknya lagi , apabila di antara kita yg mampu membunuh salah satu senopati nya ,!' ucap Patih Kebo Mundira.
" Khusus untukmu adi Ndaru, kau kan seharusnya mampu menghabisi Tumenggung Rabanar, " katanya lagi.
" Mungkin kalau perang tanding, aku segera bisa menghabisi si Rabanar itu, tetapi aku di keroyok oleh dua orang kakang, yaitu Tumenggung Rabanar dan Rangga Rawelu,!" jelas senopati Kebo ndaru.
" Atau kalian berdua Jayasena dan Wirasena seharusnya kalian mampu mengatasi Singha wara itu, " kata Patih Kebo Mundira.
" Kalau kami berdua menghadapi Tumenggung singha wara, mungkin kami mampu mengatasi nya, namun adi Wirasena menghadapi lawan yg sulit untuk di tundukkannya,!" jelas Tumenggung Jayasena.
" Dan kalau di induk pasukan sendiri, kami mampu bertahan itu sudah bagus, karena tiga Senopati Majapahit berada di situ,!" kata Patih Kebo Mundira.
__ADS_1
Akhirnya pasukan pandan alas sepakat menurunkan pasukan cadangan nya untuk mengurangi tekanan pasukan Majapahit dan menyiapkan para senopati nya .